Beranda / Pendekar / Putra Mahkota Yang Terbuang / Bab 3 Duel Maut pengawal Lin

Share

Bab 3 Duel Maut pengawal Lin

Penulis: Noah harun
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 17:54:58

Pengawal Lin sedikit gemetar ketika melihat sosok pria yang sedang menunggang kuda itu.

Hanya dengan sekali pandang, ia sudah mengetahui bahwa orang tersebut bukanlah prajurit biasa. Aura yang dipancarkannya begitu kuat. Ilmu bela dirinya pasti sangat tinggi.

Namun, sebagai pengawal kerajaan, ia telah bersumpah akan melindungi Permaisuri dan pewaris terakhir Dinasti Liu, meski harus mengorbankan nyawanya.

Pengawal Lin menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah Permaisuri Xing Fu.

"Nyonya... cepatlah pergi!" ucapnya dengan wajah tegang. "Biar hamba yang menghadapi orang berkuda itu."

Permaisuri Xing Fu langsung menggeleng.

"Pengawal Lin! Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian!"

Pengawal Lin tersenyum tipis.

"Nyonya... jika kita tetap di sini, kita semua akan mati. Calon Putra Mahkota adalah harapan terakhir Kerajaan Wu. Karena itu... Nyonya harus hidup."

Sambil berkata demikian, ia perlahan mencabut pedangnya.

Sreet...

Ia melangkah maju dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari pria berkuda di hadapannya.

Sementara itu, lawannya hanya tersenyum tipis. Tangannya masih bertumpu pada gagang pedang di pinggangnya, seolah sama sekali tidak menganggap Pengawal Lin sebagai lawan yang sepadan.

Melihat sikap tersebut, Pengawal Lin memasang kuda-kuda. Ia tahu, jika kalah dalam pertarungan ini, Permaisuri Xing Fu tidak akan memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung mengayunkan pedangnya.

"Wusss!"

Pedang itu melesat cepat membelah udara. Desiran angin kuat mengiringi setiap sabetannya.

Namun, di luar dugaan, lawannya hanya sedikit memiringkan tubuh dan dengan mudah menghindari serangan tersebut. Bahkan ia sama sekali tidak turun dari kudanya.

Wajah Pengawal Lin berubah tegang.

"Dia... ilmu bela dirinya benar-benar tinggi."

Pria itu tersenyum tipis.

"Hanya segitu kemampuanmu?"

"Kalau begitu... kau terlalu lemah untuk menghentikanku."

Mendengar ejekan itu, Pengawal Lin mengepalkan tangannya. Amarahnya mulai memuncak.

"Jangan meremehkanku!"

Ia segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Perlahan, hawa panas mulai menyelimuti pedang di tangannya. Daun-daun kering di sekitar mereka berterbangan diterpa hembusan tenaga dalam.

"Haah!"

Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Pengawal Lin melesat ke depan.

"Sreeet... Wusss!"

Kilatan pedang langsung mengarah ke jantung lawannya.

Kali ini, pria berkuda itu tidak lagi tersenyum. Tatapannya berubah tajam.

"Clang!"

Dalam sekejap ia mencabut pedangnya. Benturan kedua pedang mengeluarkan percikan api yang menyilaukan.

Pengawal Lin belum sempat menarik kembali pedangnya ketika lawannya memutar pergelangan tangan.

"Sreet!"

Sabetan pedang melesat begitu cepat.

Pengawal Lin terkejut. Ia berusaha menghindar, namun sudah terlambat

"Duk!"

Ujung pedang itu menembus dada Pengawal Lin hingga menembus ke punggungnya.

Mata Pengawal Lin membelalak. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

Pria berkuda itu perlahan mencabut pedangnya. Tubuh Pengawal Lin langsung limbung.

Sebelum roboh, ia menoleh ke arah Permaisuri Xing Fu. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia berteriak,

"Nyonya...!!"

"Ce... cepat... lari..."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, tubuhnya roboh ke tanah.

Bruk!

Napasnya semakin pelan. Pandangan matanya mulai kabur. Bibirnya masih bergerak pelan.

"Ny... Nyonya..."

Namun, suara itu akhirnya menghilang.

Pengawal Lin mengembuskan napas terakhirnya.

Permaisuri Xing Fu segera berlari menghampirinya. Ia memeluk tubuh Pengawal Lin yang telah berlumuran darah. Air matanya jatuh tanpa henti.

"Pengawal Lin...!"

"Hiks... hiks..."

"Bangun..."

"Jangan tinggalkan aku..."

Namun, pengawal setia itu tidak akan pernah membuka matanya lagi.

Pria berkuda itu perlahan menghampiri Permaisuri Xing Fu. Tatapannya begitu tajam saat melihat wanita yang menangis di samping jasad Pengawal Lin.

"Permaisuri..."

"Hari ini adalah hari terakhirmu di dunia."

"Bersiaplah menyusul suamimu."

Permaisuri Xing Fu perlahan mengangkat kepalanya. Air matanya masih mengalir. Ia tidak lagi memiliki seorang pun yang melindunginya.

Dengan gemetar, ia memeluk perutnya.

Di dalam kandungannya...

Masih ada calon Putra Mahkota Kerajaan Wu.

Pria berkuda itu tersenyum tipis.

"Jangan khawatir."

"Aku akan mengirim anakmu menyusul mu."

Setelah berkata demikian, ia perlahan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Kilatan mata pedang memantulkan cahaya matahari.

Permaisuri Xing Fu menutup kedua matanya.

Ia tahu...

Akhir hidupnya telah tiba.

Namun...

Saat pedang itu hendak ditebaskan...

Trang!

Terdengar suara benturan yang sangat keras.

Pedang pria berkuda itu terpental beberapa langkah.

Ia langsung terkejut.

"Apa?"

Ia segera menoleh ke arah datangnya serangan.

Di kejauhan, seorang lelaki tua berambut putih berdiri dengan tenang. Di tangannya tergenggam sebilah pedang tua.

Tatapannya tenang, tetapi aura yang dipancarkannya membuat pria berkuda itu mulai mengernyitkan dahi.

"Siapa kau?"

Orang tua berambut putih itu menatap tajam ke arahnya.

Wajahnya tetap tenang. Tanpa sedikit pun rasa takut, ia berkata,

"Siapa aku..."

"Itu bukan urusanmu."

Tatapannya semakin dingin.

"Yang perlu kau ketahui..."

"Biarkan perempuan itu hidup."

"Jika kau tetap bersikeras ingin membunuhnya..."

"Aku tidak akan segan menghabisi nyawamu sekarang juga."

Suasana seketika menjadi hening.

Pria berkuda itu mengerutkan dahinya. Belum pernah ada orang yang berani mengancamnya seperti itu.

Ia mengepalkan tangannya.

Dalam hatinya mulai muncul keraguan.

"Siapa sebenarnya orang tua ini?" pikirnya.

"Tadi... hanya dengan satu serangan, ia mampu mematahkan pedangku."

"Kalau aku memaksakan diri bertarung..."

"Apa aku benar-benar mampu mengalahkannya?"

Untuk pertama kalinya, kepercayaan dirinya mulai goyah.

Namun harga dirinya tidak mengizinkannya mundur begitu saja.

Ia menatap tajam orang tua itu, lalu berkata dengan nada dingin,

"Orang tua..."

"Jangan ikut campur urusan Jenderal Ming Lung."

"Kalau tidak..."

"Nyawamu juga akan menjadi taruhannya."

Orang tua berambut putih itu hanya tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Sorot matanya tetap tenang, seolah ancaman itu tidak berarti apa-apa.

Kemudian ia perlahan menghampiri Permaisuri Xing Fu.

Sorot matanya yang tenang membuat suasana di sekeliling seakan ikut menjadi hening.

Dengan lembut ia mengulurkan tangannya.

"Mari, Nak... ikutlah bersamaku."

"Kau aman sekarang."

Permaisuri Xing Fu menatap wajah orang tua itu beberapa saat.

Entah mengapa, tatapan mata lelaki tua tersebut membuat seluruh rasa takut di hatinya perlahan menghilang.

Tanpa sadar, Xing Fu menganggukkan kepala. Air mata yang masih membasahi pipinya perlahan diusap, lalu ia menerima uluran tangan orang tua itu.

Di kejauhan, pria berkuda itu masih berdiri memandangi mereka.

Tatapannya dipenuhi rasa penasaran.

"Siapa sebenarnya orang tua itu?" gumamnya dalam hati.

Namun rasa penasarannya berubah menjadi niat untuk menguji kemampuan lelaki tua tersebut.

Diam-diam ia mengangkat pedangnya. Tenaga dalam mulai mengalir ke ujung bilah pedang.

Tanpa mengeluarkan suara, ia mengayunkan pedangnya ke arah orang tua dan Permaisuri Xing Fu.

"Wusss...!"

Gelombang energi pedang melesat membelah udara.

Namun, tepat saat serangan itu hampir mengenai mereka, orang tua itu hanya melangkah satu langkah ke depan sambil menggenggam tangan Xing Fu.

Dessst...!

Serangan itu hanya menghantam ruang kosong.

Tidak ada seorang pun di sana.

Pria berkuda itu langsung membelalakkan matanya. Tubuhnya menegang dan wajahnya berubah pucat.

"Ba... bagaimana mungkin...?"

Ia segera menoleh ke segala arah.

Namun, orang tua dan Permaisuri Xing Fu telah menghilang tanpa jejak.

Pria berkuda itu mengepalkan tangannya erat.

"Si... siapakah sebenarnya orang itu...?"

Angin malam berembus pelan.

Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 46 penyerangan ke kota nangking

    Ibunda Lim Guan Yang terlihat sangat bahagia mendengar jawaban keduanya. Ia kemudian memandang Liu Weng Fu dan putrinya secara bergantian. "Kalau begitu, ibu sudah tidak perlu khawatir lagi. Kalian berdua memang sudah saling menyukai." Lim Guan Yang kembali menundukkan kepalanya karena malu. "Ibu... jangan bicara seperti itu." Ibunya tertawa kecil. "Kenapa malu? Bukankah tadi kamu sendiri sudah mengatakan bersedia?" Liu Weng Fu hanya tersenyum melihat tingkah Lim Guan Yang. Ibunda Lim Guan Yang kemudian berkata dengan serius, "Kalau kalian memang sudah sepakat, nanti kita bicarakan dengan keluarga. Ibu ingin hubungan kalian segera mendapat kepastian." Lim Guan Yang mengangguk perlahan. "Baik, Bu." Liu Weng Fu juga membungkuk hormat. "Saya akan mengikuti keputusan Ibu." Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar suara seorang prajurit dari halaman. "Wakil Panglima Liu!" Liu Weng Fu menoleh. Seorang prajurit datang menghampirinya lalu memberi horm

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 45 Liu Weng Fu mendapatkan restu dari ibunda

    Setelah kematian Liong Bun, Liu Weng Fu akhirnya terbebas dari segala provokasi yang selama ini membuatnya tertekan. Kini ia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang bersama Lim Guan Yang. Hari itu, Lim Guan Yang baru saja selesai menghadiri pemakaman ayahnya. Para keluarga dan kerabat Panglima Wei juga sudah berdatangan kembali ke kediaman untuk berkumpul bersama keluarga. Liu Weng Fu sedang duduk termenung seorang diri ketika tiba-tiba Ibunda Lim Guan Yang memanggilnya. "Nak Liu! Kesini sebentar. Ibu mau bicara denganmu!" Wanita itu melambaikan tangannya. Liu Weng Fu yang mendengar panggilan tersebut langsung bangkit dan menghampirinya. "Ada apa, Bu?" Ibunda Lim Guan Yang memandangnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil. "Nak Liu, ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu." Liu Weng Fu mengangguk. "Tanya saja, Bu." Wanita itu kemudian melirik ke arah putrinya yang sedang berbicara dengan beberapa anggota keluarga. "Kamu... suka dengan putri ibu?" Li

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 44

    Tidak lama kemudian, Kaisar Ming berpamitan kepada Lim Guan Yang dan ibunya setelah berbincang beberapa saat. Akhirnya, Kaisar Ming meninggalkan kediaman Panglima Wei. Pasukan kerajaan yang sejak tadi berjaga mulai meninggalkan tempat itu satu per satu. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan kembali sepi. Para pelayat dan kerabat Panglima Wei juga mulai pulang ke rumah masing-masing. Kini, hanya Liu Weng Fu dan Lim Guan Yang yang masih berada di dalam aula duka. Di hadapan mereka terbaring peti jenazah Panglima Wei. Lim Guan Yang masih berdiri di sana. Matanya terus menatap peti jenazah ayahnya. Air mata masih membasahi pipinya. Ia belum mampu menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi tempatnya bergantung telah pergi untuk selamanya. Liu Weng Fu kemudian berjalan mendekatinya. Ia berdiri di samping Lim Guan Yang dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Nona Lim..." Lim Guan Yang tidak menjawab. "Relakan kepergian ayahmu," ujar Liu Weng Fu perlaha

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 43

    Kaisar Ming akhirnya tiba di kediaman Panglima Wei. Sebelum Kaisar turun dari keretanya, para prajurit kerajaan segera membentuk barisan dan memblokir jalan keluar-masuk kediaman. Penjagaan diperketat. Masyarakat yang sejak tadi ingin melihat kedatangan Kaisar Ming semakin banyak berdatangan. Mereka berdesakan di luar halaman, berusaha melihat sosok Kaisar dari kejauhan. Pintu kereta terbuka. Kaisar Ming turun dengan mengenakan jubah kebesaran berwarna emas dan mahkota emas di kepalanya. Para prajurit segera memberi hormat. Kaisar Ming berjalan perlahan menuju pintu masuk kediaman. Melihat kedatangan Kaisar, keluarga Panglima Wei segera berlutut. "Salam sejahtera untuk Yang Mulia!" "Hidup Kaisar! Hidup Kaisar!" Kaisar Ming mengangguk perlahan. Tatapannya kemudian menyapu orang-orang yang berdiri di hadapannya. Namun tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang pemuda. Liu Weng Fu. Entah mengapa, pemuda itu tampak berbeda dari yang lainnya. Ada sesuatu dalam

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 42

    Liu Weng Fu yang masih mengingat kejadian di medan pertempuran akhirnya menyadari sesuatu. Panah yang menembus tubuh Panglima Wei berasal dari Liong Bun. Ia segera memanggil beberapa pengawal kerajaan. "Tangkap Liong Bun!" Para pengawal langsung bergerak mencari Liong Bun. Tidak lama kemudian, Liong Bun berhasil ditangkap. Kedua tangannya segera diikat. "Liu Weng Fu! Kau memfitnahku!" teriak Liong Bun sambil memberontak. "Bukan aku yang membunuh Panglima Wei!" Liu Weng Fu menatapnya tajam. "Aku melihat sendiri panah itu berasal dari arahmu." "Kau tidak punya bukti!" "Ada bukti," jawab Liu Weng Fu tegas. "Panah yang menembus tubuh Paman Wei berasal dari busurmu." Liong Bun terdiam sejenak. Wajahnya mulai berubah. Wakil Panglima Wei yang melihat kejadian itu segera memerintahkan para bawahannya. "Jangan mengambil kesimpulan terburu-buru. Selidiki kematian Panglima Wei dan periksa semua bukti yang ada." "Baik, Wakil Panglima!" Liong Bun kemudian diseret oleh

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 41 panglima Wei meninggal

    Panglima Wei yang sedang berada di gudang perbekalan tidak menyangka malam itu pasukan Hu Jianto kembali menyerang. Ia segera keluar dari gudang dan berteriak, "Prajurit! Siapkan pasukan kerajaan! Pertahankan perbatasan!" "Baik, Panglima Wei!" Para prajurit segera mengambil senjata dan berlari menuju pos penjagaan. Liu Weng Fu yang berada di sana ikut membantu mempersiapkan para prajurit. Tidak lama kemudian, pasukan Hu Jianto semakin dekat. Jumlah mereka kali ini jauh lebih banyak daripada serangan sebelumnya. Panglima Wei mengenakan jubah perangnya dan berdiri di barisan depan. Ia melihat Hu Jianto berada di tengah-tengah pasukannya. "Hu Jianto! Kau masih berani menyerang perbatasan kami?" "Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi!" Hu Jianto tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Panglima Wei. Tangannya perlahan terangkat. Para prajurit pemberontak di belakangnya langsung bersiap. Suasana di perbatasan mendadak mencekam. Hu Jianto mengangkat tang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status