Home / Romansa / RAHIM PENGGANTI TUAN MANU / DIAM, JIKA KAU INGIN BERAKHIR DENGAN CEPAT!

Share

DIAM, JIKA KAU INGIN BERAKHIR DENGAN CEPAT!

Author: Na dila
last update Last Updated: 2023-05-03 23:58:13

Sepersekian detik telah terlewatkan dengan hawa panas yang terasa begitu mencekik. Geram dengan respon Bella yang tidak melakukan apa yang ia inginkan, Manu terlihat perlahan menunduk.

Amarah meledak-ledak yang ditahan Manu terasa begitu jelas lewat hembusan nafas panas yang menerpa wajah Bella. Sontak, Bella benar-benar dibuat mati kutu saat tangan pria itu baru saja menarik dagunya agar pandangan mereka bertemu.

"Jadi kau ingin aku yang melakukannya?!"

Lidah Bella terasa kelu dan tak dapat digerakkan untuk menjawab sindiran keras nan menusuk Manu. Saraf tubuhnya seakan-akan tak berfungsi saat pria itu mengusap bibir Bella kemudian menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, memperlihatkan senyum miring layaknya senyum seorang iblis yang begitu menakutkan.

"Apa mereka juga berhasil mendapatkan ini?" Manu tertawa sinis saat melihat Bella hanya diam saja tak merespon apapun. Perempuan itu hanya menatap matanya dengan sorot yang begitu Manu benci, sorot sayu yang bercampur dengan air mata.

Tanpa sadar keduanya sama-sama hanyut dengan pandangan yang saling mengunci satu sama lain, terlihat tak berniat untuk membuka suara.

"Ekhem!"

Kala kesadarannya kembali bisa ia gapai, Bella reflek bergerak mundur dengan kedua tangan perlahan naik dan berada di dada bidang Manu, menjadi sekat pembatas antara tubuh keduanya.

"Jangan mempersulitku lagi!"

Masih mempertahankan tampang datarnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun Manu segera mengarahkan tangannya unruk membuka kancing piyama merah yang dikenakan Bella.

"K-kak ...." Bella menggeleng dengan bibir yang masih bergetar hebat. Satu tangan perempuan itu berusaha menahan gerakan tangan kekar Manu, ia merasa belum bisa melakukannya sekarang!

"Aku tahu kau menginginkan ini sejak lama, untuk apa berlagak menolak?" Desis Manu dengan satu alis terangkat membuat Bella memilih menunduk, tapi dengan tangan yang masih setia menahan pergerakan Manu di kancing piyamanya.

"Kau bisu?" lanjut Manu dingin.

Bella hanya menggelengkan kepalanya, tahu jika dirinya sudah terikat kontrak dan tidak seharusnya ia menahan dan menolak apa yang ingin Manu lakukan. Terlebih, Manu telah memberikan apa yang ia janjikan kepadanya, pria itu telah melunasi hutangnya.

"Maafkan aku, Kak, tapi tolong mengertilah keadaanku saat ini. Beri aku waktu," gumam Bella lirih.

"Apa aku berada di lantai?" Sindiran saat mata Bella terus saja menatap lantai.

"Aku telah membayarmu dengan harga yang begitu tinggi, tapi inikah balasanmu?"

Lagi dan Lagi Bella tidak menjawab. Ia tahu jika Manu berhak untuk berlaku kasar terhadapnya karena berani melanggar perjanjian bahkan di saat perjanjian itu baru ditandatangani beberapa jam yang lalu, tapi ia hanya bisa berharap manu akan memberinya hukuman di suatu saat nanti, bukan sekarang.

"Kak, jangan!" Bella tertegun dengan mata membulat sempurna saat pria itu terus menghimpitnya yang membuat Bella mau tak mau harus bergerak mundur. Yang lebih membuat Bella panik, dia itu baru saja menyentakan tangan yang menahan tangan kekar Manu.

"KA-AKH!"

Bella menjerit kaget karena Manu yang tiba-tiba mendorong tubuhnya ke ranjang. Memang tidak begitu sakit mengingat ranjang itu begitu empuk, tapi cukup membuat Bella sedikit syok.

Bresh!

Bella membulatkan matanya sempurna saat ia merasakan sesuatu yang aneh baru saja dialami oleh tubuhnya. Ia berusaha untuk mendorong Manu, tapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga Manu.

Bahkan kini tak ada yang bisa ia lakukan karena Manu telah berhasil mengungkung tubuh mungilnya. Kejadiannya begitu cepat, hingga Bella sendiri tak sadar jika kedua tangannya kini telah dicengkeram dengan satu tangan di atas kepalanya sendiri.

Pipi yang sempat kering tadi kini mulai kembali dibuat basah oleh air mata Bella. Ia tak mengerti kenapa Manu bisa berubah menjadi sebringas ini.

Manu yang tiba-tiba perlahan memberi jarak di antara wajah mereka membuat Bella berusaha menarik kedua tangannya yang dicekal oleh Manu di atas kepalanya. Namun, usahanya sia-sia, tangannya masih belum bisa terlepas dari cengkeraman Manu.

"Kak, cukup! Kumohon jangan se-sekarang!" ujar Bella lirih dengan tatapan nanar yang begitu memilukan.

Bella kira diamnya Manu berarti pria itu Manu akan mengabulkan keinginan Bella, terlebih pria itu tak terlihat sedikitpun berniat melanjutkan untuk membuka kancing piyamanya. Namun, siapa sangka jika ....

SREK!!

Dalam sekali tarikan, pria itu ternyata malah merobek celana piyama tipis itu kemudian membuangnya asal.

Bella tentu dibuat terkejut, ia berusaha merapatkan pahanya yang terasa begitu dingin diterpa suhu pendingin ruangan yang ada di sana.

Mendapat penolakan yang membuat semuanya semakin lama, Manu pikir lebih baik langsung pada intinya saja dengab keadaan baju piyama yang masih melekat di tubuh Bella. Tidak peduli betapa gerahnya perempuan itu nantinya karena Bella sendiri yang keras kepala.

"Diam! Jika kau terus memberontak, semua ini akan menjadi semakin lama."

Suara isak tangis Bella semakin terdengar begitu kencang memenuhi ruangan bernuansa putih tersebut, bahkan suaranya terasa hampir sukses membuat gendang telinga Manu dibuat pecah olehnya.

"Kak, a-aku mohon! Berhenti, dengarkan aku du--" Belum sempat Bella menyelesaikan ucapannya yang terbata-bata, Manu terdengar menggeram kesal.

"Argh, sial!"

Manu mengumpat, kemudian lantas dengan segera turun dari ranjang. Langkah pria itu terdengar begitu besar dan berat, sebelum akhirnya ditelan habis oleh suara bantingan pintu yang sepertinya hampir mampu membuat bangunan itu roboh.

Bella lantas segera bangun dengan posisi terduduk, ia menatap ke bawah--ke sprei putih itu lebih tepatnya. Reflek, Bella lantas dibuat menggigit bibir bawahnya setelah mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Warna kemerahan mulai merambat menghiasi pipi Bella dengan perasaan bercampur aduk yang tak bisa ia deskripsikan.

Dia ... dia kedatangan tamu bulanannya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • RAHIM PENGGANTI TUAN MANU   MANU TIDAK RELA?

    “Kak Manu!”Manu menghentikan langkahnya kala mendengar suara panggilan Bella.“Aku ingin bicara denganmu.”Cukup lama Manu terdiam di posisinya sebelum akhirnya dibuat lantas membalikkan badan setelah mendengar permintaan Bella.“Aku tidak ingin tinggal di sini lagi.”Satu alis Manu terangkat, ia menatap sosok perempuan yang tengah berdiri di ujung anak tangga lantai dua itu dengan pandangan yang sulit diartikan.“Kenapa tiba-tiba?”Bella tidak menjawab. Perempuan itu bahkan terlihat begitu enggan menatap Manu membuat pria itu semakin bertambah bingung.Hampir semingguan ini, Bella seperti berusaha tidak terlihat di depan matanya.Meskipun memang tidak pernah mengobrol ataupun sekadar bertegur sapa, sifat Bella akhir-akhir ini cukup lebih pendiam.Dan sekarang, perempuan itu tiba-tiba meminta pindah? Manu tentu dibuat curiga dengan perubahan sikap Bella yang kian membingungkan.“Apa maksud semua ini?”Langkah Manu terhenti tepat di depan Bella, tapi perempuan itu tak juga kunjung men

  • RAHIM PENGGANTI TUAN MANU   PERINGATAN UNTUK BELLA

    Suara tawa iblis terdengar keluar dari bibirnya. Kala cengkeraman di tangannya mengendur, suara itu pun perlahan ikut pudar. Tatapan penuh akan kebencian tersirat jelas di mata seseorang yang tengah menatap tajam Bella. “Dasar wanita murahan! Berani-beraninya kau menggoda suamiku di saat aku tidak berada di sini?!” Laura kemudian melempar asal syal berwarna putih di tangannya dan beralih untuk menarik lengan Bella untuk segera bangun dari posisi berbaringnya. PLAK! Dan sebelum tubuh Bella benar-benar berdiri tegak di hadapan Laura, istri sah Manu itu telah terlebih dahulu melayangkan tamparan yang begitu kuat di pipi Bella. Tubuh Bella yang belum seimbang, ditambah gerakan tiba-tiba yang dilakukan Laura, hal itu membuat tubuh Bella ambruk dan terduduk di pinggir ranjang. “Kau benar-benar penggoda ulung, Bella!” Bella memejamkan mata erat, tangan yang memegangi bekas tamparan Laura bahkan ikut terasa sedikit kebas, merasakan betapa panas pipinya sekarang ini. “Kenapa?!” Laura

  • RAHIM PENGGANTI TUAN MANU   TANDA KEPEMILIKAN MANU

    “E-eh!” Tubuhnya menegang hebat kala merasakan sensasi geli serta dingin yang tiba-tiba merambat ke pinggangnya yang masih ditutupi oleh kain pakaian itu. “Apa yang sedang kau pikirkan, heum?” Setelah suara berat itu terdengar di telinganya, napas hangat serasa menerpa kulit lehernya, diikuti dengan lesakkan anak rambut yang juga meninggalkan sensasi geli di sana. Selimut yang tadinya dicengkeram erat oleh tangannya pun perlahan terlepas dari genggamannya akibat terkejut oleh semua pergerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Manu. Noda merah yang sempat dilihat matanya itu pun kembali ditutupi oleh selimut tersebut. “Hey, kenapa diam saja?” Manu menarik kepalanya menjauh dari ceruk leher Laura kala menyadari perempuan itu malah mematung, tidak mengeluarkan reaksi apapun. “Maaf ….” Suara lirih Manu berhasil menarik Laura kembali dari lamunannya yang berkepanjangan. Kata itu entah mengapa membuat dadanya sesak, bahkan tangannya kini bergetar hebat, ingin sekali rasanya menampar Manu

  • RAHIM PENGGANTI TUAN MANU   NODA MERAH DI SEPRAI

    “Kau kemana saja?”Laura tak menyahut saat netra miliknya benar-benar mendapati sosok Manu di depannya. Kegelisahan semakin menghantamnya habis-habisan. Kakinya memang sudah tak bergerak mundur lagi, tapi semua itu tergantikan oleh badannya yang sedikit bergetar hebat.“Eum … aku, aku baru saja–”“Hey, ada apa, Sayang?” Manu bergerak mendekati Laura yang terlihat aneh di matanya, mengabaikan rasa kantuk dan penat di tubuhnya. “Kenapa kau bergerak mundur menjauhiku? Apa wajahku sebegitu menakutkan?”Tubuh Laura menegang hebat tatkala Manu tiba-tiba menarik pinggangnya, merengkuh hangat tubuhnya yang masih sedikit bergetar.Kenapa … Manu bersikap seakan biasa-biasa saja padanya? Apa pria itu tidak menyadari kepulangannya yang jauh dari kata terlambat ini?Manu itu manusia dingin, tapi begitu posesive pada pasangannya. Pria itu bahkan sempat mendiami Laura selama sehari karena perempuan itu menginap di Rumah teman arisannya tanpa memberi tahunya dulu hingga membuat pria itu kelimpungan

  • RAHIM PENGGANTI TUAN MANU   AFTER THE ACCIDENT

    Laura bangun dengan wajah terkejut. Ia lantas mengamati jam dinding yang berada di ruangan bernuansa hitam tersebut, sebelum akhirnya meloncat turun dari ranjang.“Sial! Bagaimana mungkin aku malah ketiduran?!” pekiknya kuat kemudian mengambil blazer berwarna hitam yang tergeletak di atas lantai. Laura menggerutu, menyesali menerima permintaan untuk menemani minum pria yang kini masih terlelap itu kemarin malam.Saat kakinya hampir melangkah menjauh dari ranjang, tangannya tiba-tiba dicekal.“Kemana, hmm? Kau belum boleh pergi!”Suara berat menyapa indera pendengarannya, tapi Laura memilih untuk menghempaskan tangan kekar milik pria yang masih setengah terpejam di atas ranjang tersebut.Persetan dengan pria itu, ia harus segera pulang ke Mansion sebelum dunianya benar-benar hancur dan tak bisa diselamatkan lagi. Laura sedikit bersyukur karena jalanan pada dini hari tersebut lumayan sepi, membuatnya bisa mengebut dengan kecepatan di atas rata-rata.Ketukan sepatunya yang terdengar cep

  • RAHIM PENGGANTI TUAN MANU   DIRENGGUT PAKSA

    Bella mendorong tubuh Manu menjauh, tubuh perempuan itu bergetar hebat dengan tangan mencengkeram erat handuk yang ia kenakan. Sial, ucapan Manu berhasil membuat jantung Bella rasanya hampir copot saja.“Kenapa, hmm?”Alis Manu terangkat sebelah, tapi sesaat kemudian ia memejamkan mata sebelum akhirnya tertawa kecil. Bella terpaku, seumur-umur ini memang bukan kali pertamanya ia melihat Manu tertawa sehingga ia dibuat terdiam.Namun, dengan keadaan seperti ini, bulu kuduk Bella meremang. Tawa itu terdengar seperti Manu yang ada di depannya adalah sosok Manu yang tak pernah ia lihat versinya.“Tidak ada, permisi.”Bella memutuskan kontak mata diantara mereka dengan cepat. Ia menunduk, kemudian melangkahkan kakinya untuk melewati Manu. Persetan dengan dirinya yang hendak menjelaskan alasan yang membuatnya berada di kamar pasangan suami istri itu. Sepertinya lebih baik ia segera pergi dari sana, ia akan menjelaskannya besok pagi jika Manu sudah kembali ke versi biasanya. Bella merasa le

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status