FAZER LOGIN"Mas Tresna! Dokter! Gawat, Mas!"Pintu kayu itu mendadak terbuka lebar karena didorong kasar dari luar. Di ambang pintu, seorang pemuda karang taruna berdiri sambil memegangi kusen, napasnya putus-putus dan badannya gemetar hebat. Bajunya sudah tidak keruan, basah kuyup dan penuh noda lumpur parit yang kotor.Tresna yang sigap menggeser tubuh kekarnya, berdiri pas di depan Clara untuk melindungi dokter itu. Sorot matanya seketika berubah dingin beneran."Ada apa, Jok?! Masuk nggak pakai aturan, main dobrak saja!" gertak Tresna, suaranya berat memicu wibawa yang bikin merinding."M-maaf, Mas Tresna... tapi ini darurat!" tangis pemuda bernama Joko itu dengan wajah ketakutan setengah mati.Tresna tidak membentak lagi. Dia maju satu langkah, menatap Joko dari atas ke bawah dengan pandangan taktisnya yang tajam. "Tenangkan dirimu, Jok. Bicara yang jelas, ada apa di luar?""Perbatasan, Mas! Perbatasan desa kita jebol!" seru Joko dengan suara serak, napasnya masih putus-putus. "Ratusan warg
"Astaga... lukanya langsung mengering, Mas! Ini… ini nggak masuk akal!" seru Clara takjub, matanya melotot nggak percaya menatap hasil kerja Tresna."Sambiloto itu rajanya obat antiseptik alami, ditambah temulawak buat netralisir racun di kulit. Nenek moyang kita sudah pakai ini sebelum manusia jaman sekarang bikin obat dalam bentuk pil," sahut Tresna santai, menaruh kembali spatula kayu ke meja.Ketegangan yang sangat menguras pikiran dan tenaga selama proses pengobatan darurat tadi membuat atmosfer di dalam ruangan tertutup itu terasa sangat pekat. Napas Clara terdengar memburu sangat kencang, dadanya yang padat di balik jas dokter putihnya tampak naik-turun dengan kontras.Clara menatap tubuh kekar Tresna yang gagah, berdiri tegak tanpa ada rasa takut sedikit pun di tengah ancaman wabah mematikan. Gairah dan rasa kagumnya sebagai seorang wanita itu langsung memuncak, mengalahkan rasa takutnya pada penyakit.Dokter muda itu mendadak melangkah maju, lalu menarik lengan kekar Tresna d
"Aku harus tahu ini jenis patogen apa, Mas. Tanpa data akurat, kita nggak bakal bisa bikin penawarnya," sahut Clara serius.Clara mengambil sebuah spuit dari dalam lemari kaca. Tanpa membuang waktu, dia mencari area kulit di lengan pemuda itu yang masih bersih dari luka melepuh, lalu dengan jeli menusukkan jarum suntik tersebut tepat di atas pembuluh darahnya.Perlahan, Clara menarik tuas spuit hingga tabung bening itu terisi beberapa mililiter sampel darah yang berwarna agak kehitaman dan kental."Warnanya nggak wajar banget, Mas. Darah manusia nggak sepekat ini kalau cuma infeksi biasa," bisik Clara, wajahnya tegang.Clara membawa tabung sampel darah itu ke sudut meja laboratorium. Dia memasukkannya ke dalam sebuah mesin analisis portabel miliknya, alat khusus yang sengaja dia bawa dari rumah sakit pusat kota karena bisa membaca struktur DNA bakteri dalam hitungan menit.Bzzzzt... bzzzzt...Mesin laboratorium kecil berbentuk kotak hitam itu mulai bekerja, lampu indikator birunya ber
Dari arah kegelapan jalan raya, sorot lampu jauh dari tiga unit truk tronton berukuran raksasa tampak membelah kabut malam.Namun, di barisan paling depan, sebuah truk bak terbuka yang dipenuhi oleh puluhan orang sakit dari desa seberang melaju kencang, menderu liar menerobos portal bambu pembatas wilayah hingga patah menjadi dua.BRAKKK!"Mas! Mereka ndak mau berhenti! Portalnya ditabrak!" jerit Clara dari teras, tangannya gemetar menunjuk ke arah jalan raya.Melihat armada itu nekat merangsek masuk, Linda ndak membuang waktu lagi. Jiwa kepemimpinannya sebagai kepala desa baru mendidih. Tanpa rasa takut sedikit pun, Linda langsung melesat lurus ke tengah jalan tanah yang berdebu. Dia berdiri tegak tepat di jalur roda, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk mengadang laju kendaraan berat tersebut."Mbak Linda! Jangan, Mbak! Bahaya!" teriak beberapa pemuda karang taruna yang baru berdatangan dari arah pos ronda.Sopir truk seberang itu terkejut melihat sosok kepala desa pe
"Mas... hangat banget," bisik Silvi yang memperhatikan dari balik pintu dengan mata berbinar kagum. Karisma mistis Tresna selalu sukses membuat para wanitanya tunduk dan terpesona."Clara, pantau nadinya sekarang," perintah Tresna rendah, keringat jantannya mulai tampak berkilau di pelipis.Clara dengan cekatan menempelkan alat pemantau portabel ke pergelangan kaki si pemuda yang bebas dari luka melepuh. Matanya melekat pada layar kecil di tangannya."Astaga... naik, Mas! Detak jantungnya mulai stabil! Pernapasannya juga nggak seengap-engap tadi!" seru Clara nggak bisa menyembunyikan rasa takjubnya pada kemampuan pria pelindung desa itu."Hebat kamu, Mas. Energi panasmu bisa menekan penyebaran racun biologis di dalam darahnya buat sementara waktu.""Ini cuma buat bertahan beberapa jam. Sisa urusannya tetap ada di tangan medismu," sahut Tresna, menurunkan tangannya kembali sambil mengembuskan napas panjang.Linda yang berdiri di belakang mereka berdua sejak tadi hanya bisa terdiam deng
"Iya, Mas. Ini menular lewat cairan tubuh dan kontak kulit. Makanya aku larang kalian pegang! Sekali tertular, dalam waktu dua puluh empat jam kulit kita bakal melepuh seperti ini!" jelas Clara, peluh dingin mulai membasahi dahinya sendiri di balik sarung tangan karet.Mendengar penjelasan Clara, pemuda yang terkapar di lantai itu mendadak menggerakkan tangannya yang penuh luka melepuh. Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, dia memegang ujung celana panjang Tresna."M-Mas... Tresna..." rintihnya dengan mata yang mulai memutih, berada di ambang maut.Tresna tidak mundur sedikit pun. Dia tetap berdiri kokoh bak batu karang meski ujung celananya dikotori oleh tangan penuh luka itu. Matanya menatap ke bawah dengan pandangan tajam."Iya, aku di sini. Ada apa? Siapa yang bikin kamu jadi begini?" tanya Tresna, suaranya berat dan dalam."J-Juragan... Juragan Karso..." bisik pemuda itu, napasnya putus-putus seperti ikan yang kekurangan air."Kenapa dengan Juragan Karso? Bicara yang jelas!" tunt







