LOGINKenny menatap Ella cukup lama. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Ella setelah tawaran gila darinya terlontar. Dan, saat itu juga dia menyadari bahwa perempuan dihadapannya benar-benar serius untuk balas dendam.
"Wow!" ucap Kenny, "Tawaran yang cukup gila," lanjutnya lantang. Ella tersenyum tipis. "Ya, memang gila. Makanya aku meminta bantuanmu." Kenny tertawa ringan mendengar ucapan Ella. Kakinya menyilang, tangannya saling menggenggam, dan matanya menatap Ella serius. "Sebagai seorang pebisnis, aku tidak bisa asal menerima tawaran. Banyak resiko yang harus dipertimbangkan, apalagi tawaran darimu," jelas Kenny gamblang. Sekarang giliran Ella yang tertawa renyah. Dia mengambil cangkir teh, lalu meminumnya dengan anggun sebelum merespon ucapan Kenny. "Aku tahu betul maksudmu, dan aku jamin kamu tidak akan rugi," jelas Ella percaya diri. "Bagaimana kamu bisa menjamin bahwa aku tidak akan rugi?" tanya Kenny menantang. "Pertama, aku memiliki bukti kuat agar pertunanganmu besok bisa dibatalkan. Kedua, kita akan menjalin hubungan kontrak untuk memenuhi permintaan ayahmu yang ingin anaknya memiliki pasangan. Ketiga, aku akan jadi brand ambassador Jelita," jelas Ella. "Hmm menarik, tapi aku harus tahu alasanmu ingin balas dendam kepada sahabat sendiri dan kenapa harus menjalin hubungan kontrak denganku," pinta Kenny. "Karena selama ini dia menipuku dan berhasil merebut satu-satunya rumah ternyaman yang aku punya. Jadi, dia juga harus merasakan hal yang sama agar adil," jelas Ella pilu. "Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Kenny penasaran. Ella segera mengulurkan ponselnya yang sedang memutar video panas Leo dan Tamara. "Dia mengkhianatiku, padahal tau Leo adalah orang yang sangat berharga bagiku." "Wah! Aku terselamatkan dari perempuan seperti dia," ucap Kenny sedikit terkejut dengan video yang dia tonton. "Lalu, bagaimana dengan pacarmu? Apakah dia tidak mendapatkan hukuman juga?" "Tentu saja rencana balas dendam ini juga akan menghancurkan mantan pacarku. Tidak ada ampun bagi mereka berdua," ucap Ella penuh kebencian. Kenny tersenyum tipis. "Menarik!" sahutnya sembari memegang dagu. "Jadi, kamu mau bekerjasama denganku?" tanya Ella memastikan. "Tentu saja, sebagai balasan telah membantu membatalkan pertunanganku," jawab Kenny antusias. Tangannya menggantung ke arah Ella. "Terimakasih," ucap Ella dengan senyum lebar. Tangannya segera meraih uluran tangan Kenny. "Mari bertemu dua hari lagi untuk menandatangani kontrak sebagai brand ambassador," ajak Kenny, "Oh ya, apakah kita juga akan membuat kontrak tertulis soal hubungan palsu ini?" tanyanya memastikan. "Tidak perlu, aku tidak ingin nanti kontrak tertulis itu jatuh ke tangan orang lain dan dijadikan ancaman, seperti di film-film," jawab Ella membuat Kenny tertawa. "Baiklah, aku ikuti semua rencanamu," balas Kenny. "Oke, aku pamit dulu dan ada beberapa poin tentang hubungan palsu yang akan kita bicarakan saat tanda tangan kontrak nanti. Aku juga butuh waktu untuk menyusun rencana yang matang," jelas Ella gamblang. "Oke, sampai jumpa lagi," balas Kenny dan pertemuan siang itu pun selesai. --- Suasana ruang makan di kediaman keluarga Witjaksono terlihat ramai oleh anggota keluarga besar. Mereka terlihat bahagia, apalagi Witjaksono dan Karin karena anak semata wayang mereka akhirnya bertunangan esok hari. "Selamat sore Pa, Ma, dan semuanya" sapa Kenny dari pintu ruang makan, membuat kedua orangtuanya terkejut dan bahagia dalam waktu bersamaan. "Astaga! Tumben sekali anak kesayangan Mama pulang. Kamu ga sabar ya buat acara besok?" goda Karin dengan senyum sumringah. Kenny memeluk hangat Mamanya, lalu duduk di kursi meja makan. "Hmm, kurang tepat sih, Ma," jawabnya enteng. "Memang ada masalah apa lagi? Kamu jangan buat kekacauan lagi ya! Sudah pertunangan yang ketiga kali ini, apa tidak malu gagal terus?!" bentak Witjaksono dengan suara serak-serak basah. "Pa, jangan langsung emosi gitu. Kita dengerin dulu penjelasan Kenny," ucap Karin membela anaknya. "Bener kata Mama, Pa," jawab Kenny songong, membuat papanya berdecak kesal. "Jadi, sekarang ada masalah apa?" tanya Karin. "Sebenarnya ucapan Papa ada benarnya, tapi--" "Dasar anak ini!" teriak Witjaksono memotong ucapan Kenny. "Pa!" bantah Karin, menghentikan emosi suaminya yang akan mengeluarkan seribu kata-kata kesal kepada anak mereka. "Dengar dulu dong Pa," ucap Kenny menggoda papanya. "Jadi, kali ini bukan aku yang jadi biang masalahnya, tapi calon tunanganku, Tamara," lanjutnya membuat seluruh anggota keluarga bingung. "Maksud kamu apa, Ken? Jangan aneh-aneh ya, anaknya teman Tante itu baik lho," jelas Lara. "Nah, itulah masalahnya Tante. Ternyata dia punya sisi liar yang tidak Tante tahu," jawab Kenny santai. "Beruntung aku dapat video ini sebelum acara pertunangan, kalau ga, bisa hancur nama baik keluarga kita," lanjutnya mengompori. Seluruh anggota keluarga tak bisa berkata-kata saat Kenny memperlihatkan video perselingkuhan Tamara. Wajah mereka mengekspresikan perasaan kesal dan marah. "Jadi gimana Pa, Ma, Om, Tante? Kalian yakin tetap melanjutkan pertunangan ini dan menerima dia sebagai menantu?" tanya Kenny mengompori. Witjaksono mengambil napas berat. Wajahnya merah padam, menandakan amarah yang memuncak. "Hubungi orang tua Tamara, katakan malam ini aku dan Karin akan menemui mereka membahas pembatalan pertunangan!" perintah Witjaksono kepada asisten pribadinya. "Pilihan yang sangat bijak, Pa," ucap Kenny penuh kemenangan. Witjaksono kembali mengambil napas berat. "Entah kapan kamu akan menemukan jodoh, tidak ada satu pun perjodohan yang berhasil," ucapnya putus asa. "Papa tenang saja, kali ini biar aku yang mencari pasanganku sendiri," ucap Kenny sungguh-sungguh. Semua anggota keluarga menatap Kenny tak percaya. Bocah tengil yang biasanya anti cinta dan hubungan romansa tiba-tiba mendeklarasikan diri untuk mencari pasangan. "Ka-kamu serius, Nak?" tanya Karin penuh harapan. "Iya, Ma. Jadi, tolong berhenti mencarikanku jodoh," pinta Kenny pelan. "Perempuan mana yang berhasil menarik perhatianmu?" tanya Witjaksono curiga. "Sabar ya, Pa. Aku sedang berusaha, dan jika sudah saatnya akan aku perkenalkan kepada keluarga ini," jawab Kenny tengil. "Awas saja kalau semua ini omong kosong! Papa pastikan tidak ada jatah warisan untukmu!" ancam Witjaksono. "Aman, Pa," jawab Kenny santai. "Baiklah, aku pamit dulu, ada urusan penting yang harus dikerjakan. Silakan lanjutkan makan-makannya," pamitnya meninggalkan rumah dengan suasana kacau balau."Terimakasih atas kerjasamanya hari ini. Sampai jumpa besok," ucap Dita mengakhiri pemotretan hari pertama.Para model dan seluruh kru sedang bersiap-siap untuk pulang dari lokasi pemotretan. Termasuk Ella yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Celana jeans dipadukan dengan baju off shoulder bewarna broken white. Rambutnya diikat halfbun, memberikan kesan dandy."Ell, boleh bicara sebentar?" Suara bariton yang sudah bertahun-tahun Ella dengar berhasil menghentikan langkahnya saat akan berbelok dari ruang ganti menuju pintu lift. Dia berbalik badan, dihadapannya sudah berdiri Leo dengan raut wajah lesuh."Silakan," ucap Ella ketus. Raut wajahnya datar seperti tidak tertarik untuk mengobrol dengan lelaki dihadapannya.Leo tersenyum kecut. "Aku ga pernah nyangka bakal liat ekspresi seperti itu dari kamu, Ell," ucapnya berusaha terdengar pilu."Cuma mau bilang itu?" respon Ella sinis. "Kalau gitu aku cabut dulu, ga ada waktu buat obrolin hal-hal ga penting.
Ruangan pemotretan langsung heboh setelah Kenny menjawab pertanyaan Dita. Sedangkan Ella terlihat bingung, kedua alisnya menyatu, kepalanya sedikit bergerak sebagai kode bertanya maksud dari ucapan Kenny barusan.Sebuah kedipan mata sebelah kanan, disusul senyum manis menjadi jawaban dari kode Ella. Tangannya mengangkat cup holder yang berisi jus segar."Aku bawain kamu dan kru jus. Lagi istirahat kan? Yuk minum dulu!" ucap Kenny hangat."Wih! Asik, kita juga dapat nih!" seru kru pemotretan serentak. Ella tersenyum hangat. Kakinya melangkah ringan ke arah Kenny, mengabaikan Leo dan Tamara yang terlihat jengkel ketika pusat perhatian tidak lagi kepada mereka."Orange jus?" tanya Kenny, memastikan informasi yang dia dapat dari Yura tentang jus kesukaan Ella memang benar."Of course," jawab Ella hangat, tangannya mengambil jus yang disodorkan oleh Kenny."Kamu kenapa bisa tau jus favorit aku?" tanya Ella setelah meminum jusnya."Dikasih tau menejer kamu," jawab Kenny santai, dia juga m
"Selamat pagi! Saya Dion, produser yang memimpin proyek photoshoot dan pembuatan video iklan untuk brand GlowUp kali ini." Briefing sebelum syuting dibuka oleh seorang laki-laki berusia dua puluh delapan tahun dengan stelan kemeja flanel hitam dan dalaman baju kaos krem, bawahannya celana hitam dilengkapi dengan sepatu sport bewarna campuran coklat dan krem. Dia tersenyum hangat kepada anggota tim yang hadir dan tiga orang model yang direkrut oleh tim GlowUp. "Untuk keseluruhan skedul proses syuting kita ke depan akan dijelaskan oleh asisten produser. Silakan, Dita," ucap Dion, lalu memberikan kesempatan asisten produser mengambil alih brifing. "Halo semua! Senang akhirnya kita bisa berkumpul untuk proyek kali ini, meski minus Mas Ryan yang biasanya jadi fotografer tim kita, tapi dia ga bisa karena harus ngerjain proyek lain," sapa Dita hangat. "Yah ... sayang banget, padahal Mas Ryan salah satu fotografer favorit aku," ucap salah satu model berkulit kuning langsat. "Iya lag
Sudah tiga puluh menit Ella menatap layar ponselnya. Sebuah notifikasi "Panggilan Tak Terjawab dari Leo" masih terpampang di sana. Dia mengambil napas berat untuk kesekian kalinya. Pikirannya dipenuhi oleh banyak pertanyaan, kenapa Leo menelponnya kemarin? Apakah dia akan siap jika kembali bertemu dengan laki-laki itu? Seandainya mereka benar-benar bertemu, apa yang akan Leo lakukan kepadanya? Lagi-lagi Ella kembali mengambil napas berat. "Ell?" Panggilan dari Yura mengalihkan pandangan Ella. Sorot matanya sayu dan lelah."Iya?" balas Ella dengan suara yang pelan tak bertenaga."Skedul photoshoot dan video iklan buat brand GlowUp udah keluar," jelas Yura."Oh ya? Kapan mulainya dan berapa lama?" tanya Ella dengan rasa cemas di dalam dirinya."Untuk photoshoot dimulai besok dan akan dilakukan selama tiga hari. Sedangkan video iklan minggu depan selama seminggu," jelas Yura. "Hmm, oke," balas Ella lesuh. Dia segera bersandar di sandaran sofa, lalu menutup wajahnya dengan majalah.Yur
Leo memasukkan kombinasi password di pintu apartemen milik Tamara. Namun yang berbunyi alarm penolakan bahwa kombinasi password yang dimasukkan salah. "Sial! Sejak kapan passwordnya diganti!" umpat Leo, lalu tangannya menggedor pintu apartemen dengan kasar. Tamara bergegas membukakan pintu. "Kamu kenapa sih? Sabar bentar," ucapnya sedikit terbawa emosi. Wajah Leo sudah merah padam. Dia masuk tanpa memandang Tamara, lalu berjalan ke arah sofa dan melempar tas ransel berisi perlengkapan forografi miliknya ke atas sofa. "Kamu yang kenapa?! Ga bisa nahan diri sebentar! Jelas berita tentang putusnya aku dan Ella masih hangat. Bisa-bisanya kamu buat rusuh di agensi!" bentak Leo penuh emosi. Kedua tangannya menggantung di pinggang. "Iya aku salah, tapi--" "Tapi apa?! Gara-gara video kamu yang ngaku jadi orang ketiga bikin aku dipecat hari ini!" lanjut Leo meledak-ledak.Melihat emosi Leo yang meledak-ledak membuat Tamara kehilangan akal. Dia tidak bisa membiarkan Leo ikut membencinya d
Ella keluar dari mobilnya di parkiran salah satu restoran Jepang yang terkenal di Jakarta. Dia bergegas masuk menuju seorang laki-laki yang sudah duduk menunggunya di salah satu meja."Hai! Maaf banget karena ngajak ketemuan mendadak," sapa Ella kepada Kenny yang mengenakan baju kaus bewarna hitam dengan bawahan celana abu-abu."Iya gapapa, sesuai perjanjian aku selalu siap sedia kapanpun kamu butuh," balas Kenny santai.Ella tersenyum manis mendengar jawaban Kenny. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah Ella. Perlahan kursi yang akan diduduki Ella sudah ditarik ke belakang oleh Kenny."Silakan duduk," ucap Kenny lembut."Terimakasih," balas Ella hangat. "Siapa sangka CEO yang terkenal dingin seperti kulkas dua pintu bisa melakukan hal romantis begini." Lanjutnya memuji sekaligus meledek Kenny.Suara tawa Kenny menyembur mendengar ucapan Ella. "Ya, namanya juga usaha. Biar orang-orang liat kalau model satu ini sedang diperjuangkan oleh CEO Jelita," jawabny







