Share

REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR
REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR
Author: Rosela2505

BAB 1

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-06-14 18:45:11

#ARJON SANG PENGENDALI WAKTU

Kakekku pernah bercerita tentang dongeng BONUA TORU, istilah dalam bahasa Batak yang berarti dunia bawah, tempat para roh tersesat, makhluk-makhluk kuno, dan kekuatan yang menurutku mustahil ada.

Waktu kecil, aku selalu menertawakan cerita itu.

Sampai akhirnya aku terbangun di dunia itu sendiri.

Arjon adalah namaku jauh sebelum semua kegilaan ini dimulai. Dulu aku hanyalah seorang kepala keluarga biasa. Lima puluh lima tahun hidupku habis untuk bekerja, membesarkan empat anak, dan memastikan dapur rumah tetap mengepul setiap hari.

Aku bukan pahlawan

Aku hanya seorang ayah biasa yang terlalu takut melihat anak-anaknya kelaparan.

Namun takdir rupanya tidak pernah benar-benar peduli pada manusia biasa.

Malam itu, aku terbaring di bawah cahaya lampu rumah sakit yang dingin.

Yang bisa kulihat hanyalah wajah keempat anakku dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Anak sulungku berdiri paling depan.

Seperti biasa, dia berusaha terlihat tegar agar adik-adiknya tidak semakin khawatir.

Namun aku tahu matanya sudah memerah.

Anak keduaku terus memalingkan wajah.

Anak ketigaku menundukkan kepala sambil menggenggam kedua tangannya erat.

Sedangkan anak bungsuku...

Anak perempuanku yang paling manja sejak kecil...

Menangis tanpa henti.

"Ayah... jangan tutup matamu..."

Dadaku terasa semakin sakit.

Bukan karena ajalku yang semakin dekat.

Melainkan karena aku masih memiliki begitu banyak janji yang belum kutepati.

Aku masih ingin menemani anak-anakku melawan kerasnya dunia.

Aku belum sempat menikahkan anak sulungku.

Aku belum sempat melihat mereka hidup tanpa harus memikirkan kesulitan yang selama ini kami hadapi.

Aku bahkan belum sempat menggendong cucu-cucuku seperti yang selalu kujanjikan.

Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal.

Lalu semuanya menjadi gelap.

---

Dan ketika aku membuka mata kembali...

"Aaargh... kepalaku... sial... kenapa sakit sekali?"

Kepalaku terasa seperti dihantam palu berkali-kali.

Namun dunia di hadapanku bukanlah dunia yang kukenal.

Langit yang retak di atas sana sama sekali bukan langit yang pernah kulihat sebelumnya.

Kota ini terlihat seperti kota mati.

Yang tersisa hanyalah suara angin yang berembus melewati bangkai-bangkai mobil di jalan.

Tidak ada manusia.

Tidak ada tanda kehidupan.

Bahkan aku mulai ragu tempat ini masih bagian dari bumi atau bukan.

Aku mencoba berdiri, lalu berhenti saat menyadari sesuatu.

Tubuhku terasa aneh.

Terlalu ringan.

Sampai aku sempat kehilangan keseimbangan.

Tidak ada lagi nyeri sendi.

Tidak ada napas sesak yang biasa kurasakan selama bertahun-tahun.

Tanganku juga tidak lagi keriput.

Dengan langkah goyah, aku mendekati kaca mobil yang pecah di sampingku.

Dan di sanalah aku merasa jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik.

Pantulan itu bukan pria tua berusia lima puluh lima tahun.

Melainkan seorang pemuda.

Rahangnya tegas.

Matanya tajam.

Rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi dahi.

Tubuh itu tampak seperti seseorang yang baru berusia dua puluhan.

"Hei... aku masih hidup... tapi ini bukan aku..."

Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Aku menyentuh wajahku perlahan, memastikan semua ini bukan mimpi.

"Bagaimana mungkin..."

Jantungku berdetak semakin cepat.

Entah kenapa, pikiranku langsung dipenuhi firasat buruk.

Jangan-jangan...

Aku benar-benar berada di dunia yang selama ini hanya dianggap dongeng?

Belum sempat aku mencerna semuanya, sebuah suara dingin terdengar dari balik reruntuhan.

"Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan berdiri terlalu lama di ruang terbuka, Pendatang Baru."

Aku langsung menoleh.

Seorang pria bertubuh besar berdiri di sana mengenakan armor seperti gladiator kuno.

Namun yang membuat bulu kudukku berdiri adalah tatapannya.

Tatapan seseorang yang baru saja menemukan harta karun.

"Mari kita lihat inti batu apa yang kau miliki."

Aku bahkan tidak tahu ini dunia apa.

Dan sekarang pria di depanku mengatakan hal-hal yang semakin tidak masuk akal.

Namun pria itu tidak memberiku waktu untuk bertanya.

Sebuah bola api raksasa terbentuk di telapak tangannya.

Mataku langsung melebar.

"Tu-tunggu dulu—"

BOOM!

Ledakan menghantam tanah tepat di sampingku.

Tubuhku terpental beberapa meter hingga punggungku menghantam aspal yang retak.

Panas menyengat kulitku.

Aku berusaha berdiri sambil batuk keras.

"Apa-apaan ini?Kenapa kau menyerangku?!"

Pria itu malah tertawa

"Meleset rupanya."

Tangannya kembali menyala.

Serangan kedua.

Jauh lebih besar, lebih panas.

Dan kali ini aku tahu...

Aku tidak akan sempat menghindar.

Apa aku akan mati lagi?

Namun tepat di ambang maut itu, sesuatu berdenyut di telapak tanganku.

Sebuah batu kecil berwarna perak berada di sana.

Belum sempat aku berpikir lebih jauh, batu itu tiba-tiba melebur ke dalam kulit tanganku.

Cahaya terang menyelimuti seluruh lenganku.

Lalu dunia berhenti.

Api membeku di udara, Debu tidak bergerak, Angin lenyap.

Bahkan pria gladiator itu membatu seperti patung.

Aku menatap sekeliling dengan napas memburu.

"Aku... menghentikan waktu?"

Namun aku tidak punya waktu untuk panik.

Aku tahu, saat dunia kembali bergerak, pria itu pasti akan membunuhku.

Aku menatap pria gladiator itu.

Kalau aku tidak menyerangnya sekarang...

Dia yang akan membunuhku.

Aku menggertakkan gigi.

"Sebagai seorang ayah, seharusnya aku memberi contoh yang baik. Bukan berubah menjadi monster seperti ini..."

Aku mendekatinya dan menghantam wajah pria itu sekuat tenaga.

Lalu aku menjentikkan jari.

Waktu kembali berjalan.

BOOM!

Tubuh pria itu langsung terpental hingga menghancurkan dinding bangunan di belakangnya.

Darah muncrat dari mulutnya sebelum tubuhnya terkulai tak bergerak.

Aku terpaku menatap tanganku sendiri.

Tubuhku bergetar hebat.

Beberapa menit yang lalu aku hanyalah seorang ayah bagi empat orang anak.

Dan sekarang...

Aku baru saja membunuh seseorang.

"Apakah aku masih bisa pulang..." bisikku.

Namun saat aku mendekati tubuh pria itu, suara kecil terdengar dari balik reruntuhan bangunan.

"Tolong... jangan bunuh aku..."

Aku langsung menoleh.

Seorang gadis kecil berdiri gemetar.

Matanya dipenuhi ketakutan.

Dan di tangannya ada benda yang sama seperti milikku.

Hanya warnanya berbeda, Oranye.

Sejujurnya...

Aku sempat berpikir untuk membunuhnya.

"Hei, aku tidak akan memb—"

Namun sebelum aku menyelesaikan kalimatku, gadis itu mendadak membeku.

Cahaya dari batu oranye di tangannya semakin terang.

Kedua matanya perlahan memutih.

Aku mundur satu langkah.

"Apa yang terjadi...?"

Saat gadis itu kembali membuka mulut, suara yang keluar bukan lagi suara anak kecil.

Melainkan suara seorang wanita dewasa.

Tenang, Dingin, Dan terasa sangat tua.

"Kau adalah Pengendali Waktu berikutnya."

Dadaku langsung terasa dingin.

Gadis itu menatapku lurus.

Atau mungkin sesuatu yang berada di dalam dirinya sedang berbicara kepadaku.

Lalu suara itu terdengar lagi.

"Dan kau akan mati, sama seperti semua Pengendali Waktu sebelumnya."

Tiba-tiba tanah di bawah kaki kami bergetar.

Retakan di langit perlahan melebar.

Seolah ada sesuatu yang sedang mengawasi kami dari balik sana.

Untuk pertama kalinya...

Aku tidak bersyukur atas kehidupan keduaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Sweet.Moon2025
seru banget kak, bacanya serasa ikut masuk ke ceritanya
goodnovel comment avatar
Lala Yeye
sukaaaa banget fantasi nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 80

    TIGA NYAWA RAJA HEREK Lira menatapnya dengan serius. "Dan kau berhasil melemahkannya?"Sera tersenyum. "Sedikit."Damar kemudian memandang pisau yang tergeletak di atas meja. "Bagaimana dengan tiga batu itu?""Masih berada di tubuhnya.""Berarti besok kita harus memisahkannya satu per satu."Aku mengangguk sambil menatap seluruh anggota tim. Besok tidak akan ada lagi penyamaran, tidak ada lagi pengintaian, dan tidak ada lagi menunggu kesempatan. Kami akan masuk ke istana Raja Herek dan menghadapi makhluk yang selama bertahun-tahun telah membuat seluruh Desa Tarutung hidup dalam ketakutan.Namun, ada satu hal yang terus terngiang di kepalaku. Raja Herek sudah mengetahui keberadaan kami. Jika itu benar, kemungkinan besar dia juga sudah menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan kami.Aku mengepalkan tangan."Besok kita akhiri semuanya."Tidak seorang pun menjawab, tetapi dari tatapan mer

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 79

    TIGA NYAWA RAJA HEREK Selama ini aku mengira Raja Herek hanyalah seekor kera yang memperoleh kecerdasan luar biasa. Namun, ternyata perubahan yang terjadi jauh lebih besar daripada itu. Batu Hewan bukan hanya memberinya kecerdasan, tetapi juga telah mengubah seekor hewan menjadi makhluk yang mampu memimpin, memerintah, dan menguasai manusia. "Jadi semua cerita itu memang benar." Sera mengangguk. "Raja Herek memang bukan manusia." Tidak seorang pun membantah. Kami semua sudah melihat wujud aslinya dengan mata kepala sendiri. Namun, mendengar kepastian tersebut tetap terasa aneh, karena itu berarti lawan yang akan kami hadapi bukan sekadar seorang tiran. Kami sedang berhadapan dengan seekor hewan yang memperoleh kekuatan luar biasa dan menggunakan kekuatan itu untuk menguasai manusia. "Lalu batu ketiga?" Kali ini Sera terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 78

    RAHASIA 3 BATU part 2Namun kenyataannya, ia kini berdiri tepat di hadapan kami dengan ekspresi santai seolah baru kembali dari jalan-jalan sore.Dan entah kenapa, melihat senyum kecil di wajahnya membuatku sadar bahwa kemungkinan besar wanita itu membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar dirinya sendiri. Ia membawa informasi. Rahasia yang mungkin dapat menjadi kunci untuk menjatuhkan Raja Herek.Selama beberapa saat setelah Sera memasuki kamar, tidak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata. Aku masih memandangi wajahnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan, berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa perempuan yang berdiri di hadapanku benar-benar Sera dan bukan ilusi, penyamaran, atau jebakan yang dikirim oleh Raja Herek untuk menguji kami.Namun semakin lama aku memperhatikannya, semakin yakin pula aku bahwa orang itu memang Sera. Tatapan tajamnya yang khas, ekspresi kesal yang selalu muncu

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 77

    RAHASIA 3 BATUMalam di Desa Tarutung semakin larut, tetapi rasa kantuk sama sekali tidak datang menghampiriku. Sejak Sera dibawa ke Istana Raja Herek siang tadi, pikiranku terus dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin kubayangkan. Dari jendela penginapan, cahaya obor yang menyala di puncak bukit masih terlihat jelas, menerangi siluet istana yang berdiri kokoh di tengah kegelapan seperti seekor monster yang sedang mengawasi seluruh desa dari kejauhan.Semakin lama aku memandang ke arah sana, semakin sulit bagiku untuk duduk diam.Sudah berjam-jam berlalu tanpa kabar apa pun.Tidak ada sinyal.Tidak ada pesan.Tidak ada petunjuk mengenai keadaan Sera.Perasaan tidak tenang yang sejak sore menggangguku akhirnya mencapai batasnya hingga aku bangkit dari kursi dan mengambil senjata yang kusandarkan di dekat dinding."Aku akan pergi."Kalimat itu langsung menarik perhatian semua orang d

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 76

    RENCANA SERASera segera menyimpan informasi itu dalam ingatannya. Mungkin batu itu berkaitan dengan kecepatan, mungkin berhubungan dengan kekuatan fisik, atau mungkin memiliki fungsi lain yang belum ia pahami. Apa pun jawabannya, informasi sekecil apa pun bisa menjadi pembeda antara kemenangan dan kematian."Kau sedang memikirkan sesuatu."Suara Raja Herek membuatnya kembali fokus.Sera segera menggeleng pelan."Tidak."Raja Herek kembali tertawa."Kau bukan pembohong yang baik."Kalimat itu membuat nalurinya langsung waspada. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya apakah penyamarannya telah terbongkar. Namun, setelah memperhatikan ekspresi Raja Herek, ia menyadari bahwa monster itu tampaknya hanya sedang bermain-main. Tidak ada tanda-tanda bahwa identitasnya diketahui.Setidaknya untuk saat ini.Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara ketukan terdengar dari luar ruangan.Pintu terbuka dan seorang pengawal masuk dengan langkah tergesa."Yang Mulia."Raja Herek menoleh dengan ekspresi tid

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 75

    PEMBURU DI KANDANG MANGSA part 2Ruangan pribadi Raja Herek berada jauh di bagian terdalam istana.Pintu kayu hitam yang menjulang tinggi dijaga oleh beberapa pengawal bersenjata, sementara simbol-simbol aneh terukir di permukaannya seperti penanda bahwa tidak sembarang orang diizinkan masuk.Ketika pintu akhirnya dibuka, aroma yang tidak biasa langsung menyambut Sera.Ada bau dupa yang menyengat.Ada aroma darah yang samar.Dan ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, sesuatu yang membuat nalurinya langsung waspada.Di tengah ruangan, Raja Herek sedang duduk di atas kursi besar yang menyerupai singgasana.Mata kuning keemasannya langsung tertuju pada Sera begitu ia masuk.Tatapan itu terasa seperti tangan tak kasat mata yang sedang berusaha membedah isi pikirannya."Itu pilihan yang cerdas."Suara Raja Herek terdengar berat dan kasar."Kebanyakan manusia menangis sebelum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status