LOGINAku seorang mahasiswa baru. Pelatihan ospek baru selesai kemarin. Pacarku yang sudah menahan rindu hampir setengah bulan, langsung tak sabar memanggilku ke asrama putri. Dengan bantuan dia dan teman asramanya yang membantuku bersembunyi, aku berhasil lolos dari pemeriksaan ibu penjaga asrama dan diam-diam menginap semalam di sana ….
View MoreMia's POV
"Madam, are you sure you want to divorce Mr. Branson?"
The lawyer asked it gently, the way doctors ask if you understand the diagnosis. Rain traced slow lines down the window behind him, blurring the city into grey watercolor.
I looked down at my hands, folded in my lap. There was still a faint pink line across my palm where the pavement had torn it open. It would fade. Everything fades, if you give it enough time. That's what I had told myself for ten years.
"I'm certain," I said, and my voice only trembled a little. "I can't keep being a wife without dignity beside a husband who doesn't love me."
Saying it out loud hurt more than I expected.
I loved Kyle Branson. I had loved him since I was fifteen, from the back row of a party I wasn't welcome at, watching him laugh in his football jersey with his eyes fixed on someone else.
I had loved him quietly through college, through the years as his secretary, through three years of a marriage that existed only on paper and in the darkness of our bedroom.
The lawyer's pen scratched across the paper.
Two weeks ago, I had been happy. For one whole afternoon, I had been happy.
"Congratulations," Dr. Ray had said, "you're pregnant."
I blinked rapidly, trying to focus. Her smile never wavered as she guided my attention to the screen, pointing to two tiny dots pulsing in sync.
"Twins," she added. "You're having twins."
I had been so careful — the pills Kyle insisted on, the contract with its cold black text. Clause 6: Regular contraception required. No pregnancies permitted.
But staring at those two flickering lights, something warm and terrifying opened up in my chest, like a window I hadn't known was painted shut. Two lives. Two tiny beings growing inside me. Kyle's children. Our children.
I cried in the hospital parking lot, my forehead against the steering wheel, and I couldn't have said whether it was fear or joy. Maybe there's no difference, when you've wanted something for as long as I had wanted a family.
Would they look like me? Would they have my green eyes, or their father's dark, stormy gaze? The whole drive home, hope kept rising in me, impossible to ignore. Maybe this changes everything, it whispered. Maybe when he sees the picture. Maybe, maybe, maybe.
I should have known. Hope had never once kept its promises to me.
That evening, I stood outside his study with the ultrasound picture in my cardigan pocket. The door was ajar; lamplight spilled into the hallway in a thin gold line. I raised my hand to knock—
"You've been married three years, Kyle." Marcus's voice, lazy with whiskey. "She should be pregnant by now, right?"
I froze, knuckles an inch from the wood.
"There won't be a child." Kyle's voice was flat.
It's like standing in warm water and feeling it turn cold around you, inch by inch, while you're too stunned to move.
Marcus laughed. "True. Taylor's back in the country now — I bet all your attention is on her." Ice clinked against glass. "How was last night? A whole night of sweetness, I'd guess."
Last night I had crouched behind a parked car in an empty garage while a stranger's footsteps circled closer, my ankle screaming, my palm bleeding, my phone pressed so hard against my ear it left a mark. I called Kyle times.
He'll come. This time he'll come. I thought.
An old security guard found me. He shouted the man off, walked me to my car, and stood in the rain until my hands stopped shaking enough to drive.
Kyle's reply was waiting when I got home. One word, glowing in the dark bathroom while I wrapped my torn palm.
Busy.
Humiliation was a living thing crawled up my throat.
"So tell me," Marcus pressed, grinning audibly. "Which is better — the wife, or Taylor?"
Kyle didn't answer.
"Look at me asking," Marcus laughed. "How could a contract wife ever compare to a first love?"
I pressed both hands over my mouth so no one would hear me sob.
This is a deal, he'd said once, sliding the contract across his mahogany desk. I hope you don't have any other ideas. But I did. So I'd signed, clinging to the hope that time would help him see me differently. Three years later, that hope had proven as substantial as morning mist.
When there were no tears left, I took out the ultrasound picture and looked at my babies in the lamplight, two tiny dots, my two tiny dots.
"It's okay," I whispered, my thumb tracing the edge of the photo. "Mommy sees clearly now. We don't need him."
"All right, ma'am." The lawyer's voice drew me back. He capped his pen. "The divorce agreement will be sent to your email within five days."
Five days.
Outside, the rain had stopped. I stood on the courthouse steps and breathed, one hand resting lightly over my stomach.
Five days. And I'll be leaving him.
Dalam beberapa kata saja, informasi yang tersampaikan benar-benar mengejutkan.Aku nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.Ternyata … mereka punya hubungan seperti itu?Aku berdiri mematung di tempat, tubuhku membeku, tak bisa bergerak. Seolah disambar petir tak kasatmata yang melumpuhkan seluruh kemampuanku untuk bergerak.Semua yang tadinya terasa janggal, tiba-tiba seperti terhubung satu per satu oleh benang-benang halus.Aku pun mengerti.Yang dimaksud caranya itu adalah memanfaatkan kaprodi untuk membantunya dapat jalan pintas!Benar-benar tidak tahu malu, aku harus membongkar kelakuannya!Dengan tangan gemetar karena emosi, aku mengeluarkan ponsel, menyelipkan kamera di sisi pintu, memastikan sudutnya pas untuk merekam kejadian di dalam, lalu menekan tombol rekam.Percakapan mereka masih berlanjut.“Kamu mau jadi kandidat di kompetisi itu? Bukannya pihak kampus sudah tentukan siapa yang akan jadi pesertanya? Kalau nggak salah … namanya Siska.”Begitu mendengar nama
Siska menghela napas pelan, “Meskipun aku mengundurkan diri, bukan berarti kamu yang otomatis dapat posisinya.”Namun, Tina hanya menyilangkan tangan di dada dan mengangkat dagunya.“Asal kamu mundur, aku punya caraku sendiri.”Aku ingat Siska pernah berkali-kali cerita soal itu. Itu adalah panggung impian semua penari balet dan dia sudah bekerja keras untuk sampai di tahap ini.Bagaimana mungkin aku melihatnya harus mengorbankan mimpinya hanya karena aku?“Siska, jangan mundur … itu mimpimu.”Siska mengepalkan tangannya erat, sampai-sampai kukunya hampir menusuk ke telapak tangan.“Iya, aku mundur.”Usai bicara, Siska menoleh padaku, mencoba memperlihatkan wajah kuat dan tegar, lalu dengan tegas berkata, “Mulai sekarang … kita putus.”Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, mereka langsung pergi tanpa menoleh lagi.Aku hanya bisa menatap Siska yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk.Aku tahu sebenarnya dia masih berat hati, tapi demi aku … dia memilih untuk mengalah pada
Tatapan Siska tampak tidak percaya dan terasa amarah yang luar biasa. Air matanya langsung menetes tanpa bisa ditahan.Jantungku seperti jatuh ke dasar jurang, ingin rasanya menjelaskan sesuatu, tapi otakku malah kosong. Aku kehilangan kemampuan untuk berpikir.“Sayang ….”Belum selesai aku bicara, Siska sudah menutup telinganya, tidak mau mendengarku lagi.“Jangan panggil aku seperti itu!”Setelah dijebak oleh Tina seperti ini, aku benar-benar tak bisa membela diri.“Percaya sama aku, aku nggak melakukan apa-apa ke dia ….”Tapi, Tina malah lempar batu teriak maling, dia menyela penuh emosi, “Siska, kamu sudah lihat sendiri, ‘kan? Semalam dia sudah coba perkosa aku, hari ini masih mengajakku ke tempat beginian!”Baru saja aku mau membela diri, Sella ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan komentar pedasnya.“Dasar brengsek! Sudah punya Siska, masih saja godain Tina! Cih!”Siska terlihat sangat hancur. Dia memegangi telinganya dan terus menangis tanpa henti.“Tyson, awalnya aku nggak pe
Sesuai dengan alamat yang dikirim, aku tiba di sebuah taman terbengkalai pinggiran kota. Dia memintaku untuk mengikuti jalan setapak kecil menuju ke dalam hutan, katanya dia sedang menunggu di sana.Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Kenapa harus semisterius ini?Aku menggerutu dalam hati.Begitu masuk ke hutan kecil itu, langsung tercium aroma samar yang harum, menyegarkan dan menenangkan.Aku berputar-putar beberapa kali, tapi tak melihat satu orang pun. Saat aku sedang bingung, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.“Akhirnya, kamu datang juga.”Suara itu mengejutkanku sampai merinding. Aku menoleh dan entah sejak kapan, sosok Tina sudah berdiri di belakangku.“Apa yang sebenarnya mau kamu bicarakan sampai harus memanggilku ke tempat begini?”Tina tersenyum dingin.“Soal kejadian tadi malam, bagaimana kamu mau ceritakan ke Siska?”Entah kenapa, perasaanku jadi tidak tenang. Hatiku gelisah dan ada sensasi aneh yang muncul.“Itu salahku, aku yang terlalu impulsif. Anggap saja nggak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.