INICIAR SESIÓN
“Mama, Papa!”
Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria. Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?” Nyonya Gita berdiri merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk putrinya. Tuan Rian juga berdiri sambil tertawa bahagia. Erlita berlari ke pelukan Nyonya Gita, bermanja-manja. “Iya, seru. Aku senang banget, Ma.” Awalnya, wajah tuan dan nyonya Santoso menunjukkan rasa tidak senang. Namun kedatangan Erlita langsung membuat mereka bahagia. Nyonya Gita mengusap rambut panjang Erlita. “Baguslah.” “Andre, ayo duduk dulu,” ajak Tuan Rian. “Kamu pasti capek jagain Lita selama liburan.” “Ah! Biasa aja kok, Pa,” sahut Andre. Andre Malik adalah tunangan Erlita. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan sudah pergi liburan bersama. Tuan dan Nyonya Santoso benar-benar memanjakan anaknya! Ketika Erlita hendak duduk, ujung matanya menangkap sosok wanita paruh baya lusuh yang berdiri menatapnya. Erlita langsung memasang ekspresi jijik. “Dia… pembantu baru?” tanya Erlita. Srek! Tepat saat Gita ingin menjawab, gadis kurus kering datang menyeret koper besar milik Erlita dengan susah payah. “Pa, Ma, aku… pulang,” kata gadis itu. “Aku bawa oleh-oleh buatー” Baru setengah bicara, Gita memotongnya. “Cuih!” Gita membuang ludah. “Siapa yang sudi jadi Mama dan Papamu?! Udah kubilang berkali-kali, panggil kami Nyonya dan Tuan.” “Ah! Maーmaaf, Nyonya. Aku lupa. Aku…” Dia adalah Liora Santoso, Putri Palsu keluarga Santoso. Teguran Gita membuatnya gugup sesaat sehingga dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Liora telah menjadi putri kesayangan keluarga Santoso selama 16 tahun. Di hari ulang tahunnya yang ke-17, seorang perempuan yang sebaya dengannya datang dan mengaku sebagai putri kandung keluarga Santoso. Perempuan itu bernama Erlita. Demi membuktikan identitas Erlita, Tuan Rian dan nyonya Gita melakukan tes DNA. Hasilnya terbukti cocok. Sejak itu, hari-hari damai Liora telah berakhir. “Sayang, ayo duduk,” ajak Gita. Gita merangkul Erlita. Mereka duduk di kursi kayu mahoni berukiran indah. “Lio, jadi orang jangan nggak tau diri,” ujar Erlita sambil menyilangkan kaki. Erlita berujar lagi, “Lo udah rebut identitas gue dan menikmati kekayaan keluarga Santoso selama belasan tahun yang seharusnya milik gue. Sekarang, waktunya lo balikin semuanya dan balas budi.” Sejak Erlita kembali, semua perhatian tertuju padanya. Liora pun terabaikan. Mereka menganggap Liora adalah Putri Palsu Pembawa Sial dan Erlita Putri Sah keluarga Santoso Pembawa Bintang Keberuntungan. Bahkan, keluarga Santoso mengadakan pesta mewah untuk menyambut Erlita sekaligus mengumumkan identitasnya di depan circle keluarga kalangan atas. Akibatnya, semua orang kelas atas di Kota Poseidon memandang Liora hina. Wanita lusuh gregetan. ‘Hmm, mereka semua bener-bener kurang ajar!’ Wanita itu mengepalkan tangan erat-erat, tidak terima Liora dihina-hina. Namun sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa, selain membawa Liora pergi dari kediaman keluarga Santoso. Karena tidak ingin Liora semakin menderita, dia bergegas mendekatinya. Dia meraih tangan Liora. “Liora, saya… Ella Anggara, ibu kandungmu. Ayo pulang sama Ibu, Nak.” Suara Ella halus dan lembut. Ketika memandang Liora, tatapan Ella penuh kehangatan dan cinta seorang ibu. Alis mata Liora berkedut. “Ha? Iーibu?” Tatapan mereka beradu. Tidak ada kemiripan diantara keduanya. Namun, Liora merasakan hatinya menghangat dan tersentuh. Ella mengangguk sambil menahan tangis. “Ini… hasil tes DNA kita berdua.” Dengan tangan gemetar, Liora memegangi secarik kertas hasil tes DNA. Mata Liora berkaca-kaca ketika dia membaca keterangan yang menunjukkan adanya kecocokan diantara mereka. Liora kembali menatap wajah Ella yang tampak kelelahan. “Iーibu…” “Iya, Nak. Ini ibu. Boleh Ibu memelukmu sekarang?” Tatapan Ella tidak berubah. Namun kini, sinar di matanya berkilat penuh harap. Mereka berpelukan. Suasana berubah menjadi haru. Beberapa pelayan yang mengintip dari kejauhan sibuk mengusap air mata mereka karena terbawa suasana. Erlita membelalak. “Ma, Pa, ada apa ini? Wanita jelek itu beneran Ibu kandung Lio?” Rian dan Gita mengangguk berbarengan. “Dia berasal dari desa di lereng Gunung Persik Kota Avalon,” kata Gita. Rian menambahkan, “Papa dan Mama udah lihat hasil tes DNA Liora, cocok.” Erlita menjadi semakin sombong usai mengetahui identitas asli Liora. Dia semakin berani menginjak-injak harga diri Liora. Erlita dan Andre berdiri, bertepuk tangan dengan meriah. “Lio, pantesan aja sikap lo kampungan begini. Ternyata nyokap lo orang desa, ya? Gue maklum, kok. Hahahaha,” cibir Erlita. Andre menambahkan, “Lio, untung aja keluarga gue batalin tunangan kita. Kalo nggak, reputasi keluarga Malik bakalan hancur dan jadi bahan tertawaan di seluruh Kota Poseidon.” Liora dan Andre tumbuh bersama. Mereka menjalin hubungan pertunangan sejak kecil sesuai dengan ketetapan para tetua kedua keluarga. Namun ketika Erlita kembali, Andre memutuskan hubungan pertunangan secara sepihak. Alasannya karena keluarga Malik beranggapan bahwa yang pantas menjadi tunangan adalah Putri Asli keluarga Santoso, bukan Putri Palsu. Mata Liora menyipit. “Andre, nggak masalah kalo lo batalin tunangan. Tapi, jangan pernah lo hina nyokap gue.” Lalu, tatapan Liora beralih pada Erlita. Dia maju beberapa langkah, mendekatkan mulutnya ke telinga Erlita. “Lo juga, Ta. Jangan disangka gue nggak berani ngelawan cuma karena lo anak sah keluarga Santoso.” Ella tercengang, tidak menyangka Liora seberani ini! Dia mengira, Liora adalah gadis yang terlampau cuek dan mudah ditindas. Erlita sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya keberanian dia kembali muncul. “Halah! Lo cuma berani gertak doang,” sahut Erlita. Andre tertawa. “Hahahaha…” “Udah miskin begini, masih bisa sombong, ya? Lio, lo harus terima takdir kalo sebenernya udah miskin dari dalam kandungan. Lo nggak pantes sejajar sama Lita. Jangan mimpi bisa jadi Putri Sah!” Kata-kata Andre sangat kejam! “Andre, lo beneran kurang ajar. Loー” Liora ingin membalas, tetapi Ella buru-buru menahannya. “Nak, kita nggak bisa ngelawan orang kaya. Mereka punya kuasa dan uang. Tapi kita?” Diam-diam, Ella menatap Erlita. Erlita begitu cantik. Kulitnya putih dan terawat. Rambut panjang hitamnya lurus dan berkilau. Pakaiannya mewah. Jelas, itu adalah merk Prada edisi musim panas tahun ini. Belum lagi sling bag yang dia pakai adalah merk Louis Vuitton seharga Rp 44 juta. Begitu hidung Ella mencium wangi sesuatu… Uh! Sudah dipastikan harum tubuh Erlita berasal dari parfum mahal kelas dunia. Ella menghela napas. “Ehmm …” Kemudian, bola mata Ella bergulir menatap Liora. Hatinya langsung terasa sakit. Liora tinggi dan kurus. Kulitnya putih pucat seperti kekurangan darah. Lingkaran di bawah matanya menghitam dan kulit bibirnya kering terkelupas. Jelas sekali wajahnya menunjukkan kelelahan yang tidak wajar. Pakaiannya? Ella menggeleng saat melihat pakaian Liora. ‘Bahkan pakaian pemulung lebih baik daripada Nona Liora,’ batin Ella. ‘Lihat aja! Keluarga Santoso bakalan menuai karma 100 kali lipat daripada ini!’ Oh! Mengapa Ella memanggil Liora dengan sebutan Nona? Ini sangat janggal.Dokter Rowan keluar bersama dua dokter spesialis. Wajahnya jauh lebih serius dari sebelumnya.Sagara langsung melangkah maju. “Gimana kondisi Lio?”Koridor mendadak sunyi. Semua orang menunggu jawaban Dokter Rowan.Dokter Rowan menatap Sagara dan Aluna bergantian.“Hasil lengkapnya belum keluar. Tapi dari pemeriksaan neurologis, ada beberapa hal yang perlu kita waspadai.”Mendengar keterangan Dokter Rowan, reaksi anggota keluarga Kivandra beragam. Jantung Aluna serasa berhenti. Tatapan Sagara berubah tajam. Sementara Edward menekan perasaan ingin memukul dinding untuk melampiaskan emosinya.Tatapan Sagara berubah tajam. “Maksudmu?” Dokter Rowan menarik napas pendek.“Dari hasil pemeriksaan awal, saya curiga ini bukan sekadar efek kelelahan biasa atau stres pasca trauma.”Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.Sagara menatap Dokter Rowan dengan sorot mata tegas.“Rowan,” suaranya rendah dan berat, “jelasin semuanya.”Reaksinya itu adalah pertanda Sagara sedang be
Mobil keluarga Kivandra memasuki area VIP Medica Global Hospital. Begitu mobil berhenti, pintu otomatis langsung terbuka dan tim medis sudah menunggu di depan. Dokter Rowan turun lebih dulu. Sorot matanya tajam.“Bawa Nona ke ruang pemeriksaan utama. Jalur steril. Jangan ada orang luar yang masuk tanpa izin saya.”“Baik, Dokter.”Mereka bergerak cepat tanpa membuang waktu sedikit pun. Deyan dan Nuna mengawal Liora turun dari mobil dengan tatapan penuh waspada. Nuna berjalan di sisi kanan sambil memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Liora.Wajah Liora terlihat pucat, tetapi ekspresinya tetap tenang. Justru itu yang membuat Nuna semakin tidak nyaman. Liora terlalu terbiasa menyembunyikan rasa sakit.Begitu masuk ke ruang pemeriksaan utama, suasana langsung berubah serius. Beberapa dokter spesialis sudah menunggu di dalam. Dokter saraf, radiologi, patologi klinik, semuanya hadir. Di tengah ruangan, Dokter Rowan berdiri dengan aura yang langsung mengambil alih seluruh situas
“Nona, kamu mimisan lumayan banyak.”Nuna segera meraih ponsel dan menghubungi seseorang.Panggilan tersambung cepat.“Dokter Rowan? Tolong datang ke kamar Nona Liora sekarang.”Suara Nuna terdengar tegang. “Nona Liora tiba-tiba mimisan. Aku khawatir ini ada hubungannya sama luka penyerangan kemarin.”Liora terdiam. Dia juga memiliki pemikiran seperti itu. Pikiran Liora berkecamuk. ‘Bu Nuna telepon Dokter Rowan? Kalo Bu Nuna sampai manggil dia, berarti Bu Nuna bener-bener menganggap situasi gue serius.’Setelah panggilan berakhir, Bu Nuna menoleh ke sekitar. Tatapannya jatuh pada seorang penjaga yang berdiri tidak jauh dari area kolam renang.“Kamu!”Penjaga itu langsung mendekat. “Ya, Bu Nuna? Ada perintah apa?”“Bawa Nona Liora ke kamarnya sekarang.”Penjaga itu mengangguk cepat. “Baik.”Bu Nuna kembali menatap Liora. “Nona, kita masuk dulu. Jangan di sini.”Liora sebenarnya ingin bilang dia baik-baik saja. Tapi saat hendak berdiri, pandangannya mendadak berkunang-kunang selama sa
“Fabulous! You did it, girl!”Di layar ponsel, Liora berteriak bahagia. Lalu, terdengar suara tepuk tangannya. Dia adalah orang pertama yang bereaksi. Ms. Donna ikut bertepuk tangan dengan air mata penuh haru. Kemudian, disusul oleh suara tepuk tangan kepala sekolah. “Kavita, kamu berhasil,” kata Ms. Donna. “Aku tau, kamu pasti berhasil. Kamu melakukannya dengan baik.”Ms. Donna memeluk muridnya. Dia mengusap punggung Kavita dengan kasih. Sebagai kepala sekolah, Mr. Arnold terkagum-kagum dengan performa piano Kavita. Dia belum berhenti tepuk tangan. “Luar biasa! Kavita, kamu membuat Bapak terkejut,” puji Mr. Arnold sambil berdiri.Lalu, Mr. Arnold menoleh pada Pak Mochtar. “Selamat Pak Mochtar. Putri Anda sangat luar biasa,” kata kepala sekolah. Kepala sekolah menghampiri Kavita. “Sebelumnya, hanya ada satu murid yang pandai memainkan La Campanella tanpa cacat. Dia adalah Liora, siswi berprestasi di bidang matematika dan seni musik.”Tatapan Kepala sekolah mengarah pada layar p
Kepala sekolah mempersilakan Pak Mochtar duduk. Lalu, dia sendiri duduk di sampingnya. Sementara Ms. Donna berjalan menghampiri Kavita. Siapa yang tidak mengenal Pak Mochtar? Seorang maestro piano yang tegas. Bahkan dia menyampaikan kritik anak didiknya dengan kata-kata yang tajam. Udara di ruang musik langsung terasa menekan Kavita. Bibir Kavita bergetar. “Lio, gue… rasanya nggak sanggup. Gimana kalo gue nyerah aja?”Di layar ponselnya, Liora melihat Kavita terlalu tegang dan gugup luar biasa. Liora berujar tenang, “Vita, slay aja! Taruh ponselnya di depan lo. Gue temenin lo dari sini. Oke?”Kavita mengangguk. Liora memang paling bisa diandalkan!Ms. Donna menepuk punggung Kavita. “Kavita, jangan takut. Ada saya dan Liora yang temani kamu. Ayo fokus demi mimpi kamu.”Kavita melirik Ms. Donna tanpa membalas ucapannya. Dengan tangan gemetar, Kavita duduk di depan piano. Dia meletakkan ponsel tepat di depannya. Tidak ada yang berbicara lagi. Perhatian semua orang tertuju pada Kav
Senin pagi di Serenity Enclave, Kota Poseidon.Karena masih dalam masa pemulihan, Liora tidak pergi sekolah seperti biasa. Dia berjemur di pinggir kolam renang sambil membaca jurnal Poseidon University AI Lab research di layar tablet. “Hemm, jurnal ini gampang dimengerti,” gumam Liora. Di sekolah, orang-orang melihatnya sebagai si Jenius Matematika yang aktif di club robotics. Tapi di luar sekolah, dia sebenarnya memimpin komunitas riset AI sendiri dan mengembangkan teknologi untuk disaster response.Tidak perlu merasa terharu. Liora memang cerdas dan berbakat di bidang teknologi. Bagi Liora, matematika, AI, dan robotik sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak usia 12 tahun.Nuna yang duduk menemaninya sangat penasaran. Dia teringat data-data Liora yang diberikan oleh Sagara. “Nona, apa baca jurnal begitu menarik banget?” tanya Nuna. Sagara memang sudah menyelidiki kegiatan Liora beberapa tahun terakhir. Sagara juga tahu bahwa putrinya ini adalah jenius matematika. Namun, Sagara h
“Hah? Sejak kapan Okka care banget sama Lio?”“Ini… aneh.”Semua murid, termasuk Ms. Evelyn ikut terkejut melihat perubahan sikap Okka pada Liora. Sebab, Okka Khadafi terkenal sebagai Kutu Buku di sekolah yang tidak pernah tertarik dengan apapun di sekitarnya. Sejarah mencatat, keluarga Khadafi me
Sesampainya di kelas Akuisisi Bahasa Inggris, Liora membuka pintu dan masuk begitu saja bersama Kavita. Ms. Evelyn yang baru mulai mengajar tiba-tiba berhenti. Ms. Evelyn jengah. “Lio, Kavita. Kenapa kalian terlambat?”Semua mata tertuju pada mereka. Murid di kelas ini hanya berjumlah 15 orang. It
Genzio mendengus dingin. “Tapi gue juga nggak suka diatur.”Sambil menunggu respon gadis di depannya, Genzio melepas hoodie. Semua teman dekatnya tahu. Mengganggu tidur siang Genzio, sama dengan mengundang bencana! Urat kesal langsung muncul di kepala Liora. Dia mengepalkan tangan, berusaha meneka
Genzio kembali menyandarkan kepala ke kursi. Dia sudah terbiasa mendapatkan ekspresi terkejut dari para wanita saat melihatnya. “Iya, Sayang. Ini gue, Genzio Mogilevich yang ganteng,” ucap Genzio, setengah menggoda. Liora membelalak, tidak percaya. Kenapa dia harus bertemu den







