Share

Bab 2

last update publish date: 2026-05-08 09:48:00

“Cukup!” bentak Rian.

Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat.

Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”

Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora.

Rian dan istrinya sudah membesarkan Liora selama 16 tahun. Jadi, dia merasa lebih mengetahui karakter Liora daripada orang lain.

Rian menghembuskan asap rokok dengan santai. “Saya akan kasih kamu dua pilihan. Tetap di sini menjadi Putri Palsu keluarga Santoso dan melayani Erlita atau pergi dengan wanita miskin itu tanpa membawa apa-apa.”

Rian tersenyum licik. Bola matanya menyiratkan niat tidak baik dan Ella menyadarinya.

Bagaimana dengan Liora?

Di mata keluarga dan orang lain, Liora hanyalah seorang putri yang hidup santai dan bermanja-manja. Jatah uang jajan bulanan yang bernilai Rp 400 juta selalu habis dalam sepekan.

Rian berpikir, ‘Hidup Lio terlalu santai. Sebanyak apapun uang jajan yang saya kasih, dia tetap boros. Tanpa uang keluarga Santoso, dia pasti nggak akan bisa bertahan hidup.’

“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Gita, tidak sabar.

Selama ini, keluarga Santoso telah menciptakan neraka bagi Liora. Maka ketika Liora dihadapkan dengan peluang emas, hatinya lega dan tersenyum puas.

Liora menatap lembaran hasil tes DNA di tangannya sekali lagi. “Tuan, karena hasil tes ini cocok, jadi aku nggak meragukannya.”

“Maksudmu?” tanya Gita, hampir tidak percaya.

Erlita dan Andre saling bertatapan, berharap Liora segera pergi dari keluarga Santoso. Karena hanya dengan begitu, Erlita akan menjadi satu-satunya putri pewaris keluarga Santoso.

Liora menggenggam tangan Ella. “Aku akan pulang ke Desa Gunung Persik bersama Ibu.”

Gita terkejut. “Apa?! Kamu jangan gegabah.”

Erlita duduk lagi dan langsung merangkul lengan Gita.

Erlita merayu ibunya. “Ma, biarin aja Lio pergi. Ngapain Mama nahan dia? Dengan begitu, keluarga kita bisa menghemat uang.”

Gita menjadi serba salah. “Tapi, Lita…”

“Lagian, Lio udah lama nggak kumpul sama ibunya. Dia pasti kangen banget, Ma,” ujar Erlita sambil tersenyum.

Selama tiga bulan terakhir, semua urusan rumah dibebankan pada Liora. Meskipun keluarga Santoso memiliki delapan pelayan dan empat sopir pribadi, tetapi Liora mampu bekerja dengan sangat baik.

Jika Liora pergi, bukankah keluarga Santoso harus mencari pelayan baru yang sepandai dia?

Wajah Rian masam. “Kalo kamu berani pergi selangkah pun dari sini, saya akan memutuskan hubungan denganmu dan menghentikan biaya sekolah. Pikirkan itu baik-baik, Liora Santoso.”

Sama seperti istrinya, Rian juga tidak rela membiarkan Liora pergi.

Keluarga Santoso adalah keluarga nomor tiga di kota Poseidon yang baru bangkit dari kebangkrutan. Sebetulnya, Rian dan Gita memiliki dua putra. Akan tetapi, tidak ada yang bisa diandalkan.

Putra pertama bernama Erwan yang arogan, dan pandai berbisnis. Namun, lemah terhadap wanita. Putra kedua bernama Egi yang hanya tahu hura-hura. Karena itulah, Rian mendidik Liora sejak usia 12 tahun agar bisa membantunya mengurus bisnis keluarga.

Rian dan Gita benar-benar paham betul cara memanfaatkan Liora!

Erlita emosi. “Kenapa kalian bersikeras nggak mau Lio pergi?”

Momen-momen buruk langsung menghantam ingatan Liora.

Sejak kehadiran Erlita, dia merebut kamar Liora. Akibatnya, Liora terpaksa pindah ke gudang di loteng.

Liora dijadikan babu khusus untuk melayani Erlita. Tidak hanya itu, Liora mengerjakan semua tugas sekolahnya.

Erlita sering memfitnah dan mengambil jasa Liora. Bahkan semua teman di sekolah yang dulu akrab dengannya, berbalik menjadi teman Erlita.

Liora tersenyum tipis. Dia membungkuk hormat.

“Tuan Rian, Nyonya Gita, makasih sudah merawat dan membesarkanku. Tapi, aku nggak punya alasan untuk tetap tinggal di sini.”

Erlita puas. Tidak hanya berhasil merebut cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya, dia bahkan berhasil menendang Liora dari keluarga Santoso tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.

Jauh di dasar hati, Erlita mencibir, ‘Lio, akhirnya lo pergi juga tanpa gue perlu bersusah payah ngusir lo.’

Baru saja Gita ingin membalas, Liora sudah berkata lagi.

“Selain itu, aku takut nggak sanggup menerima kebaikan keluarga Santoso lagi.”

Brak!

“Kurang ajar!”

Rian memukul meja. Dia memaki sambil berdiri.

Rian memadamkan rokok di asbak porselen. Dia berkata, “Kurang baik apa keluarga Santoso padamu, Lio? Kamu numpang hidup gratis di sini. Tapiー”

Tidak ingin rencananya gagal, Erlita memotong kalimat Rian.

“Pa, biarin aja Lio pergi. Papa dan Mama udah baik banget mau menampung dia selama ini. Jangan halangi Lio tinggal bersama ibu kandungnya. Aku yakin, dia pasti akan hidup bahagia.”

Mendengar kata-kata Erlita, Liora tertawa kecil. Sejak kapan sikap Erlita berubah bijak begini?

Melihat wajah polos Erlita, muncul keraguan di hati Rian dan Gita. Putri kandung mereka memang sangat pengertian.

Gita berbisik, “Pa, gimana kalo kita ikuti kemauan Lita? Jangan sampai nanti Lita sedih dan ngambek gara-gara Lio.”

“Tapi, Ma. Kamu tau sendiri, aku udah mati-matian ngajarin Lio bisnis. Aku nggak mau kehilangan dia gitu aja,” balas Rian.

Gita mencubit pinggang Rian. “Inget, Pa. Putri kandung kamu Lita, bukan Lio. Kamu juga bisa ajarin Lita berbisnis. Apa kamu nggak yakin sama kemampuan putri kandungmu sendiri?”

Setelah mempertimbangkannya sesaat, keraguan di hati Rian sirna.

Rian buru-buru menelepon asistennya.

“Heru, bawa dokumen itu ke sini!” perintah Rian.

“Baik,” sahut asistennya di ujung telepon.

Tidak sampai lima menit, Heru datang membawa amplop coklat dan menyerahkannya pada Rian.

“Tanda tangan,” kata Rian.

Rian menyodorkan dokumen tersebut pada Liora.

Tanpa ragu, Liora membukanya.

“Ini… surat pemutusan hubungan antara ayah dan anak?” tanya Liora, kaget.

Liora menatap Rian sambil mengernyitkan dahi. Ternyata, Rian sudah menyiapkan segalanya!

Rian mengangguk dengan wajah datar.

Liora meraih bolpoin dari tangan Heru. Tanpa ragu, dia menandatangani dokumennya dengan cepat.

Erlita segera berdiri, merampas dokumen yang telah ditandatangani Liora. Alangkah bahagianya dia ketika melihat tanda tangan Liora terukir di sana.

Erlita mendorong Liora hingga nyaris terjatuh.

“Sekarang, lo bukan putri keluarga Santoso lagi. Nama lo resmi dicoret dari silsilah keluarga Santoso. Pergi sana!”

Erlita langsung mengusir Liora tanpa ampun.

Andre ikut mencibirnya. “Lio, balik sana ke tempat asal lo!”

Lalu mereka menertawakan Liora dan Ella.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 6

    Erlita dan gengnya melotot, tidak menyangka Liora berani melontarkan kata-kata pedas.Belum lagi, tatapan jengah Liora yang menyepelekan Erlita. Lagaknya seolah Liora bisa menginjak Erlita kapanpun.Ini bukanlah situasi yang dibayangkan Erlita!Sambil menunjuk Liora, Erlita berkata, “Lo… sejak kapan lo punya nyali sebesar ini? Lo lupa, identitas lo siapa?”Alesha mencibir, “Lio, jadi orang harus tau diri. Lo sekarang udah nggak punya pendukung. Bukannya bersikap baik sama Lita, eh malah nggak tau balas budi.”Namun Kavita dan murid lain menatap Liora dengan wajah terkejut, sekaligus kagum. Kavita menepuk-nepuk pundak Liora. Lalu, menunjuk Erlita dengan dagu. “Good job, Lio. Kadang lo perlu bersikap tegas saat berhadapan sama makhluk sombong kayak dia.”“Tau, nih. Sama-sama tercipta dari tanah aja belagu banget,” celetuk siswi lain. Liora menambahkan, “Lah, kalo Lita tercipta dari api… berarti dia setan dong?”Saat itu juga, terdengar gema tawa murid-murid di ruangan Home Room Ms. Do

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 5

    “Lo, Liora Santoso kan?” tanyanya. Lelaki itu seumuran dengan Liora. Mereka satu sekolah di SMA Internasional School The Global Academy. Namun, beda kelas. Saat dia ingin bertanya lagi, suara Sagara terdengar dalam dan penuh tekanan. “Edward, sekarang dia adikmu. Liora Kivandra. Kamu harus jaga dia di sekolah. Jangan sampai anak sah keluarga Santoso menindas Lio. Ngerti kamu?”Liora dan Edward saling bertatapan. Edward memiliki rasa penasaran yang tinggi. Namun, Liora hanya mengangguk. Hati kecil Liora bertanya-tanya, ‘Bukannya Edward cuek banget, ya? Kok dia tau nama gue? Padahal gue bukan bintang sekolah. Gue juga bukan primadona sekolah.’“Saya ngerti, Pa.”Edward yang dingin, ternyata takluk begitu saja pada Sagara. Dia menyodorkan kotak hadiah.“Lio, karena Mama tadi telepon mendadak banget, gue nggak sempet cari hadiah. Jadi, gue cuma bisa kasih lo ini.”Ah, kotak perhiasan!Ketika Liora membaca merk di atas kotaknya, dia mencibir dalam hati. ‘Edward lagi ngeledek gue, ya? J

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 4

    Halaman Serenity Enclave tetap terang oleh lampu taman yang tertata rapi. Pepohonan tinggi berdiri diam, memberi kesan tertutup dan eksklusif.“Silakan lewat sini, Nona,” ujar Kepala Pelayan bernama David Zhao.Dulunya, David adalah seorang mata-mata dengan kode Kawe-08 yang dipelihara keluarga Bart, musuh bebuyutan keluarga Kivandra. Namun ketika dia sudah tidak berguna, Nyonya Besar keluarga Bart menyuruh orang untuk membunuhnya. Ketika berada di ambang kematian, Sagara datang menyelamatkan nyawa David. Sejak itulah, dia berhutang nyawa dan mendedikasikan hidupnya untuk Sagara.Liora berjalan di tengah, diapit Nuna dan David.Saat mereka mendekati anak tangga menuju pintu utama, suara bisikan para pelayan terdengar lagi.“Dia… Nona Besar Kivandra?”Bola mata para pelayan nyaris copot!Penampilan Liora sangat sederhana. Rok hitam lipit di atas lutut yang warnanya telah pudar, kemeja putih tanpa lengan yang sedikit kusut dan tas sekolah di punggungnya. Rambut coklat sebahu Liora jat

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 3

    Liora dan Ella keluar dari rumah besar keluarga Santoso saat hari sudah berubah gelap. Sesuai perkataan Rian, Liora tidak membawa barang berharga apapun. Dia hanya membawa tas sekolah, laptop dan buku-buku pelajaran. Begitu mereka sampai di persimpangan jalan, tiga mobil mewah berwarna hitam berbaris rapi menunggu Liora dengan lampu yang menyala redup. Mobil yang berada di tengah menyita perhatian Liora. Dia berdecak kagum di dalam hati. ‘Ah, Maybach S-Class memang bener-bener keren!’ Di depan dan belakang Mercedes-Maybach S-Class, terdapat Mercedes-Benz G-Class yang merupakan mobil pengawal keluarga super elite. “Bu, tumben banget banyak mobil berjejer di pinggir jalan begini,” ujar Liora, keheranan. “Keluarga kaya mana yang punya mobil mewah sebanyak ini?”Sebelum Ella sempat menjawab, seorang wanita mendekati Liora. Usianya kira-kira 48 tahun. Pakaiannya serba hitam dengan potongan rambut pendek sebatas telinga dan earphone bluetooth menggantung di telinga kanannya. “Halo, Non

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 2

    “Cukup!” bentak Rian. Rian membakar rokok mahal. Dia memandangi Liora lekat-lekat. Rian berkata, “Keluarga Santoso sudah membesarkanmu selama belasan tahun. Karena melihat hubungan ini, saya…”Rian sengaja menggantung kata-katanya demi menekan psikologis Liora. Rian dan istrinya sudah membesarkan Liora selama 16 tahun. Jadi, dia merasa lebih mengetahui karakter Liora daripada orang lain. Rian menghembuskan asap rokok dengan santai. “Saya akan kasih kamu dua pilihan. Tetap di sini menjadi Putri Palsu keluarga Santoso dan melayani Erlita atau pergi dengan wanita miskin itu tanpa membawa apa-apa.”Rian tersenyum licik. Bola matanya menyiratkan niat tidak baik dan Ella menyadarinya. Bagaimana dengan Liora?Di mata keluarga dan orang lain, Liora hanyalah seorang putri yang hidup santai dan bermanja-manja. Jatah uang jajan bulanan yang bernilai Rp 400 juta selalu habis dalam sepekan. Rian berpikir, ‘Hidup Lio terlalu santai. Sebanyak apapun uang jajan yang saya kasih, dia tetap boros.

  • Putri Palsu Jadi Pewaris    Bab 1

    “Mama, Papa!”Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria.Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?”Nyonya Gita berdiri merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk putrinya. Tuan Rian juga berdiri sambil tertawa bahagia.Erlita berlari ke pelukan Nyonya Gita, bermanja-manja. “Iya, seru. Aku senang banget, Ma.”Awalnya, wajah tuan dan nyonya Santoso menunjukkan rasa tidak senang. Namun kedatangan Erlita langsung membuat mereka bahagia. Nyonya Gita mengusap rambut panjang Erlita. “Baguslah.”“Andre, ayo duduk dulu,” ajak Tuan Rian. “Kamu pasti capek jagain Lita selama liburan.”“Ah! Biasa aja kok, Pa,” sahut Andre. Andre Malik adalah tunangan Erlita. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan sudah pergi liburan bersama. Tuan dan Nyonya Santoso benar-benar memanjakan anaknya!Ketika Erlita hendak dud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status