Halte kereta di dekat taman kota sedang berkumpul dua puluh orang, menunggu kereta khusus tur distrik datang. Salah seorang pemandu berdiri di depan semua orang.
“Sebentar lagi kereta kita akan tiba. Tempat duduk juga sudah dibagi sesuai dengan tiket kalian masing-masing. Pastikan kalian duduk sesuai nomor masing-masing.”
“Nona, kenapa anda mengajak saya?” Iza berbisik di telinga kanan Reina. Dia setuju untuk pergi dengan Reina, karena keinginan tuannya itu. Namun dia tidak tahu alasan dia diajak. Dia bahkan dilarang memakai seragam pelayan dan harus pakaian biasa.
“Karena Cuma kau yang terlihat normal. Juga jangan panggil aku nona, panggil aku Reina,” papar Reina.
---Itu...
Iza tampak ragu-ragu untuk menjawab. “Tapi, saya tidak bisa. Panggilan seperti itu rasanya...”
“Hanya saat kita diluar rumah. Kalau tidak bisa, panggil saja adik atau sesuatu yang lain. Ayo naik.”
Kereta tur sudah tiba. Hanya ada satu gerbong dengan total kursi 20 penumpang. Sesuai yang diminta oleh pemandu tur, semua orang masuk satu persatu, nomor paling kecil harus duduk di paling belakang dan nomor lainnya mengikuti ke depan.
Kebetulan Reina dan Iza mendapatkan nomor terakhir dan mereka mendapatkan kursi paling depan. Tidak ada kursi kosong lagi, pintu kereta pun ditutup. Masinis bersiap menarik tuas gas, membawa kereta mengelilingi distrik.
“Saya ucapkan selamat datang di tur distrik hari ini. Saya Pad, pemandu kalian semua hari ini. Silakan lihat peta di depan kalian masing-masing.”
Layar hologram muncul di depan Pad, menutupi wajahnya dengan sebuah hologram peta besar.
“Sama seperti sebelumnya, rute perjalanan kita dari distrik Kristal, melewati Frambos, lanjut Arboris, Fana, Latti, kemudian Tama dan Celeron. Terakhir kita akan kembali lagi ke Kristal. Tentu saja rute kita akan mengelilingi pusat kota yaitu Distrik Gilleo.”
Garis merah mengitari sebuah distrik yang luasnya lebih besar dari distrik lainnya. Itulah Distrik Gilleo, distrik yang menjadi pusat kota, tempat dimana alun-alun, kantor pemerintahan, DPDK, hingga pusat penelitian ada di distrik tersebut.
Perjalanan dimulai. Distrik krital tempat tinggal Reina, memiliki total penduduk mencapai 300 kepala keluarga. Di tempat itu juga terdapat sekolah mulai dari sekolah dini hingga SMA. Hal yang menarik dari distrik kristal adalah monumen kristal yang ada di tengah kota.
“Konon kristal tersebut berasal dari kristal murni dari peleburan intan. Ada juga yang mengatakan kalau kristal itu pemberian dari sahabat kepala distrik 70 tahun yang lalu. Perjalanan kita akan memakan waktu tiga jam, jadi kita akan kembali ke sini jam 12 siang. Kami juga akan memastikan kalian menikmati perjalanan ini.”
Dalam distrik memiliki dua lajur jalur kereta, yang mana satu untuk kereta transportasi umum dan satu lagi untuk kereta tur distrik. Tempat pemberhentian kereta dipasang dua untuk beberapa distrik namun distrik hampa hanya ada satu.
Keluar dari distrik kristal, mereka melewati distrik frambos. Distrik yang tersembunyi dibalik tingginya pegunungan. Jalur kereta tur tidak bisa menembus jantung distrik, mereka hanya melewati lereng pegunungan yang terdapat gapura bertuliskan ‘Frambos’.
“Distrik ini dikelilingi oleh gunung-gunung, meskipun begitu frambos tidak kalah modern dari Gilleo, pusat kota. Kita tidak bisa menjelajahi lebih jauh karena pemimpin Frambos membatasi turis masuk.”
Tidak ada pemandangan lain, selain pegunungan yang menjulang tinggi. Jalan masuk dijaga 2 orang dan kemungkinan saat memasuki pegunungan pun akan banyak penjaga di sana.
“Dihuni sekitar seribu kepala keluarga. Ada yang bilang saat kalian masuk ke sana, kalian akan melihat sebuah tower yang tingginya hampir menyamai tinggi gunung ini.”
Reina yang duduk di dekat jendela kanan kereta memandang penuh antusias pegunungan itu. Diantara celah gunung, dia bisa melihat ujung tower yang dibicarakan. Deretan pegunungan tergantikan dengan kilauan pantai.
Dia tanpa sadar membuka mulutnya, memandang takjub pemandangan di depannya. Kereta bergerak pelan dalam lajurnya, tepat di bibir pantai yang menyajikan pemandangan spektakuler.
“Pantai ini bernama Pantai Yurul yang memanjang dari distrik frambos ke distrik Arboris. Meskipun saat siang hari, tak banyak pengunjung yang datang karena hari ini adalah hari kerja. Dan, hanya ada jalur khusus kereta, tidak ada jalan raya untuk kendaraan. Jadi, untuk ketempat ini kebanyakan orang akan jalan kaki.”
Bibir pantai mulai menghilang digantikan deretan pepohonan yang rindang. Mereka tertutup sangat rapat dan hanya menyisakan satu jalan untuk menuju distrik Fana.
“Kalau kalian melewati hutan ini, kalian akan tiba di Distrik Fana. Di sana kalian bisa belajar banyak tentang tumbuh-tumbuhan, sistem tanam hidroponik, dan yang lainnya. Karena terhubung dengan laut, mereka juga membuat hutan mangrove yang sangat cantik.”
[Selamat datang di Distrik Fana] begitulah yang tertulis di papan gapura pintu masuk distrik. Dilihat dari luar pun, di dalam sana terasa sangat sejuk.
Iza memperhatikan Reina yang tidak sedikit pun menatap ke arah depan. Gadis remaja itu tampak sangat terpukau, tanpa mengalihkan wajahnya sedikit pun.
---Tempat ini seperti surga. Apa ini karena aku terkurung dalam waktu yang lama?
Kali ini jalur kereta berbelok, menembus lebatnya hutan. Semua orang pun bisa merasakan sejuknya area hutan. Dari dalam kereta, mereka bisa melihat kanopi pepohonan yang hampir sepenuhnya tertutup, tidak banyak cahaya matahari yang menyentuh tanah. Sepanjang lajur, terdapat beberapa orang yang sedang berkebun. Kebun buah apel, disepanjang dua sisi jalur kereta.
Orang-orang yang melihat kereta melintasi mereka berhenti sejenak, melambaikan tangannya pada pengunjung. Keluar dari pepohonan, kereta harus melewati di atas sungai bengawan. Air jernih yang bersinar di bawah sinar matahari.
“Jembatan ini disebut jembatan Amora. Pemerintah menyiapkan dua jalur berbeda. Jalur untuk kendaraan umum dan jalur untuk kereta. Lalu sungai di bawah kita saat ini adalah Sungai Joa dengan hilir dan hulu lautan.”
Butuh 10 menit untuk menyebrangi bengawan, kereta tur memasuki pemukiman yang semua bangunan penduduknya tersusun dari batu-bata putih, tanpa cat atau pelapis semen.
“Berikutnya kita tiba di Distrik Fana, di sini tempat tinggal semua orang cukup sederhana. Pekerjaan sehari-hari adalah bercocok tanam, di sudut distrik disediakan lahan untuk menanam bahan makanan. Ciri khas distrik ini adalah bangunannya yang estetik. Jumlah penduduknya mencapai 500 orang.”
Dari rumah ke rumah selalu ada tali melengkung dengan bendera segitiga warna-warni sepanjang tali. Bahkan di atas perlintasan rel pun dihiasi tali-tali tersebut. Berbeda dengan distrik lainnya, di tempat ini memperbolehkan transportasi pribadi namun ada batasannya. Setiap rumah hanya boleh memiliki satu kendaraan pribadi entah itu motor atau mobil. Lalu, motor dilarang masuk ke Distrik Gilleo, hanya mobil yang diijinkan.
Beberapa lampu merah disiapkan untuk mengatur jalanan. Bahkan polisi ikut turun ke jalan, memastikan tidak ada kemacetan atau laka lantas.
Keluar dari Distrik Fana, mereka melewati distrik Celeron yang dipagar tinggi.
“Di sini adalah pusatnya manufaktur. Tempat menempa berlian, intan, permata, hingga emas. Anggap saja di sini sebagai pusat industri pertambangan. Sayangnya kita tidak bisa masuk ke sana karena pembatasan pengunjung.”
Dari luar terlihat cerobong tinggi tempat membuang uap hasil peleburan. Bahkan ada banyak cerobong yang berdiri kokoh. Beberapa bangunan bertingkat berdiri di paling depan, bangunan tersebut merupakan tempat tinggal para pekerja industri. Di dalam distrik juga disediakan fasilitas umum agar para pekerja tidak merasa bosan.
Meninggalkan distrik Celeron, mereka memasuki Distrik Tama.
“Kalian pasti sudah pernah singgah di distrik ini bukan? Distrik ini menjadi pusat transportasi kereta api luar kota. Kalian yang baru tiba pasti keluar dari stasiun ini. Kalau kalian berkeliling di sekitar, akan ada banyak toko, grosiran, rumah makan, pusat oleh-oleh, di sini. Setiap gedung bertingkat memiliki penjualan mereka masing-masing.”
Masinis dengan hati-hati menarik tuas rem. Laju kereta berangsur pelan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan.
“Kita akan makan siang terlebih dahulu di sini. Tentu saja, kami yang akan bayar dari tiket kalian. silakan turun dan ikuti pramuniaga di depan restoran.”
Iza menjadi pertama yang berdiri, kemudian diikuti oleh Reina. Mengingat posisi mereka yang ada di dekat pintu, mereka harus segera keluar dan membiarkan yang lainnya mengikuti.
Senyum ramah menyambut kedatangan para tamu. “Selamat datang di Resto Fan. Kami sudah menyiapkan tempat untuk kalian semua, silakan masuk.”
Resto tersebut memang dikhususkan untuk melayani pengunjung kereta tur. Memasuki resto, udara dari pendingin ruangan menyapa mereka. Berbeda saat di luar yang terasa panas, kulit mereka pun mulai merasa sejuk.
Setiap mereka ditempat empat orang dengan total meja yang ada di dalam resto 40. Belasan pelayan pun sudah siap di tempat mereka masing-masing. Mereka sedang bersiap sambil menunggu pengunjung selesai dengan tempat duduk mereka.
Reina tidak peduli harus duduk dengan siapa, yang dia inginkan hanya duduk dekat dengan pendingin ruangan. Dia duduk bersebelahan dengan Iza, bersama juga dengan sepasang suami istri paruh baya.
“Kira-kira berapa harga untuk kerja di sini, ya?” seseorang tiba-tiba menyeletuk ketika melihat pelayan wanita yang sedang menata piring makanan di mejanya.
“Harusnya kau bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dari di sini. Kau bisa bekerja pada kami,” gelak rekannya.
Meja mereka jarak satu meja dengan Reina. Bahkan dengan suara sekeras itu, semua orang pasti mendengarnya. Menoleh sebentar kemudian menatap Iza.
“Apa yang mereka bicarakan?”
Iza gelagapan. “Itu, itu... apa ya namanya... aduh...”
“Bukan pembicaraan untuk anak kecil, loh, tidak perlu didengar,” sahut wanita di depan Reina disertai senyum ramah.
Mendengar hal itu, Reina tersenyum. “Maaf.”
“Anak kecil memang gampang penasaran, ya. Apa kalian bersaudara?” sang suami ikut masuk dalam pembicaraan. Dia melempar pertanyaannya untuk Iza.
Dengan senyum canggung, Iza menjawab. “D-Dia adik sepupu saya.”
“Begitu, ya. Matamu juga cantik loh nak,” kekeh sang istri.
Iza hanya bisa menjawabnya dengan tawa kaku. Sedangkan Reina sudah memegang gelas es jeruk, mendinginkan telapak tangannya. Meskipun begitu, dia sesekali memperhatikan orang yang membuat kebisingan itu. Tubuh sedikit gempal, perut buncit, kaos warna merah dengan sablon gambar telapak anjing, celana jins mengkilap, botak di bagian atas kepala dan sisanya masih tumbuh rambut meskipun cepak. Dia juga memakai gelang warna merah.
---Jijik. Semoga saja aku tidak bertemu lagi dengannya.
Begitu dia membuka pintu, gemerlap lampu bawah tanah yang terang digantikan dengan lampu kuning yang temaram. Di paling ujung, berseberangan dengan pintu, terdapat sebuah meja kerja lengkap dengan komputer dan papan tulis hitam. Di balik meja, dijaga seorang laki-laki berumur 40-an yang sedang membaca koran.“Selamat datang.” Dia menutup korannya begitu seseorang berdiri di depan mejanya.Dia dikenal dengan nama Cruel. Seseorang yang menjadi pintu masuk utama menuju Black Falcon. Pusat dari segala informasi bawah tanah, sekaligus orang yang menghandle hampir 40 orang yang tersebar sebagai anggota mafia.“Lantai 20.”Cruel mengambil kartu berwarna putih, menyerahkannya ke laki-laki di depannya. “Silakan, tuan.”Ada dua pintu yang dijaga olehnya. Sisi kiri mengarah ke gedung di atas mereka. Sedangkan sisi kanan, akan mengarah ke lorong tempat penjualan barang ilegal berlangsung.Laki-laki itu menerimanya dan langsung meluncur ke lantai 20 menggunakan lift. Tiba di lantai tujuan, dia tid
“Baik, pak!”“Baiklah. Hari pertama kalian akan diisi dengan berkeliling gedung Dewan Pengawas lantai dasar. Tempat para senior kalian keluar-masuk untuk bekerja. Kalian akan ditemani senior yang ada di depan kalian saat ini. Jadikan hari ini hari pengenalan tempat kerja kalian. itu saja dariku. Sisanya aku serahkan pada para senior.” Gavin menatap para senior di kanan-kirinya bergantian.“Tentu, pak!”Kemudian Gavin pergi. Dia akan mengawasi anak-anak magang itu dari lantai tengah, tempat di mana seluruh monitor CCTV gedung ada di sana.15 anak SMA bergerak mengikuti lima senior yang membawa mereka mengelilingi gedung. Dimulai dari lobby ke kanan, ruangan pertama yang mereka lewati adalah ruang antai. Sambil berjalan, senior menjelaskan setiap ruangan yang mereka lewati.Agar tidak mengganggu jalan para pekerja, 15 siswa-siswi itu membentuk 2 barisan memanjang ke belakang dan Reina dapat bagian yang paling belakang sendiri, berjalan sendirian sambil berusaha mendengar apa yang dijela
“Kenapa kau tidak beri tahu aku, Rei? Kalau tahu, aku tidak akan mengajakmu ke sini!”Dia terlihat lebih manusiawi dibandingkan dengan kebanyakan manusia yang ditemui Reina.“Tidak apa, sungguh. Aku juga mau mencobanya.”“Anu, permisi. Tolong biarkan dia ikut sampai tes saja.” Gery tiba-tiba bicara pada dua wanita yang sedang menunggunya menyelesaikan pendaftaran.Salah satu wanita tersenyum canggung, tidak bisa mengiyakan permintaan Gery. “Itu agak sulit. Karena kalian hanya berdua, jadi kemungkinan bisa lolos semua.”Gery menggeram berat, menyesali keputusannya.Reina yang di sebelahnya menepuk-nepuk punggungnya. “Aku akan belajar lebih giat lagi.”“Baiklah.”Lembar pendaftaran dikumpulkan lalu mereka berdua diminta untuk melakukan tes awal. Meskipun dikatakan sebelumnya bahwa mereka bisa lolos, namun tes tetap harus dijalankan untuk formalitas dan juga isi laporan bagi mereka yang menjadi petugas hari ini.Reina dan Gery dipasangkan sebuah gear VCR yang mana mereka diminta untuk me
“Bagaimana? Supmu jadi merah tuh.”Dengan tarikan keras, dasi yang dipakai Jeti membawa wajahnya ke dalam mangkuk sup. Reina harus menggeser tubuhnya agar wajah sombong itu sepenuhnya penuh di dalam mangkuk.Kericuhan yang membuat siapapun menoleh ke arah Reina. Gery bahkan sampai harus menjauh dari meja agar tidak terkena cipratan sup, membawa serta piring makanannya.Hah! Jeti menarik kepalanya sekuat tenaga hingga dia kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai yang dingin. Matanya terpejam erat-erat, berusaha keras menahan agar kuah tidak masuk ke matanya.“Panas! Panas! Tolong siapapun!” Dia memakai dasinya untuk mengeringkan wajahnya.“Jangan lebay. Aku pesan kuah hangat hanya untukmu.” Reina membawa mangkuk yang sudah berceceran isinya ke depan Jeti. Tepat setelah Jeti berhasil membuka matanya, dia menuangkan sisa sup yang ada di mangkuk ke atas kepala Jeti.“Coba rasakan lagi. Hangat kan? Aktingmu buruk sekali. Ini kan yang selalu ingin kau lakukan padaku beberapa minggu in
Gery menatap Jeti dari belakang. Gadis itu sudah mengepalkan tangannya. Mungkin jika tidak ada guru di kelas, baku hantam akan terjadi.“Saya hanya bercanda, Bu. Lagipula, tidak ada untungnya bagi saya,” ungkap Reina yang mulai mengerjakan soal yang diminta.Asila yang mencoba mencairkan suasana tertawa canggung. “Tolong kerjakan dengan hati-hati.”Tidak ada tanggapan apapun. Reina mengerjakan dalam diam diiringi bisikan-bisikan teman-temannya. Tak butuh 5 menit mengerjakan, Reina sudah menyelesaikannya. Jawaban dengan rumus sederhana.Asila mengoreksi dengan teliti kemudian mengangguk. “Benar. Kau hebat, Rei. Apa kau sudah belajar semalam?”“Terima kasih.” Mengembalikan spidol ke Asila sebelum akhirnya dia kembali ke tempat duduknya.Sambil menatap anak didiknya, Asila membawa buku pelajaran ke tengah. “Saya akan menambah nilaimu, Reina. Untuk yang lain, bisa tiru Reina, belajar sebelum pelajaran dimulai.”Jawaban serempak terdengar seisi kelas. Jeti pun ikut menjawab namun masih den
Seperti yang dikatakan Argi. Hari panjang menuju sekolah pun dimulai. Guru private diundang untuk mengajar Reina, hanya satu orang yang dianggap mampu mengajarkan semua mata pelajaran.Reina pun mengikuti pembelajaran tanpa kendala. Banyak hal yang belum pernah dia baca, dan itu berhasil menarik rasa penasarannya lebih jauh lagi. Namun, selalu ada batas di mana banyak pertanyaannya yang tidak bisa dijelaskan.Formulir pindah sekolah sudah ditangan lalu tibalah hari ini, hari pertama Reina masuk sekolah. Aneka seragam sudah didapatkannya. Reina masuk pertama di hari Rabu.“Suatu yang langka karena hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk.”Kelas 2-C, berisi 22 siswa. 10 laki-laki, dan sisanya perempuan. Wali kelas seorang perempuan berambut pendek bernama Asila yang saat ini berdiri di depan kelas.Reina melangkah masuk, memakai seragam lengkap rok merah marun dan atasan putih bergaris merah. Terkhusus untuk pergi ke sekolah, Reina memilih memakai kacamata. Meskipun itu tidak