Share

Bab 2: Tur Distrik

Penulis: Nita K.
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-02 19:48:45

Halte kereta di dekat taman kota sedang berkumpul dua puluh orang, menunggu kereta khusus tur distrik datang. Salah seorang pemandu berdiri di depan semua orang.

“Sebentar lagi kereta kita akan tiba. Tempat duduk juga sudah dibagi sesuai dengan tiket kalian masing-masing. Pastikan kalian duduk sesuai nomor masing-masing.”

“Nona, kenapa anda mengajak saya?” Iza berbisik di telinga kanan Reina. Dia setuju untuk pergi dengan Reina, karena keinginan tuannya itu. Namun dia tidak tahu alasan dia diajak. Dia bahkan dilarang memakai seragam pelayan dan harus pakaian biasa.

“Karena Cuma kau yang terlihat normal. Juga jangan panggil aku nona, panggil aku Reina,” papar Reina.

---Itu...

Iza tampak ragu-ragu untuk menjawab. “Tapi, saya tidak bisa. Panggilan seperti itu rasanya...”

“Hanya saat kita diluar rumah. Kalau tidak bisa, panggil saja adik atau sesuatu yang lain. Ayo naik.”

Kereta tur sudah tiba. Hanya ada satu gerbong dengan total kursi 20 penumpang. Sesuai yang diminta oleh pemandu tur, semua orang masuk satu persatu, nomor paling kecil harus duduk di paling belakang dan nomor lainnya mengikuti ke depan.

Kebetulan Reina dan Iza mendapatkan nomor terakhir dan mereka mendapatkan kursi paling depan. Tidak ada kursi kosong lagi, pintu kereta pun ditutup. Masinis bersiap menarik tuas gas, membawa kereta mengelilingi distrik.

“Saya ucapkan selamat datang di tur distrik hari ini. Saya Pad, pemandu kalian semua hari ini. Silakan lihat peta di depan kalian masing-masing.”

Layar hologram muncul di depan Pad, menutupi wajahnya dengan sebuah hologram peta besar.

“Sama seperti sebelumnya, rute perjalanan kita dari distrik Kristal, melewati Frambos, lanjut Arboris, Fana, Latti, kemudian Tama dan Celeron. Terakhir kita akan kembali lagi ke Kristal. Tentu saja rute kita akan mengelilingi pusat kota yaitu Distrik Gilleo.”

Garis merah mengitari sebuah distrik yang luasnya lebih besar dari distrik lainnya. Itulah Distrik Gilleo, distrik yang menjadi pusat kota, tempat dimana alun-alun, kantor pemerintahan, DPDK, hingga pusat penelitian ada di distrik tersebut.

Perjalanan dimulai. Distrik krital tempat tinggal Reina, memiliki total penduduk mencapai 300 kepala keluarga. Di tempat itu juga terdapat sekolah mulai dari sekolah dini hingga SMA. Hal yang menarik dari distrik kristal adalah monumen kristal yang ada di tengah kota.

“Konon kristal tersebut berasal dari kristal murni dari peleburan intan. Ada juga yang mengatakan kalau kristal itu pemberian dari sahabat kepala distrik 70 tahun yang lalu. Perjalanan kita akan memakan waktu tiga jam, jadi kita akan kembali ke sini jam 12 siang. Kami juga akan memastikan kalian menikmati perjalanan ini.”

Dalam distrik memiliki dua lajur jalur kereta, yang mana satu untuk kereta transportasi umum dan satu lagi untuk kereta tur distrik. Tempat pemberhentian kereta dipasang dua untuk beberapa distrik namun distrik hampa hanya ada satu.

Keluar dari distrik kristal, mereka melewati distrik frambos. Distrik yang tersembunyi dibalik tingginya pegunungan. Jalur kereta tur tidak bisa menembus jantung distrik, mereka hanya melewati lereng pegunungan yang terdapat gapura bertuliskan ‘Frambos’.

“Distrik ini dikelilingi oleh gunung-gunung, meskipun begitu frambos tidak kalah modern dari Gilleo, pusat kota. Kita tidak bisa menjelajahi lebih jauh karena pemimpin Frambos membatasi turis masuk.”

Tidak ada pemandangan lain, selain pegunungan yang menjulang tinggi. Jalan masuk dijaga 2 orang dan kemungkinan saat memasuki pegunungan pun akan banyak penjaga di sana.

“Dihuni sekitar seribu kepala keluarga. Ada yang bilang saat kalian masuk ke sana, kalian akan melihat sebuah tower yang tingginya hampir menyamai tinggi gunung ini.”

Reina yang duduk di dekat jendela kanan kereta memandang penuh antusias pegunungan itu. Diantara celah gunung, dia bisa melihat ujung tower yang dibicarakan. Deretan pegunungan tergantikan dengan kilauan pantai.

Dia tanpa sadar membuka mulutnya, memandang takjub pemandangan di depannya. Kereta bergerak pelan dalam lajurnya, tepat di bibir pantai yang menyajikan pemandangan spektakuler.

“Pantai ini bernama Pantai Yurul yang memanjang dari distrik frambos ke distrik Arboris. Meskipun saat siang hari, tak banyak pengunjung yang datang karena hari ini adalah hari kerja. Dan, hanya ada jalur khusus kereta, tidak ada jalan raya untuk kendaraan. Jadi, untuk ketempat ini kebanyakan orang akan jalan kaki.”

Bibir pantai mulai menghilang digantikan deretan pepohonan yang rindang. Mereka tertutup sangat rapat dan hanya menyisakan satu jalan untuk menuju distrik Fana.

“Kalau kalian melewati hutan ini, kalian akan tiba di Distrik Fana. Di sana kalian bisa belajar banyak tentang tumbuh-tumbuhan, sistem tanam hidroponik, dan yang lainnya. Karena terhubung dengan laut, mereka juga membuat hutan mangrove yang sangat cantik.”

[Selamat datang di Distrik Fana] begitulah yang tertulis di papan gapura pintu masuk distrik. Dilihat dari luar pun, di dalam sana terasa sangat sejuk.

Iza memperhatikan Reina yang tidak sedikit pun menatap ke arah depan. Gadis remaja itu tampak sangat terpukau, tanpa mengalihkan wajahnya sedikit pun.

---Tempat ini seperti surga. Apa ini karena aku terkurung dalam waktu yang lama?

Kali ini jalur kereta berbelok, menembus lebatnya hutan. Semua orang pun bisa merasakan sejuknya area hutan. Dari dalam kereta, mereka bisa melihat kanopi pepohonan yang hampir sepenuhnya tertutup, tidak banyak cahaya matahari yang menyentuh tanah. Sepanjang lajur, terdapat beberapa orang yang sedang berkebun. Kebun buah apel, disepanjang dua sisi jalur kereta.

Orang-orang yang melihat kereta melintasi mereka berhenti sejenak, melambaikan tangannya pada pengunjung. Keluar dari pepohonan, kereta harus melewati di atas sungai bengawan. Air jernih yang bersinar di bawah sinar matahari.

“Jembatan ini disebut jembatan Amora. Pemerintah menyiapkan dua jalur berbeda. Jalur untuk kendaraan umum dan jalur untuk kereta. Lalu sungai di bawah kita saat ini adalah Sungai Joa dengan hilir dan hulu lautan.”

Butuh 10 menit untuk menyebrangi bengawan, kereta tur memasuki pemukiman yang semua bangunan penduduknya tersusun dari batu-bata putih, tanpa cat atau pelapis semen.

“Berikutnya kita tiba di Distrik Fana, di sini tempat tinggal semua orang cukup sederhana. Pekerjaan sehari-hari adalah bercocok tanam, di sudut distrik disediakan lahan untuk menanam bahan makanan. Ciri khas distrik ini adalah bangunannya yang estetik. Jumlah penduduknya mencapai 500 orang.”

Dari rumah ke rumah selalu ada tali melengkung dengan bendera segitiga warna-warni sepanjang tali. Bahkan di atas perlintasan rel pun dihiasi tali-tali tersebut. Berbeda dengan distrik lainnya, di tempat ini memperbolehkan transportasi pribadi namun ada batasannya. Setiap rumah hanya boleh memiliki satu kendaraan pribadi entah itu motor atau mobil. Lalu, motor dilarang masuk ke Distrik Gilleo, hanya mobil yang diijinkan.

Beberapa lampu merah disiapkan untuk mengatur jalanan. Bahkan polisi ikut turun ke jalan, memastikan tidak ada kemacetan atau laka lantas.

Keluar dari Distrik Fana, mereka melewati distrik Celeron yang dipagar tinggi.

“Di sini adalah pusatnya manufaktur. Tempat menempa berlian, intan, permata, hingga emas. Anggap saja di sini sebagai pusat industri pertambangan. Sayangnya kita tidak bisa masuk ke sana karena pembatasan pengunjung.”

Dari luar terlihat cerobong tinggi tempat membuang uap hasil peleburan. Bahkan ada banyak cerobong yang berdiri kokoh. Beberapa bangunan bertingkat berdiri di paling depan, bangunan tersebut merupakan tempat tinggal para pekerja industri. Di dalam distrik juga disediakan fasilitas umum agar para pekerja tidak merasa bosan.

Meninggalkan distrik Celeron, mereka memasuki Distrik Tama.

“Kalian pasti sudah pernah singgah di distrik ini bukan? Distrik ini menjadi pusat transportasi kereta api luar kota. Kalian yang baru tiba pasti keluar dari stasiun ini. Kalau kalian berkeliling di sekitar, akan ada banyak toko, grosiran, rumah makan, pusat oleh-oleh, di sini. Setiap gedung bertingkat memiliki penjualan mereka masing-masing.”

Masinis dengan hati-hati menarik tuas rem. Laju kereta berangsur pelan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan.

“Kita akan makan siang terlebih dahulu di sini. Tentu saja, kami yang akan bayar dari tiket kalian. silakan turun dan ikuti pramuniaga di depan restoran.”

Iza menjadi pertama yang berdiri, kemudian diikuti oleh Reina. Mengingat posisi mereka yang ada di dekat pintu, mereka harus segera keluar dan membiarkan yang lainnya mengikuti.

Senyum ramah menyambut kedatangan para tamu. “Selamat datang di Resto Fan. Kami sudah menyiapkan tempat untuk kalian semua, silakan masuk.”

Resto tersebut memang dikhususkan untuk melayani pengunjung kereta tur. Memasuki resto, udara dari pendingin ruangan menyapa mereka. Berbeda saat di luar yang terasa panas, kulit mereka pun mulai merasa sejuk.

Setiap mereka ditempat empat orang dengan total meja yang ada di dalam resto 40. Belasan pelayan pun sudah siap di tempat mereka masing-masing. Mereka sedang bersiap sambil menunggu pengunjung selesai dengan tempat duduk mereka.

Reina tidak peduli harus duduk dengan siapa, yang dia inginkan hanya duduk dekat dengan pendingin ruangan. Dia duduk bersebelahan dengan Iza, bersama juga dengan sepasang suami istri paruh baya.

“Kira-kira berapa harga untuk kerja di sini, ya?” seseorang tiba-tiba menyeletuk ketika melihat pelayan wanita yang sedang menata piring makanan di mejanya.

“Harusnya kau bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dari di sini. Kau bisa bekerja pada kami,” gelak rekannya.

Meja mereka jarak satu meja dengan Reina. Bahkan dengan suara sekeras itu, semua orang pasti mendengarnya. Menoleh sebentar kemudian menatap Iza.

“Apa yang mereka bicarakan?”

Iza gelagapan. “Itu, itu... apa ya namanya... aduh...”

“Bukan pembicaraan untuk anak kecil, loh, tidak perlu didengar,” sahut wanita di depan Reina disertai senyum ramah.

Mendengar hal itu, Reina tersenyum. “Maaf.”

“Anak kecil memang gampang penasaran, ya. Apa kalian bersaudara?” sang suami ikut masuk dalam pembicaraan. Dia melempar pertanyaannya untuk Iza.

Dengan senyum canggung, Iza menjawab. “D-Dia adik sepupu saya.”

“Begitu, ya. Matamu juga cantik loh nak,” kekeh sang istri.

Iza hanya bisa menjawabnya dengan tawa kaku. Sedangkan Reina sudah memegang gelas es jeruk, mendinginkan telapak tangannya. Meskipun begitu, dia sesekali memperhatikan orang yang membuat kebisingan itu. Tubuh sedikit gempal, perut buncit, kaos warna merah dengan sablon gambar telapak anjing, celana jins mengkilap, botak di bagian atas kepala dan sisanya masih tumbuh rambut meskipun cepak. Dia juga memakai gelang warna merah.

---Jijik. Semoga saja aku tidak bertemu lagi dengannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 25: Kafe Kita

    “Sebenarnya kenapa? Tiba-tiba meminta kita untuk menjalankan misi dengan seseorang.”“Sungguh. Setelah semua hal yang kita lalui, mereka masih saja seenaknya sendiri! sialan!”Enam orang berkumpul dalam satu meja. Hari ini kedai tutup lebih awal karena para karyawannya harus rapat sesuatu terkait malam sebelumnya. Mereka mengelilingi sebuah surat dengan amplop merah di atas meja.Dalam surat itu tertulis seperti ini:[Untuk Ezel.Aku ingin kau dan timmu mengawal seseorang. Bantu dia dalam hal apapun, jaga dia juga. Selebihnya kau bisa bertanya padanya perintah untuk timmu.Dari Ketua Black Falcon.]Dan, berakhirlah kedai harus tutup hari Senin. Mau berapa kali pun mereka memikirkannya namun tidak ada jawaban yang keluar. Bahkan seseorang yang dimaksud dalam surat itu tidak terpecahkan..Minggu malam. Di sebuah gudang tidak terpakai, acara rutin yang harus dihadiri seluruh anggota Black Falcon. Tentu saja pertemuan itu berakhir dengan berkelompok seperti pembagian tim sejak awal. Ting

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 24: Bermain

    “Rasanya sudah lama, ya, kita tidak bertemu, Reina.” Kiria tersenyum lebar sambil menatap Reina yang mau menuruti keegoisannya di hari libur.Tak sendirian, dia juga mengajak kembarannya, Ken, dan juga Zhao yang juga satu tempat kuliah dengannya. Menetapkan taman bermain sebagai tempat pertemuan mereka, keempat remaja itu berkumpul sebelum pintu masuk.[Citadel de Floral] Tempat segala jenis wahana permainan disediakan, mulai dari roller coaster hingga histeria. Aneka stan makanan pun menempati posisi masing-masing. Antrean panjang di pintu masuk menandakan ramainya pengunjung di akhir pekan.“Aaa ya ampun! Bagaimana bisa kau semanis ini, Reina?!” Padahal beberapa detik yang lalu dia terlihat begitu tenang, dan sekarang mulai tantrum.Hari ini, Reina memakai setelan lengan pendek dan rok hitam, rambut yang dihias dengan jepitan merah hitam, tas selempang berwarna cream, dan khusus hari ini Reina memilih memakai kacamata bulat. Semua yang dipakainya dipilih oleh Iza yang notabenenya l

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 23: Layn vs Alistair

    ---Meskipun dia masih muda, tapi boleh juga. Mata itu pasti akan mahal. Matanya dengan jelas menatap ke arah Reina yang sedang bicara dengan teman kerjanya.“Aku akan membawa mereka masuk,” ucap wanita itu.---Bagus! “Iya, beri tahu semua yang mereka butuhkan.”Tiga orang masuk ke dalam sebuah gedung. Di dalam sebuah ruangan yang cukup tertutup dan hanya ada dua kursi dan satu meja, seakan seperti sebuah ruangan interogasi. Dia atas meja terdapat beberapa berkas dan bolpen.“Langsung saja, a-anda akan membebaskan dari tempat ini, kan?” wanita berambut pendek yang diketahui bernama Ceri, menatap Reina penuh harap.“Tentu.” Reina menatap sekilas jam tangan analog silver di pergelangan tangan kirinya. “Waktu kita tidak banyak. Berikan semua informasi yang kau miliki.”Ceri membuka dokumen di depannya, lima lembar kertas kepada Reina. “Rute mereka mengarah ke pesisir Distrik Arboris dan akan melakukan perjalanan laut lima hari lagi. Saya dengar mereka mendapatkan beberapa orang berguna,

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 22: Fang

    “Akhirnya ketemu. Reina.”Seorang laki-laki mendarat dengan sangat mulus dari atap bangunan ke tempat Reina berdiri. Dengan jaket abu-abu dan kaos hitam, memakai masker hitam, dia berdiri tepat di samping Reina.“Kita pernah bertemu sebelumnya.” Dia harus sedikit menurunkan maskernya agar Reina mengenali wajahnya, meskipun dia sendiri tidak yakin gadis itu mengingat wajahnya karena saat itu suasana dalam rumah temaram dan wajahnya banyak cipratan darah.“Ah. Kau yang waktu itu? apa yang kau lakukan di sini?”..[5 jam sebelumnya – rumah kosong di tengah hutan]“Cyber, bisa carikan aku seseorang?”Fang melangkah mendekat ke rekannya yang sedang duduk di kursi menghadap sembilan cctv. Sudah lebih tiga minggu berjalan, di mana pun Fang pergi, gadis itu tidak muncul lagi. Seakan orang yang mengobatinya waktu itu adalah hantu.Sedikit memutar kursinya, Cyber menatap Fang yang ada di belakang kursinya. “Siapa?”“Dia perempuan, tingginya tidak lebih dari 157cm. Rambutnya gelap.”Sambil mend

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 21: Sebenarnya kau siapa

    “Mendengar namanya saja aku sudah merasa bersalah.”Celi menundukkan kepalanya, pipi kanannya lebam. Setelah membiarkan Reina masuk, gadis itu benar-benar menamparnya dengan keras. Namun, Celi tidak memiliki keberanian untuk membalasnya.“Apa kau tidak mau kirim pesan?” Reina yang duduk di sebelahnya, mendongak menatap langit-langit lab yang tinggi dan lampu gantung yang cantik.“Dia akan lebih kecewa kalau aku masih hidup,” sesal Celi. Dia semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Aku pergi begitu saja meninggalkannya dengan nenek. Aku...bukan ibu yang bertanggung jawab.”Huff...Reina berdiri, melangkah pergi. “Aku akan kembali lagi besok.”Membahas tentang Yoga -anak Celi- justru membuka luka lamanya lagi. Wanita itu terlihat banyak menyimpan luka masa lalu bahkan setelah belasan tahun pergi dari kota terkutuk itu.---Maaf, Yoga.-o0o-Reina mencoba menyelesaikan misi itu dengan sedikit bantuan dari Alistair. Dia memanfaatkan pria itu untuk memberitahunya arah. Meskipun begitu,

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 20: Perkembangan

    Mau dicoba berapa kali pun, Celi masih tidak ingin membukakan pintu untuknya. Perkembangan terakhir, Celi sudah mau bicara walaupun dari intercom yang dipasangnya di dekat pintu.“Kau tidak perlu ke sini lagi, Reina. Kehidupanmu sudah lebih baik, jadi berhenti mencari tahu tentang masa lalumu.”Reina yang berdiri di dekat pintu, berbalik membelakangi intercom. Dia memandang halaman hijau di depannya. “Kalau kau hidup, berarti dia juga masih hidup, kan? Kenapa kau tidak mengirimku pesan?”“...”“Aku tidak datang untuk menyalahkanmu. Aku justru bersyukur kalian masih hidup. Itu saja, aku pergi.”Celi tidak membalas apapun. Dia membiarkan Reina pergi seperti sebelumnya. Meskipun Reina tidak bilang kalau dia tidak dendam, namun efek dari masa lalu membuatnya berpikir kalau Reina masih menyimpan dendam padanya.---Reina, harusnya aku yang bicara seperti itu.-o0o-Selesai dengan misi timnya, Reina mencoba untuk menyelesaikan misi yang hanya muncul di ipadnya itu. namun, karena keterbatasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status