MasukHENING SETELAH SIRINE
☘️☘️☘️ IGD malam itu berubah menjadi medan perang. Pintu geser terbuka–tertutup tanpa jeda. Suara tandu beradu dengan lantai, teriakan perawat saling bersahutan, dan monitor jantung berdering tak beraturan. Bau darah, antiseptik, dan debu bercampur menjadi satu. Kecelakaan beruntun di jalan tol membuat puluhan pasien berdatangan hampir bersamaan. "Trauma kepala berat!" "Pasien tidak sadar, tekanan turun!" "Cari bed kosong sekarang!" Anasera baru saja menutup rekam medis ketika seorang dokter muda- jasnya masih terlalu kebesaran- berlari menghampirinya, napasnya terengah. "Dokter Anasera!" "Ada anak laki-laki, sekitar tujuh tahun. Tidak sadar. Datang bersama ibunya dari bus yang sama." Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Anasera sudah berlari. Sepatu karet putihnya beradu cepat dengan lantai IGD yang licin oleh cairan. Di salah satu bed, seorang anak kecil terbaring. Wajahnya pucat, bibirnya membiru samar. Tubuhnya terlalu kecil untuk semua alat medis yang menempel di sana. "Tekanan darah?" tanya Anasera cepat. "Turun tadi, sekarang mulai stabil. Tapi belum sadar," jawab perawat. Anasera langsung memeriksa refleks pupil, menekan lembut dada kecil itu, memanggil namanya- yang bahkan belum ia ketahui. "Hei… dengar suaraku," bisiknya. "Kamu aman sekarang." Di bed sebelah, tirai terbuka sedikit. Seorang perempuan dewasa terbaring tak bergerak, kepala diperban tebal, darah masih merembes. Monitor di atasnya berbunyi panjang, tak beraturan. "Ibunya?" Anasera bertanya tanpa menoleh. Dokter jaga mengangguk, wajahnya tegang. "Benturan keras di kepala. CT scan menunjukkan pendarahan hebat. Kami… sedang berusaha." Anasera kembali fokus pada sang anak. Tangannya cekatan, suaranya tegas namun lembut. Ia memberikan instruksi, memasang alat bantu, memastikan jalan napas aman. Menit demi menit berlalu seperti jam. Lalu, jari kecil itu bergerak. Anasera membeku sesaat. "Kamu bisa dengar aku?" katanya pelan, penuh harap. Kelopak mata anak itu bergetar, lalu terbuka perlahan. Nafasnya tersengal kecil. "Dok…" perawat berbisik, "dia sadar." Anasera menghela napas panjang- napas lega yang tertahan sejak tadi. Ia tersenyum kecil, menepuk lembut tangan anak itu. "Kamu di rumah sakit," ucapnya lembut. "Jangan takut, ya." Anak itu menoleh, matanya mencari-cari dengan panik. "Ibu…" suaranya serak. "Ibu aku mana?" Pertanyaan itu seperti pisau. Anasera menelan ludah, dadanya terasa sesak. Ia menoleh ke arah bed sebelah. Monitor itu kini berbunyi panjang. Datar. Sunyi yang memekakkan. Seorang dokter senior menggeleng pelan. "Kami sudah lakukan semua yang bisa." Anasera memejamkan mata sejenak. Kembali ia menatap anak itu- yang kini menatapnya penuh harap, tak tahu apa yang baru saja dunia ambil darinya. "Ibumu… sedang ditangani dokter lain," jawab Anasera lirih, memilih kata dengan hati-hati. "Kamu fokus istirahat dulu, ya." Air mata tiba-tiba menggenang di matanya, tapi Anasera memaksa dirinya tetap tenang. Ia menggenggam tangan kecil itu, seolah menjadi satu-satunya jangkar yang tersisa. Di sekeliling mereka, IGD masih kacau. Tandu datang silih berganti, jeritan dan perintah tak berhenti. Tapi di sudut kecil itu, dunia seorang anak baru saja runtuh- dan Anasera berdiri di tengahnya, menyaksikan kenyataan paling kejam yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah. Bahwa menyelamatkan satu nyawa… kadang berarti harus menyaksikan nyawa lain pergi selamanya. ~~~ Disisi lain... Ruang operasi terasa seperti dunia yang terpisah. Lampu-lampu menyala terang, meniadakan waktu dan rasa. Rai Adhinatha berdiri tegak di sisi meja operasi, kedua tangannya bergerak presisi di balik sarung steril. Di hadapannya, seorang perempuan hamil terbaring kritis- napasnya dibantu mesin, tekanan darah tak stabil, denyut jantung janin terdengar lemah dan tak beraturan. "Tekanan turun lagi, Dok," lapor perawat anestesi. "Kita lanjut," jawab Rai tanpa ragu. "Tidak boleh berhenti." Ponselnya tertinggal di laci meja ruangannya- sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan sebelum masuk operasi besar. Baginya, ruang ini tak boleh diganggu dunia luar. Ia tak tahu, keputusan kecil itu sedang memutus satu-satunya jalur antara dirinya dan putrinya. Di IGD, Helena Adhinatha duduk di atas brankar dengan kepala diperban. Luka itu tidak terlalu dalam, hanya benturan yang membuatnya pusing dan mual. Tapi rasa kesal di dadanya jauh lebih menyakitkan. "Nomor wali kamu siapa, Dek?" tanya seorang suster sambil mencatat. Helena menyebutkan nomor ayahnya dengan cepat, lalu menatap layar ponselnya sendiri. Nada sambung terdengar lama… lalu mati. Ia mencoba lagi. Tak diangkat. "Kok gak diangkat sih," gumamnya, alisnya berkerut. Suster itu melirik jam. "Ayahmu mungkin sedang sibuk. Kamu ada keluarga lain?" Helena menggeleng. "Cuma Ayah." Ia menarik napas kesal, menahan denyut di kepalanya. Tak satu pun orang di IGD itu tahu- bahkan tak pernah menyangka- bahwa gadis SMP yang duduk diam menahan marah dan takut itu adalah putri dari dokter bedah terkenal yang namanya sering disebut dengan hormat di lorong-lorong rumah sakit ini. Di ruang operasi, Rai tak punya ruang untuk pikiran lain. "Denyut janin melemah." "Kita percepat," katanya tegas. "Suction." Pisau bedah bergerak, darah dibersihkan, waktu terasa menipis. Rai memusatkan seluruh hidupnya pada dua nyawa yang kini bergantung pada keputusannya. Sementara itu, Helena menatap pintu IGD, berharap ayahnya tiba-tiba muncul- dengan jas hijau atau jas putih, ia tak peduli. "Kalau ayah saya datang," katanya pada suster dengan nada setengah ketus, setengah lelah, "tolong bilangin aku nunggu." Suster itu mengangguk lembut. "Iya, Nak." Di ruang operasi, monitor akhirnya berbunyi lebih stabil. Rai menghela napas perlahan, bahunya sedikit mengendur- tanda operasi mulai menuju titik aman. Ia belum tahu. Bahwa di gedung yang sama, beberapa lantai di bawahnya, putrinya duduk sendiri di IGD. Menunggu ayah yang bahkan belum sadar… bahwa anaknya ada di sana. Dan malam itu, rumah sakit yang sama menahan dua kisah yang saling bersinggungan- seorang ayah yang menyelamatkan nyawa orang lain,dan seorang anak yang berharap ayahnya datang menjemputnya pulang. ~~~ Operasi itu akhirnya selesai. Lampu ruang operasi meredup, ketegangan yang menekan dada Rai sejak berjam-jam lalu perlahan terlepas. Monitor menunjukkan tanda-tanda stabil- ibu dan janinnya selamat. Rai melepas sarung tangannya, menarik napas panjang, lalu mengangguk pada tim. "Kerja bagus," katanya singkat. Ia berjalan keluar ruang operasi dengan langkah cepat, bahunya terasa berat oleh lelah yang baru kini ia izinkan datang. Lorong rumah sakit sunyi dibandingkan hiruk-pikuk IGD beberapa lantai di bawah. Rai langsung menuju ruangannya, menutup pintu, dan bersandar sejenak di sana- memejamkan mata, membiarkan detik berlalu. Tak lama, ia berbalik ke meja kerjanya. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di dalam laci. Layar menyala. Belasan notifikasi masuk muncul bersamaan. Panggilan tak terjawab. Pesan teks. Nama yang sama berulang-ulang. Helena. Alis Rai berkerut. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia membuka pesan terakhir. {Ayah, aku di IGD. Kepalaku luka. Suster nanyain wali, tapi Ayah gak bisa dihubungi.} Udara seakan tersedot dari paru-parunya. "Apa…?" suaranya nyaris tak keluar. Ia membaca ulang pesan itu. Sekali. Dua kali. Seakan berharap kata-katanya berubah. IGD. Kepalaku luka. Rai langsung berdiri, kursi di belakangnya bergeser keras. Tangannya gemetar saat meraih jas putihnya. "Kapan?" gumamnya panik. Ia menekan nomor Helena. Nada sambung terdengar lama- terlalu lama- lalu akhirnya terhubung. "Helena?" suaranya pecah, jauh dari ketenangan seorang dokter bedah. "Helena, Ayah di sini. Kamu di mana sekarang?" Tak menunggu jawaban lengkap, Rai sudah membuka pintu ruangannya dan berlari menyusuri lorong. Untuk pertama kalinya malam itu, Rai Adhinatha tidak berlari demi pasien. Ia berlari demi putrinya- dengan satu pikiran yang menghantam dadanya tanpa ampun: Ia terlambat. ~~~ To be continue..BRA, KOTA, DAN SALAH PAHAM. ☘️☘️☘️ Toko dalaman itu cukup ramai siang itu. Deretan pengunjung memenuhi lorong-lorong sempit di antara rak, dan hampir semuanya perempuan- dengan ekspresi serius, teliti, dan sesekali berdiskusi kecil tentang ukuran serta warna. Di tengah keramaian itu, Rai berjalan beberapa langkah di belakang Anasera. Dengan langkah penuh percaya diri, Anasera mendorong pintu kaca toko hingga berbunyi ting pelan. Tak ada satu pun yang tahu bahwa mereka hanyalah rekan kerja. Dari cara mereka berjalan berdampingan, dari bahasa tubuh yang tampak akrab, siapa pun bisa saja mengira mereka pasangan suami istri yang sedang berbelanja bersama. Anasera langsung larut dalam pilihannya. Tangannya sibuk membolak-balik celana dalam dan bra, memperhatikan label, bahan, serta jahitannya dengan wajah penuh pertimbangan. Sementara itu, Rai… sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Ia berdiri kaku di depan sebuah patung manekin yang hanya mengenakan celana dalam dan bra. Tangan
BAGAIMANA KALAU KITA MEMBELI BRA BERSAMA?☘️☘️☘️Pagi baru saja melewati pukul tujuh ketika Rai berdiri di sudut rumah yang paling sunyi- area mesin cuci. Cahaya matahari masuk miring lewat ventilasi, memantul pada lantai yang masih lembap. Dengan gerakan otomatis, ia meraih kaos pendek yang ia kenakan semalam, hendak memasukkannya ke dalam mesin.Namun tangannya terhenti.Di antara pakaian yang menumpuk, selembar pakaian dalam milik Helena tampak mencolok. Ada noda darah yang sudah mengering. Rai mengerutkan dahi, lalu tanpa sadar meraih pakaian itu dan memperhatikannya lebih saksama. Dadanya mengeras oleh campuran kaget dan cemas-rasa yang hanya dimiliki orang tua ketika sesuatu terasa tak beres."Yah—"Suara Helena terdengar dari belakang. Gadis itu datang sambil membawa segenggam kaus kaki. Langkahnya terhenti begitu melihat apa yang ada di tangan ayahnya.Rai menoleh. "Helena," katanya pelan namun serius. "Ini kenapa berdarah?" Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ya
HATI YANG MULAI MENGHANGAT ☘️☘️☘️ Anasera merapikan selimut kecil yang menutupi tubuh putranya. Bocah lima tahun itu telah terlelap, napasnya teratur, satu tangan masih menggenggam ujung bantal seolah takut kehilangan mimpi. Anasera duduk di tepi ranjang beberapa detik lebih lama, menyingkirkan anak rambut dari kening sang anak, lalu mengecup pelan dahinya. Di kamar itu, lampu temaram menjaga keheningan, menyisakan rasa aman yang selalu ia upayakan sendirian. Ia berdiri perlahan, mematikan lampu kamar, dan menutup pintu tanpa suara. Langkahnya menyusuri lorong rumah terasa lebih berat dari biasanya. Di dapur, ia menyalakan kompor kecil, menuang air panas ke dalam cangkir. Teh celup itu dibiarkannya terendam sejenak, uapnya naik tipis- hangat, sederhana, seperti hal-hal yang ingin ia pertahankan malam ini. Ia tahu Rai menunggu di ruang tamu, sama seperti sejak mereka pulang dari restoran Jepang tadi, setelah Rai mengantar mereka tanpa banyak tanya. Cangkir itu digenggamnya erat
APA ITU PERNIKAHAN? ☘️☘️☘️ Pernikahan bukanlah tentang pesta yang meriah atau gaun yang menjuntai anggun di lantai. Ia adalah perjanjian sunyi antara dua jiwa yang berani tinggal, bahkan ketika cinta tak selalu berbunyi nyaring. Ia tentang pagi-pagi yang dimulai dengan mata sembab dan secangkir kopi yang dingin, tentang percakapan pendek yang kadang berakhir diam. Tentang belajar memahami jeda, menerima perbedaan, dan memilih untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa terlalu gaduh. Pernikahan adalah keberanian untuk pulang- berulang kali-pada orang yang sama. Menjadi saksi atas perubahan, kegagalan, dan mimpi yang tumbuh pelan-pelan. Di dalamnya, cinta tidak selalu berwujud kata manis, melainkan kesetiaan yang bertahan dalam rutinitas, serta doa-doa yang diam-diam disematkan sebelum tidur. Dan pada akhirnya, pernikahan adalah tentang dua orang yang sepakat untuk menua bersama: saling memaafkan, saling menjaga, dan saling memilih- setiap hari, tanpa perlu janji yang
KEDEKATAN YANG TAK DISADARI ☘️☘️☘️ Rai berhenti tepat di balik pintu kaca rooftop. Ia tidak perlu bertanya siapa perempuan itu. Dari cara berdirinya, dari bahasa tubuh yang tenang namun penuh perhatian, Rai langsung mengenalinya. Anasera. Dokter anak yang beberapa kali berpapasan dengannya di koridor rumah sakit, yang namanya tak asing di papan jadwal jaga, dan yang pagi ini berdiri di dekat putrinya seolah mereka telah saling mengenal lama. Pemandangan itu membuat Rai terdiam lebih lama dari yang ia rencanakan. Helena duduk di bangku besi, tubuhnya condong sedikit ke depan- posisi yang jarang ia ambil saat bersama orang baru. Di antara mereka ada seorang anak laki-laki kecil, lima tahunan, sibuk membuka kotak makan. Rai menebak itu pasti putra Anasera. Tebakan yang entah kenapa terasa tepat. Rai menyandarkan bahunya ke dinding, memilih untuk tetap di tempat. Ia memperhatikan detail kecil yang biasanya luput dari pandangan orang lain: cara Helena mengangguk sambil menahan senyu
STIKER DI CASE PONSEL ☘️☘️☘️ Rumah sakit berdiri seperti janji yang tak pernah diucapkan dengan suara keras. Dinding-dindingnya menyimpan napas yang ditahan, doa yang lirih, dan langkah-langkah tergesa yang belajar untuk tenang. Di sini, waktu tak berlari- ia berjalan tegak, memaksa siapa pun untuk sabar. Aroma antiseptik bukan sekadar bau, melainkan tanda kesiapan. Bahwa setiap luka akan ditangani dengan kepala dingin, bahwa setiap nyeri diberi nama, lalu dicari jalan pulangnya. Lampu-lampu putih menyala tanpa ragu, menegaskan bahwa gelap tak pernah diberi ruang terlalu lama. Monitor berdetak seperti jam kehidupan- tegas, konsisten, tak bisa diajak berkompromi. Para tenaga medis bergerak dengan sunyi yang terlatih, tatapan mereka lembut, tetapi keputusan di tangan mereka kokoh. Di balik masker dan jas putih, ada keberanian yang tak perlu diumumkan. Rumah sakit bukan hanya tempat sembuh, ia adalah ruang belajar tentang bertahan. Tentang menerima kenyataan dengan dada







