Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 368: Pesta Malam di Alun-Alun

Share

Bab 368: Pesta Malam di Alun-Alun

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-10-04 02:44:19

.Mentari telah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala barat, digantikan oleh langit malam bertabur bintang yang membentang luas di atas kawasan Menteng. Udara malam berembus sepoi-sepoi, membawa kesejukan yang sangat kontras dengan teriknya panas matahari sehari sebelumnya.

​Di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa, Vanesha terbangun dari tidur pulasnya. Setelah semalam suntuk beristirahat total dan menikmati suapan nasi goreng gerobak bersama sang suami, sekujur tubuhnya kini terasa jauh le
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 373: Pagi yang Hangat

    Sinar matahari pagi bulan Oktober 2026 menghangatkan kawasan Menteng, menembus kaca jendela kamar utama istana RM Jagoan Rasa dengan bias jingga kekuningan yang lembut. Udara pagi berembus sepoi-sepoi, membawa kesejukan sisa embun dari dedaunan pohon mangga di halaman depan restoran. Suasana di dalam ruangan terasa begitu tenang, kontras dengan gelora badai pertempuran yang melanda sepanjang hari-hari sebelumnya.​Vanesha dan Madun masih terbaring berdampingan di atas seprai satin hitam yang lembut. Tidak ada lagi sisa ketergesaan; yang ada hanyalah keheningan pagi yang dipenuhi rasa nyaman dan kelegaan yang mendalam. Kepala Vanesha masih bersandar tenang di atas dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung kakek sakti itu yang berirama stabil dan menenangkan.​Madun membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar berkayu jati tua sebelum menunduk untuk memandangi wajah istrinya yang masih terlelap damai. Tangan kekarnya terulur lembut, merapikan helai demi helai rambut hita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 372: Pelukan Nikmat

    ​Pukul 05.30 pagi. Semburat cahaya matahari pagi perlahan-lahan mulai merayap naik menembus celah-celah jendela kaca istana RM Jagoan Rasa, memancarkan bias keemasan yang hangat ke dalam kamar utama berlantai kayu jati tua. Udara pagi kawasan Menteng terasa begitu sejuk, berpadu dengan aroma embun yang menempel di dedaunan pohon mangga di halaman depan restoran.​Setelah badai pertempuran yang begitu beringas, liar, dan penuh teriakan asoy sepanjang malam tadi, suasana di dalam ruangan kini berangsur-angsur menjadi sangat tenang, hening, dan damai.​Vanesha dan Madun terbaring berdampingan di atas seprai satin hitam yang berantakan dan basah oleh sisa-sisa peluh serta cairan kenikmatan. Tidak ada lagi suara derit ranjang kayu yang bergoyang, tidak ada lagi gempuran brutal dari mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter, dan tidak ada lagi decak lidah penuh nafsu. Senjata masif milik sang kakek sakti itu kini telah kembali tenang, beristirahat total di samping tubuh sa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 371: Puncak Asoy Geboy

    Suasana di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa mendadak berubah menjadi sangat kontras dengan ketenangan malam di luar jendela Menteng. Lampu tidur berwarna kuning keemasan memancarkan cahaya temaram yang membingkai bayangan dua insan di atas seprai satin hitam. Setelah seharian penuh menikmati kemeriahan pasar malam, berburu jajanan kaki lima, dan pulang membawa boneka beruang raksasa, kini saatnya bagi sang penguasa Menteng dan permaisurinya untuk menuntaskan hasrat yang tersimpan rapat di balik pintu tertutup.​Madun berdiri di sisi ranjang, membuka kemeja flanel gelapnya dengan gerakan tegas, memperlihatkan otot-otot dada bidangnya yang kokoh dan dipenuhi peluh tipis. Di dalam aliran darah sang kakek sakti, sisa-sisa energi dari racikan Jamu Perangsang Rawa Lele Generasi Ketiga mendadak bergejolak kembali dengan kekuatan penuh, memanggil nama sang istri tercinta dalam gelora hasrat yang tak terbendung.​Vanesha bersandar di kepala ranjang, menatap suaminya dengan mata sayu yan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 370: Pulang

    Riuh rendah alunan musik dangdut koplo, suara teriakan anak-anak kecil di arena permainan, dan bisingnya kerumunan warga di lapangan terbuka kecamatan Menteng perlahan-lahan mulai meredup. Deretan lampu bohlam warna-warni di pasar malam satu persatu mulai dipadamkan, menandakan bahwa rangkaian hiburan rakyat malam itu telah sampai pada penghujung waktunya.​Madun dan Vanesha berjalan berdampingan melintasi jalanan aspal yang diterangi temaram lampu kota. Di tangan kiri Madun, boneka beruang cokelat raksasa hadiah dari stan lempar gelang ditenteng dengan santai, sementara tangan kanannya merangkul erat pinggang ramping sang istri. Vanesha melangkah dengan riang, sesekali menyandarkan kepalanya ke bahu bidang suaminya, menikmati semilir angin malam Menteng yang menyejukkan.​Perjalanan singkat dari lapangan pasar malam menuju gerbang istana RM Jagoan Rasa terasa begitu hangat dan penuh ketenangan. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap di antara keduanya, namun bahasa tubu

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 369: Misteri Rumah Hantu Pasar Malam

    ​Pukul 20.30 malam. Riuh rendah suara tawa pengunjung, alunan musik dangdut koplo dari panggung utama, dan aroma sedap makanan kaki lima masih memenuhi udara di area lapangan terbuka pusat kecamatan Menteng. Setelah sukses memborong boneka beruang raksasa dari stan lempar gelang, Madun dan Vanesha terus melangkah berdampingan menikmati suasana pasar malam yang semakin malam semakin padat.​Di sudut paling gelap dari area lapangan, berdirilah sebuah wahana permainan yang paling mencolok dan mengundang rasa penasaran: Rumah Hantu Pasar Malam.​Bangunan sementara itu terbuat dari papan triplek tua yang dicat hitam legam, dihiasi gambar-gambar seram seperti sundel bolong, pocong bermata merah, dan kelelawar raksasa. Dari dalam bangunan beratap terpal kain itu terdengar samar-samar suara jeritan histeris pengunjung, suara rintihan gaib dari pelantang suara berkarat, serta embusan angin buatan yang berbau debu dan kemenyan.​Vanesha, yang sedari tadi asyik menenteng boneka beruang hadiah su

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 368: Pesta Malam di Alun-Alun

    .Mentari telah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala barat, digantikan oleh langit malam bertabur bintang yang membentang luas di atas kawasan Menteng. Udara malam berembus sepoi-sepoi, membawa kesejukan yang sangat kontras dengan teriknya panas matahari sehari sebelumnya.​Di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa, Vanesha terbangun dari tidur pulasnya. Setelah semalam suntuk beristirahat total dan menikmati suapan nasi goreng gerobak bersama sang suami, sekujur tubuhnya kini terasa jauh lebih segar. Rasa pegal akibat gempuran ekstrem di berbagai posisi—mulai dari tiarap, nungging, hingga membal—sudah berangsur-angsur hilang, berganti dengan energi yang kembali terisi penuh.​Madun, sang penguasa Menteng, sudah lebih dulu terjaga. Ia mengenakan kemeja flanel gelap dipadu celana jeans panjang dan jaket kulit andalannya, memancarkan kharisma kakek sakti yang tetap terlihat gagah dan beringas.​"Sudah segar badannya, Vanesha?" sapa Madun dengan suara baritonnya yang berat dan berwiba

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status