Mag-log inPukul 12.00 siang tepat. Matahari di langit kawasan Menteng bersinar sangat terik, memancarkan gelombang panas yang membakar atap-atap bangunan sekitar RM Jagoan Rasa. Namun, teriknya cuaca di luar sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suhu panas yang terus mendidihkan udara di dalam kamar utama istana sang penguasa desa.Vanesha terbaring lemas di atas seprai satin hitam yang sudah basah kuyup oleh peluh, sisa-sisa cairan kenikmatan, dan lelehan mahakarya rawa lele. Napasnya masih tersengal-sengal setelah rentetan gesekan super cepat dan hantaman brutal yang menghabiskan seluruh sisa tenaga di tubuhnya.Namun, di bawah pengaruh suplai Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga yang terus bergolak tanpa ampun di dalam aliran darah Madun, siklus pertempuran di kamar utama ini tidak pernah mengenal kata selesai. Madun kembali bangkit terduduk dengan dada bidang terbuka, memamerkan otot-otot legendarisnya yang mengilap."Belum cukup istirahat, Vanesha," gerus Madun deng
Pukul 10.00 pagi menjelang siang. Sinar matahari di kawasan Menteng terpancar terik, menyinari halaman luar RM Jagoan Rasa yang mulai dipadati oleh hiruk-pikuk aktivitas siang hari. Namun, di dalam keheningan kamar utama berlantai kayu jati tua, waktu seolah berjalan dengan ritme kenikmatannya sendiri.Setelah rentetan sedotan mantab dan hantaman brutal yang menguras seluruh tenaga beberapa saat lalu, Vanesha dan Madun terbaring dalam jalinan pelukan kelelahan di atas seprai satin hitam yang basah oleh peluh dan sisa cairan. Suasana kamar terasa sangat senyap, diisi hanya oleh deru napas berat kedua insan yang mulai teratur.Madun memejamkan matanya, menikmati sisa-sisa kehangatan yang mengalir di sekujur tubuhnya berkat suplai jamu rawa lele. Ia mengira sesi pagi yang melelahkan itu telah usai sepenuhnya. Namun, ia lupa dengan siapa ia berpasangan—Vanesha, istri sah sang jagoan desa, menyimpan sejuta keusilan nakal di balik tatapan sayunya.Sembari berbaring miring menghadap suam
Pukul 08.15 pagi. Sinar matahari pagi di kawasan Menteng kian meninggi, memantulkan pendar hangat di kaca-kaca jendela istana RM Jagoan Rasa. Meskipun jam operasional restoran di bagian depan sudah mulai sibuk dengan lalu-lalang para pegawai yang menyiapkan pesanan pagi para pelanggan, dunia di dalam kamar utama berlantai kayu jati tua itu tetap berputar dalam poros kenikmatannya sendiri.Vanesha terbaring di atas seprai satin hitam dengan napas yang masih memburu. Sekujur tubuhnya basah oleh peluh dan sisa cairan intim dari rentetan amukan panjang sebelumnya. Namun, di bawah pengaruh suplai Jamu Perangsang Rawa Lele yang terus mengalir deras di dalam pembuluh darah sang penguasa desa, siklus gairah di istana Menteng tidak pernah mengenal kata berhenti.Madun berdiri sejenak di tepi ranjang, merenggangkan otot-otot dadanya yang bidang. Ia menatap Vanesha dengan seringai maut preman pasar malam yang memancarkan dominasi mutlak."Belum waktunya istirahat, Vanesha," gerus Madun denga
Pukul 06.15 pagi. Sinar matahari pagi di kawasan Menteng telah sepenuhnya memancarkan pendar terangnya melalui celah tirai kamar utama istana RM Jagoan Rasa. Setelah badai hantaman brutal dan gelombang rasa gemas dari Madun yang menguras tenaga beberapa menit lalu, suasana di atas ranjang satin hitam mendadak mengalami pergeseran dinamika yang sangat menarik.Vanesha, yang sedari tadi menjadi pihak penerima dominasi penuh, perlahan membuka matanya. Meskipun sekujur tubuhnya terasa lemas dan linu akibat digempur habis-habisan sepanjang malam, sisa-sisa suplai jamu rawa lele yang meresap ke dalam aliran darahnya turut membakar balik energi tersembunyi di dalam dirinya. Sebagai istri sah sang jagoan desa, Vanesha tahu betul kapan ia harus memegang kendali dan memberikan pembalasan setimpal atas segala keusilan suaminya.Madun berbaring telentang di atas ranjang dengan dada bidang terbuka, memamerkan otot-otot legendarisnya yang masih mengilap oleh peluh. Di sampingnya, mahakarya mutas
Pukul 04.45 dini hari menjelang fajar menyingsing di kawasan Menteng. Meskipun badai klimaks baru saja mereda beberapa menit lalu, hawa panas dan aroma candu yang pekat di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menurun.Madun, sang jagoan desa yang didukung oleh suplai Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga di dalam aliran darahnya, tidak mengenal kata lelah. Di bawah pendar lampu tidur merah marun, ia kembali menatap tubuh Vanesha yang terbaring lemas dengan napas memburu di atas seprai satin hitam. Puting pink ranum sang istri sah yang baru saja menjadi sasaran sedotan beringas dan gigitan kecil manja kini tampak semakin merona merah terang, basah oleh peluh dan sisa cairan.Namun, Madun belum puas. Masih ada satu tahap ritual mahakarya yang belum sepenuhnya ia tumpahkan untuk melengkapi rangkaian malam tersebut: remasan bertenaga maknyus yang akan meremukkan seluruh sisa pertahanan mental istrinya."Belum waktunya tidur, Vanesha," b
Pukul 03.45 dini hari. Udara dingin yang merayap di luar dinding kayu istana RM Jagoan Rasa sama sekali tidak mampu menembus hawa panas yang mengepul pekat di dalam kamar utama. Lampu tidur merah marun memancarkan pendar temaram, menyinari tubuh Madun dan Vanesha yang terbaring dalam jalinan pelukan pasca-pertempuran panjang.Meskipun letupan-letupan dahsyat telah berkali-kali dilepaskan sepanjang malam, sisa-sisa suplai jamu rawa lele di dalam pembuluh darah Madun masih membakar sekujur sarafnya dengan energi yang tak pernah ada habisnya. Sang penguasa Menteng menumpumpukan berat badannya pada sebelah siku, menatap lekat-lekat ke arah Vanesha—istri sah yang kini terbaring pasrah di bawah tatapan memujanya.Dan di sanalah pandangan mata Madun terpaku: dua buah puting pink ranum milik Vanesha yang masih berdiri tegak menantang udara kamar, basah kuyup oleh sisa keringat dan lelehan cairan intim. Warna merah muda yang cerah di atas kulit eksotis sang istri sah tampak bagaikan magnet
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru







