Masuk#MASA DEPAN YANG TERPOTONG
Retakan di langit terus melebar setelah suara misterius itu menghilang. Aku masih berdiri di tempat sambil menatap gadis kecil di depanku. Ucapannya terus terngiang di kepalaku. "Kau adalah Pengendali Waktu berikutnya." "Dan kau akan mati seperti semua Pengendali Waktu sebelumnya." Aku bahkan belum memahami apa yang terjadi pada diriku. Beberapa saat yang lalu aku masih terbaring di ranjang rumah sakit. Sekarang aku berada di dunia asing yang dipenuhi kekuatan aneh dan orang-orang yang ingin membunuhku. Belum sempat aku memikirkan semuanya lebih jauh, tanah di bawah kakiku kembali bergetar. Kali ini jauh lebih kuat. Aku dan gadis kecil itu sama-sama mendongak ke langit. Retakan yang membentang di atas kepala kami perlahan melebar, lalu sebuah bayangan raksasa jatuh dari dalam kegelapan. BOOOOM! Tanah pecah. Debu beterbangan ke segala arah. Aku refleks menarik gadis kecil itu menjauh sebelum gelombang kejut menghantam kami. Saat debu mulai menghilang, sosok makhluk itu terlihat jelas. Tingginya hampir tiga meter. Tubuhnya dipenuhi otot yang tidak wajar, sementara kulit hitamnya tampak seperti batu yang pernah dibakar di dalam tungku raksasa. Kedua matanya menyala merah terang dan menatap kami seperti mangsa. "Apa itu?" tanyaku. Gadis kecil itu menelan ludah. "Wraith Hitam." "Itu monster?" Ia mengangguk pelan. "Monster dari balik retakan." Wraith Hitam itu menggeram rendah. Tanah di bawah kakinya retak. Lalu tubuh raksasanya menghilang. Mataku langsung melebar. BRAKK! Sebuah hantaman menghantam dadaku sebelum aku sempat bereaksi. Tubuhku terlempar puluhan meter hingga menghancurkan dinding bangunan yang sudah lapuk. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Aku terbatuk keras. Darah segar keluar dari mulutku. "Sial..." Aku berusaha bangkit sambil menahan nyeri di dadaku. Namun saat mengangkat kepala, napasku langsung tertahan. Monster itu tidak mengejarku. Ia justru berjalan menuju gadis kecil itu. Perlahan, Tenang, Seolah yakin tidak ada yang bisa menghentikannya. Gadis itu membeku di tempat. Tubuhnya gemetar. Wraith Hitam mengangkat salah satu kakinya yang besar. Sekali injak saja sudah cukup untuk menghancurkan tubuh mungil itu. Pemandangan tersebut membuat dadaku terasa sesak. Entah kenapa, wajah gadis itu mengingatkanku pada anak bungsuku. Tangisan terakhirnya kembali terngiang di telingaku. "Ayah... jangan tutup matamu..." Aku menggertakkan gigi. "Tidak." Aku menjentikkan jari. Dunia langsung terdiam. Angin berhenti. Debu membeku. Monster itu membatu seperti patung. Waktu berhenti. Aku terhuyung berdiri sambil memegangi dadaku. Tubuhku terasa semakin lemah setiap kali menggunakan kekuatan ini. Namun aku tetap berjalan mendekati monster itu. Saat berada di depannya, pandanganku langsung tertuju pada sebuah titik hitam yang berdenyut di dadanya. Tanpa tahu kenapa, aku yakin itulah sumber kekuatannya. Aku mengepalkan tangan. Lalu menghantam titik itu berkali-kali. Setelah merasa cukup, aku mundur beberapa langkah dan menjentikkan jari lagi. Waktu kembali bergerak. RAAAAGHHH! Raungan monster itu menggema ke seluruh kota. Tubuh raksasanya tiba-tiba retak dari bagian dada. Retakan hitam menyebar ke seluruh tubuhnya seperti pecahan kaca. Sesaat kemudian tubuh itu meledak. Gelombang kejutnya membuat debu kembali beterbangan. Aku langsung berlutut sambil terengah-engah. Kepalaku berdenyut hebat. Penggunaan Batu Waktu ternyata menguras tenaga jauh lebih besar daripada yang kukira. Namun perlahan tubuh monster itu berubah menjadi debu hitam. Di tengah tumpukan debu tersebut, sesuatu yang berkilau menarik perhatianku. Sebuah batu hitam sebesar kepalan tangan jatuh ke tanah. Aku mengambilnya perlahan. Batu itu terasa hangat. "Itu Inti Monster," ujar gadis kecil itu. Aku menatap batu tersebut. "Inti Monster?" Ia mengangguk. "Manusia memiliki inti kekuatan. Monster memiliki inti pertarungan." Aku langsung teringat batu merah milik gladiator yang masih kusimpan di saku celana. Jadi batu itu juga sebuah inti. "Kegunaannya?" "Inti Monster dapat memperkuat tubuh, refleks, insting bertarung, dan daya tahan." Aku kembali menatap batu hitam di tanganku. Kalau mengikuti logika dunia ini, aku bisa langsung menyerap kekuatan tersebut. Namun setelah berpikir beberapa saat, aku memasukkan batu itu ke dalam saku. Bersama batu inti api milik gladiator. Gadis kecil itu tampak heran. "Kau tidak akan menggunakannya?" Aku menggeleng. "Aku bahkan belum memahami Batu Waktu." Tanganku menyentuh dadaku perlahan. "Kalau aku terus menambah kekuatan tanpa memahami yang sudah kumiliki, kemungkinan besar aku akan mati lebih cepat." Aku kemudian menatapnya. "Siapa sebenarnya kau?" Gadis itu terdiam cukup lama sebelum menjawab. "Namaku Lira." "Lira?" Ia mengangguk. "Aku memiliki Batu Masa Depan." Aku membeku. "Batu Masa Depan?" "Aku bisa melihat kemungkinan masa depan. Kadang-kadang aku bisa memanggil diriku dari masa depan." Aku langsung teringat suara wanita dewasa yang keluar dari tubuhnya sebelumnya. Jadi itu bukan ilusi. "Kalau begitu, kau pasti tahu apa yang sedang terjadi." Ekspresi Lira langsung berubah serius. "Arjon." Ini pertama kalinya ia menyebut namaku. "Ada sesuatu yang harus kau ketahui." Perasaan tidak nyaman langsung muncul di dadaku. "Apa?" Lira menatap retakan langit di atas kami. "Para Penguasa Waktu sudah mengetahui Batu Waktu memilih pemilik baru." Aku mengernyit. "Penguasa Waktu?" "Mereka adalah penguasa wilayah-wilayah besar di Bonua Toru." Lira menggigit bibirnya pelan. "Dan mereka memburu setiap pemilik Batu Waktu." Aku terdiam. "Kenapa?" Karena tidak ada Penguasa Waktu yang menginginkan kemunculan Pengendali Waktu baru." Dadaku terasa berat. Aku baru tiba di dunia ini. Namun rupanya seluruh dunia sudah mulai memburuku.#Kota SibolisBayangan Jacob masih terus mengganggu pikiranku bahkan setelah matahari kembali terbit di langit Bonua Toru. Meskipun tubuhku telah beristirahat sepanjang malam, pikiranku justru terasa jauh lebih lelah dibandingkan sebelumnya. Kenangan yang kulihat semalam tidak terasa seperti mimpi biasa. Semua yang kulihat begitu jelas, begitu nyata, hingga aku masih bisa mengingat ekspresi wajah Jacob saat dikhianati oleh wanita yang paling ia percayai.Yang paling mengusikku bukanlah pengkhianatan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa setiap kali kenangan Jacob muncul, aku selalu merasakan emosi yang sama seperti yang ia rasakan saat itu. Kesedihan, kemarahan, kekecewaan, semuanya datang begitu alami seolah aku sendiri yang mengalaminya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku mulai bertanya-tanya apakah suatu hari nanti aku masih mampu membedakan mana kenangan milikku dan mana kenangan Jacob.Perjalanan kami kembali berlanjut setelah sarapan sederhana yang dibuat Sera
#Bayangan Masa LaluMalam setelah pertarungan melawan pemburu waktu seharusnya menjadi malam yang tenang. Tubuhku memang sudah pulih berkat kemampuan penyembuhan milik Sera, bahkan luka-luka yang sebelumnya memenuhi tubuhku hampir tidak meninggalkan bekas sedikit pun. Namun meskipun tubuhku beristirahat, pikiranku justru semakin sulit untuk tenang. Nama Jacob terus berputar di dalam kepalaku seperti teka-teki yang tidak pernah menemukan jawabannya.Api unggun kecil menyala di tengah perkemahan. Sera sudah tertidur setelah perjalanan panjang hari itu, sementara Lira masih duduk di atas batu besar sambil memandangi langit malam Bonua Toru yang dipenuhi retakan ungu. Sejak pemburu waktu tadi menyebut nama Jacob, sikap gadis itu terasa berbeda. Ia menjadi lebih pendiam dari biasanya dan beberapa kali terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Namun malam itu aku terlalu lelah untuk mencoba mencari tahu apa yang sedang disembunyikannya.Aku memejamkan mata dengan niat beristirahat sej
#Pemburu Pertama"Berapa harga Batu Waktu milikmu jika aku menjualnya kepada para Penguasa Langit?"Kalimat itu terdengar santai, tetapi entah kenapa membuat suasana malam di atas bukit terasa jauh lebih dingin. Pria berwajah penuh bekas luka itu berdiri beberapa meter di depan kami sambil memainkan belati hitam di tangannya. Cara ia menatapku membuatku tidak nyaman. Tatapan itu bukan tatapan seseorang yang sedang berbicara dengan manusia lain, melainkan tatapan seorang pemburu yang sedang menghitung nilai mangsa yang berhasil ditemukannya."Biar aku yang menghadapinya."Lira langsung mengernyit mendengar ucapanku. Ia tampak ingin membantah, tetapi aku lebih dulu menggeleng."Kalau aku terus bergantung pada bantuan kalian, aku tidak akan pernah berkembang. Cepat atau lambat aku harus belajar menghadapi musuh dengan kemampuanku sendiri.""Aku suka orang bodoh yang percaya diri."Belum sempat aku membalas ucapannya, tubuh pria itu tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri. Instingku
#Jejak Menuju Naga Api Aku menatap lembaran buronan yang kini berada di tanganku cukup lama. Kertas itu terlihat biasa saja, bahkan gambar wajahku hanya berupa sketsa kasar yang jelas dibuat oleh seseorang yang belum pernah melihatku secara langsung. Namun, kalimat yang tertulis di bagian bawahnya membuatku memahami sesuatu yang jauh lebih penting daripada kualitas gambar tersebut. Aku tidak lagi menjadi pendatang yang tidak dikenal. Namaku mulai beredar di Bonua Toru. Dan semakin banyak orang mengetahui keberadaanku, semakin banyak pula orang yang akan datang untuk memburu Batu Waktu yang bersemayam di dalam tubuhku. Di sampingku, Sera ikut memperhatikan lembaran yang sama. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, tetapi dari raut wajahnya aku bisa melihat pergulatan yang sedang terjadi di dalam pikirannya. "Aku tidak akan ikut." Suara Sera memecahkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti kami. Aku langsung menoleh. "Apa maksudmu?" Wanita itu menarik napas
#Pengorbanan Dua Puluh TahunKepergian Revan meninggalkan keheningan yang aneh di seluruh desa.Penduduk yang sebelumnya bersembunyi perlahan mulai keluar dari rumah masing-masing. Namun tidak ada sorak sorai kemenangan. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pula wajah bahagia karena terbebas dari seseorang yang selama bertahun-tahun menebar ketakutan.Mereka hanya berdiri diam.Menatap Sera dan Menatapku.Lalu kembali masuk ke rumah mereka masing-masing.Seolah tidak ada apa pun yang terjadi.Aku mengernyit.Perasaan tidak nyaman mulai muncul di dadaku.Sera masih duduk di dekat tiang tempat ia dirantai selama bertahun-tahun. Bekas rantai masih membekas pada pergelangan tangan dan kakinya meskipun luka-lukanya sudah sembuh karena Batu Penyembuhan.Aku berjalan mendekatinya."Kau bebas sekarang."Sera tersenyum tipis.Namun senyum itu terasa sangat sedih."Aku belum tentu bebas."Aku mengernyit."Maksudmu?"Namun sebelum ia melanjutkan, seorang pria dari kerumunan tiba-tiba melangk
#Nama yang Mulai TerdengarKalimat terakhir yang bayangan jacob ucapkan bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya.Jangan percaya para Penguasa Waktu.Masalahnya, aku bahkan belum pernah bertemu satu pun dari mereka.Setelah berjalan hampir satu jam melewati jalanan retak dan padang tandus yang membentang sejauh mata memandang, sebuah desa mulai terlihat di kejauhan.Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku melihat tempat yang benar-benar tampak hidup.Namun sebelum kami sempat memasuki gerbang desa, suara cambuk tiba-tiba menggema dari arah tengah pemukiman.Suara itu segera disusul jeritan tertahan seorang wanita.Aku dan Lira saling berpandangan sesaat sebelum mempercepat langkah menuju pusat desa.Di tengah lapangan berdiri sebuah dinding batu raksasa setinggi hampir sepuluh meter. Permukaannya dipenuhi simbol dan aksara aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tepat di depan dinding itu, seorang wanita dirantai pada sebuah tiang besi besar. Kedua tangannya terikat di a







