Raka duduk di balik meja kerjanya yang luas dan elegan, jemarinya mengetuk pelan permukaan kayu mahal itu. Pandangannya tertuju pada layar ponsel yang baru sempat dia buka. Sebuah pesan dari Aluna muncul di sana.
[Makasih ya udah siapin mobil dan sopir buat gua..] Raka membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi dinginnya. Tidak ada balasan. Bukan karena tak ingin, tapi karena terlalu banyak yang bergejolak di dalam pikirannya. Ia melirik jam di sudut layar ponselnya, jarum jam menunjukkan waktu istirahat. ‘Waktunya makan siang..’ gumamnya dalam hati, namun pikirannya tak sepenuhnya fokus pada perutnya. Ada sosok lain yang terus saja mengganggu pikirannya. “Ka, lo mau makan di luar atau di sini..?” suara Radit tiba-tiba memecah keheningan, membuat Raka mendongak sedikit. “Mereka sudah pada istirahat..?” tanya Raka datar, nadanya ambigu namun matanya sedikit menyipit.Raka bersandar di pintu dapur memperhatikan Aluna yang membuat mie instan dan menggoreng frozen food, kedua tangannya terlipat di dada. Tatapannya tajam, tapi dalam matanya ada kilatan kesal dan… rindu.“Lo sengaja cuekin gue seharian?”Aluna mendengus. “Lo lapar gak? Kalau gak, minggir. Jangan ganggu gue masak.”Raka berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi mantap. “Gue lapar… tapi kayaknya bukan cuma mie yang gue pengen.”Aluna memutar mata. “Ck! Jangan mhlai modus..!”Tiba-tiba Raka sudah di belakangnya. Tangannya meraih tangan Aluna yang memegang spatula. “Gue bantu.”“Gak perlu—” kata-kata Aluna terhenti saat jari-jari Raka sengaja menyusuri jemarinya, menggenggam erat. Napasnya menempel di telinga Aluna, membuat perempuan itu refleks menegang.“Kenapa lo kaku gini?” bisiknya pelan, suaranya rendah dan berat.“Ka.. Gua mau masak, bukan… bukan mau gituan,” Aluna berusaha menghindar, tapi Raka malah merangkul pinggangnya dari belakang.“Gua cuma pengen lo berhenti ngambek. Gue gak
Pagi itu, mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung perusahaan. Raka melirik ke arah Aluna yang masih bersedekap dengan wajah cemberut.“Turun,” perintahnya datar, tangan kirinya sudah membuka pintu.“Ka, gua bilang juga apa, gua gak mau ke sini bareng lo! Orang-orang bakal makin mikir yang enggak-enggak!” Aluna mendengus, matanya menatap tajam.Raka hanya menghela napas, lalu mengulurkan tangannya, memaksa jemari Aluna menggenggamnya. “Lo istri gua, bukan selingkuhan. Mereka mau ngomong apa, itu urusan mereka. Sekarang, turun.”“Ck! Lo itu gak paham.. Bisanya maksa!” Aluna berdecak kesal tapi tetap turun, langkahnya mengikuti tarikan halus Raka yang menggandengnya. Jemari pria itu mengunci erat, seolah memberi tanda pada semua yang melihat, ‘dia milik gua’.Begitu memasuki lobi, suasana mendadak hening. Semua karyawan menunduk, tidak ada yang berani menyapa apalagi bergosip saat itu.“Lo lihatkan, gak ada gosip murahan..” bisik Raka tanpa menoleh ke arah Aluna.“Hmm.. Semoga a
Aluna baru keluar dari kamar mandi, dia melihat Raka sudah duduk disofa. Mata pria itu menatap serius kearah layar laptop didepannya.‘Huft.. Untung dia sibuk, setidaknya gak gangguin gua..!’ gumam Aluna dengan sedikit lega. Dia melangkah kearah tempat tidur, baru beberapa langkah suara Raka terdengar dingin.“Lo mau kabur..? Duduk sini, kasih gua penjelasan..!” Aluna menoleh, kini matanya terkunci tatapan Raka yang cukup tajam. Wanita itu terdiam, memejamkan mata sejenak sambil menghela nafas panjang.‘Gua pikir bisa lolos, ternyata..’ batinnya.Aluna melangkah kearah Raka dan duduk disamoing pria yang menatapnya nyaris tanpa berkedip.“Lo mau tanya apa, Raka..? Gua akan jawab..” Aluna memeprhatikan Raka yang mengubah duduknya menghadapnya.“Gimana lo bisa ada i panti asuhan..?” Raka memiringkan kepalanya, tampak begitu penasaran.“Jujur aja, gua gak ingat pastinya.. Gua lupa apa yang terjadi waktu itu.. Hanya saja, Bu Nadia pernah bilang kalau ada yang antar gua ke panti asuhan set
Aluna bergeming mendengar tuduhan Kayla, Raka menoleh ke arahnya dengan penuh tanya. Aluna melepaskan tangannya dari lengan Raka, pria itu menatapnya dingin dan tajam.“Jelaskan sesuatu Aluna..” suaranya datar tapi terdengar cukup penekanan.“Jujur, aku gak tahu kalau Kayla tunangan lo itu dia, Raka.. Gua, memang di usir mereka malam saat kecelakaan itu.. Lo bisa pastikan kalau kecelakaan itu bukan sandiwara, gua juga gak pernah tahu kalau kalian tunangan..” Aluna berusaha memberikan penjelasan pada Raka.“Bohong..! Lo pasti sebelumnya sudah cari informasi tentang Raka, kan..? Jadi lo pura-pura ketabrak biar Raka bantuin lo..! Licik banget cara lo Aluna..!” Kayla menuduh Aluna dengan suara keras, menimbulkan tanda tanya besar untuk tamu undangan.“Jangan bicara sembarangan Kayla..! Aku bahkan baru bertemu kamu malam itu dan kamu datang lalu tiba-tiba saja Mama dan Papa mengusir ku..! Harusnya aku yang bertanya permainan apa yang kamu mainkan..?!” Kali ini Aluna memberanikan diri mena
Raka menoleh ke arah Aluna yang masih terdiam di depan meja Rias, pria itu menghampiri, berdiri di belakangnya. “Lo kenapa lagi, Aluna..?!” tanyanya dengan alis terangkat, menatap mata Aluna melalui pantulan cermin. “Semua karyawan di perusahaan membicarakan kamu dan wanita bernama Kayla sebagai tunangan.. Kalau tiba-tiba aku muncul, apa kata mereka..?” Aluna membalas tatapan Raka melalui cermin. “Jadi lo cemburu..?!” Raka menatap Aluna semakin intens, tangannya terlipat didepan dada memperhatikan ekspresi Aluna yang mendadak sedikit gugup. Aluna menghindari tatapan Raka, mengalihkan ke arah lain. “Ck, bukan cemburu.. Lo taukan gimana gosip di perusahaan.. Mereka bilang gua mencari perhatian lo, dan yang mereka tahu wanita bernama Kayla lah tunangan lo.. Lo ngerti maksud gua gak sih Ka..?!” Tatapan Aluna akhirnya kembali ke arah Raka. “Jangan banyak mikir dan dengerin omongan orang..! Sampai kapan telinga lo hanya berfungsi dengerin banyak mulut..?! Dengerin aja isi hati lo dan gu
“Lihat itu si Aluna, kemarin datang bareng Pak Raka, sekarang datang sendiri..” “Iyalah, kemarin kan hanya nebeng.. Biasa, anak magang cari muka ke atasan..” “Hmm.. Gak tanggung-tanggung, langsung cari muka ke Pak Raka..” “Tapi sekarang Pak Raka udah mau tunangan.. Mana mau deket-deket dia..” “Gak nyangka ya luna yang kelihatan polis ternyata wanita penggoda..” Aluna baru saja melangkah masuk ke lobby perusahaan, dia langsung mendengar beberapa karyawan membicarakannya. ‘Ternyata benar, kan.. Aku sudah jadi bahan gosip satu perusahaan.. Semua gara-gara Raka yang paksain datang bareng.. Tapi sekarang datang sendiri pun juga masih digosipin.. Hhhh.. Ya sudahlah..’ gumam Aluna dalam hati. Tidak lama terdengar suara langkah kaki berat di belakang Aluna membuat semua karyawan yang sebelumnya berbisik kini terdiam. “Kalau masih ada yang bergosip, hari ini saya pastikan ambil gaji terakhir..!” Suara Raka terdengar cukup keras dan tegas saat langkahnya berhenti di tengah-tengah lobby.