Masuk“Sebenarnya kenapa? Tiba-tiba meminta kita untuk menjalankan misi dengan seseorang.”“Sungguh. Setelah semua hal yang kita lalui, mereka masih saja seenaknya sendiri! sialan!”Enam orang berkumpul dalam satu meja. Hari ini kedai tutup lebih awal karena para karyawannya harus rapat sesuatu terkait malam sebelumnya. Mereka mengelilingi sebuah surat dengan amplop merah di atas meja.Dalam surat itu tertulis seperti ini:[Untuk Ezel.Aku ingin kau dan timmu mengawal seseorang. Bantu dia dalam hal apapun, jaga dia juga. Selebihnya kau bisa bertanya padanya perintah untuk timmu.Dari Ketua Black Falcon.]Dan, berakhirlah kedai harus tutup hari Senin. Mau berapa kali pun mereka memikirkannya namun tidak ada jawaban yang keluar. Bahkan seseorang yang dimaksud dalam surat itu tidak terpecahkan..Minggu malam. Di sebuah gudang tidak terpakai, acara rutin yang harus dihadiri seluruh anggota Black Falcon. Tentu saja pertemuan itu berakhir dengan berkelompok seperti pembagian tim sejak awal. Ting
“Rasanya sudah lama, ya, kita tidak bertemu, Reina.” Kiria tersenyum lebar sambil menatap Reina yang mau menuruti keegoisannya di hari libur.Tak sendirian, dia juga mengajak kembarannya, Ken, dan juga Zhao yang juga satu tempat kuliah dengannya. Menetapkan taman bermain sebagai tempat pertemuan mereka, keempat remaja itu berkumpul sebelum pintu masuk.[Citadel de Floral] Tempat segala jenis wahana permainan disediakan, mulai dari roller coaster hingga histeria. Aneka stan makanan pun menempati posisi masing-masing. Antrean panjang di pintu masuk menandakan ramainya pengunjung di akhir pekan.“Aaa ya ampun! Bagaimana bisa kau semanis ini, Reina?!” Padahal beberapa detik yang lalu dia terlihat begitu tenang, dan sekarang mulai tantrum.Hari ini, Reina memakai setelan lengan pendek dan rok hitam, rambut yang dihias dengan jepitan merah hitam, tas selempang berwarna cream, dan khusus hari ini Reina memilih memakai kacamata bulat. Semua yang dipakainya dipilih oleh Iza yang notabenenya l
---Meskipun dia masih muda, tapi boleh juga. Mata itu pasti akan mahal. Matanya dengan jelas menatap ke arah Reina yang sedang bicara dengan teman kerjanya.“Aku akan membawa mereka masuk,” ucap wanita itu.---Bagus! “Iya, beri tahu semua yang mereka butuhkan.”Tiga orang masuk ke dalam sebuah gedung. Di dalam sebuah ruangan yang cukup tertutup dan hanya ada dua kursi dan satu meja, seakan seperti sebuah ruangan interogasi. Dia atas meja terdapat beberapa berkas dan bolpen.“Langsung saja, a-anda akan membebaskan dari tempat ini, kan?” wanita berambut pendek yang diketahui bernama Ceri, menatap Reina penuh harap.“Tentu.” Reina menatap sekilas jam tangan analog silver di pergelangan tangan kirinya. “Waktu kita tidak banyak. Berikan semua informasi yang kau miliki.”Ceri membuka dokumen di depannya, lima lembar kertas kepada Reina. “Rute mereka mengarah ke pesisir Distrik Arboris dan akan melakukan perjalanan laut lima hari lagi. Saya dengar mereka mendapatkan beberapa orang berguna,
“Akhirnya ketemu. Reina.”Seorang laki-laki mendarat dengan sangat mulus dari atap bangunan ke tempat Reina berdiri. Dengan jaket abu-abu dan kaos hitam, memakai masker hitam, dia berdiri tepat di samping Reina.“Kita pernah bertemu sebelumnya.” Dia harus sedikit menurunkan maskernya agar Reina mengenali wajahnya, meskipun dia sendiri tidak yakin gadis itu mengingat wajahnya karena saat itu suasana dalam rumah temaram dan wajahnya banyak cipratan darah.“Ah. Kau yang waktu itu? apa yang kau lakukan di sini?”..[5 jam sebelumnya – rumah kosong di tengah hutan]“Cyber, bisa carikan aku seseorang?”Fang melangkah mendekat ke rekannya yang sedang duduk di kursi menghadap sembilan cctv. Sudah lebih tiga minggu berjalan, di mana pun Fang pergi, gadis itu tidak muncul lagi. Seakan orang yang mengobatinya waktu itu adalah hantu.Sedikit memutar kursinya, Cyber menatap Fang yang ada di belakang kursinya. “Siapa?”“Dia perempuan, tingginya tidak lebih dari 157cm. Rambutnya gelap.”Sambil mend
“Mendengar namanya saja aku sudah merasa bersalah.”Celi menundukkan kepalanya, pipi kanannya lebam. Setelah membiarkan Reina masuk, gadis itu benar-benar menamparnya dengan keras. Namun, Celi tidak memiliki keberanian untuk membalasnya.“Apa kau tidak mau kirim pesan?” Reina yang duduk di sebelahnya, mendongak menatap langit-langit lab yang tinggi dan lampu gantung yang cantik.“Dia akan lebih kecewa kalau aku masih hidup,” sesal Celi. Dia semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Aku pergi begitu saja meninggalkannya dengan nenek. Aku...bukan ibu yang bertanggung jawab.”Huff...Reina berdiri, melangkah pergi. “Aku akan kembali lagi besok.”Membahas tentang Yoga -anak Celi- justru membuka luka lamanya lagi. Wanita itu terlihat banyak menyimpan luka masa lalu bahkan setelah belasan tahun pergi dari kota terkutuk itu.---Maaf, Yoga.-o0o-Reina mencoba menyelesaikan misi itu dengan sedikit bantuan dari Alistair. Dia memanfaatkan pria itu untuk memberitahunya arah. Meskipun begitu,
Mau dicoba berapa kali pun, Celi masih tidak ingin membukakan pintu untuknya. Perkembangan terakhir, Celi sudah mau bicara walaupun dari intercom yang dipasangnya di dekat pintu.“Kau tidak perlu ke sini lagi, Reina. Kehidupanmu sudah lebih baik, jadi berhenti mencari tahu tentang masa lalumu.”Reina yang berdiri di dekat pintu, berbalik membelakangi intercom. Dia memandang halaman hijau di depannya. “Kalau kau hidup, berarti dia juga masih hidup, kan? Kenapa kau tidak mengirimku pesan?”“...”“Aku tidak datang untuk menyalahkanmu. Aku justru bersyukur kalian masih hidup. Itu saja, aku pergi.”Celi tidak membalas apapun. Dia membiarkan Reina pergi seperti sebelumnya. Meskipun Reina tidak bilang kalau dia tidak dendam, namun efek dari masa lalu membuatnya berpikir kalau Reina masih menyimpan dendam padanya.---Reina, harusnya aku yang bicara seperti itu.-o0o-Selesai dengan misi timnya, Reina mencoba untuk menyelesaikan misi yang hanya muncul di ipadnya itu. namun, karena keterbatasan







