LOGINSuhu kota Jakarta mulai terasa panas di pukul sepuluh pagi. Jalanan yang ramai menjadi pemandangan dari salah satu coffee shop tempat Ella membuat janji dengan Leo dan Tamara.
Es dari kopi susu milik Ella sudah lama mencair. Dia sengaja datang setengah jam lebih cepat untuk mempersiapkan hati sebelum bertemu Leo dan Tamara. "Hai, Ella!" "Halo, Sayang!" Panggilan dari Leo dan Tamara datang serentak dari arah belakang. Ella segera berbalik badan, berusaha memasang senyum manis. "Hai!" sapa Ella, lalu berlari ringan ke arah Leo dan merangkul pinggangnya. Ella sengaja bersifat manja kepada Leo di depan Tamara. Matanya menangkap perubahan mimik wajah Tamara yang sedikit kesal, tetapi segera diubah dengan senyum palsu. "Ih ... gemes banget deh pasangan model dan fotografer ini," ucap Tamara dengan nada manja. "Apasih, biasa aja, namanya juga orang pacaran," balas Ella, lalu melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Leo. "Eh, tapi kenapa kalian bisa datang barengan?" tanyanya, bertingkah polos. Leo dan Tamara saling menatap, meski tipis, tetapi rasa cemas terpancar dari mata mereka. Menyadari hal tersebut, Ella tidak membuang kesempatan untuk semakin memanasi situasi. "Lho? Kenapa diam? Tinggal jawab doang," lanjut Ella mengompori. "Eh, gapapa kok, Ell. Kita tadi kebetulan ketemu di parkiran, jadi barengan deh ke dalam," jawab Tamara sedikit gelisah. "Bener, kan, Leo?" lanjutnya, meminta Leo untuk meyakinkan pernyataannya. "I-iya, kita emang ga sengaja ketemu di parkiran, apa salahnya barengan ke dalam? Kan, sama-sama ketemu kamu," jawab Leo gercap. "Lagian tumben banget kamu nanya begini, Sayang. Biasanya liat kita datang barengan, kamunya biasa aja." Ella tersenyum tipis mendengar ucapan Leo. "Kita, ya?" ucapnya dingin. "A-apa?" tanya Leo gugup. "Engga kok. Yuk duduk! Pesanan kalian udah datang," ajak Ella sembari menunjuk pelayan yang sudah berdiri di belakang Leo dan Tamara. Ella pun membuka obrolan santai. Menceritakan berbagai aktivitas menarik selama di Paris kemarin. Leo dan Tamara pun mendengarkan dengan senang hati, tanpa menyadari ada kejutan yang Ella siapkan untuk mereka berdua. "Oh iya, aku sampai lupa ngeluarin oleh-oleh buat kalian," ucap Ella penuh senyum, tangannya mengambil beberapa tenteng tas oleh-oleh dari Paris. "Ih ... kamu yang terbaik deh Ell!" puji Tamara semangat. Tangannya lihai mencoba anting dan kalung dari Ella. "Gimana? Bagus ga, Leo?" tanya Tamara bersikap manja. "Bagus! Cocok banget sama kamu," puji Leo. "Jam tangan itu juga cocok buat kamu," puji Tamara membuat Leo tersipu malu. Ella tersenyum tipis melihat kedekatan alami antara Leo dan Tamara. Pikirannya melayang ke semua momen sejak SMA bersama mereka berdua. Dan, satu hal yang dia sadari, ternyata sudah selama itu Leo dan Tamara saling tertarik. "Kalian berdua lucu," ucap Ella pelan. Suaranya terdengar dingin, tatapannya kosong. "Maksudnya, Sayang?" tanya Leo bingung. Ella menggeleng pelan. Senyumnya mengembang, tetapi terlihat penuh rasa kecewa. Dia perlahan mengambil ponsel. Hitungan detik, bunyi pesan masuk terdengar dari ponsel milik Leo dan Tamara. "Aku ada hadiah lain untuk kalian. Silakan ditonton," ucap Ella enteng. Mata Leo dan Tamara pun membelalak menyaksikan video panas mereka berdua. Rasa cemas dan malu tergambar dari gerak-gerik mata mereka yang berusaha lari dari tatapan Ella. "Sayang, kamu jangan percaya video ini! Jelas banget ini AI!" ucap Leo membela diri. "Bener Ell, ga mungkin kita tega lakuin hal menjijikkan seperti itu di belakang kamu," lirih Tamara. Tawa Ella pecah mendengar pembelaan dua orang yang sedang bersamanya. "Kalian berdua ga cocok jadi aktris," ucapnya di sela tawa. "Ell--" "Ssst! Aku belum selesai ngomong," potong Ella, "Sayangnya video itu asli karena aku yang ngevideoin, dan ... seperti katamu Tamara, lebih menjijikkan saat melihat langsung dengan mata kepala sendiri," lanjutnya dingin. Leo dan Tamara tidak lagi bersuara saat mendengar penjelasan Ella. Mereka berdua kehabisan kata-kata karena bukti perselingkuhan yang dibawa Ella sangat kuat. "Well ... kalau kamu mau Leo, silakan ambil. Aku ga butuh laki-laki murahan! Anggap dia hadiah terakhir dari aku sebagai sahabat kamu!" ucap Ella penuh penekanan. "Sayang? Maksud kamu--" "Kita putus!" ucap Ella memotong perkataan Leo, "Selamat menikmati hubungan kalian tanpa harus sembunyi dariku," lanjutnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Leo dan Tamara. Sesampainya di parkiran, Ella segera memacu mobil Porsche bewarna biru metalik miliknya menuju kantor Kenny. Butuh waktu setengah jam dan kakinya sudah melenggang di pintu masuk butik Jelita. "Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa Resepsionis kepada Ella. Ella tersenyum manis, membuat para pegawai dan pelanggan di butik terpesona dengan kecantikannya. "Selamat siang, aku ingin bertemu dengan Kenny," jawabnya hangat. "Apakah sudah ada janji temu untuk hari ini, Kak?" tanya Resepsionis mengikuti SOP. "Tolong katakan kepadanya bahwa Ella akan memberi jawaban tawaran di Paris hari ini," jawab Ella. "Baik, Kak. Mohon tunggu sebentar," ucap Resepsionis. Sembari menunggu kabar, Ella pun memilih keliling butik untuk melihat desain-desain dari brand Jelita. Dia pun berhenti di depan cermin besar, memantulkan dirinya yang sedang mengenakan dress selutut bewarna coklat dengan luaran blezer krem dan bawahan sepatu hills bewarna coklat. Ella merogoh ponselnya dari dalam tas. Dia segera bergaya di depan cermin dan berpose. Setelah beberapa detik, foto tersebut sudah diunggah ke story sosial medianya dengan caption "Lebih baik mencintai diri sendiri daripada mencintai manusia yang salah". "Selamat siang, Nona Ella." Sebuah sapaan bernada bass dari seorang laki-laki dengan stelan jas kantoran mengalihkan pandangan Ella. "Selamat siang," jawab Ella ramah. "Perkenalkan saya Austin, asisten pribadi Pak Kenny. Silakan ikuti saya menuju ruangan beliau," ajaknya yang diangguki oleh Ella. Pintu lift terbuka di lantai lima. Ella dan Austin langsung berjalan ke ruangan paling ujung dengan plang bertuliskan "Ruang CEO" pada bagian sisi kiri pintu. "Silakan masuk Nona, Pak Kenny sudah menunggu di dalam," ucap Austin di depan pintu. "Terimakasih," balas Ella, lalu memasuki ruangan tersebut. Kenny segera berdiri dari kursinya saat melihat Ella mamasuki ruangan. Dia tersenyum hangat. "Selamat datang Ella, senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi," sapa Kenny. "Senang juga bisa bertemu denganmu kembali, Kenny," balas Ella dengan senyum hangat. Kenny pun mempersilahkan Ella duduk di sofa ruangannya. Selang beberapa menit, sekretarisnya datang membawa teh hangat untuk mereka berdua. "Jadi, apakah kita akan segera bekerjasama?" tanya Kenny antusias. "Sepertinya iya, tapi ... ada sedikit perubahan dari yang kita bicarakan di Paris," jawab Ella berhati-hati. Kening Kenny mengerut. "Boleh tau perubahannya apa?" "Aku akan memberikan sesuatu yang bisa membatalkan pertunanganmu, tapi sebagai gantinya ... kamu harus membantuku balas dendam kepada calon tunanganmu," jawab Ella tegas.(Sehari sebelum Ella tanda tangan kontrak)"Halo, Kak Joy! Apa kabar?" sapa Ella kepada seseorang di sambungan telepon."Halo, Ell! Kabar baik dong. Ada apa nih? Tumben banget nelpon?" tanya Joy."Aku ada berita hangat yang harus diupload besok sore. Kakak bisa, kan?" jawab Ella, memberikan tawaran kepada penulis platform gosip terkenal di sosial media."Waw! Bisa banget dong! Beritanya tentang apa nih?" tanya Joy semangat."Tentang kandasnya hubunganku dengan Leo karena ada orang ketiga," jawab Ella santai."What?! Demi apa?" ucap Joy tak percaya."Nanti aku kirim detail dan buktinya. Mohon kerjasamanya Kak Joy," ucap Ella yang disetujui oleh Joy, dan panggilan telepon itu pun berakhir.---(Saat ini di ruangan rapat Jelita)"Bukankah ini kesempatan bagus untuk mengumumkan bahwa aku brand ambassador terbaru dari Jelita?" usul Ella.Yura dan Kenny saling menatap untuk sesaat. Rasa bingung dengan usulan Ella dalam kondisi gosip yang baru saja naik mengenai dirinya terpancar dari wajah
"Yura! Kamu kecolongan lagi?!" Suara melengking dari Dira alias direktur Glory Entertainment memenuhi ruangannya.Yura mengernyitkan dahinya akibat teriakan atasannya. Sedangkan Ella hanya tersenyum manis seakan-akan tidak terjadi apa-apa karena sudah terbiasa mendengar teriakan yang sama di rumah."Maaf, Tante--""Panggil 'Bu' kalau di kantor!" perintah Dira memotong ucapan Yura."Eh, iya Bu. Kemarin Ella bilang hanya ingin cuti sehari karena lelah dari Paris. Saya juga tidak menyangka dia nekat membuat kontrak dengan Jelita," ucap Yura membela dirinya.Dira mengambil napas berat. Dadanya naik turun berusaha mengendalikan emosi yang meluap. "Kamu juga, Ella. Kenapa tidak berdiskusi dulu dengan saya dan menejermu?!" Sekarang giliran Ella yang diteriaki."Yura sendiri yang bilang kalau bekerjasama dengan Jelita akan menjadi batu loncatan untuk karirku, Bu," bela Ella membuat Yura ternganga karena disudutkan."Lho? Fitnah ya, Ell. Aku bilang kalau bertemu dengan CEO Jelita, bukan asal
Kenny menatap Ella cukup lama. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Ella setelah tawaran gila darinya terlontar. Dan, saat itu juga dia menyadari bahwa perempuan dihadapannya benar-benar serius untuk balas dendam."Wow!" ucap Kenny, "Tawaran yang cukup gila," lanjutnya lantang.Ella tersenyum tipis. "Ya, memang gila. Makanya aku meminta bantuanmu."Kenny tertawa ringan mendengar ucapan Ella. Kakinya menyilang, tangannya saling menggenggam, dan matanya menatap Ella serius."Sebagai seorang pebisnis, aku tidak bisa asal menerima tawaran. Banyak resiko yang harus dipertimbangkan, apalagi tawaran darimu," jelas Kenny gamblang.Sekarang giliran Ella yang tertawa renyah. Dia mengambil cangkir teh, lalu meminumnya dengan anggun sebelum merespon ucapan Kenny."Aku tahu betul maksudmu, dan aku jamin kamu tidak akan rugi," jelas Ella percaya diri."Bagaimana kamu bisa menjamin bahwa aku tidak akan rugi?" tanya Kenny menantang."Pertama, aku memiliki bukti kuat agar pertunanganmu bes
Suhu kota Jakarta mulai terasa panas di pukul sepuluh pagi. Jalanan yang ramai menjadi pemandangan dari salah satu coffee shop tempat Ella membuat janji dengan Leo dan Tamara. Es dari kopi susu milik Ella sudah lama mencair. Dia sengaja datang setengah jam lebih cepat untuk mempersiapkan hati sebelum bertemu Leo dan Tamara."Hai, Ella!" "Halo, Sayang!"Panggilan dari Leo dan Tamara datang serentak dari arah belakang. Ella segera berbalik badan, berusaha memasang senyum manis."Hai!" sapa Ella, lalu berlari ringan ke arah Leo dan merangkul pinggangnya. Ella sengaja bersifat manja kepada Leo di depan Tamara. Matanya menangkap perubahan mimik wajah Tamara yang sedikit kesal, tetapi segera diubah dengan senyum palsu. "Ih ... gemes banget deh pasangan model dan fotografer ini," ucap Tamara dengan nada manja."Apasih, biasa aja, namanya juga orang pacaran," balas Ella, lalu melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Leo. "Eh, tapi kenapa kalian bisa datang barengan?" tanyanya, berting
Aula tempat dilaksanakannya pesta penutupan acara Paris Fashion Week sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Tawa khas saling beradu dengan percakapan penuh sanjungan. Musik melantun lembut membuat suasana menjadi hangat. Ella mengenakan dress panjang dengan potongan off shoulder bewarna emarald green. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepitan kecil sebagai pemanis. Wajah Ella sengaja dirias dengan sentuhan nude, memancarkan aura elegan sekaligus seksi. Dia berjalan memasuki pesta, menuju salah satu meja yang hanya diisi oleh seorang laki-laki berparas asia. ”Selamat malam, Kenny,” sapa Ella hangat. Laki-laki berusia dua puluh delapan tahun dengan stelan jas hitam segera berdiri dari kursinya. Tangannya yang kekar langsung menggantung ke arah Ella. Senyumnya yang manis ikut tergores di bibir warna merah muda alami. ”Selamat malam Ella, senang bisa bertemu denganmu,” sapa Kenny sembari menerima jabatan tangan Ella. ”Ternyata pemilik brand Jelita lebih muda dari bayanganku,” puji
“Yura, kamu dan tim duluan aja ke Bandara. Aku mau ke apartemen Leo dulu,” ucap Ella melalui sambungan telepon kepada menejernya. “Hah? Harus banget malam ini? Ga bisa nunggu balik Paris aja?” balas Yura sedikit emosi melihat jalan pikiran model yang dia handle. ”Engga! Harus hari ini, bentar aja kok. Janji bakal sampai Bandara tepat waktu,” ucap Ella memelas. ”Baiklah. Kabari aku kalau sudah sampai,” ucap Yura mengalah, lalu segera mengajak timnya menuju Bandara untuk menghadiri acar Paris Fashion Week.Senyum Ella merekah saat sampai di gedung apartemen. Sebuah lensa kamera terbaru sudah berada digenggamannya sebagai kado anniversary ke lima tahun hubungannya dengan Leo. Dia sengaja singgah sebentar untuk memberikan kejutan sebelum terbang menuju Paris demi merayakan hari jadi mereka. ”Loh? Kenapa ga kekunci?” ucap Ella pelan ketika mendapati pintu apartemen Leo tidak terkunci. Tatapan matanya langsung beralih ke bagian bawah pintu. Perlahan Ella berjongkok untuk memastikan b







