首頁 / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 86: Pembalasan Bidadari Pasar

分享

Bab 86: Pembalasan Bidadari Pasar

作者: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-23 15:09:41

​"Heh, Madun! Keluar kamu! Jangan sembunyi di balik karung terigu terus! Hari ini kamu harus rasain pembalasan dari kita-kita yang udah kamu telantarin rahimnya!" teriak Mbak Yanti janda kembang sambil menendang keras pintu gudang belakang memakai sepatu hak tingginya.

​Pintu gudang terbuka paksa, dan visual Mbak Yanti siang itu bener-bener langsung merobek pertahanan mata pria normal. Janda kembang itu sengaja memakai dress mini ketat warna merah menyala dengan potongan dada yang sangat rendah
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 89: Tawon Vespa dan Herder Penjaga Iman

    ​"Aduh, Mas Madun... kok di depan gudang sekarang dipasang kandang besi gede banget sih? Jangan-jangan di dalemnya ada kasur baru buat kita berdua ya?" goda Maya si gadis penjual ayam potong sambil meliukkan pinggulnya yang ramping di depan pintu gudang kelontong siang itu.​Visual Maya siang hari itu bener-bener masih sangat mematikan bagi mata lelaki normal. Tank top pink ketat yang dipakainya nampak melar maksimal menahan sepasang buah dadanya yang besar, bulat, dan padat nampak membusung naik turun memburu sisa napas gerah pasar. Celana gemes denim super mini yang dipakainya mengekspos jelas paha mulusnya yang putih bersih, mulus bening tanpa noda berkilau indah diterpa terik matahari siang yang panas menggoda gairah.​Di sebelah Maya, muncul Mbak Yanti janda kembang yang kali ini memakai dress terusan ketat warna kuning tanpa lengan. Visual Mbak Yanti bener-bener merusak saraf pikiran pria sejati; potongan dada rendah dress-nya memperlihatkan belahan dadanya yang luar biasa besar

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 88:Trik Balasan Para Bidadari yang Gagal

    ​"Hahaha! Sukses besar! Rombongan cewek gatel langsung ambyar gara-gara kostum badut bau busuk ini!" tawa Madun bergemuruh puas sambil mengelap sisa keringat di wajah tampannya yang memiliki rahang tegas dan hidung mancung. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar nampak bugar di balik sarung yang diikat simpul mati kencang-kencang.​Tapi kesenangan Madun gak bertahan lama. Baru saja dia mau selonjoran di atas karung beras, tiba-tiba pintu gudang belakang diketok pelan dari luar. TOK... TOK... TOK...​"Mas Madun... ini Lala... tolongin Lala, Mas... kaki Lala keseleo pas lari tadi, sakit banget sampai gak bisa jalan," rintih Lala dari balik pintu dengan suara yang sengaja dibuat mendesah manja bercampur tangis buatan.​Madun mengernyitkan alis jantannya, mulai curiga. "Wah, jangan-jangan ini trik baru nih! Neng Lala, Mas Madun udah tobat total! Gak mempan digoda lagi! Mending Neng Lala pulang, urut pakai minyak urut depan toko aja sana!"​KREEEKKK... Pintu yang ternyata lupa dikunci Madu

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 87: Siasat Badut Busuk Madun

    ​"Waduh, Mas Madun... kok pusaka semut rangrang kamu yang raksasa penuh urat ini tiba-tiba mendadak mengkeret pas Mbak Yanti mau nempel sih?!" keluh Mbak Yanti janda kembang sambil cemberut, membuat dadanya yang besar, padat, dan montok berguncang gemas karena batal mendapat gempuran fajar.​Visual Mbak Siska yang ikut mengintip dari balik pintu bener-bener merusak iman pria normal siang itu. Gaun satin merah marunnya yang super ketat nampak melorot sebelah, memperlihatkan gundukan buah dadanya yang bundar, kencang, dan padat nampak naik turun memburu sisa gairah. Paha mulusnya yang kuning langsat dan berisi nampak terbuka lebar di atas tumpukan kardus mi instan, berkilau seksi oleh sisa keringat gerah hawa gudang kelontong yang panas menggoda.​Lala yang berdiri di sebelah Siska juga nampak sangat berantakan namun luar biasa seksi dengan tank top putih rajut melar yang mengekspos belahan dadanya yang ranum menggantung bebas tanpa bra. Paha mulusnya yang putih bersih dan bening tanpa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 86: Pembalasan Bidadari Pasar

    ​"Heh, Madun! Keluar kamu! Jangan sembunyi di balik karung terigu terus! Hari ini kamu harus rasain pembalasan dari kita-kita yang udah kamu telantarin rahimnya!" teriak Mbak Yanti janda kembang sambil menendang keras pintu gudang belakang memakai sepatu hak tingginya.​Pintu gudang terbuka paksa, dan visual Mbak Yanti siang itu bener-bener langsung merobek pertahanan mata pria normal. Janda kembang itu sengaja memakai dress mini ketat warna merah menyala dengan potongan dada yang sangat rendah. Buah dadanya yang luar biasa besar, padat, dan montok nampak menyembul setengahnya, bergoyang menantang maut setiap kali dia berkacak pinggang. Paha mulusnya yang kuning langsat, sangat semok, dan padat berisi nampak terekspos jelas karena belahan dress-nya sengaja dirobek sampai ke pangkal paha, memancarkan pesona matang yang luar biasa seksi dan bikin gerah.​Di belakang Mbak Yanti, muncul Maya si gadis ayam potong dan Sari pelayan toko baju yang membawa seember air es penuh es batu. Visual

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 85: Ujian Iman Madun

    ​"Mas Madun! Buka pintunya dong! Ini Mbak Yanti janda kembang, bawa kopi susu anget sama pisang goreng spesial buat kuli paling perkasa se-pasar!" teriak Mbak Yanti dari luar pintu gudang sambil mengetuk manja memakai kuku lentiknya yang dicat merah merona. ​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung tersentak kaget dari semedinya di atas karung beras. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar nampak masih dibalut sarung yang diikat simpul mati super kencang di pinggang berototnya. Otot perut kotak-kotaknya nampak menegang karena panik. "Waduh, cobaan apa lagi ini Gusti?! Mbak Yanti, maaf ya! Madun sudah tobat total! Gak menerima sumbangan kopi, susu, apalagi rahim gatel siang-siang begini! Tolong menjauh dari pintu iman saya!" ​Mbak Yanti ternyata tidak menyerah begitu saja. Dengan modal kunci serep yang dipinjam dari Budi, pintu gudang langsung terbuka perlahan. KREEEKKK... ​Visual Mbak Yanti yang melangkah masuk bener-bener menjadi ujian iman

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 84: Madun Bertobat

    “Aduh, Mas Madun... kok muka kamu tiba-tiba pucat kayak mayat pasar gitu? Sini merapat lagi, paha mulus Maya masih gatel minta disengat pusaka semut rangrang kamu itu,” rajuk Maya sambil menggeliat di atas karung beras. Tank top pink ketatnya robek di dada, memperlihatkan gundukan buah dadanya yang putih padat naik turun. Pahanya putih mulus terbuka lebar, berkilau karena sisa pelumas dan keringat. Sari si pelayan toko ikut merangkak mendekat. Dada montoknya bergoyang di depan Madun. Kaos v-neck kuningnya melorot, mengekspos kulit kuning langsat tanpa sehelai benang. “Iya, Kak Madun. Kok linggis beton Kakak yang biasanya tegak lurus beringas tiba-tiba jadi lemes kayak mi rebus kematangan? Ayo dong, digenjot lagi rahim Sari sampai ambyar!” Madun yang biasanya tampan dengan rahang tegas kini terduduk lemas, mata melot ketakutan. Tubuh sawo matangnya yang kekar bergetar hebat, keringat dingin mengucur. “Nggak, Neng Maya, Neng Sari... dada Mas sesek banget... Jantung Mas kayak dicen

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status