Masuk"Waduh, demi piring terbang yang ditarik odong-odong gaib... taktik pura-pura alim baca doa makan di dalam sangkar kaca tsunami kenapa malah bikin bule seksi Catherine makin penasaran mau jebol pertahanan iman, cyiiinnn! Sumpah ya, saya merem melek sambil pegang tasbih kayu di dasar samudra bukan mau sok suci di depan gurita purba, tapi demi selamatkan pusaka semut rangrang setelan pabrik kuli pasar dari hukum gilir massal bidadari gatel Pantai Kuta fajar ini!" jerit Madun panik sambil silangkan kedua tangan kekar di atas dada di tengah guncangan dinding kaca.Madun, wajah tampan rahang tegas hidung mancung, putar otak demi tahan kepungan hawa birahi laut selatan. Tubuh sawo matang tinggi kekar berot kotak-kotak penuh urat gemetar dibalut kemeja pantai basah kuyup, memancar pesona juragan pasar sejati yang berjuang menolak maksiat. "Nggak bisa dibiarin! Misi pura-pura jadi ustadz palsu pelarian harus dipertahankan sampai tetes darah terakhir! Jangan ada yang sentuh pinggang berot saya
"Waduh, mumpung gerombolan wanita gatel se-alam gaib dan dunia nyata lagi baku hantam memperebutkan pusaka semut rangrang raksasa, ini kesempatan jantan terbaik buat saya kabur ke Pulau Bali seorang diri demi cari kedamaian hidup normal tanpa terkunci di lubang rahim siapa pun, cyiiinnn!" jerit Madun berbisik panik sambil menyelinap keluar dari kepulan asap ledakan kapsul magma, lari sekencang angin topan meninggalkan area pertempuran demi selamatkan martabat kuli panggul setelan pabrik fajar itu.Madun, wajah tampan rahang tegas hidung mancung, mengendap di balik pasir putih Pantai Kuta setelah naik kapal feri kelas ekonomi tanpa ketahuan wanita mana pun. Tubuh sawo matang tinggi kekar berot kotak-kotak penuh urat dibungkus kemeja pantai longgar motif kamboja, coba baur dengan turis domestik demi sembuhkan trauma kejaran janda. "Nggak bisa dibiarin! Di Bali ini saya sebatang kara, bebas merdeka tanpa kawan, tanpa musuh, dan yang penting tanpa bayangan perempuan ruko pasar kelontong y
"Waduh, demi bumi berguncang... nasib orang ganteng setelan pabrik kenapa malah apes kuadrat dikepung ratusan perawan pedalaman, cyiiinnn! Sumpah ya, saya nekat menjebol sangkar bambu nuklir gaib dari inti bumi bukan mau mendarat di ruko kampung suku terasing isinya wanita muda montok telanjang dada begini, tapi mau tobat jadi kuli panggul pasar kelontong!" jerit Madun panik sambil menutupi pusaka semut rangrang pakai daun jati raksasa di tengah kepungan tombak bambu runcing pagi itu.Madun, wajah tampan rahang tegas hidung mancung, menggeram pasrah saat tubuh sawo matang tinggi kekar berot kotak-kotak penuh urat diikat kencang di tiang pancang kayu jati oleh kepala suku wanita seksi. Sambil menahan hawa dingin hutan, Madun sentakkan badannya demi jaga kesucian iman dari ritual giliran pejantan tangguh desa adat. "Aduh, Gusti! Siasat hukum adat macam apa ini, masa pusaka lelaki sejati saya mau dijadikan mesin gempur lubang rahim massal keliling kampung! Susiadi! Bambang! Joko! Bawa su
Madun menghela napas panjang melihat ruko kelontong pasar desa yang menjauh di belakangnya, memutuskan kabur ke tengah hutan belantara seorang diri demi sembuhkan halusinasi kejaran janda yang semakin menjadi-jadi. Madun, wajah tampan rahang tegas hidung mancung, gendong ransel kain usang dengan langkah lunglai, berharap pohon tua bisa sembunyikan tubuh sawo matang tinggi kekar berot penuh urat dari jeratan takdir pengantin siber. "Aduh Gusti, mending saya hidup sunyi makan umbi ganyong bareng monyet hutan daripada di ruko terus kena cengkeraman tangan robot janda kaya, cyiiinnn! Tolong biarkan pusaka semut rangrang setelan pabrik saya istirahat tenang di bawah teduhnya pohon beringin liar fajar ini!"Baru saja Madun hendak meluruskan kaki jantannya di atas batu kali berlumut, semak belantara di depannya robek berguncang akibat terobosan Sersan Sarah yang nekat lacak aroma peluh Madun pakai satelit radar militer. Sarah melompat dari balik pohon tumbang hanya pakai pakaian dalam olahra
"Waduh, Pak Ustadz Danu penumpas dedemit gatel! Tolong sembur sisa air rukiyah ini ke muka tampan jantan Mas Madun dong, cyiiinnn! Sumpah ya, lingkar segel gaib pengantin semesta dari ratu pantai selatan di pinggang sawo matang ekeuuu bener-bener makin panas membara sampai bikin pusaka semut rangrang setelan pabrik saya tegak lurus menggelegar menantang mimbar masjid fajar ini!" jerit Madun panik sambil menahan guncangan tubuh kekarnya di atas karpet ruko kelontong yang disulap jadi tempat rukiyah darurat pagi buta.Madun, wajah tampan rahang tegas hidung mancung, kelabakan menahan getaran beringas dari akar beringin gaib yang melilit kaki jantannya. Tubuh sawo matang tinggi kekar berot penuh urat meliuk-liuk menahan semburan ayat suci yang dibacakan ustadz desa. "Nggak bisa dibiarin! Misi hidup normal jadi kuli pasar harus sukses detik ini juga! Susiadi! Bambang! Joko! Pegangin tangan jantan saya sebelum pasak bumi lelaki sejati ini melompat menerkam barisan wanita seksi di depan mim
"Aduh, gusti pangeran... susahnya jadi orang ganteng setelan pabrik di alam semesta ini, cyiiinnn! Di dunia nyata dikejar janda kaya dan tentara kowad seksi, eh begitu masuk dunia gaib malah hantu Gondoruwo hitam pekat ikutan doyan meraba bokong kekar saya!" jerit Madun panik sambil menahan guncangan peti mati emas yang terbang membelah awan hitam malam itu.Madun, wajah tampan rahang tegas hidung mancung, menggeram mencoba melepaskan ikatan jaring ulat bulu laba-laba berlendir yang melilit tubuh sawo matang tinggi kekar berot penuh urat jantan. Sambil menahan hawa panas kawah gunung berapi yang menyengat kulitnya, Madun nekat menyundul tutup peti emas pakai dahinya yang keras sekuat beton proyek ruko desa. "Nggak bisa dibiarin! Kehormatan pasak bumi lelaki sejati Mas Madun bisa ambyar kalau dijadikan tumbal pembuahan khodam leluhur gila! Susiadi! Pimpin pasukan mantan mami buat ngebom kawah ini pake karung beras sebelum pusaka saya hangus terbakar nafsu gaib!"Tiba-tiba, tutup peti m







