Share

Bab 115

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-09-08 21:05:43

Langit mulai berubah warna menjadi jingga, ketika Noval akhirnya keluar dari gedung kantornya. Tadi siang, setelah kembali dari klinik Chandani. Setumpuk pekerja sudah menunggu Noval.

Seharian penuh Noval hampir tidak beristirahat. Meeting demi meeting, revisi desain, pembahasan anggaran, hingga presentasi dengan klien membuat kepalanya terasa penuh.

Tubuh yang baru sembuh dari demam itu, terasa kembali berat karena kelelahan. Namun begitu masuk ke dalam mobil, pikirannya justru tertuju pada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 119

    Kafe kecil di dekat apartemen Chandani pagi itu tidak terlalu ramai. Beberapa meja terisi oleh mahasiswa yang sibuk dengan laptop, sementara aroma kopi dan kue panggang memenuhi ruangan. Dari balik kaca besar, jalanan Jogja terlihat mulai padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang.Chandani duduk berhadapan dengan Viola. Perempuan itu masih tampak cantik seperti biasanya. Rambutnya tertata rapi, pakaian yang dikenakannya sederhana tetapi terlihat mahal. Viola adalah tipe perempuan yang mudah menarik perhatian. Cantik, pintar, mandiri, dan berasal dari keluarga berada.Namun pagi itu, semua kelebihan tersebut seolah tidak berarti apa-apa di hadapan satu nama – Duna."Aku masih nggak mengerti." kata Viola pelan. "Kamu benar-benar sudah nggak mencintai Duna?"Chandani menghela napas. "Sudah."Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi Chandani tahu betapa panjang perjalanan yang membuatnya mampu mengucapkan kalimat tersebut."Aku sudah punya pacar. Semalam, kamu sudah bertemu pacarku kan di r

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 118

    Cahaya matahari masuk melalui celah tirai apartemen Chandani, menyinari meja makan kecil yang baru saja mereka gunakan untuk sarapan. Aroma kopi yang diseduh Noval masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma bubur yang tadi mereka makan bersama.Noval berdiri di dekat sofa sambil merapikan bajunya. Sesekali matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.”"Chan, aku pulang sekarang ya?” katanya.Chandani yang sedang mengambil baju dari lemari menoleh. "Sudah mau berangkat kerja?"Noval mengangguk. "Aku harus kasih susu Nadel lewat NGT. Setelah itu mandi, dan ke kantor."Chandani mengangguk pelan. Ada sedikit rasa berat ketika mendengar Noval akan pergi. Padahal baru beberapa saat lalu mereka masih duduk berhadapan di meja makan. Namun entah mengapa, keberadaan Noval di apartemennya mulai terasa seperti sesuatu yang sudah seharusnya ada.Rasa kosong di apartemennya, dan rasa kosong di hatinya, mulai terisi oleh kehadiran Noval. Tapi Chandani tahu, priorit

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 117

    Langit perlahan terlihat terang, masih menyisakan warna biru pucat ketika Noval berlari menyusuri jalan setapak di taman kota. Udara pagi terasa segar, membawa aroma tanah yang masih lembab dan pepohonan yang baru saja disapa embun. Beberapa orang tampak berjalan santai, sebagian lainnya berolahraga seperti dirinya.Noval memperlambat langkahnya. Tarikan napasnya mulai teratur. Keringat membasahi pelipis, tetapi kepalanya terasa jauh lebih ringan dibandingkan semalam.Percakapan dengan Chandani terus terlintas di pikirannya. Ada bagian dari dirinya yang masih kecewa. Ada kecewa yang belum sepenuhnya hilang. Tetapi semalam, Noval sudah memutuskan satu hal. Dia memilih untuk percaya. Bahwa memang sudah tidak ada Duna di hati kekasihnya itu. Karena bagi Noval, jika ingin mempertahankan hubungan mereka, kepercayaan harus diberikan bersama kesempatan.Setelah hampir satu jam berlari, Noval kembali ke mobilnya. Mobilnya melaju dengan kecepatan rata-rata, menuju kedai bubur ayam kesukaan Ch

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 116

    ### Bab — Janji yang TerlupakanMalam telah turun di Jogja ketika Noval dan Chandani akhirnya duduk berhadapan di sebuah restoran yang berada tak jauh dari kawasan Malioboro. Dari balik kaca besar restoran, lampu-lampu jalan berpendar seperti kunang-kunang. Sesekali terdengar suara kendaraan berlalu, bunyi klakson terdengar di kota yang tak pernah benar-benar tidur itu.Seharusnya malam ini menjadi malam yang menyenangkan. Noval telah merencanakannya sejak sore tadi. Dia ingin mengajak Chandani makan malam, berbicara tentang pekerjaan mereka, tentang rencana akhir pekan, atau sekadar berbicara tentang novel dan komik. Tapi nyatanya, mereka baru sampai di restoran jam setengah sembilan malam.Dan sebenarnya, bagi Noval, rencana malam itu sudah terasa batal sejak beberapa jam yang lalu.Di atas meja tersaji berbagai hidangan khas yang menggugah selera. Sepiring gudeg Jogja dengan nangka muda yang manis, ayam kampung, telur pindang, krecek, dan sambal berada di tengah meja. Disampingnya

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 115

    Langit mulai berubah warna menjadi jingga, ketika Noval akhirnya keluar dari gedung kantornya. Tadi siang, setelah kembali dari klinik Chandani. Setumpuk pekerja sudah menunggu Noval. Seharian penuh Noval hampir tidak beristirahat. Meeting demi meeting, revisi desain, pembahasan anggaran, hingga presentasi dengan klien membuat kepalanya terasa penuh. Tubuh yang baru sembuh dari demam itu, terasa kembali berat karena kelelahan. Namun begitu masuk ke dalam mobil, pikirannya justru tertuju pada satu orang – Chandani. Malam ini, dia ingin bertemu Chandani. Noval mengambil ponselnya dan melihat pesan yang dikirim Chandani satu jam yang lalu. Chandani : [Aku mau pulang dari klinik. Mas Noval sudah pulang belum?]Noval tersenyum kecil.Noval : [Baru keluar kantor. Sayang, nanti malam, mau makan bareng?]Chandani : [Boleh, mas.]⚫Malam itu seharusnya menjadi malam yang membahagiakan bagi Chandani dan Noval. Mereka telah berjanji untuk makan malam bersama. Noval bahkan sudah mengirim pes

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 114

    Sejak pagi, klinik griya physio sudah dipenuhi pasien. Suara pintu yang terbuka dan tertutup, percakapan antara fisioterapis dan pasien, serta bunyi alat-alat fisioterapi membuat suasana klinik jauh lebih ramai daripada biasanya. Chandani bahkan nyaris belum istirahat sempat duduk sejak datang pukul setengah sembilan pagi.Pagi itu, ia menangani seorang pasien dengan spinal cord injury, yang mengalami kelemahan pada kedua tungkai. Setelah melakukan pemeriksaan awal, Chandani duduk di samping pasien sambil membuka catatan perkembangan terapinya.“Bagaimana kondisi mas Lukman hari ini?” tanya Chandani.“Masih terasa berat, mbak. Kaki saya belum banyak berubah. Kalau digerakkan juga rasanya sulit sekali.”Chandani mengangguk. “Mas maaf sebelumnya sudah diberitahu, mengenai tingkat cedera spinal cord-nya?”“Katanya Frankel C. Tapi saya belum begitu paham maksudnya. Waktu pikiran saya kacau mbak, jadinya ya, nggak terlalu memperhatikan.”“Baik, saya jelaskan pelan-pelan ya mas Lukman.” Cha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status