Mag-log inSIANG HARI DI ROOFTOP RUMAH SAKIT
☘️☘️☘️ Koridor rumah sakit masih terasa dingin oleh AC pagi. Anasera berjalan cepat sambil memeluk map pasien, stethoscope menggantung di lehernya. Langkahnya mantap seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berat di sorot matanya- bekas perpisahan yang belum sepenuhnya ia relakan. Saat ia sampai di depan lift, pintu terbuka tepat bersamaan… dan keluar seorang wanita berjaket putih dengan rambut dikuncir rapi. "Hey! Morning, Sera!" Luna, dokter kandungan yang paling ceria di rumah sakit itu, melambaikan tangan. Anasera mengembuskan napas lega. "Luna… morning." "Eh, tunggu- kamu mau naik? Aku ikut." Luna cepat masuk sebelum pintu menutup. "Bagus juga ketemu kamu pagi-pagi gini. Semalam aku jaga terus, mataku kayak panda deh." Lift tertutup, menyisakan keheningan singkat. Luna menatap sahabatnya itu lebih lama dari biasanya. "Kamu kelihatan… bukan cuma capek jaga," katanya sambil menyipitkan mata penuh selidik. "Ada apa? Naveen?" Anasera mengangguk, lemah. Luna menyender ke dinding lift. "Oke. Cerita." Anasera menarik napas panjang. Tangannya meremas map pasien itu sedikit. "Tadi pagi dia… minta tinggal bareng aku." Anasera menarik napas panjang. Tangannya meremas map pasien itu sedikit. Luna langsung terdiam. Ekspresinya berubah, bukan kaget- tapi empati mendalam. "Serius?" tanyanya pelan. "Serius banget." Suara Anasera melemah. "Dia bilang… dia nggak mau cuma Sabtu-Minggu ketemu aku. Dia bilang rumahku lebih hangat. Dia mau bangun sama aku setiap hari." Luna menutup mulutnya sesaat. "Oh, Sera…" Anasera menatap lantai lift yang berkilau. "Aku nggak tahu harus jawab apa. Aku kerja Senin sampai Jumat, pulang malam. Aku takut malah nyakitin dia karena aku nggak selalu ada." Luna mengangguk pelan. " Kamu takut dia nunggu kamu pulang dan kecewa?" "…Ya." Suara itu hampir bergetar. "Dan aku… aku takut dia pikir aku nggak sayang sama dia." Luna menatapnya lama-lama, sebelum akhirnya meraih tangan Anasera dan menggenggamnya. "Sera… Naveen bilang kayak gitu karena dia merasa nyaman sama kamu. Itu bukan salah kamu. Itu tanda dia butuh kamu." Anasera mengulas senyum pahit. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu aku nggak bisa kasih dia waktu sebanyak yang dia mau." Lift berbunyi ding, pintu terbuka, namun Luna tidak langsung keluar. Ia tetap menatap sahabatnya itu. "Dengar, kamu adalah ibu yang luar biasa. Kamu membesarkannya sambil kuliah, sambil residensi, sambil bertahan dari kehilangan. Dan sekarang? Kamu dokter anak, Sera. Kamu nyelametin anak orang lain setiap hari." Luna menepuk tangan sahabatnya lembut. "Naveen tahu kamu berjuang untuk dia." Kata-kata itu membuat Anasera menarik napas dalam, menahan emosi yang menumpuk dari pagi. "Tapi gimana kalau dia beneran mau tinggal sama aku? Aku belum siap. Hidupku belum stabil." Luna tersenyum kecil, penuh pemahaman. "Kadang anak kecil itu tahu duluan apa yang membuat mereka bahagia… sebelum kita sebagai orang dewasa berani mempercayainya." Anasera menunduk, memikirkan kalimat itu dalam-dalam. Luna menautkan lengannya di lengan Anasera dan menariknya keluar lift. "Ayo. Kita kerja dulu. Nanti waktu istirahat, kita pikirin ini bareng-bareng. Kamu nggak sendirian, Sera." Anasera tersenyum-untuk pertama kalinya sejak pagi. "Thanks, Lun…" "Hey," Luna menepuk bahunya. "Kamu ibu yang hebat. Dan apapun keputusanmu nanti… Naveen bakal tetap ada di pelukanmu." Sera mengangguk, merasa sedikit lebih kuat. ~~~ Angin siang menerpa pelan ketika Anasera dan Luna duduk di bangku kayu rooftop, masing-masing dengan kopi cup di tangan. Aroma kopi instan dan udara steril rumah sakit bercampur jadi satu-aneh, tapi familiar. Luna masih berbicara tentang pasien-pasiennya pagi tadi, namun Anasera tiba-tiba menoleh ketika mendengar suara langkah cepat disertai nada percakapan yang cukup jelas. Di dekat pintu akses rooftop, Dokter Rai Adhinatha sedang berdiri bersama seorang perawat junior. Cara bicaranya santai, tapi tetap fokus- meskipun sesekali gesturnya menunjukkan sifatnya yang sedikit ceroboh, seperti ketika ia hampir menjatuhkan tablet medis yang sedang ia pegang. "Dok, jadwal operasi daruratnya dipastikan pukul dua belas lewat sepuluh ya? Kita sudah siapkan semua alatnya," lapor sang perawat. Rai mengangguk cepat. "Oke. Tolong cek ulang ventilator di OR-3. Kemarin sempat rewel." Lalu ia hampir tersandung ujung kursi lipat, namun berhasil menahan diri dengan gerakan yang membuat perawat itu nyaris tertawa. Anasera tidak tersenyum, hanya memperhatikan dengan kepala miring sedikit-tenang, objektif, profesional. Baginya, itu bukan adegan yang memalukan. Itu hanya… Rai dalam bentuk asli. Ceroboh, tapi tetap jenius. Luna menyikut pelan. "Kok kamu lihat lama gitu?" "Aku cuma dengar soal operasi darurat. Sepertinya kasus trauma." Jawab Anasera datar, tanpa nada menggoda atau tersipu. Luna menghela napas dramatis. "Kupikir kamu tertarik." Anasera menatapnya sebentar. "Luna… aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu siang ini." Suaranya ringan, tapi sikapnya seperti biasa: stabil, tidak goyah. ☘️☘️☘️ to be continueKEBETULAN YANG SEDERHANA ☘️☘️☘️ Pagi itu halaman sekolah sudah mulai lengang ketika Anasera melangkah masuk melewati gerbang besi berwarna hijau tua. Bangunan sekolah tampak sederhana-dinding krem yang sedikit memudar, jendela-jendela lebar dengan teralis putih, serta papan nama sekolah yang berdiri tanpa kesan mewah. Ini bukan sekolah internasional dengan gedung tinggi dan fasilitas berkilau seperti sekolah Helena dulu, melainkan sekolah biasa yang cukup difavoritkan di kawasan tersebut. Sekolah dengan reputasi baik karena kedisiplinan dan tenaga pengajarnya. Langkah Anasera terhenti sejenak di depan ruang guru. Di bangku kayu panjang dekat pintu, seorang siswi berseragam putih biru duduk tertunduk. Rambutnya diikat dua, bahunya sedikit gemetar. Irene. Anasera segera menghampiri dan berjongkok di hadapan keponakannya. Ada bekas kemerahan di sudut bibir Irene, membuat dada Anasera mengeras. Kakaknya meneleponnya pagi-pagi dengan nada panik- ibu Irene tak bisa datang ke sekolah ka
AKU CAPEK, YAH! ☘️☘️☘️ Tepat pukul setengah sembilan malam, Rai Adhinatha berdiri di tengah apartemennya yang lengang. Lampu ruang tamu menyala temaram, memantulkan bayangan furnitur yang rapi namun terasa dingin. Tidak ada suara halaman buku yang dibalik, tidak ada sosok Helena yang biasanya duduk di sofa dengan seragam rumah, menekuk kaki sambil belajar atau sekadar menatap layar ponsel. Malam ini, apartemen itu seperti ruang kosong yang menelan napasnya sendiri. Rai meletakkan tas kerjanya di dekat pintu. Pandangannya tertambat pada sof- tempat yang kini hanya menyisakan bantal-bantal tersusun rapi. Ada rasa sesak yang merambat pelan di dadanya. Bersalah. Kata itu berputar-putar, tak menemukan jalan keluar. Ia menyadari betapa sering ia hadir sebagai tubuh, bukan sebagai telinga. Betapa jarang ia bertanya, betapa sering ia menghakimi diam-diam. Tangannya meraih ponsel di atas meja. Jemarinya ragu sejenak sebelum menekan nama Helena. Nada panggil terdengar, satu, dua, tiga. Rai
BAGAIMANA CARANYA? ☘️☘️☘️ Malam turun perlahan di jantung perkotaan, sekitar pukul tujuh. Lampu-lampu jalan menyala berderet, memantul di aspal yang masih menyimpan panas siang hari. Klakson kendaraan bersahutan, bercampur dengan dengung mesin dan langkah-langkah orang yang keluar masuk gedung perkantoran, seolah kota tak pernah benar-benar memberi jeda untuk bernapas. Di salah satu toserba yang buka dua puluh empat jam, Rai Adhinatha duduk sendirian di kursi plastik dekat rak minuman. Sebuah mie instan cup mengepul tipis di hadapannya. Uap hangat itu naik, lalu menghilang, tak berbeda jauh dari pikirannya yang terasa kosong. Sendok plastik di tangannya bergerak lambat, lebih sering terhenti di udara daripada benar-benar menyuapkan mie ke mulut. Tatapannya menerawang, menembus dinding kaca toserba, memandangi lalu lintas malam tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu hal: Helena. Bagaimana caranya ia bisa memahami putrinya sendiri? Siang tadi, telepon d
AYAH TIDAK MENGERTI ☘️☘️☘️ Pintu ruang BK SMPN I Harapan terbuka perlahan setelah Bu Yasmine, wali kelas tiga, memberi isyarat agar Rai masuk. Aroma khas ruangan sekolah- campuran kertas, kayu tua, dan pendingin ruangan yang bekerja setengah hati- menyambut langkah pria itu. Rai Adhinatha menghentikan langkahnya sesaat di ambang pintu. Di dalam, Helena telah duduk lebih dulu. Gadis itu menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Seragam sekolahnya tampak sedikit acak-acakan, namun bahunya tegar seolah tidak terjadi sesuatu. Di hadapannya duduk seorang guru BK laki-laki paruh baya, rambutnya mulai memutih di sisi pelipis. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya, namun sorot matanya tetap tajam- tegas, terbiasa membaca kegelisahan murid-murid yang duduk di kursi itu. "Silakan, Pak Rai," ucap Bu Yasmine singkat sebelum menutup pintu dari luar. "Silakan, Pak Rai," ucap Bu Yasmine singkat sebelum menutup pintu dari luar. Suasana menjadi canggung seketika. Rai mel
PANGGILAN DARI SEKOLAH ☘️☘️☘️ Lampu ruang operasi menyala putih menyilaukan, memantul pada permukaan baja dan instrumen bedah yang tersusun rapi. Suara monitor jantung berdetak stabil, berpacu dengan napas mesin anestesi. Operasi sudah berjalan hampir satu jam ketika Rai Adhinatha menyadari ada sesuatu yang tidak beres. "Klem," ucap Rai tegas, tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan operasi. Namun darah di area perut pasien justru tampak lebih banyak dari seharusnya. Bukan semburan, melainkan rembesan halus yang tak kunjung berhenti, membuat kasa cepat menggelap. Alis Rai mengerut. "Tekanan darah?" tanyanya. "Masih dalam batas aman, Dok," jawab perawat anestesi, meski suaranya terdengar ragu. Rai berhenti sejenak. Tatapannya beralih ke monitor suhu tubuh pasien. Angkanya turun perlahan- terlalu perlahan untuk disadari, tapi cukup untuk membuat pembekuan darah terganggu. "Suhu pasien berapa?" suara Rai kini lebih rendah, namun tajam. Dokter magang yang bertugas mengawasi ba
PANGGILAN ☘️☘️☘️ Tepat pukul setengah empat sore, suasana ruang kerja Anasera terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari sore menembus jendela, jatuh lembut di atas meja dan menyentuh layar ponsel yang kini berada di genggamannya. Ia menatap nama Rai Adhinatha di layar cukup lama, seolah menimbang-nimbang sesuatu, sebelum akhirnya jempolnya bergerak pelan. { Dokter Rai, maaf mengganggu. Sore ini… apakah Anda sedang sibuk?} Pesan itu terkirim. Anasera menghela napas kecil, lalu menunggu. Detik-detik berjalan lebih lambat dari biasanya, hingga ponselnya bergetar. {Tidak sama sekali. Jadwal saya kosong sampai malam. Ada apa?} Sudut bibir Anasera terangkat tipis. Ia melirik ke arah meja kerjanya, tempat selembar kertas bergambar capung itu tersimpan rapi. {Saya ingin memberikan sesuatu. Hadiah dari Naveen untuk Anda. Katanya, ini penting.} Balasan dari Rai datang tak lama kemudian, seakan pria itu memang tengah menunggu. {Kalau begitu… bagaimana kalau kita bertem







