Share

Bab 106

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-09-01 21:57:09

Setelah beberapa detik, Duna melepaskan pegangan tangannya. Dia lalu mundur satu langkah, sedikit menjauh dari Chandani.

“Maaf.” ucap Duna dengan suara lirih.

Chandani masih terdiam. Perubahan sifat Duna membuat Chandani terkejut. Duna dahulu tidak seperti ini. Jika sedang cemburu, Duna akan mengucapkan kata-kata yang terkadang terdengar menyakitkan. Chandani hanya diam sambil menatap wajah Duna.

“Aku minta maaf, Chan.”

Handphone Duna berdering. Ada panggilan masuk dari seseorang.

“Iya pak Jo.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 107

    “Cahya, duduk depan saja.” Chandani melarang Cahya duduk di kursi belakang bersama Viola. Chandani sangat mengenal sifat sahabatnya itu. Ketika tidak menyukai seseorang. Cahya bisa langsung menerkam orang itu tanpa ampun. Tentu saja dengan cara bicaranya yang sedikit menyakiti hati.“Kenapa? Aku mau duduk di belakang sama Viola?”Viola tampak ketakutan. Dia memilih bersembunyi di belakang Chandani. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Sebagai isyarat dia tidak ingin duduk di kursi belakang bersama Cahya.“Nanti, kamu terkam Viola.” Chandani sedikit menyeret lengan Cahya dan memaksanya duduk di kursi depan.“Dih…” Cahya menaikkan satu sudut bibirnya. Memberikan ekspresi tidak ramah kepada Viola yang tengah duduk di kursi belakang.“Chandani, sepertinya Cahya tidak menyukaiku.” Cahya segera menoleh ke belakang. “Oh, jelas! Kamu tidur sama Duna. Kamu sudah menyakiti sahabatku.”Chandani mencubit lengan Cahya. “Sudah dibilang dia nggak tidur sama Duna.”“Dulu kan dia sendiri yang bilang

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 106

    Setelah beberapa detik, Duna melepaskan pegangan tangannya. Dia lalu mundur satu langkah, sedikit menjauh dari Chandani.“Maaf.” ucap Duna dengan suara lirih.Chandani masih terdiam. Perubahan sifat Duna membuat Chandani terkejut. Duna dahulu tidak seperti ini. Jika sedang cemburu, Duna akan mengucapkan kata-kata yang terkadang terdengar menyakitkan. Chandani hanya diam sambil menatap wajah Duna.“Aku minta maaf, Chan.”Handphone Duna berdering. Ada panggilan masuk dari seseorang. “Iya pak Jo. Saya akan ke bandara untuk menjemput Mr. Hirano…. Baik…”Duna mematikan teleponnya. Dia lalu berjalan mendekati Chandani. Memegang tangan kiri Chandani dengan erat.“Maaf, kalau aku tadi emosi ya, Chan? Aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu nanti ya Chan?”Duna lalu berlari keluar dari kliniknya. Chandani masih terdiam terpaku, sedikit tidak percaya. Seorang Duna yang keras kepala dan egois, meminta maaf kepadanya? Apakah Duna sudah benar-benar berubah?Rika memasuki klinik dengan kepala teru

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 105

    Mobil Chandani telah sampai di halaman rumah Noval. Tapi Noval tak kunjung turun dari kursi penumpang. Chandani menatap Noval dengan heran. Laki-laki itu kenapa“Kenapa?” tanya Chandani. “Kamu serius ke klinik naik mobil sendiri?” Noval tampak khawatir.“Aku sudah nyetir dari apartemen ke rumah kamu mas. Dan aman-aman aja kan?” “Iya tapi, aku takut kalau kaki kamu mendadak sakit.”“Tenang saja mas. Jangan khawatir. Oke?”Noval akhirnya menyerah. Dia juga tidak mungkin mengantar Chandani ke klinik, karena kondisi badannya. Kepala Noval masih sedikit pusing. Tapi untungnya, perutnya sudah tidak mual lagi.“Mas Noval istirahat ya? Jangan ke kantor.”Noval membuka pintu mobil warna putih itu. “Iya Chan. Kamu hati-hati ya? Jangan kencang-kencang naik mobilnya. Terus jangan lupa makan siang nanti. Aku kayaknya mau tidur lagi.”Chandani tersenyum. “Iya mas Noval. Mas Noval tenang aja. Pokoknya, hari ini istirahat ya?”“Iya, Chan. Kamu hati-hati ya?”Chandani melambaikan tangannya ke arah N

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 104

    “Selamat pagi.” Chandani menyapa Noval yang baru bangun tidur.“Masih pusing nggak?” tanya Chandani lalu berjalan mendekati Noval.Chandani sudah terlihat rapi dengan seragam kerjanya. Dia juga terlihat cantik dengan make-up sederhana.“Kamu mau berangkat kerja? Jam berapa sekarang?”“Masih jam setengah delapan kok mas.”“Maaf ya Chan, aku baru bangun.”Chandani kembali memeriksa suhu tubuh Noval dengan telapak tangannya. “Masih demam. Hari ini jangan masuk kerja dulu ya mas?”“Iya, hari ini aku mau istirahat dulu saja. Kepalaku, juga masih sedikit pusing.”Semalam, Noval memang merintih beberapa kali dan membuat Chandani khawatir. Benar ya kata orang, laki-laki sekuat apapun, akan kalah dengan demam.Bagi orang lain, Noval adalah sosok yang sedikit galak dan tegas. Tapi ketika bersama Chandani, Noval selalu berubah menjadi sosok yang lembut. Noval selalu menjadi sosok pelindung. Noval selalu memastikan Chandani baik-baik saja.Saat Noval sakit seperti ini, Chandani seperti merasa keh

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 103

    Setelah memakan satu pisang keju buatan Chandani, dan meminum obat pereda demam. Noval kini tertidur pulas. Chandani mengecek suhu laki-laki itu dengan termometer infrared. 39.2 derajat celcius, panasnya tinggi sekali.Tadi Chandani sudah menghubungi bude Ita. Mengabarkan jika Noval malam ini menginap di apartemennya, karena demam. Handphone Noval jadi tidak bisa menghubungi bude Ita.Tentu saja bude Ita tidak keberatan. Bude Ita mendukung penuh kedekatan Chandani dan Noval. Selain itu, bude Ita akan mendapatkan banyak bonus jika Noval sering tidak di rumah.Chandani menatap wajah Noval yang tampak lelah. “Berat banget ya mas hari ini? Kamu sampai demam tinggi begini.”Awalnya, Noval menolak tidur di kasur. Dia memilih untuk tidur di sofa. Tapi Chandani memaksa Noval tidur di kasurnya malam ini. Chandani tidak ingin Noval tambah sakit karena tidak nyaman tidur di sofa. Chandani memperhatikan tubuh tinggi Noval. Tubuh tingginya hampir seukuran panjang kasur. Wajah putih Noval, tampak

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 102

    Chandani terlihat tidak senang. Kenapa dia berbuat baik sedikit saja dengan Duna, laki-laki itu akan bertindak seenaknya lagi.“Jangan mimpi Duna. Aku memang merasa bersalah ke kamu. Bukan berarti aku memaafkan semua hal yang kamu lakuin tiga tahun yang lalu.” Chandani menyilangkan kedua tangannya di dada. Lalu berbalik badan meninggalkan Duna.“Chan, terima kasih banyak. Aku akan tetap menyayangi kamu. Akan akan tunjukkan kalau aku sudah berubah Chan.” Duna berbicara dengan suara kencang.Chandani segera berlari ke arah unit apartemennya. Suara keras Duna rasanya terdengar menggelegar keseluruh ruangan. Chandani menutupi kedua telinganya, tapi percuma suara Duna terdengar kencang.“Chan, aku sayang kamu.” Duna kembali berteriak kencang.Pintu unit apartemen terbuka. Chandani segera mengambil air mineral dingin dari dalam kulkas. Meneguknya hampir tak tersisa. Perutnya tak lagi terasa lapar karena terlalu banyak meneguk air mineral.Chandani melihat handphonenya. Pesannya kepada Noval

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status