Partager

Putra Mahkota Yang Terbuang
Putra Mahkota Yang Terbuang
Auteur: Noah harun

Bab 1 Pengkhianatan

Auteur: Noah harun
last update Date de publication: 2026-07-16 17:46:25

Dentuman genderang perang mengguncang langit Kerajaan Wu.

Api berkobar di berbagai sudut ibu kota. Asap hitam membumbung tinggi, sementara jeritan para prajurit dan rakyat saling bersahutan.

Di dalam Aula Naga, Kaisar Liu Bing berdiri memandangi kobaran api dari balik jendela istana. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya dipenuhi kesedihan.

"Yang Mulia!"

Pintu aula terbuka. Permaisuri Xing Fu berlari masuk dengan napas tersengal. Gaun kebesarannya telah dipenuhi noda darah para pengawal yang gugur ketika melindunginya.

Ia langsung berlutut di hadapan Kaisar.

"Yang Mulia... kita harus pergi sekarang juga!" serunya sambil menangis. "Jenderal Ming Lung telah memimpin pasukan pemberontak memasuki ibu kota. Gerbang timur sudah jatuh, gerbang barat juga telah dikuasai. Sebentar lagi mereka akan tiba di istana!"

Liu Bing memejamkan mata. Ia tidak pernah menyangka orang yang paling dipercayainya justru menjadi pengkhianat. Menteri-menteri yang dahulu bersumpah setia kini satu per satu berlutut di hadapan Ming Lung. Istana yang dibangun leluhurnya kini tinggal menunggu waktu untuk direbut.

"Xing Fu..." ucap Liu Bing pelan. 

"Pergilah."

Permaisuri mengangkat wajahnya. "Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Yang Mulia!"

"Di dalam kandunganmu..." suara Liu Bing bergetar untuk pertama kalinya.

 "...ada harapan terakhir Dinasti Liu."

Xing Fu membelalak. Tanpa sadar ia memegang perutnya.

"Aku rela mati bersama Yang Mulia!"

"Tidak!" bentak Liu Bing.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Kaisar meninggikan suaranya.

"Jika kita berdua mati malam ini, darah Dinasti Liu akan benar-benar lenyap dari dunia."

Air mata Xing Fu jatuh tanpa henti.

Liu Bing menoleh kepada pengawal kepercayaannya.

"Pengawal!"

Seorang pria berpakaian zirah segera berlutut.

"Siap, Yang Mulia."

"Bawa Permaisuri keluar melalui terowongan rahasia. Lindungi dia dengan nyawamu."

"Perintah diterima!"

Pengawal itu segera memegang lengan Xing Fu.

"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Xing Fu sambil meronta. "Yang Mulia! Aku tidak akan pergi!"

Namun Liu Bing membalikkan badan. Ia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya menangis.

Saat Xing Fu diseret keluar aula...

BRAAKK!!

Pintu istana bergetar hebat. Disusul suara benturan kedua.

BRAAAKK!!

Pintu utama akhirnya roboh.

Suara langkah kaki yang berat menggema memenuhi aula. Seseorang perlahan melangkah masuk. Pedangnya masih meneteskan darah, sementara di belakangnya berdiri ratusan prajurit pemberontak.

Liu Bing mengepalkan kedua tangannya. Akhirnya orang yang paling ia percaya datang untuk merenggut nyawanya.

Kaisar Liu Bing menatap Jenderal Ming Lung dengan sorot mata tajam. Meski istana telah dikuasai pemberontak, wibawa seorang kaisar masih terpancar dari dirinya.

"Ming Lung!" bentaknya. "Kau benar-benar berani mengangkat pedang kepadaku? Apa kau ingin membunuh rajamu sendiri?"

Jenderal Ming Lung tersenyum tipis. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah saat melangkah mendekati Liu Bing.

"Yang Mulia..." ujarnya pelan. "Hari ini memang hari kematianmu."

Ia mengangkat pedangnya ke arah Kaisar.

"Kerajaan Wu sudah jatuh ke tanganku. Tak ada lagi seorang pun yang mampu menyelamatkanmu."

Liu Bing mengepalkan kedua tangannya.

"Kurang ajar!"

Suara bentakannya menggema di seluruh Aula Naga.

"Aku yang mengangkatmu menjadi jenderal! Aku yang memberimu kekuasaan dan kehormatan! Tanpa aku, kau hanyalah prajurit miskin yang tak dikenal siapa pun!"

Ucapan itu membuat wajah Ming Lung berubah muram. Urat di dahinya menegang, matanya dipenuhi amarah.

"Diam!" bentaknya. "Jangan pernah mengungkit masa laluku! Justru karena aku selalu berada di bawah bayang-bayangmu, hari ini aku akan mengambil semuanya!"

Ia mengangkat tangannya.

"Prajurit! Habisi dia!"

Puluhan prajurit pemberontak segera maju. Mereka saling berpandangan sejenak. Bagaimanapun, pria yang berdiri di hadapan mereka masih Kaisar Kerajaan Wu. Namun tak seorang pun berani membangkang perintah Ming Lung.

"Serang!"

Belasan prajurit menyerbu secara bersamaan.

SREET!

Liu Bing mencabut pedang emas kebesaran Dinasti Liu dari sarungnya.

Kilatan cahaya memenuhi aula.

"Kalau kalian menginginkan nyawaku... datanglah mengambilnya!"

Tiga prajurit menyerang dari arah depan, kiri, dan kanan.

CLANG!

Pedang mereka berbenturan keras. Dengan satu putaran tubuh, Liu Bing menepis serangan dari kiri, lalu menusuk bahu prajurit di depannya.

"Arghhh!"

Darah muncrat membasahi lantai istana. Tanpa memberi kesempatan, ia kembali memutar pedangnya.

SWIING!

Seorang prajurit lain terpental setelah dadanya tersayat.

Meski telah lama tidak turun ke medan perang, kemampuan Liu Bing masih membuat para prajurit bergidik.

"Mustahil..."

"Yang Mulia masih sekuat ini?"

Beberapa prajurit mulai mundur. Mereka tak menyangka seorang kaisar masih memiliki ilmu pedang setinggi itu.

Namun, di tengah pertarungan perhatian Liu Bing hanya tertuju kepada para prajurit di depannya. Ia tidak menyadari sepasang mata dingin sedang mengawasinya dari belakang.

Ming Lung menggenggam pedangnya erat. Senyum licik terukir di sudut bibirnya.

"Inilah kesempatanmu mati..."

Tubuhnya melesat bagai bayangan.

SREEET!

Liu Bing merasakan serangan mematikan itu, tetapi ia terlambat mengantisipasinya.

DUUK!

Pedang Jenderal Ming Lung menusuknya dari belakang hingga menembus dada.

Mata Liu Bing membelalak. Ia memuntahkan darah segar. Pedang emas di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

TANG!

Suara logam bergema memenuhi aula.

Tubuh Kaisar perlahan berlutut. Napasnya semakin berat.

Ming Lung mencabut pedangnya tanpa belas kasihan. Darah menyembur membasahi lantai Aula Naga, lalu Liu Bing akhirnya roboh.

Keheningan menyelimuti seluruh istana.

Ming Lung memandang tubuh Kaisar dengan senyum puas.

"Hahaha... akhirnya berakhir juga."

Ia mengangkat pedangnya tinggi ke udara.

"Mulai hari ini... akulah Kaisar baru Kerajaan Wu!"

Sorak-sorai para prajurit pemberontak menggema memenuhi Aula Naga.

Namun di balik tirai kayu yang menjadi pembatas antara aula besar dan lorong istana, Permaisuri Xing Fu yang sedang mengandung menyaksikan seluruh pembunuhan itu. Tubuhnya gemetar hebat. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Hampir saja ia berteriak dan berlari menghampiri Kaisar Liu Bing.

Namun, seorang pengawal istana dengan sigap menutup mulutnya.

"Maaf, Nyonya! Kita harus segera pergi! Kalau tidak, mereka akan menemukan kita!" bisiknya dengan wajah panik.

Permaisuri menggeleng sambil menangis. Tatapannya tak pernah lepas dari tubuh Kaisar Liu Bing yang telah tergeletak tak bernyawa.

"Liu Bing... hiks... hiks..." bisiknya lirih.

Hatinya seakan menolak untuk pergi. Namun pengawal itu kembali menarik tangannya.

"Maafkan hamba, Nyonya. Keselamatan calon Putra Mahkota lebih penting."

Mendengar perkataan itu, Permaisuri memejamkan mata. Dengan berat hati ia akhirnya mengikuti langkah pengawal menuju lorong rahasia.

Namun, baru beberapa langkah mereka berlari, seorang prajurit bawahan Jenderal Ming Lung melihat bayangan mereka. Matanya langsung membelalak.

"Hei! Jangan kabur! Berhenti kalian!"

Teriakannya menggema di seluruh lorong istana.

Permaisuri dan pengawal itu langsung menegang. Tanpa menoleh ke belakang, mereka mempercepat langkah, berlari sekuat tenaga menuju lorong rahasia.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 45 Liu Weng Fu mendapatkan restu dari ibunda

    Setelah kematian Liong Bun, Liu Weng Fu akhirnya terbebas dari segala provokasi yang selama ini membuatnya tertekan. Kini ia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang bersama Lim Guan Yang. Hari itu, Lim Guan Yang baru saja selesai menghadiri pemakaman ayahnya. Para keluarga dan kerabat Panglima Wei juga sudah berdatangan kembali ke kediaman untuk berkumpul bersama keluarga. Liu Weng Fu sedang duduk termenung seorang diri ketika tiba-tiba Ibunda Lim Guan Yang memanggilnya. "Nak Liu! Kesini sebentar. Ibu mau bicara denganmu!" Wanita itu melambaikan tangannya. Liu Weng Fu yang mendengar panggilan tersebut langsung bangkit dan menghampirinya. "Ada apa, Bu?" Ibunda Lim Guan Yang memandangnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil. "Nak Liu, ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu." Liu Weng Fu mengangguk. "Tanya saja, Bu." Wanita itu kemudian melirik ke arah putrinya yang sedang berbicara dengan beberapa anggota keluarga. "Kamu... suka dengan putri ibu?" Li

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 44

    Tidak lama kemudian, Kaisar Ming berpamitan kepada Lim Guan Yang dan ibunya setelah berbincang beberapa saat. Akhirnya, Kaisar Ming meninggalkan kediaman Panglima Wei. Pasukan kerajaan yang sejak tadi berjaga mulai meninggalkan tempat itu satu per satu. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan kembali sepi. Para pelayat dan kerabat Panglima Wei juga mulai pulang ke rumah masing-masing. Kini, hanya Liu Weng Fu dan Lim Guan Yang yang masih berada di dalam aula duka. Di hadapan mereka terbaring peti jenazah Panglima Wei. Lim Guan Yang masih berdiri di sana. Matanya terus menatap peti jenazah ayahnya. Air mata masih membasahi pipinya. Ia belum mampu menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi tempatnya bergantung telah pergi untuk selamanya. Liu Weng Fu kemudian berjalan mendekatinya. Ia berdiri di samping Lim Guan Yang dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Nona Lim..." Lim Guan Yang tidak menjawab. "Relakan kepergian ayahmu," ujar Liu Weng Fu perlaha

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 43

    Kaisar Ming akhirnya tiba di kediaman Panglima Wei. Sebelum Kaisar turun dari keretanya, para prajurit kerajaan segera membentuk barisan dan memblokir jalan keluar-masuk kediaman. Penjagaan diperketat. Masyarakat yang sejak tadi ingin melihat kedatangan Kaisar Ming semakin banyak berdatangan. Mereka berdesakan di luar halaman, berusaha melihat sosok Kaisar dari kejauhan. Pintu kereta terbuka. Kaisar Ming turun dengan mengenakan jubah kebesaran berwarna emas dan mahkota emas di kepalanya. Para prajurit segera memberi hormat. Kaisar Ming berjalan perlahan menuju pintu masuk kediaman. Melihat kedatangan Kaisar, keluarga Panglima Wei segera berlutut. "Salam sejahtera untuk Yang Mulia!" "Hidup Kaisar! Hidup Kaisar!" Kaisar Ming mengangguk perlahan. Tatapannya kemudian menyapu orang-orang yang berdiri di hadapannya. Namun tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang pemuda. Liu Weng Fu. Entah mengapa, pemuda itu tampak berbeda dari yang lainnya. Ada sesuatu dalam

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 42

    Liu Weng Fu yang masih mengingat kejadian di medan pertempuran akhirnya menyadari sesuatu. Panah yang menembus tubuh Panglima Wei berasal dari Liong Bun. Ia segera memanggil beberapa pengawal kerajaan. "Tangkap Liong Bun!" Para pengawal langsung bergerak mencari Liong Bun. Tidak lama kemudian, Liong Bun berhasil ditangkap. Kedua tangannya segera diikat. "Liu Weng Fu! Kau memfitnahku!" teriak Liong Bun sambil memberontak. "Bukan aku yang membunuh Panglima Wei!" Liu Weng Fu menatapnya tajam. "Aku melihat sendiri panah itu berasal dari arahmu." "Kau tidak punya bukti!" "Ada bukti," jawab Liu Weng Fu tegas. "Panah yang menembus tubuh Paman Wei berasal dari busurmu." Liong Bun terdiam sejenak. Wajahnya mulai berubah. Wakil Panglima Wei yang melihat kejadian itu segera memerintahkan para bawahannya. "Jangan mengambil kesimpulan terburu-buru. Selidiki kematian Panglima Wei dan periksa semua bukti yang ada." "Baik, Wakil Panglima!" Liong Bun kemudian diseret oleh

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 41 panglima Wei meninggal

    Panglima Wei yang sedang berada di gudang perbekalan tidak menyangka malam itu pasukan Hu Jianto kembali menyerang. Ia segera keluar dari gudang dan berteriak, "Prajurit! Siapkan pasukan kerajaan! Pertahankan perbatasan!" "Baik, Panglima Wei!" Para prajurit segera mengambil senjata dan berlari menuju pos penjagaan. Liu Weng Fu yang berada di sana ikut membantu mempersiapkan para prajurit. Tidak lama kemudian, pasukan Hu Jianto semakin dekat. Jumlah mereka kali ini jauh lebih banyak daripada serangan sebelumnya. Panglima Wei mengenakan jubah perangnya dan berdiri di barisan depan. Ia melihat Hu Jianto berada di tengah-tengah pasukannya. "Hu Jianto! Kau masih berani menyerang perbatasan kami?" "Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi!" Hu Jianto tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Panglima Wei. Tangannya perlahan terangkat. Para prajurit pemberontak di belakangnya langsung bersiap. Suasana di perbatasan mendadak mencekam. Hu Jianto mengangkat tang

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 40 Lie Ming Sien tertangkap

    Lie Ming Sien sudah tidak berdaya setelah ditangkap oleh para pengawal. Namun tatapannya masih penuh kemarahan ketika melihat Panglima Wei. Ia menunjuk ke arah Panglima Wei sambil berteriak, "Jangan mengelak! Kau telah membunuh anakku!" Panglima Wei menatapnya dengan tenang. Ia kemudian mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para pengawal untuk berhenti. "Sebentar. Biarkan aku dan Lie Ming Sien bicara empat mata." Para pengawal saling berpandangan, kemudian mundur beberapa langkah. Lie Ming Sien masih dipenuhi amarah dan rasa kehilangan. Lima tahun kemarahan yang ia pendam seakan kembali muncul malam itu. Panglima Wei berjalan mendekatinya. "Lie Ming Sien... kau salah paham. Bukan aku yang membunuh Lie Sung." "Kau masih menyangkal?!" bentak Lie Ming Sien. "Aku melihatnya sendiri!" Panglima Wei menggelengkan kepalanya. "Kau memang melihatku berada di sana. Tetapi kau tidak melihat apa yang terjadi sebelumnya." Ia kemudian memegang pundak Lie Ming Sien yang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status