Share

Bab 109 – Informan

Penulis: Xiaofeng
last update Tanggal publikasi: 2026-08-11 20:42:33

Jin Zhen dan Xie Ruyu sudah melewati beberapa hari di tempat tinggal Bibi Wen yang berada di Desa Caoshi. Rumah bambu sederhana itu terasa lebih hangat dari biasanya, meski angin musim gugur mulai menusuk tulang.

Jin Zhen berdiri di halaman dengan tongkat kayu sebagai sanggahan. Matanya menatap daun-daun berwarna kecokelatan yang berguguran dari pohon jeruk mandarin di depan rumah, mengotori tanah yang mulai mengering.

Angin sepoi-sepoi membawa daun-daun itu berputar-putar sebelum jatuh. Tidak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 110 – Perintah untuk Pulang

    Permaisuri Li bangkit dari kursi singgasana dengan gerakan anggun nan wibawa, lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang. Setelah rapat istana usai, barisan para pejabat bubar keluar satu per satu.Ia sendiri menuju kediaman pribadi Kaisar. Di depan pintu, Kasim Ren berdiri sambil mengelap bulir keringat di dahinya dengan ujung lengan jubah. Begitu melihat Permaisuri mendekat, ia segera membungkuk hormat.“Bagaimana kondisi Yang Mulia saat ini?” tanya Permaisuri Li dengan suara tenang.Kasim Ren sempat terdiam sejenak sebelum menjawab hati-hati. “Tabib berkata kondisi Yang Mulia sudah mulai stabil. Namun…” Ia menelan ludah. “Denyut nadi dan detak jantungnya malah terasa melemah akhir-akhir ini.”“Aku mengerti.” Permaisuri tidak bertanya lebih jauh. Ia langsung berjalan masuk. Di dalam kamar yang remang-remang, Kaisar terbaring diam dengan wajah pucat di atas ranjang besar berukir naga. Seorang pelayan mengikuti di belakang sambil membawa nampan berisi semangkuk obat berwarna gel

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 109 – Informan

    Jin Zhen dan Xie Ruyu sudah melewati beberapa hari di tempat tinggal Bibi Wen yang berada di Desa Caoshi. Rumah bambu sederhana itu terasa lebih hangat dari biasanya, meski angin musim gugur mulai menusuk tulang.Jin Zhen berdiri di halaman dengan tongkat kayu sebagai sanggahan. Matanya menatap daun-daun berwarna kecokelatan yang berguguran dari pohon jeruk mandarin di depan rumah, mengotori tanah yang mulai mengering. Angin sepoi-sepoi membawa daun-daun itu berputar-putar sebelum jatuh. Tidak terasa hari sudah memasuki musim gugur.Menurut Ruyu, di musim inilah dirinya seharusnya mengemban gelar Putra Mahkota walau seminggu kemudian bakal dilengserkan dari posisinya. Jin Zhen menghela napas panjang memikirkan alur takdir dari pemilik tubuh yang ia tempati. Ia juga sebenarnya tidak ingin terlalu ikut pusing. Jika dirinya mati disini, ya sudah. Seharusnya dia memang sudah mati sejak awal tanpa berpindah dimensi. Di tengah lamunannya, tiba-tiba terdengar gesekan kaki yang bersentuhan

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 108 – Alasan Putus

    Sejak semalam, kondisi Jin Zhen berangsur membaik. Demamnya sudah turun, meski tubuhnya masih lemah akibat luka dan perjalanan panjang yang mereka lalui. Beberapa saat kemudian, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangan pertamanya hanya menangkap langit-langit bambu yang asing. Ia mencoba mengangkat tubuh. Rasa nyeri luar biasa langsung menjalar dari kaki kirinya, membuat ia meringis dan kembali terjatuh ke bantal.Gerakan kecil itu membuat kepala Ruyu yang tertidur semalaman di tepi ranjang ikut bergerak. Begitu mendengar suara Jin Zhen, matanya langsung terbuka. Ia membutuhkan beberapa detik untuk menyadari keadaan. Tatapannya langsung tertuju pada pria di hadapannya.“Kau sudah sadar?” serunya dengan suara pelan dan serak karena baru bangun.Ia buru-buru berdiri. Meletakkan punggung tangannya di dahi Jin Zhen untuk mengecek suhu tubuh sebelum akhirnya menghela napas lega. “Syukurlah… sudah tidak panas lagi. Tunggu sebentar. Aku ambilkan air.”Ia baru s

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 107 – Menunggu

    Kesadaran Ruyu kembali perlahan. Sinar matahari sore menerobos melalui celah dinding kayu yang berlubang. Hangat cahaya senja mengenai wajahnya, membuat kelopak matanya bergerak pelan sebelum terbuka sepenuhnya.Atap rumah dari anyaman bambu dan balok kayu tua menyambut pandangannya. Aroma tajam ramuan obat memenuhi ruangan, menusuk hidungnya hingga ia mengerutkan wajah.“Di mana ini…?” gumamnya lirih.Kilas balik beberapa hari terakhir langsung menghantam benaknya. Pemakaman Selir Agung, serangan mendadak orang Xiluo, dan perjalanan berat mengobati Jin Zhen yang terluka. “Jin Zhen!”Ruyu langsung bangkit dari dipan. Kepalanya berdenyut hebat hingga pandangannya berputar. Ia hampir kehilangan keseimbangan kalau saja tidak berpegangan pada tiang kayu di samping tempat tidur.Pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya berwajah ramah masuk sambil membawa baskom berisi air hangat. “Nona, kau sudah sadar?” tanyanya terkejut, meletakkan baskom di meja kecil.Ruyu menyipitkan mata, menc

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 106 – Tolong Kami!

    Malam berlalu sangat lambat di dalam gua kecil itu. Setiap hembusan angin dari luar membawa suara hujan yang masih rintik-rintik, bercampur dengan napas lemah Jin Zhen. Beberapa kali Ruyu terbangun karena mendengar pria itu mengerang pelan, seolah sedang bertarung dengan rasa sakit di dalam ketidaksadarannya.Ia segera berlutut di sampingnya, memeriksa perban yang dibuat dari sobekan bajunya. Untungnya pendarahan sudah mulai berkurang, darah tidak lagi merembes deras. Meski demikian, wajah Jin Zhen semakin memucat, bibirnya masih pucat kebiruan, dan keningnya mulai berkeringat dingin.Ruyu menggenggam tangan pria itu sesaat, seolah ingin menyalurkan sedikit kehangatan. Saat fajar mulai menyingsing, matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur. Namun, hujan akhirnya mereda, menyisakan kabut tipis yang menyelimuti hutan. Cahaya matahari tipis masuk melalui mulut gua, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara lembab.Ruyu segera mendekati Jin Zhen. Ia menyentuh dahi pria itu de

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 105 – Terdampar

    Kilatan cahaya sesaat menerangi jurang yang menjulang tinggi sebelum kembali ditelan gelap malam. Hujan turun semakin deras, mengguyur seluruh hutan pegunungan tanpa ampun. Suara gemuruh air dan angin yang memekakkan telinga memenuhi lembah. Kilat menyambar lagi, memperlihatkan sekilas tebing curam yang basah dan pepohonan yang bergoyang hebat.Di tengah guyuran hujan, sesosok tubuh terdampar dari seretan derasnya arus sungai menuju tepian yang dipenuhi bebatuan tajam dan pasir basah. Tubuh itu tergeletak telungkup, rambut panjang basah menutupi wajah.“Ukh…!”Air sungai keluar dari mulutnya berkali-kali. Tubuhnya tampak bergetar kedinginan. Pakaian putih dan krim yang semula bersih kini berubah kecokelatan oleh lumpur dan air keruh. Akhirnya, kelopak mata yang terasa berat akibat air hujan dan kelelahan perlahan dibuka dengan paksa. Napasnya memburu karena hampir kehabisan udara saat terseret arus beberapa saat lalu. Dengan susah payah ia membalikkan tubuhnya yang telungkup menjad

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 7 — Langkah Awal Menjadi Nona Bermasalah

    Langkah kaki Ruyu berhenti tepat di tengah keramaian jalanan pasar ibukota yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kain bendera berkibar dengan tulisan nama toko, suara pedagang bersahut-sahutan, dan aroma makanan pinggir jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. “W

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 6 — Hari Sial yang Berlanjut

    Xie Luo’an turun dari kereta kuda begitu sampai di kediaman. Ujung jubah seragam dinas berwarna ungu berkibar tertiup angin sore berhembus lembut setelah melangkahi gerbang utama. Kali ini, ia tidak melewati atau berhenti di aula utama seperti biasanya. Tanpa menanggapi pada para pelayan yang mem

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 5 — Beiyan

    Ruyu yang masih tersungkur di tanah dengan ayam jantan masih meronta, langsung membeku setelah mengetahui pria yang di depannya adalah Putra Mahkota. Otaknya berhenti berpikir sejenak, benar-benar kosong. ‘Putra Mahkota ini pasti Pangeran Pertama yang bernama Jin Yuan, kan? Jika dilihat paras

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 4 — Nona Pertama Tidak Lagi Menakutkan

    Sekian hari setelah dirinya masuk ke dunia baru, seluruh penghuni kediaman Xie hidup dalam ketenangan. Tidak ada suara pecahan barang keramik menghantam lantai, teriakan emosional yang membuat para pelayan gemetar ketakutan, hingga seruan pelayan yang memohon ampun. Di depan tembok pembatas halam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status