Share

Bab 145

Author: Prince Molina
last update publish date: 2026-03-30 13:30:42

Mobil patroli itu masih melaju gila-gilaan di atas aspal jalanan kabupaten yang sepi. Sirinenya meraung seolah sedang menggugat takdir yang hampir merenggut nyawa sang mantri desa.

Di dalam kabin yang sempit dan berbau anyir darah, suasana mendadak berubah dari mencekam menjadi penuh keajaiban. Cahaya merah terang dari batu wulung di leher Tresna itu menyebar perlahan dan menyelimuti area bahu kanannya yang terluka parah.

"Mas... Mas Tresna! Batunya... batunya nyala!" teriak Silvi dengan suara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 153

    Linda menatap langsung ke arah wajah Tresna di tengah kegelapan ruangan gubuk yang sempit dan hanya diterangi oleh sedikit cahaya bulan yang menyusup lewat celah rumbia."Mas, di sini panas banget... rasanya dadaku kayak terbakar," rintih Linda.Keringat mulai membasahi leher jenjangnya yang putih, mengalir turun ke sela-sela dadanya. Ia membuka kancing atas kemejanya sendiri, satu demi satu, untuk mengurangi rasa gerah yang menyerang seluruh pori-pori kulitnya saat itu akibat ketegangan fisik dan mental yang memuncak.Tresna terpaku, ia tidak bisa membuang muka saat kain kemeja Linda tersingkap. Dua buah kembar Linda yang besar dan padat terlihat sangat menantang, memantulkan sedikit cahaya bulan yang masuk dari celah atap rumbia, memberikan kilauan putih mulus yang sangat kontras dengan kegelapan gubuk. Pemandangan itu laksana oase di tengah padang pasir bagi Tresna yang baru saja bertaruh nyawa."Linda... kamu tahu apa yang kamu lakuin?" suara Tresna memberat, nadanya dipenuhi gair

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 152

    Loncatan cepat dilakukan dari teras belakang puskesmas menuju area perkebunan tebu warga yang terbentang luas. Rimbunnya tanaman tebu di balik bangunan medis itu menjadi sasaran pelarian mereka selanjutnya demi mencari tempat persembunyian.Udara malam perdesaan yang dingin langsung menyergap tubuh mereka yang bersimbah keringat. Bau tanah basah dan aroma tajam daun tebu menusuk hidung, memberikan sedikit kesegaran pasca menghirup asap kimia yang menyesakkan.Keselamatan mereka masih jauh dari kata terjamin di tengah kegelapan yang mencekam. Di kejauhan, teriakan anggota sindikat mulai terdengar saling bersahutan mengelilingi area puskesmas."Mereka keluar lewat belakang! Kejar ke kebun tebu!" raung suara-suara kasar dari arah bangunan medis tersebut."Mas... kakiku sakit, aku nggak kuat lagi..." isak Silvi sembari tertatih mengimbangi langkah lebar Tresna."Tahan, Sil! Kita harus terus gerak! Kalau berhenti sekarang, mereka bakal nemuin kita dengan mudah!" sahut Tresna dengan nada te

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 151

    Sosok itu mendarat tepat di depan wajah Tresna dengan bunyi debuman yang solid di atas lantai. Jalur pelarian mereka kini terhalang total oleh kehadiran musuh yang berdiri dalam posisi sangat mengancam.Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam yang melekat ketat, menonjolkan otot-otot tubuh yang terlatih dengan sempurna. Sebuah masker menutupi sebagian wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata yang menatap sedingin es.Belati taktis di genggamannya berkilauan saat tertimpa cahaya lampu darurat yang remang-remang. Senjata tajam itu telah dalam posisi siap untuk diayunkan tepat ke arah leher Tresna."Ternyata kamu memang licin kayak belut," suara dinginnya terdengar, membawa aura kematian yang menyengat.Silvi dan Linda menjerit tertahan sembari melangkah mundur beberapa tindak dengan wajah pucat. Respons cepat ditunjukkan oleh AKP Darmawan yang segera mengangkat pistolnya ke arah sang penyusup.Namun, sang pembunuh bayaran lebih dulu melontarkan ancaman yang sanggup membekukan mereka se

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 150

    Benturan keras tubuh pembunuh itu pada meja besi menciptakan dentuman yang mengerikan, menghancurkan botol-alkohol dan wadah kapas steril. Bantingan bertenaga jantan yang dilepaskan Tresna membuat senjata api laras panjang itu terlepas dari genggaman dan terlempar jauh ke lantai keramik.Celah sekecil apa pun tidak diberikan bagi musuhnya untuk sekadar bernapas atau mencari keseimbangan kembali. Atmosfer di dalam ruangan gelap itu mendadak bergetar oleh suara rendah yang penuh dengan ancaman."Berani-beraninya kamu mengusik ketenanganku, bangsat!" geram Tresna dengan nada yang sangat dalam.Posisi tubuhnya kini menindih lawan sembari melayangkan pukulan beruntun ke area wajah tanpa ampun. Tangan besar Tresna menghantam rahang serta pelipis sang pembunuh dengan kecepatan yang mematikan.BUGH! BUGH! BUGH!Setiap hantaman yang mendarat terdengar selayaknya palu godam yang menghujam daging dengan telak. Pria berbadan kekar itu hanya bisa mengerang kesakitan saat kesadarannya mulai memudar

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 149

    "Mereka sudah di depan pintu," batin Tresna dengan tingkat kewaspadaan maksimal.BRAKKK!Pintu ruang gawat darurat ditendang dari luar dengan kekuatan dahsyat hingga terbuka lebar menghantam tembok. Suara dentuman keras itu menggetarkan seisi ruangan, memecah kesunyian malam dengan brutal.Tresna refleks merapatkan tubuhnya ke sudut terdalam guna menghindari deteksi indra musuh. Napasnya ditahan sejenak saat dua sosok pria berbadan kekar dan tegap melangkah masuk dengan gerakan taktis.Sepasang bayangan hitam itu bergerak sangat rapi, seolah-olah baru saja keluar dari lubang neraka. Kehadiran mereka membawa hawa dingin yang menusuk tulang, siap menebar maut di dalam kegelapan puskesmas.Dua lampu senter yang terpasang di ujung laras panjang menyala seketika, membelah kegelapan ruang IGD dengan benderang. Cahaya putih yang menyilaukan itu bergerak liar, menyapu setiap sudut dinding hingga lemari kaca peralatan medis.Tresna menahan napas sedalam mungkin di balik lemari penyimpanan obat

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 148

    DOR! DOR!Suara itu menggelegar hebat hingga menggetarkan kaca-kaca jendela di ruang medis. Jantung Silvi seolah berhenti berdetak sesaat mendengar ledakan yang memekakkan telinga tersebut."Pak Darmawan!" teriak Silvi dengan suara parau sembari membekap mulutnya sendiri.Kondisi puskesmas kembali senyap setelah letusan tersebut, menciptakan atmosfer yang jauh lebih menekan mental. Tidak ada suara teriakan petugas maupun perintah tangkap yang terdengar dari luar.Kesunyian itu terasa mengerikan karena tidak ada langkah kaki perwira polisi yang kembali untuk memberi kabar. Linda menatap Tresna dengan penuh keputusasaan, mencari jawaban yang bisa menenangkan hatinya."Mas... kenapa sepi banget? Apa Pak Darmawan..." Linda tidak berani melanjutkan kalimatnya yang menggantung.Kedua tangan Tresna mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi krak yang kecil. Ia menyadari bahwa musuh dari kota mulai mengirimkan pembunuh bayaran tingkat tinggi untuk menghabisinya.Org

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 26

    Jarot dan Tejo tertawa terpingkal-pingkal melihat kuda-kuda banci yang dipasang oleh Tresna di tengah lorong pasar yang becek itu. Mereka merasa sangat yakin bahwa kemenangan sudah ada di tangan mereka karena penampilan lawan yang nampak sangat konyol."Ayo Jo, kita habisi saja si mantri daster ini

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 27

    Meski berhasil melumpuhkan satu lawan sesaat, Tresna tetap kewalahan menghadapi Tejo yang menyerang membabi buta. Tejo nampak sangat marah melihat Jarot yang masih terhuyung-huyung menahan mual akibat serangan ketiak tadi.Tejo menerjang maju dengan pukulan swing yang sangat keras dan bertenaga ke

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 24

    Keributan yang terjadi di depan lapak daging itu seketika menarik perhatian sekumpulan bapak-bapak yang sedang asyik bermain kartu. Para pemburu angka togel yang sedari tadi nongkrong di warung kopi dekat situ langsung berdiri dan berhamburan mendekat untuk menonton dengan antusias.Melihat Tresna

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 32

    "Tokonya Koh Alun itu ada di pojok sana, Lin. Yang cat pintunya warna merah dan banyak gantungan akar kering di depan teras tokonya," tunjuk Tresna.Linda mengikuti arah telunjuk Tresna dan ia melihat sebuah toko tua yang nampak sangat antik dengan aroma rempah-rempah yang sangat kuat keluar dari s

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status