LOGINJin Guang tiba di kediaman Permaisuri dengan langkah lebar. Jubahnya masih berlumuran darah pengawal yang baru saja ia bunuh. Dua pelayan yang menjaga pintu mencoba menghentikannya, namun hanya dengan satu tatapan dingin dari Jin Guang, keduanya langsung mundur ketakutan.Ia mendorong pintu kayu itu dengan kasar hingga terbuka lebar dan bergema di seluruh ruangan.Permaisuri Li sedang duduk di kursi panjang dekat jendela, menatap pemandangan taman kecil miliknya dengan semilir angin awalnya. Bunyi langkah kaki menghantam lantai kayu membuat ia menyadari lebih awal ada seseorang yang masuk tanpa izin.Jin Guang melangkah masuk tanpa mengucapkan salam. Matanya merah, napasnya masih memburu, dan pakaiannya masih terdapat bekas cipratan darah membuat pelayan yang menemani Permaisuri sempat syok dan menggigil ketakutan yang berusaha mereka tutupi.“Kau yang menyuruh mereka meracuni Ruyu?” desisnya. Rahangnya mengeras, masih mencoba untuk menahan amarahnya.Permaisuri menoleh sejenak sebel
Shuyu pulang ke rumahnya seperti biasa saat menjelang sore. Ia dan Bibi Wen kebetulan berpapasan di depan pagar bambu.“Akhirnya kau pulang juga,” sapa Bibi Wen sekadar basa-basi, meski di matanya ada sedikit keheranan. Baru saja ia menerima surat darinya yang sengaja diselundupkan dalam keranjang. Namun, ia tak menyangka orangnya akan langsung pulang.Ekor mata Shuyu daritadi telah melirik ke kanan dan kiri, mencari sesuatu dari belakang Bibi Wen. Ia pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah dengan cepat dan tergesa. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh isi rumah yang hanya terdiri dari kamar dan dapur. Di dalam hati, ia merasa lega. Surat itu ternyata sudah tersampaikan tepat waktu. Mereka sudah lari meninggalkan tempat ini lebih dahulu.Akan tetapi, rasa was-was tidak berhenti sampai disitu. Ia kemudian teringat kalau ada dua pengawal dari Jin Guang yang mengikutinya diam-diam dari belakang.Salah satu dari mereka keluar dari persembunyian, entah darimana, mendekati Shuyu dengan
Permaisuri Li bangkit dari kursi singgasana dengan gerakan anggun nan wibawa, lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang. Setelah rapat istana usai, barisan para pejabat bubar keluar satu per satu.Ia sendiri menuju kediaman pribadi Kaisar. Di depan pintu, Kasim Ren berdiri sambil mengelap bulir keringat di dahinya dengan ujung lengan jubah. Begitu melihat Permaisuri mendekat, ia segera membungkuk hormat.“Bagaimana kondisi Yang Mulia saat ini?” tanya Permaisuri Li dengan suara tenang.Kasim Ren sempat terdiam sejenak sebelum menjawab hati-hati. “Tabib berkata kondisi Yang Mulia sudah mulai stabil. Namun…” Ia menelan ludah. “Denyut nadi dan detak jantungnya malah terasa melemah akhir-akhir ini.”“Aku mengerti.” Permaisuri tidak bertanya lebih jauh. Ia langsung berjalan masuk. Di dalam kamar yang remang-remang, Kaisar terbaring diam dengan wajah pucat di atas ranjang besar berukir naga. Seorang pelayan mengikuti di belakang sambil membawa nampan berisi semangkuk obat berwarna gel
Jin Zhen dan Xie Ruyu sudah melewati beberapa hari di tempat tinggal Bibi Wen yang berada di Desa Caoshi. Rumah bambu sederhana itu terasa lebih hangat dari biasanya, meski angin musim gugur mulai menusuk tulang.Jin Zhen berdiri di halaman dengan tongkat kayu sebagai sanggahan. Matanya menatap daun-daun berwarna kecokelatan yang berguguran dari pohon jeruk mandarin di depan rumah, mengotori tanah yang mulai mengering. Angin sepoi-sepoi membawa daun-daun itu berputar-putar sebelum jatuh. Tidak terasa hari sudah memasuki musim gugur.Menurut Ruyu, di musim inilah dirinya seharusnya mengemban gelar Putra Mahkota walau seminggu kemudian bakal dilengserkan dari posisinya. Jin Zhen menghela napas panjang memikirkan alur takdir dari pemilik tubuh yang ia tempati. Ia juga sebenarnya tidak ingin terlalu ikut pusing. Jika dirinya mati disini, ya sudah. Seharusnya dia memang sudah mati sejak awal tanpa berpindah dimensi. Di tengah lamunannya, tiba-tiba terdengar gesekan kaki yang bersentuhan
Sejak semalam, kondisi Jin Zhen berangsur membaik. Demamnya sudah turun, meski tubuhnya masih lemah akibat luka dan perjalanan panjang yang mereka lalui. Beberapa saat kemudian, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangan pertamanya hanya menangkap langit-langit bambu yang asing. Ia mencoba mengangkat tubuh. Rasa nyeri luar biasa langsung menjalar dari kaki kirinya, membuat ia meringis dan kembali terjatuh ke bantal.Gerakan kecil itu membuat kepala Ruyu yang tertidur semalaman di tepi ranjang ikut bergerak. Begitu mendengar suara Jin Zhen, matanya langsung terbuka. Ia membutuhkan beberapa detik untuk menyadari keadaan. Tatapannya langsung tertuju pada pria di hadapannya.“Kau sudah sadar?” serunya dengan suara pelan dan serak karena baru bangun.Ia buru-buru berdiri. Meletakkan punggung tangannya di dahi Jin Zhen untuk mengecek suhu tubuh sebelum akhirnya menghela napas lega. “Syukurlah… sudah tidak panas lagi. Tunggu sebentar. Aku ambilkan air.”Ia baru s
Kesadaran Ruyu kembali perlahan. Sinar matahari sore menerobos melalui celah dinding kayu yang berlubang. Hangat cahaya senja mengenai wajahnya, membuat kelopak matanya bergerak pelan sebelum terbuka sepenuhnya.Atap rumah dari anyaman bambu dan balok kayu tua menyambut pandangannya. Aroma tajam ramuan obat memenuhi ruangan, menusuk hidungnya hingga ia mengerutkan wajah.“Di mana ini…?” gumamnya lirih.Kilas balik beberapa hari terakhir langsung menghantam benaknya. Pemakaman Selir Agung, serangan mendadak orang Xiluo, dan perjalanan berat mengobati Jin Zhen yang terluka. “Jin Zhen!”Ruyu langsung bangkit dari dipan. Kepalanya berdenyut hebat hingga pandangannya berputar. Ia hampir kehilangan keseimbangan kalau saja tidak berpegangan pada tiang kayu di samping tempat tidur.Pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya berwajah ramah masuk sambil membawa baskom berisi air hangat. “Nona, kau sudah sadar?” tanyanya terkejut, meletakkan baskom di meja kecil.Ruyu menyipitkan mata, menc
Langkah kaki Ruyu berhenti tepat di tengah keramaian jalanan pasar ibukota yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kain bendera berkibar dengan tulisan nama toko, suara pedagang bersahut-sahutan, dan aroma makanan pinggir jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. “W
Xie Luo’an turun dari kereta kuda begitu sampai di kediaman. Ujung jubah seragam dinas berwarna ungu berkibar tertiup angin sore berhembus lembut setelah melangkahi gerbang utama. Kali ini, ia tidak melewati atau berhenti di aula utama seperti biasanya. Tanpa menanggapi pada para pelayan yang mem
Ruyu yang masih tersungkur di tanah dengan ayam jantan masih meronta, langsung membeku setelah mengetahui pria yang di depannya adalah Putra Mahkota. Otaknya berhenti berpikir sejenak, benar-benar kosong. ‘Putra Mahkota ini pasti Pangeran Pertama yang bernama Jin Yuan, kan? Jika dilihat paras
Sekian hari setelah dirinya masuk ke dunia baru, seluruh penghuni kediaman Xie hidup dalam ketenangan. Tidak ada suara pecahan barang keramik menghantam lantai, teriakan emosional yang membuat para pelayan gemetar ketakutan, hingga seruan pelayan yang memohon ampun. Di depan tembok pembatas halam







