Beranda / Pendekar / Putra Mahkota Yang Terbuang / bab 2 pelarian pramusuri Xing Fu

Share

bab 2 pelarian pramusuri Xing Fu

Penulis: Noah harun
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 17:47:27

Pasukan Jenderal Ming Lung segera mengejar bayangan hitam yang sempat mereka lihat. Namun, ketika tiba di balik aula istana, tidak ada seorang pun di sana.

Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung.

"Ke mana orang itu pergi? Tadi aku jelas melihat seseorang berlari ke arah sini!" kata salah seorang prajurit.

Temannya menggeleng. "Aneh... mustahil bisa menghilang begitu saja."

Seorang prajurit lain mulai mengamati dinding di sekeliling aula, lalu berkata, "Coba periksa ruangan ini! Mungkin ada lorong atau pintu rahasia!"

"Baik!"

Mereka segera mencari ke setiap sudut ruangan.

Beberapa saat kemudian...

"Ketemu!"

Seorang prajurit berteriak sambil menunjuk sebuah pintu kayu yang tersembunyi di balik lemari tua.

"Di sini benar-benar ada pintu rahasia!"

Mereka segera membuka pintu itu. Terlihat sebuah tangga batu yang mengarah ke bawah tanah.

Salah seorang prajurit memperhatikan bekas jejak kaki di lantai yang masih baru.

"Benar! Mereka pasti lewat sini!"

Ia segera menghunus pedangnya.

"Ayo! Jangan biarkan mereka lolos!"

"Kejar mereka sekarang juga!"

Puluhan prajurit segera berlari memasuki lorong bawah tanah.

Sementara itu, Permaisuri Xing Fu terus berlari mengikuti pengawal istana. Nafasnya mulai memburu, sementara kandungan di dalam perutnya membuat langkahnya semakin berat. Sesekali ia menoleh ke belakang dengan wajah dipenuhi ketakutan.

Pengawal yang melihat keadaan itu segera berkata, "Nyonya... sebentar lagi kita akan sampai di pintu keluar. Mohon bertahan sedikit lagi."

Xing Fu mengangguk pelan.

Namun...

Baru beberapa langkah mereka berlari...

Duk... duk... duk...

Suara langkah kaki puluhan orang menggema dari lorong belakang.

Suara itu semakin lama semakin dekat.

Wajah pengawal langsung berubah pucat.

"Kita ketahuan..."

Ia mengepalkan tangannya erat. Melihat Permaisuri mulai kehabisan tenaga, ia tidak berpikir panjang lagi.

"Maaf, Nyonya!"

Pengawal itu segera menggendong Xing Fu di punggungnya.

"Lepaskan aku... Aku masih bisa berjalan..." ucap Xing Fu dengan napas tersengal.

"Maaf, Nyonya. Keselamatan Nyonya dan calon Putra Mahkota jauh lebih penting."

Setelah berkata demikian, pengawal itu berlari sekuat tenaga menuju ujung lorong.

Sementara di belakang mereka, suara langkah kaki para prajurit Ming Lung terus mendekat.

Jarak mereka… Semakin dekat.

Obor yang dibawa para prajurit mulai menerangi lorong bawah tanah. Bayangan mereka terlihat memanjang di dinding batu.

Pengawal itu menoleh sekilas.

Wajahnya langsung berubah pucat.

"Mereka hampir menyusul kita…”

Akhirnya, Pengawal dan Permaisuri Xing Fu tiba di pintu keluar lorong rahasia.

Dengan hati-hati, seorang pengawal mendorong pintu batu itu.

Kreek...

Baru saja pintu terbuka, mereka langsung terkejut setengah mati.

Di hadapan mereka, ratusan pasukan Jenderal Ming Lung telah berjaga di seluruh halaman istana. Obor-obor menyala terang menerangi malam.

Ternyata seluruh area istana sudah dikuasai oleh pasukan pemberontak.

Melihat pemandangan itu, kaki Permaisuri Xing Fu langsung lemas. Wajahnya pucat pasi. Ia berdiri terpaku tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara itu, para pengawal saling berpandangan. Wajah mereka dipenuhi kegelisahan.

Di depan, pasukan Jenderal Ming Lung telah menunggu. Di belakang, suara langkah kaki para prajurit yang mengejar mereka semakin dekat.

Duk... duk... duk...

Suara itu menggema di sepanjang lorong bawah tanah.

Kini mereka benar-benar terkepung di istana mereka sendiri.

Seorang pengawal mengepalkan tangannya erat.

"Otak kita harus tetap tenang."

"Kita masih punya satu kesempatan."

Para pengawal segera berkumpul dan berembuk dengan suara pelan.

Beberapa saat kemudian, salah seorang pengawal maju menghadap Permaisuri Xing Fu.

"Nyonya..."

"Biar kami menghadang mereka."

"Selagi kami menahan pasukan Ming Lung, Nyonya pergilah bersama satu orang pengawal yang lain."

"Kami akan mempertaruhkan nyawa kami demi keselamatan Nyonya dan calon Putra Mahkota."

Mendengar perkataan itu, air mata Permaisuri Xing Fu kembali menetes.

"Tidak..."

"Aku tidak bisa membiarkan kalian mati demi aku."

Seorang pengawal tersenyum tipis.

"Nyonya..."

"Sejak kami mengangkat sumpah sebagai pengawal istana..."

"Kami telah siap mengorbankan nyawa untuk keluarga kerajaan."

"Jangan sia-siakan pengorbanan kami."

Permaisuri Xing Fu menundukkan kepalanya. Meski hatinya dipenuhi kesedihan, ia tahu tidak ada pilihan lain.

Dengan air mata yang terus mengalir, ia akhirnya menganggukkan kepala.

Pengawal yang memimpin rombongan itu perlahan mencabut pedangnya.

Sreet...

Ia menatap Permaisuri Xing Fu untuk terakhir kalinya.

"Nyonya... jangan menoleh ke belakang."

"Mulai saat ini, keselamatan Nyonya adalah tugas Pengawal Lin."

Seorang pengawal muda segera maju dan berlutut.

"Hamba siap membawa Nyonya keluar dari sini."

Pengawal yang memimpin menganggukkan kepala.

"Lindungi Permaisuri meski harus mengorbankan nyawamu."

"Baik!"

Ia kemudian berbalik menghadap pasukan Jenderal Ming Lung.

Pedangnya terangkat tinggi.

"Saudara-saudaraku!"

"Sudah waktunya kita membalas budi kepada mendiang Kaisar!"

"Meski hari ini kita mati..."

"...jangan biarkan seorang pun melewati kita!"

"Baik!"

Semua pengawal mengangkat pedang mereka. Mata mereka dipenuhi tekad.

Saat itu, Komandan pasukan Ming Lung tertawa mengejek.

"Hanya belasan orang ingin menghentikan ratusan pasukan?"

"Lucu sekali!"

Pengawal itu tersenyum tipis.

"Kami memang tidak berniat menang..."

"Tapi kami bisa membuat kalian terlambat."

"SERANG!!"

Puluhan prajurit pemberontak langsung berlari menyerbu.

"Habisi mereka!"

Pertarungan sengit pun tidak dapat dihindari.

Suara benturan pedang menggema di seluruh halaman istana.

Clang! Clang! Clang!

Para pengawal kerajaan bertarung mati-matian menahan laju pasukan Jenderal Ming Lung. Mereka tahu mereka tidak mungkin menang.

Namun, mereka harus membeli waktu agar Permaisuri Xing Fu dapat melarikan diri.

Di tengah kekacauan itu, Pengawal Lin menggenggam tangan Permaisuri Xing Fu.

"Nyonya! Sekarang!"

Keduanya segera berlari meninggalkan istana tanpa menoleh ke belakang.

Jeritan dan suara pertempuran perlahan mulai menjauh.

Setelah berlari cukup lama, akhirnya mereka berhasil keluar dari kawasan istana.

Pengawal Lin menghela napas lega.

"Syukurlah... kita berhasil keluar."

Namun...

Baru saja mereka hendak melanjutkan perjalanan...

Tap... tap... tap...

Terdengar suara langkah kaki dari arah depan.

Seorang pria berpakaian hitam perlahan muncul dari balik pepohonan. Ia membawa sebilah pedang panjang di pundaknya.

Senyumnya tipis.

"Ke mana kalian akan pergi?"

Pengawal Lin langsung berdiri di depan Permaisuri Xing Fu.

Wajahnya berubah tegang.

Orang yang muncul di hadapan mereka...

Bukan prajurit biasa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 46 penyerangan ke kota nangking

    Ibunda Lim Guan Yang terlihat sangat bahagia mendengar jawaban keduanya. Ia kemudian memandang Liu Weng Fu dan putrinya secara bergantian. "Kalau begitu, ibu sudah tidak perlu khawatir lagi. Kalian berdua memang sudah saling menyukai." Lim Guan Yang kembali menundukkan kepalanya karena malu. "Ibu... jangan bicara seperti itu." Ibunya tertawa kecil. "Kenapa malu? Bukankah tadi kamu sendiri sudah mengatakan bersedia?" Liu Weng Fu hanya tersenyum melihat tingkah Lim Guan Yang. Ibunda Lim Guan Yang kemudian berkata dengan serius, "Kalau kalian memang sudah sepakat, nanti kita bicarakan dengan keluarga. Ibu ingin hubungan kalian segera mendapat kepastian." Lim Guan Yang mengangguk perlahan. "Baik, Bu." Liu Weng Fu juga membungkuk hormat. "Saya akan mengikuti keputusan Ibu." Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar suara seorang prajurit dari halaman. "Wakil Panglima Liu!" Liu Weng Fu menoleh. Seorang prajurit datang menghampirinya lalu memberi horm

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 45 Liu Weng Fu mendapatkan restu dari ibunda

    Setelah kematian Liong Bun, Liu Weng Fu akhirnya terbebas dari segala provokasi yang selama ini membuatnya tertekan. Kini ia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang bersama Lim Guan Yang. Hari itu, Lim Guan Yang baru saja selesai menghadiri pemakaman ayahnya. Para keluarga dan kerabat Panglima Wei juga sudah berdatangan kembali ke kediaman untuk berkumpul bersama keluarga. Liu Weng Fu sedang duduk termenung seorang diri ketika tiba-tiba Ibunda Lim Guan Yang memanggilnya. "Nak Liu! Kesini sebentar. Ibu mau bicara denganmu!" Wanita itu melambaikan tangannya. Liu Weng Fu yang mendengar panggilan tersebut langsung bangkit dan menghampirinya. "Ada apa, Bu?" Ibunda Lim Guan Yang memandangnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil. "Nak Liu, ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu." Liu Weng Fu mengangguk. "Tanya saja, Bu." Wanita itu kemudian melirik ke arah putrinya yang sedang berbicara dengan beberapa anggota keluarga. "Kamu... suka dengan putri ibu?" Li

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 44

    Tidak lama kemudian, Kaisar Ming berpamitan kepada Lim Guan Yang dan ibunya setelah berbincang beberapa saat. Akhirnya, Kaisar Ming meninggalkan kediaman Panglima Wei. Pasukan kerajaan yang sejak tadi berjaga mulai meninggalkan tempat itu satu per satu. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan kembali sepi. Para pelayat dan kerabat Panglima Wei juga mulai pulang ke rumah masing-masing. Kini, hanya Liu Weng Fu dan Lim Guan Yang yang masih berada di dalam aula duka. Di hadapan mereka terbaring peti jenazah Panglima Wei. Lim Guan Yang masih berdiri di sana. Matanya terus menatap peti jenazah ayahnya. Air mata masih membasahi pipinya. Ia belum mampu menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi tempatnya bergantung telah pergi untuk selamanya. Liu Weng Fu kemudian berjalan mendekatinya. Ia berdiri di samping Lim Guan Yang dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Nona Lim..." Lim Guan Yang tidak menjawab. "Relakan kepergian ayahmu," ujar Liu Weng Fu perlaha

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 43

    Kaisar Ming akhirnya tiba di kediaman Panglima Wei. Sebelum Kaisar turun dari keretanya, para prajurit kerajaan segera membentuk barisan dan memblokir jalan keluar-masuk kediaman. Penjagaan diperketat. Masyarakat yang sejak tadi ingin melihat kedatangan Kaisar Ming semakin banyak berdatangan. Mereka berdesakan di luar halaman, berusaha melihat sosok Kaisar dari kejauhan. Pintu kereta terbuka. Kaisar Ming turun dengan mengenakan jubah kebesaran berwarna emas dan mahkota emas di kepalanya. Para prajurit segera memberi hormat. Kaisar Ming berjalan perlahan menuju pintu masuk kediaman. Melihat kedatangan Kaisar, keluarga Panglima Wei segera berlutut. "Salam sejahtera untuk Yang Mulia!" "Hidup Kaisar! Hidup Kaisar!" Kaisar Ming mengangguk perlahan. Tatapannya kemudian menyapu orang-orang yang berdiri di hadapannya. Namun tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang pemuda. Liu Weng Fu. Entah mengapa, pemuda itu tampak berbeda dari yang lainnya. Ada sesuatu dalam

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 42

    Liu Weng Fu yang masih mengingat kejadian di medan pertempuran akhirnya menyadari sesuatu. Panah yang menembus tubuh Panglima Wei berasal dari Liong Bun. Ia segera memanggil beberapa pengawal kerajaan. "Tangkap Liong Bun!" Para pengawal langsung bergerak mencari Liong Bun. Tidak lama kemudian, Liong Bun berhasil ditangkap. Kedua tangannya segera diikat. "Liu Weng Fu! Kau memfitnahku!" teriak Liong Bun sambil memberontak. "Bukan aku yang membunuh Panglima Wei!" Liu Weng Fu menatapnya tajam. "Aku melihat sendiri panah itu berasal dari arahmu." "Kau tidak punya bukti!" "Ada bukti," jawab Liu Weng Fu tegas. "Panah yang menembus tubuh Paman Wei berasal dari busurmu." Liong Bun terdiam sejenak. Wajahnya mulai berubah. Wakil Panglima Wei yang melihat kejadian itu segera memerintahkan para bawahannya. "Jangan mengambil kesimpulan terburu-buru. Selidiki kematian Panglima Wei dan periksa semua bukti yang ada." "Baik, Wakil Panglima!" Liong Bun kemudian diseret oleh

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 41 panglima Wei meninggal

    Panglima Wei yang sedang berada di gudang perbekalan tidak menyangka malam itu pasukan Hu Jianto kembali menyerang. Ia segera keluar dari gudang dan berteriak, "Prajurit! Siapkan pasukan kerajaan! Pertahankan perbatasan!" "Baik, Panglima Wei!" Para prajurit segera mengambil senjata dan berlari menuju pos penjagaan. Liu Weng Fu yang berada di sana ikut membantu mempersiapkan para prajurit. Tidak lama kemudian, pasukan Hu Jianto semakin dekat. Jumlah mereka kali ini jauh lebih banyak daripada serangan sebelumnya. Panglima Wei mengenakan jubah perangnya dan berdiri di barisan depan. Ia melihat Hu Jianto berada di tengah-tengah pasukannya. "Hu Jianto! Kau masih berani menyerang perbatasan kami?" "Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi!" Hu Jianto tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Panglima Wei. Tangannya perlahan terangkat. Para prajurit pemberontak di belakangnya langsung bersiap. Suasana di perbatasan mendadak mencekam. Hu Jianto mengangkat tang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status