Share

Bab 3

Author: Star Harvest
"Om, pa ... pacarku mau masuk. Om ... Om percaya aku ya, aku beneran masih perawan. Om tenang aja, aku nggak bakal kasih keperawananku ke dia kok."

Sinta melirik ke arah pintu kamar mandi, menatapku dengan tatapan penuh permohonan.

Khawatir Jake akan melihat adegan ini, dengan enggan aku pun melepaskan Sinta.

Sinta menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku bawa pacarku pergi dulu ya. Om, tunggu sebentar baru keluar."

Setelah bicara, Sinta merapikan pakaiannya, mendorong pintu kamar mandi lalu berjalan keluar.

Hanya saja, kedua kaki Sinta tampak sedikit lemas, jalannya pun sampai terhuyung-huyung.

Bokong kencangnya di belakang ikut bergoyang-goyang seiring langkahnya.

Hal itu membuatku makin terangsang.

Bahkan terlintas sebuah pikiran di benakku, yaitu tidak peduli apakah Sinta sudah melakukannya dengan pacarnya atau belum, aku harus mendapatkan gadis kecil ini.

Aku sudah tidak peduli lagi meski dia putri sahabatku sendiri. Aku hanya ingin mencicipi betapa nikmat tubuhnya.

Sambil membayangkan hal-hal itu, aku berjalan keluar setelah suasana di ruang tamu sudah senyap.

...

Hari ini malam Natal, kantorku sedang mengadakan pesta.

Pesta kantor berakhir sudah sangat larut. Begitu terpikir kalau Sinta mungkin saja merayakan malam Natal bersama pacarnya, dan saat suasananya sudah pas, mereka berdua bakal ....

Entah kenapa muncul rasa cemburu yang hebat dalam diriku. Aku sama sekali tidak boleh membiarkan gadis itu menginap di luar, dia tidak boleh dimangsa oleh pacarnya!

Baru saja mengambil ponsel, aku melihat Sinta ternyata mengirimiku pesan, mendesakku untuk segera pulang ke rumah.

[Om, aku sama teman-teman sekelas lagi bikin pesta di rumah. Jake dari tadi terus-terusan mau ambil kesempatan, dia bahkan bilang mau ambil perawanku di malam Natal ini. Om, cepetan balik, tolongin aku.]

Pesan itu seketika membuat darahku mendidih. Aku pun bergegas pulang ke rumah dengan panik.

Begitu aku mendorong pintu, aku mendapati rumah dalam keadaan berantakan. Jake dan anak-anak muda lainnya sudah terlihat sangat mabuk.

Sinta sudah berganti gaun, dia sedang duduk di samping Jake. Tangan besar Jake berada di pinggangnya, meraba-raba dengan tidak sopan.

Sinta sepertinya merasa lega saat melihatku pulang. Dia segera berdiri dan menyapaku.

Teman-temannya yang lain juga mulai menjaga sikap dan satu per satu menyapaku.

Karena ada begitu banyak orang, tidak enak rasanya kalau aku langsung mengusir mereka semua. Akhirnya, mengandalkan kemampuanku yang kuat minum alkohol, aku pun ikut minum bersama mereka.

Tidak butuh waktu lama, sebagian besar dari mereka sudah tumbang karena aku ajak minum.

Saat itulah aku melihat Sinta berjalan mendekat dan duduk di sampingku.

Tadi dia terus sibuk makan di pojokan jadi aku tidak terlalu memperhatikan, tapi sekarang aku baru sadar ada yang tidak beres dengannya.

Padahal dia tidak minum alkohol sama sekali, tapi wajahnya tampak merah merona secara tidak wajar.

Yang lebih mengejutkan lagi, dia tiba-tiba meraih tanganku dan meletakkannya di belakang tubuhnya.

Di tengah kebingunganku, dia menarik tanganku perlahan ke arah bawah, menyelinap masuk dari balik ujung gaunnya.

Suara yang membawa aroma harum itu pun berbisik ke telingaku, "Om, apel yang aku makan tadi kayaknya dicampur obat perangsang hewan ... aku .... Aku sekarang panas banget. Bantuin aku ya?"

Tanpa perlu dia bilang pun aku sudah bisa merasakannya. Sentuhan tanganku terasa sangat panas dan ada bekas jejak yang lembap di sana.

Gadis ini jelas-jelas sedang menginginkannya.

Apelnya dicampur obat perangsang hewan?

Sudah pasti si brengsek Jake itu punya niat busuk, dia sengaja menaruhnya karena ingin meniduri Sinta.

Tapi untungnya, hal ini malah menguntungkan buatku.

Aku melirik sekilas ke arah Jake yang sudah terkapar di sofa, lalu menatap teman-temannya yang lain yang juga sudah teler berantakan, kemudian aku menggendong Sinta menuju kamar tidur.

Baru saja aku membaringkannya di atas kasur, kedua kaki Sinta langsung melilit tubuhku.

Sambil menunduk menatap kondisi bagian dalam rok pendeknya yang polos tanpa apa pun, darahku mendidih dan aku pun tidak sabar untuk segera menempel padanya ....
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Sahabatku dan Apel Beracun   Bab 9

    "Adi, bangun! Aku sudah tahu kamu pasti ada di sini."Di tengah rasa kantuk yang berat karena mabuk, ada seseorang yang menggoyang tubuhku. Aku mendongak, dan begitu melihat siapa yang datang, rasa mabukku langsung hilang separuh.Dia Rama, sahabat karibku, sekaligus ayahnya Sinta.Aku tidak heran Rama bisa menemukanku di sini, karena bar ini adalah tempat rahasia kami berdua. Kalau ada masalah, kami pasti ke sini untuk minum satu-dua gelas.Meski Sinta sudah membohongiku, kenyataannya aku sudah mengambil keuntungan darinya. Menghadapi Rama sekarang membuatku merasa sangat bersalah."Kak Rama kok bisa ke sini?"Rama duduk di sampingku, lalu menuangkan segelas minuman untuk dirinya sendiri."Ya apa lagi kalau bukan karena urusanmu sama Sinta."Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar ucapannya. Apa Rama sudah tahu apa yang kulakukan dengan Sinta?"Kak Rama, maafin aku. Aku nggak ada niat buat macam-macam sama Sinta, tapi waktu itu dia yang ...."Rama melambaikan tangannya. "Sinta su

  • Putri Sahabatku dan Apel Beracun   Bab 8

    [Yang terhormat Nona Sinta, operasi perbaikan genital yang Anda lakukan di instansi kami, saat ini sudah bisa diperiksa secara gratis ....]Kata-kata selanjutnya sudah nggak sanggup lagi kubaca. Mataku terpaku pada kata "operasi perbaikan genital".Butuh waktu lama sampai sudut bibirku menyunggingkan senyum pahit.Akhirnya, semuanya terjawab dengan jelas.Pantas saja sejak awal aku merasa Sinta nggak kayak gadis yang belum pernah disentuh. Apalagi setelah pergi liburan bersamanya, aku makin melihat sisi liarnya yang luar biasa.Sama sekali nggak ada sosok kembang kampus yang dingin, dia sungguh seperti perempuan yang sudah sangat berpengalaman.Ternyata alasan dia bersikap begitu bukan karena dia sangat menyukaiku secara alami, tapi karena dia memang perempuan yang sudah berpengalaman!Memikirkan kalau selama ini aku hidup dalam kebohongan, rasa marah yang hebat langsung meluap dalam diriku."Om, aku sudah selesai mandinya, ayo kita cepetan .... Wah, makan malam romantis!"Sinta keluar

  • Putri Sahabatku dan Apel Beracun   Bab 7

    Aku benar-benar dibuat gerah oleh godaannya, rasanya ingin segera menekannya ke lantai saat itu juga."Sinta, kamu di dalam kamar mandi ya? Om Adi sudah pergi, 'kan? Aku masuk sekarang ya ...."Diiringi suara langkah kaki, suara Jake terdengar menggema dari arah luar.Bocah ini ternyata nekat membuntuti kami sampai ke sini.Bahkan dia masih berniat masuk untuk mengganggu Sinta.Seketika wajahku berubah gelap, aku segera memakaikan kembali celana Sinta.Baru saja selesai merapikannya, Jake melangkah masuk dengan wajah penuh nafsu.Begitu melihatku, dia langsung terbengong. "Om Adi, kok ... kok Om ...."Amarahku meledak, tanpa menunggu dia selesai bicara aku langsung melangkah maju dan melayangkan satu pukulan telak ke tubuhnya.Tubuhnya yang krempeng itu jelas bukan tandinganku, dia langsung terhuyung dan nyaris terjungkal karena pukulanku."Jake, aku peringatkan ya, mulai sekarang jauh-jauh dari Sinta. Kalau sampai aku lihat kamu gangguin dia lagi, bakal kuhajar kamu sampai sekarat!"S

  • Putri Sahabatku dan Apel Beracun   Bab 6

    Begitu selesai olahraga panas itu, Sinta langsung berangkat ke kampus. Dia bilang bakal putusin Jake dan bakal kasih aku kejutan pas pulang nanti malam.Membayangkan tubuhnya yang mungil dan menggoda, aku menghabiskan waktu seharian dengan rasa tidak sabar.Namun, saat langit perlahan mulai menggelap, aku menunggu sampai malam pun Sinta nggak kunjung pulang.Aku coba telepon berkali-kali, tapi nggak pernah diangkat.Karena nggak betah cuma duduk diam di rumah, aku langsung memacu mobilku menuju kampusnya.Dulu aku pernah mengantarnya, jadi aku tahu di mana tempat dia biasa belajar dan langsung menuju ke sana.Saat melewati area hutan kecil di kampus, tiba-tiba aku melihat sosok yang sangat kukenal.Itu Sinta.Tapi, ada orang lain di sampingnya.Siapa lagi kalau bukan pacarnya, Jake.Mereka berdua lagi tarik-tarikan di sana, kelihatan jelas kalau ada yang nggak beres.Padahal Sinta bilang sendiri mau putusin Jake, tapi ternyata dia malah bermuka dua dan masih berhubungan sama Jake di ka

  • Putri Sahabatku dan Apel Beracun   Bab 5

    Begitu masuk ke rumah, aku sudah nggak sabar dan langsung menekannya di balik pintu.Melihat wajahnya yang merah merona, aku agak ragu apa dia beneran sudah minum obat penawar atau belum.Tapi, sekarang aku tidak ada waktu buat mikirin itu, aku cuma mau melahapnya sampai habis.Tangan besarku mencengkeram pinggangnya dan melorotkan celananya, sementara tanganku yang satu lagi meraba-raba dengan tidak sopan ke arah dadanya.Sinta terus gemetar di pelukanku, mulut kecilnya terbuka seolah dia kesulitan bernapas.Rasanya aku ingin sekali menekannya ke lantai dan menggumulinya sekarang juga.Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dari luar, sepertinya menuju ke arah rumahku.Siapa yang datang malam-malam begini?Di tengah kebingunganku, suara Jake terdengar dari luar."Sinta, kamu di dalam? Aku masuk ya ...."Bocah tengik ini tempo hari sudah merusak kesenanganku, tidak disangka sekarang dia datang lagi.Pokoknya kali ini aku nggak boleh biarkan dia berhasil lagi.Aku menggendong Sinta

  • Putri Sahabatku dan Apel Beracun   Bab 4

    Saat aku baru saja hendak melucuti celanaku, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di benakku.Posisi kaki Sinta yang melilit ini terasa terlalu mulus, seolah-olah dia sudah sangat mahir melakukannya.Bukannya dia bilang masih perawan?Melihat gerakanku terhenti, Sinta menoleh dengan wajah yang merah padam. "Om, cepetan ... aku ... rasanya mau mati karena nggak tahan, bantuin aku ...."Mulut kecilnya terbuka dan tertutup, mengembuskan napas panas beraroma harum tepat ke wajahku, membuat gairahku makin meledak.Tanpa peduli lagi untuk memikirkan hal lain, aku menunduk dan membungkam mulut merahnya itu.Tok tok tok!"Buka pintunya cepetan! Ini sudah jam berapa, bisa nggak jangan berisik? Anakku di rumah nangis terus nggak berhenti-berhenti ...."Suara gedoran pintu yang mendesak terdengar, dibarengi dengan teriakan tetangga.Tadi aku hanya fokus ingin menggumuli Sinta, sampai baru sadar kalau di ruang tamu ada suara gaduh yang luar biasa.Karena khawatir akan memancing lebih banyak tetan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status