Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 87: Siasat Badut Busuk Madun

Share

Bab 87: Siasat Badut Busuk Madun

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 15:57:30

​"Waduh, Mas Madun... kok pusaka semut rangrang kamu yang raksasa penuh urat ini tiba-tiba mendadak mengkeret pas Mbak Yanti mau nempel sih?!" keluh Mbak Yanti janda kembang sambil cemberut, membuat dadanya yang besar, padat, dan montok berguncang gemas karena batal mendapat gempuran fajar.

​Visual Mbak Siska yang ikut mengintip dari balik pintu bener-bener merusak iman pria normal siang itu. Gaun satin merah marunnya yang super ketat nampak melorot sebelah, memperlihatkan gundukan buah dadanya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 304: Ekspansi Kerajaan Lopis

    ​Matahari pagi baru saja sepenuhnya naik, menghangatkan pelataran ruko kelontong Madun dan Kedai "Lopis Sakti" yang kini sudah menjadi ikon kebanggaan warga desa. Suasana damai dan makmur itu membuat siapa pun yang singgah merasakan ketenangan.​Sarah berdiri anggun di teras ruko sambil memegang secangkir teh hangat, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa semangat pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari yang cerah.​Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak berwibawa, menatap ke arah Bono dan Rini yang tengah berdiskusi serius di depan meja kedai.​Bono, yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi pengusaha jajanan tradisional yang sukses, melangkah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 303: Pesta Kemenangan di Pelataran Ruko

    ​Musnahnya ancaman dari sindikat Badri malam itu langsung mengubah suasana desa menjadi lautan suka cita. Pelataran ruko kelontong Madun yang tadinya tegang kini mendadak disulap menjadi arena perayaan dadakan yang meriah, dipenuhi sorak-sorai gembira dan gelak tawa warga yang merasa bebas dari rasa takut.​Sarah berdiri anggun di tengah kerumunan, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena napas kelegaan yang membuncah. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot lampu gantung ruko yang bersinar terang.​Madun berdiri tegar menjulang di sisi sang istri, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tersenyum hangat, menikmati kedamaian yang berhasil ia pulihkan bersama sahabat setianya.​Bono dan Rini berjalan keliling membagikan porsi ekstra

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 302: Membongkar Sindikat Badri: Akhir dari Teror Gula Aren

    ​Kejadian penyerangan pagi itu oleh preman bayaran suruhan Badri meninggalkan bekas amarah yang mendalam di hati warga desa, terutama bagi Bono dan Rini. Meskipun gerombolan preman tersebut berhasil dihancurkan dalam hitungan menit berkat ketangguhan Madun dan keberanian Bono, ancaman nyata dari Badri selaku pengusaha pesaing yang bangkrut tidak boleh dibiarkan begitu saja. Badri dikenal sebagai pengusaha licik yang kerap menghalalkan segala cara untuk memonopoli pasar jajanan tradisional di wilayah kecamatan. Jika dibiarkan bebas, keselamatan Kedai "Lopis Sakti" dan kedamaian desa akan terus berada di ujung tanduk.​Siang hari menjelang, suasana di pelataran ruko kelontong Madun tampak serius. Sarah berdiri anggun di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena ketegangan yang masih tersisa. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 301: Badai di Balik Manisnya Gula Aren

    ​Kesuksesan besar Festival Lopis Nusantara ternyata tidak hanya membawa berkah dan keuntungan melimpah bagi Bono dan Rini, tetapi juga memicu gelombang kecemburuan dari pihak-pihak yang tidak suka melihat kedai "Lopis Sakti" berjaya.​Dua hari setelah festival usai, suasana pagi di pelataran ruko kelontong Madun mendadak tegang.​Sarah berdiri di ambang pintu ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa cemas yang mendadak. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari pagi.​Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas menatap tajam ke arah depan ruko, di mana tiga orang pria berbadan gempal berkaus gelap berdiri dengan gestur menantang.​Mereka adalah anak buah dari Badri, mantan pe

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 300: Festival Lopis Nusantara di Pelataran Ruko

    ​Beberapa bulan berselang sejak Kedai "Lopis Sakti" resmi beroperasi, usaha kecil yang dikelola oleh Bono dan Rini berkembang pesat melampaui ekspektasi. Aromanya yang khas dan cita rasa gula aren murni membuat kedai tersebut tidak pernah sepi pengunjung, bahkan mulai menarik perhatian pelancong dari luar kota.​Pagi itu, pelataran ruko kelontong Madun tampak lebih sibuk dari biasanya. Spanduk besar bertuliskan "Festival Lopis Nusantara & Reuni Persahabatan" terbentang megah di antara tiang-tiang teras.​Sarah berdiri anggun di dekat meja pendaftaran festival, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena antusiasme yang tinggi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari pagi.​Madun berdiri tegar menjulang di sisi sang istri, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah t

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 299: Pagi Baru di Ruko Ujung Desa

    ​Matahari pagi menyinari atap ruko kelontong Madun dengan kehangatan yang menyegarkan. Udara desa terasa sejuk, membawa aroma embun pagi yang berpadu dengan wangi kopi hitam.​Sarah berdiri di teras ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menikmati udara pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari pagi.​Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tenang, menikmati ketenteraman desa yang kini benar-benar terbebas dari segala bentuk ancaman kriminalitas.​Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang riang terdengar dari arah jalan setapak. Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul: Bono berjalan berdampingan dengan Rini, istrinya.​Bono tampak jauh lebih segar dengan k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status