MasukSLREEEPPPHHH... Ahhh!Clara menyandarkan punggungnya pada dinding papan kayu yang basah, lalu menarik Tresna lebih dekat. Tanpa membuang waktu lagi dalam desakan gairah yang memuncak, Tresna bergerak maju dan menyatu sepenuhnya dengan Clara dalam satu dorongan dalam yang mantap."Nggghhh... Mas Tresna... d-dalam banget..." desah Clara tertahan, matanya langsung terpejam erat menikmati sensasi penuh yang menghunjam rongga intimnya.PLAKK! PLAKK! GECHYURRR...Suara benturan kulit yang basah menyatu dengan gemericik air pancuran alami yang terus mengalir dari bambu. Suasana kebun belakang rumah joglo yang semula dingin seketika berubah menjadi sangat panas oleh gejolak asmara yang membara."Kamu yang minta ini, Clara. Pegangan yang kuat," bisik Tresna parau, urat-urat di leher dan lengannya menegang seiring dengan gerakan pinggulnya yang mulai berayun cepat."I-iya, Mas... terus... jangan berhenti..." Clara meremas kuat pundak kokoh Tresna, mencoba menjaga keseimbangan satu kakinya yang
"Kita nggak bisa membiarkan manipulasi ini berjalan lancar, Lin. Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Tresna menatap lurus ke arah kepala desa perempuan tersebut.Linda menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Sore ini kita biarkan warga pulang dulu ke rumah masing-masing setelah gotong royong selesai," ucapnya tenang."Besok pagi-pagi sekali, aku sendiri yang akan mendatangi kantor kecamatan demi membatalkan surat penyegelan sepihak ini secara hukum resmi," lanjut Linda mantap. "Aku punya bukti pemecatan Darto dan hasil analisis data dari Clara.""Aku bakalan dampingi kamu besok, Lin. Nggak aman kalau kamu pergi sendirian ke kecamatan dengan situasi yang mulai memanas begini," sahut Tresna tegas."Terima kasih, Mas. Kehadiran kamu bikin hati aku jauh lebih tenang," bisik Linda dengan tatapan mata yang penuh rasa terima kasih.Sore hari pun tiba, ditandai oleh langit Sukamaju yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Ratusan warga desa perlahan-lahan pamit pul
Hanya menggunakan satu telapak tangan, jari-jari kekar Tresna meremas kuat batang besi tebal tersebut. Disokong aliran energi Batu Wulung yang bergejolak di dalam darahnya, besi merah yang tadinya kokoh itu perlahan melengkung parah, berkerut, hingga akhirnya remuk tertekuk menjadi dua bagian seperti kerupuk.BRAKK!Tresna mencampakkan sisa besi hancur itu ke atas tanah tepat di depan ujung sepatu bot sang petugas ketus. Benturan berat itu terdengar sangat solid.Wajah petugas berwajah ketus itu seketika memucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat menahan takut, sementara dua rekan di belakangnya melotot dengan mulut ternganga. Nyali ketiga utusan dari tingkat kabupaten itu langsung menciut habis."Bawa pulang surat sampah ini ke majikan kalian di kota," kata Tresna rendah dengan suara berat penuh ancaman. "Katakan pada mereka, kalau ada satu lagi besi merah yang tertancap di tanah wakaf Sukamaju... kepala mereka yang akan saya buat bentuknya seperti besi ini."Ketiga petugas kabupaten itu l
Clara ikut mencondongkan tubuhnya, membaca isi surat tersebut dengan kening berkerut dalam. "Jalur hijau? Perluasan proyek pemerintah daerah?""Betul sekali," sahut petugas itu dengan senyuman sinis. "Area tanah wakaf klinik ini sudah masuk rencana proyek jalur hijau pemerintah daerah, hak pengelolaannya bahkan sudah dibeli secara sah oleh perusahaan pengolah limbah tingkat kabupaten.""Nggak bisa begitu! Tanah ini tanah wakaf desa yang sah untuk fasilitas kesehatan warga!" protes Linda keras sambil menunjuk dokumen di tangannya, "Lihat ini! Tanda tangan persetujuan pelepasan hak tanah di berkas ini... ini tanda tangan Pak Darto!""Ya, memangnya kenapa kalau itu tanda tangan Sekretaris Desa?" tanya petugas itu santai, melipat kedua tangannya di depan dada."Pak Darto itu mantan sekretaris desa yang sudah dipecat secara tidak hormat karena korupsi dan suap dari perusahaan limbah itu! Surat ini dibuat secara ilegal sebelum dia resmi diberhentikan, jadi tanda tangan ini nggak memiliki ni
"Duh, Mas... lemas semuaku kalau kamu sudah menghantam sampai dalam begitu," bisik Silvi manja, tangannya bergerak pelan mengusap sisa keringat di perut berkotak sang mantri desa.Tresna terkekeh rendah, membalasnya dengan elusan lembut di rambut hitam Silvi sebelum mengecup kening janda itu sekilas. "Katanya tadi nggak rela kalau digantung. Sekarang malah ngeluh lemas.""Ya kan nggak ngira kalau bakal sekuat itu, Mas. Sampai mau copot rasanya pinggangku," sahut Silvi dengan senyuman menggoda, meskipun tubuh polosnya tetap enggan bergeser dari dekapan hangat Tresna."Sudah, ayo rapikan pakaianmu. Matahari sudah mulai naik, nggak enak kalau warga atau Linda dan Clara sampai melihat kita keluar dari sini dengan keadaan begini," kata Tresna lembut penuh wibawa. Pria itu perlahan mengurai pelukan mereka untuk mengambil celana jinsnya di atas tumpukan karung padi.Silvi mengerucutkan bibirnya sedikit karena agak tidak rela momen manjanya berakhir secepat ini. Namun, janda kembang itu tetap
Silvi yang sudah berada di ujung tanduk kenikmatan langsung membuka matanya dengan napas memburu parah, wajahnya merengut kesal karena digantung begitu saja."Kenapa berhenti, Mas? Kamu nggak mau punya anak sama aku?" tuntut Silvi dengan nada manja yang bercampur kesal, membalikkan sedikit kepalanya menatap Tresna.Tresna tidak langsung menjawab, dia hanya terdiam dengan napas berat yang memburu di atas punggung Silvi. Pikiran sang mantri desa mendadak berkecamuk hebat, membuatnya bingung dan terjebak dalam dilema yang pelik.Di satu sisi, Tresna merasa belum siap. Karso memang sudah berhasil di bereskan ketika juragan sombong itu tertimbun gua, tapi nasib desa Sukamaju jelas belum sepenuhnya aman dari sisa-sisa anak buahnya yang masih berkeliaran di luar sana.Lagipula, menuruti kemauan Silvi sama saja dengan mengikat diri. Memiliki anak berarti dia harus menikahi janda kembang itu.Sementara di lubuk hatinya yang paling dalam, Tresna sadar ada perasaan wanita lain yang dipertaruhkan







