Share

Bab 3: Bibi Diculik

Penulis: Nita K.
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-04 12:34:02

Acara makan siang berlangsung selama 15 menit, setelah itu semua orang kembali ke kereta dan melanjutkan perjalanan. Distrik berikutnya adalah Distrik Latti.

“Distrik ini menjadi sentra wisata kain tenun.”

Setiap rumah pasti memiliki alat tenun masing-masing. Juga, mereka memiliki halaman depan atau belakang yang luas yang diperuntukkan untuk menjemur kain-kain hasil tenunan mereka.

“Jika kalian membutuhkan kain tenun, kalian bisa membelinya di distrik ini. Hampir semua orang bisa menenun. Kalian juga bisa belajar di sini. Distrik ini dinamakan Distrik Latti.”

Bahkan siang yang cerah pun tidak mengurangi semangat ibu-ibu yang sedang mengangkat kain jemuran mereka.

20 menit disuguhkan halaman rumah warga yang luas, Distrik Latti pun berlalu. Kini kereta tur memasuki Distrik Gilleo, pusat kota yang dibanggakan sebagai Distrik Kumuh. Meskipun pada dasarnya, DK terbagi menjadi 8 bagian.

“Kita akan ke pusat kota. Kalian harus tahu kalau pusat kota dipisahkan dengan Sungai Joa yang luas.”

Jalanan yang lebar menjadi jalan utama menuju ke pusat kota. Dari jarak sekilo, mereka sudah bisa melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit. Hologram pun menyala di luar gedung. Kontras yang terlihat jelas dengan distrik lainnya.

Memasuki distrik disambut oleh banner hologram selamat datang. Masih dengan semua kendaraan umum dan tidak ada kendaraan pribadi, Distrik Gilleo menjadi distrik paling sibuk. Semua penumpang bisa melihatnya, aktivitas di dalam distrik.

Kendaraan patroli polisi, bus yang mengantar karyawan, gerombolan peneliti berjas putih yang berjalan di pinggir jalan, beberapa kafetaria yang ramai. Distrik yang terasa sangat hidup.

“Di depan kita adalah gedung Departemen Pengawas Distrik Kumuh (DPDK). Semua orang menganggap pekerjaan mereka adalah yang paling terberat di Distrik Kumuh karena mereka harus selalu merespon panggilan darurat dari siapapun. Jika diantara kalian mengalami kejadian mengerikan atau melihat tindakan kejahatan kalian bisa melapor ke mereka dengan menghubungi ke 88-99-00.”

Bangunan yang menjulang tinggi dengan lantai mencapai 50, jumlah karyawan yang bekerja di sana pun lebih dari 200 orang. Tidak semuanya petugas lapangan, karena masih ada petugas kantor yang bertugas memantau seluruh distrik.

Satu mobil patroli melintas membawa lima orang di dalamnya, berjalan berlawanan dengan kereta tur. Reina hanya menatap mereka, memperhatikan warna seragam hitam mereka.

Kereta tur terus berjalan, melewati beberapa fasilitas lainnya. Lab penelitian yang besar, rumah sakit yang menjulang tinggi, pos polisi di setiap sudut, beberapa gedung perkantoran.

“Di sudut distrik ini masih dalam tahap perbaikan, kemungkinan kita bisa menikmati seluruhnya adalah tiga bulan lagi. Kalian bisa memantaunya lewat aplikasi Distrik Kumuh.”

Butuh waktu 15 menit untuk mengelilingi Distrik Gilleo hingga akhirnya kereta keluar dan kembali melintasi jembatan menuju distrik Kristal.

Tur pun selesai.

“Ah benarkah? Aku akan segera kesana. Dia pasti cantik, kan?”

Banyak suara di sekitar Reina, namun yang paling dominan suara laki-laki yang merusak suasana makan siangnya. Pria itu berjalan menjauh bersama satu teman prianya. Dari tempat pemberhentian, mereka berjalan ke kiri, terus lurus mengikuti jalan raya.

Reina menggelengkan kepalanya pelan, mengingatkan pada dirinya sendiri.

---Jangan mulai. Kita hanya akan hidup damai di tempat ini.

“Kemana kita selanjutnya?” suara Iza menginstruksi.

“Paman memintaku untuk membeli hape. Apa kau punya toko rekomendasi?” Reina berjalan di samping Iza, memperhatikan jalan gang perumahan yang luas.

Iza tersenyum. “Saya punya. Kita akan langsung ke sana?”

“Ya.”

-o0o-

Begitu selesai membeli ponsel baru, mereka pulang. Keadaan yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya, rumah kacau. Hanya ada satu pelayan yang mondar mandir di depan rumah, Kali.

“Ibu? Kenapa di depan pintu?” Iza yang tidak tahu apapun malah ikut khawatir. Sedangkan wanita paruh baya itu secara tiba-tiba bersujud di bawah kaki Reina.

“Maaf! Maaf, Nona! Maafkan kami! Mohon beri kami ampunan!” pekiknya dengan keringat dingin. Dia bergeming ketika Iza mencoba membuatnya kembali berdiri. Kali masih kukuh bersujud.

---Apalagi ini?

Reina ikut berjongkok, memegang pundak wanita itu. “Angkat kepalamu, Bi. Katakan apa yang terjadi.”

Dengan berderai air mata dan tubuh yang bergetar, Kali memberanikan diri menatap wajah tuannya. “Nyonya diculik, nona,” lirihnya.

“Iza, bawa ibumu masuk. Kita bicarakan di dalam.”

.

.

---Aku lupa, fakta kalau aku tidak sendirian di tempat ini. Dan, juga...

Kali menjelaskan kalau Ruri diculik oleh beberapa orang yang membawa mobil. Kejadiannya setengah jam yang lalu. Sebelumnya, Ruri memang ingin berkeliling sebentar di luar gerbang, namun dia tiba-tiba di dekati oleh seorang wanita berambut keriting. Rekan wanita itu mengendap-endap di belakang Ruri kemudian menutup hidungnya dengan sapu tangan.

Begitulah Ruri dibawa kabur oleh para penculiknya.

“Oni dan Master sedang mengejar mereka. Sekali lagi, maaf.” Kali berlutut di depan Reina yang duduk di sofa. Bahkan Iza ikut berlutut di sampingnya.

Sekarang adalah jam 1 siang. Jika mereka tidak mampir ke toko, mungkin Ruri tidak akan diculik. Lalu, siapa orang yang berani melakukannya?

“Apa paman sudah dihubungi?”

Kali mengangguk. “Sudah, Nona. Beliau mengatakan akan membantu dari tempat kerja karna beliau baru diijinkan pulang jam 2 siang nanti.”

“Iza, tuliskan nomor paman ke hapeku.” Reina menyodorkan ponsel barunya. “Dan, kau, Bibi, minta mereka yang mencari untuk pulang sekarang.”

“Baik.” Mereka berdua menjawab bersamaan.

Iza dengan cekatan menuliskan nomor hape Argi lalu mengembalikan ponsel ke Reina. Dia juga segera membantu menghubungi Oni saat Kali menghubungi Master.

Reina hanya mengirim pesan singkat pada Argi dengan mengatakan: Serahkan padaku, paman. Aku pastikan bibi sudah kembali saat kau pulang nanti.

.

Semua orang berkumpul kecuali Argi. Masing-masing dari mereka yang mencari tidak mendapatkan banyak informasi.

“Mobil yang membawanya berwarna putih, Nona,” ucap Oni. “Jika anda tidak meminta kami kembali, kami pasti bisa menemukannya,” sambungnya dengan sengaja.

Iza yang ada di dekatnya, menampar pundak laki-laki itu dengan keras, mencoba memperingatkannya untuk menjaga kalimatnya. Namun yang didapatinya hanya tatapan tidak suka dari Oni.

“Mau kalian lanjutkan sekalipun, kalian tidak akan bisa menemukannya.” Reina mengadahkan tangannya. “Master, berikan padaku.”

Master yang berlutut di depannya menyerahkan sebuah gelang berwarna merah. “Saya rasa itu milik wanita yang mengajak nyonya bicara. Gelang itu terjatuh di dekat lokasi kejadian.”

“Nona, kita harus melacaknya dengan cctv. Mereka pasti belum jauh.” Oni kembali menyahut. Dia dengan keoptimisannya dan kelogisannya, bertekad untuk menemukan tuannya.

“Tidak.” Reina berdiri, mengantongi ponsel dan gelang itu bersamaan. “Master, ikut aku. Kita jemput bibiku.”

.

Master membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia masih belum yakin dengan tujuan nona mudanya itu. Yang bisa dibilang tidak mungkin mereka bisa menemukannya di sana.

“Nona, saya rasa mungkin bukan di sana tempatnya, karena terlalu jauh.” Sesekali menatap spion tengah, memeriksa Reina yang duduk di belakang menatap ke luar jendela.

“Kita akan tahu saat sudah ada di sana.” Reina menjawab acuh. Dia hanya memandang pemandangan yang terus berganti di luar mobil.

Master pun tidak bertanya lagi. Fokus pada jalanan di depannya. Distrik Tama masih 20 menit lagi untuk tiba di sana. Entah apa yang akan menunggu mereka di sana, master tetap akan menjalankan tugasnya.

“Master, saat kejadian itu kemana perginya dua penjaga rumah?”

“Satu orang bersama tuan dan satunya bersama–” ucapan itu tertahan.

Semua orang terlalu panik karena nyonya mereka menghilang, namun mereka tidak menyadari satu orang lagi yang juga tidak terlihat.

“Aku berharap dia tidak terlibat, tapi sepertinya itu mustahil. Bibiku bicara dengan seorang wanita berambut keriting, lalu ada seseorang lagi yang membiusnya. Menurutmu kenapa dia berani bicara dengan orang asing?”

“...Karena orang yang dikenal ada di dekatnya,” lirih master.

Reina mengangguk. “Kalau di tempat yang kita kunjungi nanti, dia ada di sana atau bahkan dia bersandiwara seperti korban, abaikan saja, master.”

Melirik sekilas ke arah spion kiri sebelum membelokkan mobil ke jalanan yang lebih kecil. “Apa anda merasa simpati? Bukankah anda terlalu baik, Nona?”

Reina justru tertawa pelan. Otot-otot tegangnya mulai sedikit longgar, dia bisa kembali dengan senyum yang diperlihatkannya sepanjang hari. Master yang melihatnya ikut tersenyum. Anak muda selalu terlihat semakin muda ketika mereka tersenyum.

“Aku tidak sebaik itu, master.”

-o0o-

Dua orang berdiri di depan sebuah gudang yang ada di belakang deretan gedung tinggi. Tidak ada orang yang berjaga atau melintas, bangunannya pun tidak terlihat terawat dengan baik.

Master memegang gagang pintu lalu mendobraknya. Suara pekikan tertahan terdengar samar dari dalam gudang yang gelap.

“Bibi, apa kau di dalam?” Reina berdiri di ambang pintu.

“Reina...Jangan ke sini! Kembalilah!”

Reina menyenggol master dengan sikunya, memintanya masuk lebih dulu. Master menyalakan saklar lampu yang ada di dekat pintu. Satu lampu yang ada di sudut ruangan menyala temaram lalu di ujung ruangan, diantara tumpukan kardus di kanan kiri tembok, seorang wanita duduk dengan keadaan tubuh terikat di kursi dan baju yang basah.

Keadaannya sangat kacau, seakan dia baru saja diguyur air seember. Kedua tangannya terikat ke belakang, kedua kakinya diikat ke kursi kursi.

Reina bergegas mendekat, sedangkan master kembali menutup pintu gudang. Dia mendekat, memperhatikan bibinya yang sudah berantakan.

“Pergilah. Mereka bisa menangkapmu,” isaknya.

Tidak semua orang mendapatkan simpati darinya, tapi beda lagi kalau Ruri. Wanita yang hampir mirip dengan ibunya.

“Bibi, tenanglah.” Dia lebih dulu melepas tali di kedua kaki Ruri. Dia tidak peduli meskipun Ruri menyuruhnya untuk pergi. Berganti melepas tali di belakang kursi yang sudah membekas biru pada kedua tangan itu.

Suara samar terdengar dari luar gudang. Suara dengan nada yang berbeda. Reina mengisyaratkan untuk master bersembunyi di belakang pintu. Master yang paham, mengangguk.

Reina sedikit membungkukkan punggungnya, berbisik. “Bibi, jangan bicara, ok?”

Ruri menatap dengan ekspresi takut dan hanya bisa mengangguk.

BRAKKK–

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 25: Kafe Kita

    “Sebenarnya kenapa? Tiba-tiba meminta kita untuk menjalankan misi dengan seseorang.”“Sungguh. Setelah semua hal yang kita lalui, mereka masih saja seenaknya sendiri! sialan!”Enam orang berkumpul dalam satu meja. Hari ini kedai tutup lebih awal karena para karyawannya harus rapat sesuatu terkait malam sebelumnya. Mereka mengelilingi sebuah surat dengan amplop merah di atas meja.Dalam surat itu tertulis seperti ini:[Untuk Ezel.Aku ingin kau dan timmu mengawal seseorang. Bantu dia dalam hal apapun, jaga dia juga. Selebihnya kau bisa bertanya padanya perintah untuk timmu.Dari Ketua Black Falcon.]Dan, berakhirlah kedai harus tutup hari Senin. Mau berapa kali pun mereka memikirkannya namun tidak ada jawaban yang keluar. Bahkan seseorang yang dimaksud dalam surat itu tidak terpecahkan..Minggu malam. Di sebuah gudang tidak terpakai, acara rutin yang harus dihadiri seluruh anggota Black Falcon. Tentu saja pertemuan itu berakhir dengan berkelompok seperti pembagian tim sejak awal. Ting

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 24: Bermain

    “Rasanya sudah lama, ya, kita tidak bertemu, Reina.” Kiria tersenyum lebar sambil menatap Reina yang mau menuruti keegoisannya di hari libur.Tak sendirian, dia juga mengajak kembarannya, Ken, dan juga Zhao yang juga satu tempat kuliah dengannya. Menetapkan taman bermain sebagai tempat pertemuan mereka, keempat remaja itu berkumpul sebelum pintu masuk.[Citadel de Floral] Tempat segala jenis wahana permainan disediakan, mulai dari roller coaster hingga histeria. Aneka stan makanan pun menempati posisi masing-masing. Antrean panjang di pintu masuk menandakan ramainya pengunjung di akhir pekan.“Aaa ya ampun! Bagaimana bisa kau semanis ini, Reina?!” Padahal beberapa detik yang lalu dia terlihat begitu tenang, dan sekarang mulai tantrum.Hari ini, Reina memakai setelan lengan pendek dan rok hitam, rambut yang dihias dengan jepitan merah hitam, tas selempang berwarna cream, dan khusus hari ini Reina memilih memakai kacamata bulat. Semua yang dipakainya dipilih oleh Iza yang notabenenya l

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 23: Layn vs Alistair

    ---Meskipun dia masih muda, tapi boleh juga. Mata itu pasti akan mahal. Matanya dengan jelas menatap ke arah Reina yang sedang bicara dengan teman kerjanya.“Aku akan membawa mereka masuk,” ucap wanita itu.---Bagus! “Iya, beri tahu semua yang mereka butuhkan.”Tiga orang masuk ke dalam sebuah gedung. Di dalam sebuah ruangan yang cukup tertutup dan hanya ada dua kursi dan satu meja, seakan seperti sebuah ruangan interogasi. Dia atas meja terdapat beberapa berkas dan bolpen.“Langsung saja, a-anda akan membebaskan dari tempat ini, kan?” wanita berambut pendek yang diketahui bernama Ceri, menatap Reina penuh harap.“Tentu.” Reina menatap sekilas jam tangan analog silver di pergelangan tangan kirinya. “Waktu kita tidak banyak. Berikan semua informasi yang kau miliki.”Ceri membuka dokumen di depannya, lima lembar kertas kepada Reina. “Rute mereka mengarah ke pesisir Distrik Arboris dan akan melakukan perjalanan laut lima hari lagi. Saya dengar mereka mendapatkan beberapa orang berguna,

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 22: Fang

    “Akhirnya ketemu. Reina.”Seorang laki-laki mendarat dengan sangat mulus dari atap bangunan ke tempat Reina berdiri. Dengan jaket abu-abu dan kaos hitam, memakai masker hitam, dia berdiri tepat di samping Reina.“Kita pernah bertemu sebelumnya.” Dia harus sedikit menurunkan maskernya agar Reina mengenali wajahnya, meskipun dia sendiri tidak yakin gadis itu mengingat wajahnya karena saat itu suasana dalam rumah temaram dan wajahnya banyak cipratan darah.“Ah. Kau yang waktu itu? apa yang kau lakukan di sini?”..[5 jam sebelumnya – rumah kosong di tengah hutan]“Cyber, bisa carikan aku seseorang?”Fang melangkah mendekat ke rekannya yang sedang duduk di kursi menghadap sembilan cctv. Sudah lebih tiga minggu berjalan, di mana pun Fang pergi, gadis itu tidak muncul lagi. Seakan orang yang mengobatinya waktu itu adalah hantu.Sedikit memutar kursinya, Cyber menatap Fang yang ada di belakang kursinya. “Siapa?”“Dia perempuan, tingginya tidak lebih dari 157cm. Rambutnya gelap.”Sambil mend

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 21: Sebenarnya kau siapa

    “Mendengar namanya saja aku sudah merasa bersalah.”Celi menundukkan kepalanya, pipi kanannya lebam. Setelah membiarkan Reina masuk, gadis itu benar-benar menamparnya dengan keras. Namun, Celi tidak memiliki keberanian untuk membalasnya.“Apa kau tidak mau kirim pesan?” Reina yang duduk di sebelahnya, mendongak menatap langit-langit lab yang tinggi dan lampu gantung yang cantik.“Dia akan lebih kecewa kalau aku masih hidup,” sesal Celi. Dia semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Aku pergi begitu saja meninggalkannya dengan nenek. Aku...bukan ibu yang bertanggung jawab.”Huff...Reina berdiri, melangkah pergi. “Aku akan kembali lagi besok.”Membahas tentang Yoga -anak Celi- justru membuka luka lamanya lagi. Wanita itu terlihat banyak menyimpan luka masa lalu bahkan setelah belasan tahun pergi dari kota terkutuk itu.---Maaf, Yoga.-o0o-Reina mencoba menyelesaikan misi itu dengan sedikit bantuan dari Alistair. Dia memanfaatkan pria itu untuk memberitahunya arah. Meskipun begitu,

  • Puteri Terakhir Keluarga Mafia Berkuasa   Bab 20: Perkembangan

    Mau dicoba berapa kali pun, Celi masih tidak ingin membukakan pintu untuknya. Perkembangan terakhir, Celi sudah mau bicara walaupun dari intercom yang dipasangnya di dekat pintu.“Kau tidak perlu ke sini lagi, Reina. Kehidupanmu sudah lebih baik, jadi berhenti mencari tahu tentang masa lalumu.”Reina yang berdiri di dekat pintu, berbalik membelakangi intercom. Dia memandang halaman hijau di depannya. “Kalau kau hidup, berarti dia juga masih hidup, kan? Kenapa kau tidak mengirimku pesan?”“...”“Aku tidak datang untuk menyalahkanmu. Aku justru bersyukur kalian masih hidup. Itu saja, aku pergi.”Celi tidak membalas apapun. Dia membiarkan Reina pergi seperti sebelumnya. Meskipun Reina tidak bilang kalau dia tidak dendam, namun efek dari masa lalu membuatnya berpikir kalau Reina masih menyimpan dendam padanya.---Reina, harusnya aku yang bicara seperti itu.-o0o-Selesai dengan misi timnya, Reina mencoba untuk menyelesaikan misi yang hanya muncul di ipadnya itu. namun, karena keterbatasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status