MasukMata Seira terpaku pada punggung Lucan yang kini berdiri tegap di hadapannya—seperti dinding hidup yang sengaja dibangun untuk menghalangi siapa pun yang mendekat. Posturnya kaku. Bahunya tegang. Ada sesuatu yang salah, dan Seira bisa merasakannya.“Sepertinya kau begitu takut aku menyakitinya, Lucan?” ucap pria itu santai, nyaris mengejek.Lucan tak menjawab. Tatapannya menajam, dingin—tatapan yang tak pernah Seira lihat sebelumnya. Bukan tatapan manusia biasa. Ada kewaspadaan di sana, seolah satu langkah salah saja akan berujung petaka.Pria itu menggeser tubuhnya sedikit, cukup untuk menangkap Seira dalam pandangannya. Senyum tipis terukir di bibirnya.“Kenalkan, namaku Silas.” Tangannya terulur, sopan. Sangat sopan.Seira hendak melangkah maju, tak lagi bersembunyi di balik tubuh Lucan. Ia berdiri di sampingnya dan menyodorkan tangan—namun sebelum jarinya sempat menyentuh kulit Silas,PLAKK!Lucan menepis tangan itu dengan keras.“Jangan menyentuhnya,” ucap Lucan dingin.Suaranya
Pria itu berdiri dari kursinya. Langkahnya tenang, nyaris tak menimbulkan suara. Ia berjalan melewati meja Lucan dan Seira tanpa menoleh, lalu mendorong pintu kaca kedai es krim itu dan menghilang di balik keramaian jalan.DEG!Udara berubah.Lucan merasakan itu seketika—sebuah sensasi yang tak bisa dijelaskan, seperti tekanan tipis yang menggeser napas. Senyum di wajahnya menghilang begitu saja. Matanya bergerak cepat, menyapu sekeliling kedai. Ia mengenal atmosfer ini. Terlalu akrab. Terlalu berbahaya.Jantungnya berdetak lebih cepat, telinganya seakan menangkap sesuatu yang tak bisa didengar manusia biasa. Namun tak ada yang tampak mencurigakan. Orang-orang tetap tertawa, anak-anak masih berisik, sendok-sendok beradu dengan mangkuk es krim.“Ada apa, Lucan?” tanya Seira pelan, bingung melihat perubahan mendadak di wajah pria itu.Lucan terdiam sesaat. Baru sekarang ia sadar—ia terlalu larut. Terlalu menikmati kebersamaan itu sampai lupa untuk waspada.Ia menggeleng kecil, memaksa s
Salah satu pria seraphine itu menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju lurus pada Seira. Untuk sepersekian detik, matanya berkilat—cahaya tipis yang muncul lalu tenggelam, seolah data telah dikunci. Sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat. Ia mulai melangkah mendekat.Namun sebelum jarak itu benar-benar terpangkas—“Lucan?”Suara Seira terdengar kaget.Tangannya tiba-tiba ditarik kuat. Tubuhnya terhuyung sedikit sebelum menyadari siapa yang menggenggamnya. Lucan. Tanpa penjelasan, pria itu menyeretnya menjauh dari kerumunan, langkahnya cepat dan tegas, seolah waktu tidak memberinya pilihan lain.Mia yang ikut tertarik refleks ikut melangkah. Alisnya berkerut, jelas tidak mengerti apa yang sedang terjadi.“Lucan, sejak kapan kau ada di sini?” tanya Seira bingung.Tangannya masih digenggam erat, terlalu erat, sampai ia bisa merasakan ketegangan di jemari Lucan.Lucan tidak langsung menjawab. Ia terus melangkah, membawa mereka menjauh dari gedung, dari taman, dari titik-titik yang
Lucan hendak bangkit, berniat menjauh sebelum ciuman singkat itu berubah menjadi sesuatu yang tak ia pahami. Namun sebelum tubuhnya benar-benar terangkat, tangan Seira justru melingkar di tengkuknya, menahannya.Lucan terdiam.Bibir mereka kembali bersentuhan.Kali ini bukan sekadar sentuhan tak sengaja. Ada tekanan. Ada keberanian. Seira menekan bibir Lucan lebih dalam, seolah seluruh kecemasan dan kecemburuan yang ia pendam sejak kemarin dilepaskan di sana.Lucan terkejut.Dadanya bergetar. Detak jantungnya berdegup tidak teratur—asing, kacau, dan terlalu cepat. Selama hidupnya sebagai seraphine, ia tak pernah mengenal irama seperti ini. Tubuhnya bereaksi tanpa perintah, tanpa logika. Ada yang sesuatu dalam tubuhnya yang tiba tiba menegang. Naluri yang murni, naluri seorang lelaki yang hidup sebagai manusia.Seira mendominasi, matanya terpejam, larut dalam perasaan yang bahkan ia sendiri tak sempat pahami. Lucan tak bergerak—bukan karena menolak, tapi karena ia tak tahu bagaimana ha
Malam itu, langit Seoul tampak gelap tanpa satu pun bintang. Udara terasa berat, sunyi yang aneh menyelimuti kota—berbeda dari malam-malam sebelumnya. Seolah dunia manusia sendiri menyadari bahwa seorang putra surgawi sedang diburu, dan takdir tengah bergeser perlahan.“Aaaarrrgghhh—!!!”Teriakan Elyon memecah kesunyian.Matanya terbuka lebar, memancarkan cahaya perak keemasan yang menyala liar, mengerikan. Kilau itu merambat hingga ke dadanya, berdenyut seperti jantung kedua yang memberontak dari dalam tubuhnya. Kedua lengannya terbuka, tubuhnya menegang, seolah menahan sesuatu yang hendak merobeknya dari dalam.“Aaarrghh…!”Erangannya pecah, sarat rasa sakit.Napasnya terengah-engah, kasar, seperti manusia yang sedang sekarat—namun rasa sakit itu jauh melampaui batas fana.“T-Tuan Elyon…” suara seorang pria muda berkemeja biru terdengar gemetar.Ia mencoba mendekat, namun ragu, takut tersambar amarah maupun cahaya yang mengelilingi Elyon.Tangan kanan Elyon menekan dadanya kuat-kuat
Lucan berbalik dan membuka pintu kulkas. Udara dingin menyembur keluar saat ia menuangkan air ke dalam gelas.Di belakangnya, Mia tersenyum kecil—senyum yang terlalu tenang untuk sesuatu yang begitu disengaja.Punggung Lucan yang bidang membentang di hadapannya.Perlahan, Mia melangkah mendekat.Satu langkah.Dua langkah.Hingga jarak di antara mereka nyaris tak ada.“Lucan…” panggilnya lirih.Seketika Lucan berbalik.DEG!Mia sudah berdiri begitu dekat. Terlalu dekat.Lucan refleks melangkah mundur, namun punggungnya membentur ujung meja wastafel. Kedua tangannya spontan mencengkeram pinggir meja, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak kehilangan keseimbangan.“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” bisik Mia di depan wajahnya.“Lebih cepat lebih baik, bukan?”Senyum itu—senyum penuh maksud—menggantung di bibir Mia.“Ah… baiklah,” jawab Lucan canggung.“Tapi aku harus meminta izin dulu pada Seira.”Mia mengangguk kecil. Namun kakinya tak bergerak sedikit pun.Tiba-tiba tangan ka







