Masukbab 23 Pov MelatiAku meraih paket itu dengan penasaran."Paket apa ini? Seingatku, aku tidak pernah memesan barang apapun," Kugoncang-goncangkan kardus itu sedikit keras.Aneh....Tidak ada suara apapun, tapi paket itu terasa berat."Paket dari siapa, Bu? Wah, ibu habis belanja, ya?" Eni menghampiriku yang masih terdiam.Aku hanya mengedikkan bahu."Nggak tahu, En! Seingatku, aku tidak membeli apa-apa!""Tapi paket ini ada nama ibu dan juga alamat toko kita, Bu!" Eni membolak-balikkan paket itu.Daripada kami semakin penasaran, gegas kuambil gunting, lalu membukanya hati-hati.Takut isinya barang penting.Aku meletakkan kardus itu di meja lalu membukanya.Eni yang duduk di sampingku, nampak tidak sabar juga.Begitu kubuka kardus itu...."Astagfirullah...." pekik kami bersamaan.Eni bahkan sampai meloncat dan menjauh.Karyawan yang lain ikut mengerumuni kami, sambil mencari tahu."Ada apa, sih?" tanya Seli."Iya...iya....kenapa?" bisik yang lain."Apaan tu? Paket ya? Jangan-jangan isin
bab 22 Pov Liana"Ah....Kurang ajar!" Umpatku dalam hati.Lalu menghempaskan bobot tubuh ini di kursi ruang tamu dengan sedikit keras.Berharap laki-laki di sebelahku akan memperhatikan, tapi nihil dia menoleh pun, tidak.Mas Agung malah seperti orang melamun.Sedari perjalanan pulang, mukanya tertekuk, dengan tangan memijit pelipis sesekali."Benar-benar si Melati!" Bu Sri angkat suara begitu kami tiba di rumah."Bagaimana bisa dia merayumu, Gung? Wanita tidak tahu malu! Setelah perbuatannya, masih berani dia mendekatimu? Cckkk...."Calon mertuaku itu berdecih."Gung....Agung!" Dengan nada tinggi, dia menegur Mas Agung, yang masih melamun saja."Sudahlah, Bu! Melati tidak menggodaku! Aku hanya mengucapkan salam perpisahan pada Aruna tadi!" kilah laki-laki itu tanpa menatap ibunya."Yang benar saja, kau! Jelas-jelas tadi ibu lihat dia berusaha memelukmu. Tidak tahu malu!" sembur tante Sri lagi.Napasnya naik turun menahan emosi.Gegas Mbak Eka memberikan segelas air putih padanya."Mu
"Ada apalagi?"Melati membalikkan badan, menatap malas orang-orang di depannya."Yang sopan kalau bicara sama sua-" Sahut Sri cepat, tapi ia buru-buru menutup mulutnya lagi.Wanita itu mengernyitkan dahi ketika Sri menghentikan ucapannya."Apa ibu lupa? Kalau aku bukan istri Mas Agung lagi?"Agung berusaha meraih tangan mantan istrinya itu, tapi wanita di sampingnya buru-buru mencegahnya.Liana mengapit erat lengan Agung, seakan takut laki-laki itu berubah pikiran."Kamu tidak perlu takut begitu!" Melati menatap tajam pada Agung dan Liana yang nampak slah tingkah."Siapa juga yang takut? Jelas-jelas Mas Agung sudah menentukan pilihannya!" Ujar Liana sambil mengibaskan rambut."Dan dia memilihku! Paham kamu?"Walaupun sesak di dadanya kian menyeruak, tapi Melati berusaha tegar.Bersedih, hanya akan membuatnya lemah."Silahkan saja! Kalau dia memang benar memilihmu! Tidak ada lagi urusannya denganku!"Melihat Melati mendekat, gadis itu mundur selangkah, tangannya kian erat merangkul len
bab 20 Pov MelatiAruna menarik-narik baju yang kupakai. Tingkah bocah yang berumur hampir dua tahun itu begitu menggemaskan.Hari ini, rencananya aku akan mengajak Aruna menghadiri sidang ke pengadilan.Beberapa hari setelah Ibu dan perempuan itu hampir mempermalukanku di toko.Seorang pegawai berseragam hijau mengantarkan sepucuk surat.Mas Agung benar-benar menepati perkataannya.Putri kecilku sudah kudandani dengan rapi.Rambutnya yang mulai tumbuh, kukuncir dua. Lucu sekali, jika ia berlari maka kuncir itu akam ikut bergerak."Nah, anak ibu sudah cantik. Tunggu di sini dulu, ya!" Aku memintanya duduk di tempat tidur sementara aku bersiap-siap."Alan-alan," bocah itu bertepuk tangan dengan semangat.Aku tersenyum dibuatnya. Aruna mengira kami akan pergi jalan-jalan.Andai Aruna besar nanti, apa dia akan mengerti perpisahan ini?Sebuah dres berwarna biru dengan potongan di bawah lutut, kupakai untuk menghadapi hari yang berat ini.Tak perlu dandan berlebih, aku hanya memoles bedak t
Sri berdiri lalu mengapit lengan Liana yang masih terheran-heran."Kenapa ibu malah mengajakku kesini?" batinnya."Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" seorang pegawai mendatangi pengunjung yang baru saja memasuki toko itu.Sri mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang."Sore. Saya mau beli kue. Apa kue yang paling mahal di sini?" Wanita yang berdiri bersama Liana itu sengaja mengeraskan suaranya.Pengunjung toko yang sedang ramai sampai menoleh ke arah mereka.Liana menjadi sedikit sungkan."Besar juga toko ini! Tidak mungkin kalau Melati pemiliknya!" batin Sri."Mari, Bu! Silahkan! Kami mempunyai red velvet cake yang sedang menjadi favorit!" Eni-pegawai toko itu menunjukkan beberapa cake yang nampak menggoda.Sri sebenarnya tidak terlalu menyukai kudapan manis itu.Dia datang hanya untuk membuktikan perkataan Agung tempo hari."Ya, sudah Mbak. Kami pesan itu saja 2 ya!"Liana yang menjawab pertanyaan itu.Mereka lalu duduk di kursi yang sudah pegawai itu tunjukkan.Lia
"Kenapa perempuan itu masih saja berkeliaran di sekitar Agung? Apa dia tidak kapok bermain-main denganku?"Aku mencengkeram gagang telepon dalam genggaman. Otakku terus berpikir bagaimana caranya mempercepat perceraian mereka?Dulu, aku sudah menentang saat Agung akan menikahinya.Namun, anak laki-lakiku itu memang keras kepala.Bahkan dia mengancam akan pergi kalau tidak merestuinya.Terpaksa pernikahan itu terjadi juga, gagal sudah rencanaku untuk menjodohkan Agung dengan Liana, putri sahabat baikku dulu.Sekarang, aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak rencanaku lagi."Halo, Liana. Apa kabar, Nak?" sapaku pada seseorang di ujung telepon."Halo, Bu! Alhamdulillah, Liana baik. Ibu apa kabar? Mbak Eka?" suara itu terdengar ramah."Baik, semua baik. Kamu tidak menanyakan kabar Agung?" aku terkekeh membayangkan wajahnya yang pasti sudah memerah."Ah iya, Bu. Mas Agung dan istrinya." Telingaku bisa mendengar helaan napasnya."Bagaimana kabar mereka? Aku dengar mereka baru saja dik







