Masuk“Tunggu, Lucan!”Seira menghentak. Tangannya menghempas genggaman Lucan dengan kasar hingga terlepas.Lucan berhenti. Tubuhnya berputar perlahan, matanya menatap Seira. Tatapan itu bukan dingin—melainkan waspada, seolah ia masih berada dalam situasi berbahaya.“Kau ini kenapa?” suara Seira bergetar, menahan kesal.“Kau bilang akan menungguku. Tapi kau menghilang tanpa kabar. Aku mencarimu, aku tidak tahu kau ke mana. Dan sekarang kau datang begitu saja lalu menarikku seperti ini?”Lucan terdiam. Pandangannya bergerak cepat—ke kanan, ke kiri, menyapu jalanan, wajah-wajah asing, bayangan yang berlalu.Hanya setelah yakin, ia kembali menatap Seira.
Mia masih menatap Lucan, seolah jarak di antara mereka tak pernah ada. Tatapannya terlalu lama, terlalu bebas, seperti ia sudah mengenalnya sejak dulu.“Lucan,” ucapnya akhirnya.“Kita belum berkenalan secara resmi.”Ia menyodorkan tangannya dengan senyum percaya diri.“Namaku Mia. Aku dan Seira sudah bersahabat sejak lama.”Lucan melirik tangan itu sejenak. Wajahnya tetap tenang—terlalu tenang untuk pria yang baru saja menjadi pusat perhatian. Lalu ia mengulurkan tangannya.“Lucan,” jawabnya singkat. Tidak lebih.Sentuhan singkat itu membuat Mia sedikit tertegun. Ada sesuatu dari cara Lucan memandang—dingin, jauh, namun memikat.Lucan menarik tangannya lebih dulu. Ia menoleh pada Seira.“Seira, kau bisa masuk sekarang. Aku akan berjalan-jalan sambil menunggumu pulang.”Seira tersenyum kecil, lalu mengangguk.“Baiklah.”Lucan berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.“Lucan…” Mia memanggil pelan, matanya mengikuti punggung tinggi itu hingga menjauh.“Dia pacarmu?”Seira menggel
Seira menuangkan mi ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih. Uap panas langsung mengepul, mengembun di udara dapur yang sempit.DUG. DUG. DUG.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.“Kau sedang membuat apa?” suara Leo muncul bersamaan dengan sosoknya yang terlihat dari balik anak tangga.Posturnya tidak setinggi Lucan.“Ramyeon, Kak,” jawab Seira tanpa menoleh.“Aku buatkan satu untukmu juga.”Leo mengangguk singkat, lalu berjalan ke kursi dekat dapur dan duduk dengan malas. Tak lama, Lucan ikut duduk di seberangnya. Tubuh tinggi itu tampak sedikit kaku, seperti seseorang yang masih belum sepenuhnya terbiasa berada di ruang kecil bersama orang lain.Seira sesekali menoleh, matanya tanpa sadar memandangi punggung lebar Lucan. Cara ia duduk, cara bahunya bergerak pelan saat bernapas—semuanya terasa asing tapi entah kenapa menarik.Leo menangkap tatapan itu.Sorot matanya berpindah dari adiknya ke Lucan. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya—bukan lagi rasa tidak suka yang tajam, m
ZZZTTT…!!!Elyon tersentak bangun.Napasnya terputus sesaat, seolah udara di sekelilingnya mendadak menolak masuk ke paru-parunya. Matanya terbuka lebar—dan kilau itu kembali muncul. Silver kebiruan, dingin, tajam, bukan milik manusia.“Lucan…” gumamnya lirih.Denyut itu masih terasa. Halus, tapi nyata. Seperti benang cahaya yang ditarik paksa dari jarak jauh, bergetar tepat di pusat dadanya.“Kau mengaktifkan sigil seraphine mu…” ucap Elyon pelan, senyumnya perlahan terbentuk.Ia kini sepenuhnya berada dalam tubuh manusia—kulit fana, napas fana, denyut jantung yang seharusnya rapuh. Namun kesadarannya tetap sama. Seraphine yang kehilangan separuh hidupnya.Ketika Lucan mengaktifkan lambang di tengkuknya—meski hanya sesaat—resonansi itu menyebar. Tidak h
Seira tampak semakin gugup. Gerakannya kikuk, langkahnya tanpa sadar mundur menjauh dari tubuh Lucan, seolah jarak adalah satu-satunya cara untuk menenangkan jantungnya yang belum juga mau berhenti berdebar.TING TONG!Bunyi bel rumah memecah suasana.Seira tersentak kecil. Dengan cepat ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum yang terasa kaku.“Ah, itu pasti Kak Leo sudah pulang,” katanya tergesa.“Biar aku yang membukanya.”Lucan hanya diam, menatap punggung Seira yang melangkah cepat menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu tiba-tiba berubah canggung. Namun ia bisa merasakannya—sesuatu di udar
Jam di ponsel Seira menunjukkan pukul enam sore.Langit di atas kota perlahan berubah warna. Biru yang sejak siang mendominasi kini tergeser oleh jingga lembut, seolah matahari enggan pergi sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.“Seira, hati-hati di jalan!” seru Mia ketika Seira sudah berdiri di tepi trotoar.Mereka baru saja berpisah di depan kampus.“Hei, Seira,” lanjut Mia, membuka jendela mobilnya.“Kau benar-benar tidak mau kuantar pulang?”Untuk kesekian kalinya.Seira menoleh sambil tersenyum kecil. Tanpa menjawab, ia justru berlari menyeberang jalan, lalu melambaikan tangan tinggi-tinggi, member







