หน้าหลัก / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 171: Aroma Sedap Secangkir Kopi

แชร์

Bab 171: Aroma Sedap Secangkir Kopi

ผู้เขียน: Ibrahiman
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-22 00:39:32

​"Waduh, lupakan saja banyolan konyol soal getaran pot bunga gantung dan jaring titanium seberat seratus ton yang sangat tidak masuk akal itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menyeduh sepasang cangkir kopi hitam hangat ini biar mata kita melek fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah menuju meja kecil di sudut teras, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan t
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 173: Guncangan Manis di Ayunan Bambu

    ​"Waduh, lupakan saja banyolan konyol soal pipa saluran pembuangan bocor and jaring titanium seberat seratus ton yang sangat tidak masuk akal itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau membersihkan sisa cipratan air ini sambil mengajak kamu duduk santai di atas ayunan bambu teras biar kaki kita bisa istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil menuntun lengan halus Catherine menuju sudut halaman, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa gangguan gaib kiriman dari pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menduduki bilah bambu panjang, membi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 172: Percikan Segar Air Kran

    ​"Waduh, lupakan saja khayalan konyol soal getaran tirai bambu and jaring titanium seberat seratus ton dari kelurahan sebelah yang bener-bener gak masuk akal itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau mencuci cangkir kosong ini di kran halaman biar teras kita tetap bersih fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah menuju pancuran air di sudut taman, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa gangguan gaib kiriman dari pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban kebersihan lingkungan bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk memutar kran kuningan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan su

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 171: Aroma Sedap Secangkir Kopi

    ​"Waduh, lupakan saja banyolan konyol soal getaran pot bunga gantung dan jaring titanium seberat seratus ton yang sangat tidak masuk akal itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menyeduh sepasang cangkir kopi hitam hangat ini biar mata kita melek fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah menuju meja kecil di sudut teras, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa gangguan gaib kiriman dari pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menuangkan air panas dari termos plastik, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 170:

    Sentuhan Pagi di Balik Jendela​Madun meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa gangguan gaib kiriman dari pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mendorong slot kunci jendela kuningan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak bangkit dari kasur. "Nah, kalau jendelanya sudah terbuka lebar and angin segar pegunungan sudah masuk b

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 169: Kejutan di Balik Selimut Sutra

    ​ Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah mundur dari sisi tempat tidur, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening membayangkan rupa-rupa gangguan gaib dari ruko remang-remang lintas kecamatan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban suasana kamar tidur.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengambil segelas air putih di atas meja kecil, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melikat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak sangat manja di atas kasur. "Nah, kalau kamarnya sudah tenang and air mi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 168: Gantungan Kelambu Kamar Bungalow

    ​"Aduh, abaikan saja urusan getaran gantungan kelambu tempat tidur di dalam kamar yang bener-bener mengada-ada dan bikin pusing kepala itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk ini fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah santai merapikan seprai kasur kelurahan, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah melangkah aman melewati ambang teras kamar bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban suasana kamar tidur.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menyalakan lampu jepit di sudut ruangan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan peso

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status