LOGINAula tempat dilaksanakannya pesta penutupan acara Paris Fashion Week sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Tawa khas saling beradu dengan percakapan penuh sanjungan. Musik melantun lembut membuat suasana menjadi hangat.
Ella mengenakan dress panjang dengan potongan off shoulder bewarna emarald green. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepitan kecil sebagai pemanis. Wajah Ella sengaja dirias dengan sentuhan nude, memancarkan aura elegan sekaligus seksi. Dia berjalan memasuki pesta, menuju salah satu meja yang hanya diisi oleh seorang laki-laki berparas asia. ”Selamat malam, Kenny,” sapa Ella hangat. Laki-laki berusia dua puluh delapan tahun dengan stelan jas hitam segera berdiri dari kursinya. Tangannya yang kekar langsung menggantung ke arah Ella. Senyumnya yang manis ikut tergores di bibir warna merah muda alami. ”Selamat malam Ella, senang bisa bertemu denganmu,” sapa Kenny sembari menerima jabatan tangan Ella. ”Ternyata pemilik brand Jelita lebih muda dari bayanganku,” puji Ella membuat Kenny tertawa. ”Aku anggap itu pujian ya,” ucap Kenny santai. “Mari duduk dan nikmati hidangan malam ini,” ajaknya yang diangguki Ella. Suasana semakin ramai, banyak tamu yang hadir menyapa Ella dan Kenny sebelum mereka bisa melanjutkan obrolan. Tiba-tiba pandangan mereka berdua saling beradu, seakan berkomunikasi, lalu sama-sama tersenyum. ”Mau ke balkon saja?” ajak Kenny yang sudah berdiri di sebelah Ella. Telapak tangannya kembali terjulur, menunggu perempuan dihadapannya menyambut uluran tersebut. ”Ide bagus,” ucap Ella, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Kenny untuk membantunya berdiri. Suasana balkon lebih sepi dan tenang dibandingkan di dalam ruangan. Hanya ada beberapa tamu di sana. Udara musim semi yang segar dari kota Paris pun memberikan rasa nyaman. ”So ... aku penasaran kenapa seorang CEO brand Jelita tiba-tiba mengajakku bertemu di acara besar seperti ini,” ucap Ella membuka percakapan. Kenny tersenyum membuat matanya ikut tersenyum. Sebuah daya tarik yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun, dan Ella cukup menikmatinya. ”Well … sebelum menjawab pertanyaan itu, aku ingin jujur ternyata kamu cukup humble. Beda jauh dengan omongan yang beredar,” ucapnya. Kening Ella mengerut, alisnya naik sebelah. “Oh ya? Memangnya omongan seperti apa yang beredar?” tanyanya penasaran. “Hmm ... jangan tersinggung ya,” pinta Kenny ragu. Ella mengangguk pelan. Matanya menatap Kenny secara intens, seakan memaksa untuk menjawab rasa penasarannya. “Oke,” jawab Kenny terintimidasi. “Banyak rekan pengusaha yang bilang kalau kamu dingin dan cuek, diajak bertemu untuk menawarkan kerjasama pun susah,” lanjutnya berhati-hati. ”Ow! Jadi begitu tanggapan mereka terhadapku? Syukurlah,” respon Ella enteng. “Syukurlah?” Ella mengangguk pelan. “Dari pada dianggap mudah dibawa ke hotel.” Kenny kembali tertawa kecil. Kepalanya mengangguk pelan. “Ya, pemikiran yang bijak.” ”Sepertinya bukan hanya aku yang dibicarakan. Aku jadi penasaran apakah berita hangat tentangmu hanya omongan saja atau benar adanya,” tutur Ella, memancing rasa penasaran Kenny. ”Berita hangat? Tentang apa?” tanya Kenny. ”Katanya kamu calon tunangan sahabatku, Tamara,” jawab Ella berusaha tenang, meski hatinya sakit saat mengucapkan nama perempuan pengkhianat di hidupnya. Tawa Kenny lepas saat mendengar berita hangat tentang dirinya. Ella yang menyaksikan pun terlihat bingung. ”Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Ella dengan kening yang berkerut. ”Ya, berita hangat yang terdengar lucu bagiku. Rencana pertunangan itu memang benar, tapi bukan keinginanku. Hanya upaya yang dilakukan oleh ayahku supaya anaknya memiliki rumor dengan perempuan,” jelas Kenny enteng. ”Berarti kamu tidak benar-benar akan tunangan dengan Tamara?” tanya Ella sedikit cemas karena kesempatannya untuk balas dendam bisa gagal jika berita itu palsu. Kenny menghentikan tawanya. Wajahnya tiba-tiba menjadi serius. “Akan tetap dilakukan oleh ayahku, tapi akan aku usahakan untuk membatalkannya,” jawab Kenny seadanya. Ella tersenyum tipis, tetapi cepat-cepat dia hilangkan. “Ow begitu. Baiklah aku tidak akan bertanya lagi tentang hal pribadi,” ucapnya pelan. ”Terimakasih,” balas Kenny, “Mari kembali ke topik utama kenapa kita harus bertemu malam ini,” lanjutnya lebih serius. ”Baiklah. Jadi, ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ella tenang. ”Aku ingin menawarkan kerjasama untuk menjadi brand ambassador Jelita,” jawab Kenny antusias. ”Tawaran menarik, tapi aku butuh alasannya, karena pasti lebih baik jika menggunakan artis papan atas dibandingkan model yang baru naik daun,” ucap Ella membuat Kenny tersenyum tipis. ”Good point! Tapi bagi kami tidak semua artis besar bisa mewakili brand Jelita. Kami memiliki panilaian khusus,” jelas Kenny antusias. ”Boleh aku tahu apa penilaiannya?” tanya Ella penasaran. Kenny mengangguk pelan. “Calon brand ambassador Jelita harus memiliki ciri khas Indonesia, seperti bentuk wajah yang tidak blasteran, warna kulit kuning langsat, sawo matang, maupun coklat eksotis.” “Penilaian yang sangat menarik. Sangat jarang diterapkan oleh brand lokal lain dari negara kita,” puji Ella, membuat Kenny tersenyum tipis. ”Jadi, bagaimana?” tanya Kenny memastikan. ”Jujur, tawaran dan jawaban yang kamu berikan sangat menggiurkan, tapi ... aku harus membicarakannya dengan agensi terlebih dahulu,” jawab Ella tegas. ”Baiklah, hubungi aku apapun jawabannya,” ucap Kenny sembari memberikan kartu namanya. ”Tentu, akan aku hubungi segera,” ucap Ella, lalu menerima kartu nama tersebut. Acara pesta pun berlanjut lebih meriah. Ella dan Kenny pun berpisah dan segera berbaur dengan tamu-tamu lain setelah obrolan mereka selesai. Sejak pesta itu pun Ella membulatkan tekadnya untuk menghancurkan kehidupan Leo dan Tamara.(Sehari sebelum Ella tanda tangan kontrak)"Halo, Kak Joy! Apa kabar?" sapa Ella kepada seseorang di sambungan telepon."Halo, Ell! Kabar baik dong. Ada apa nih? Tumben banget nelpon?" tanya Joy."Aku ada berita hangat yang harus diupload besok sore. Kakak bisa, kan?" jawab Ella, memberikan tawaran kepada penulis platform gosip terkenal di sosial media."Waw! Bisa banget dong! Beritanya tentang apa nih?" tanya Joy semangat."Tentang kandasnya hubunganku dengan Leo karena ada orang ketiga," jawab Ella santai."What?! Demi apa?" ucap Joy tak percaya."Nanti aku kirim detail dan buktinya. Mohon kerjasamanya Kak Joy," ucap Ella yang disetujui oleh Joy, dan panggilan telepon itu pun berakhir.---(Saat ini di ruangan rapat Jelita)"Bukankah ini kesempatan bagus untuk mengumumkan bahwa aku brand ambassador terbaru dari Jelita?" usul Ella.Yura dan Kenny saling menatap untuk sesaat. Rasa bingung dengan usulan Ella dalam kondisi gosip yang baru saja naik mengenai dirinya terpancar dari wajah
"Yura! Kamu kecolongan lagi?!" Suara melengking dari Dira alias direktur Glory Entertainment memenuhi ruangannya.Yura mengernyitkan dahinya akibat teriakan atasannya. Sedangkan Ella hanya tersenyum manis seakan-akan tidak terjadi apa-apa karena sudah terbiasa mendengar teriakan yang sama di rumah."Maaf, Tante--""Panggil 'Bu' kalau di kantor!" perintah Dira memotong ucapan Yura."Eh, iya Bu. Kemarin Ella bilang hanya ingin cuti sehari karena lelah dari Paris. Saya juga tidak menyangka dia nekat membuat kontrak dengan Jelita," ucap Yura membela dirinya.Dira mengambil napas berat. Dadanya naik turun berusaha mengendalikan emosi yang meluap. "Kamu juga, Ella. Kenapa tidak berdiskusi dulu dengan saya dan menejermu?!" Sekarang giliran Ella yang diteriaki."Yura sendiri yang bilang kalau bekerjasama dengan Jelita akan menjadi batu loncatan untuk karirku, Bu," bela Ella membuat Yura ternganga karena disudutkan."Lho? Fitnah ya, Ell. Aku bilang kalau bertemu dengan CEO Jelita, bukan asal
Kenny menatap Ella cukup lama. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Ella setelah tawaran gila darinya terlontar. Dan, saat itu juga dia menyadari bahwa perempuan dihadapannya benar-benar serius untuk balas dendam."Wow!" ucap Kenny, "Tawaran yang cukup gila," lanjutnya lantang.Ella tersenyum tipis. "Ya, memang gila. Makanya aku meminta bantuanmu."Kenny tertawa ringan mendengar ucapan Ella. Kakinya menyilang, tangannya saling menggenggam, dan matanya menatap Ella serius."Sebagai seorang pebisnis, aku tidak bisa asal menerima tawaran. Banyak resiko yang harus dipertimbangkan, apalagi tawaran darimu," jelas Kenny gamblang.Sekarang giliran Ella yang tertawa renyah. Dia mengambil cangkir teh, lalu meminumnya dengan anggun sebelum merespon ucapan Kenny."Aku tahu betul maksudmu, dan aku jamin kamu tidak akan rugi," jelas Ella percaya diri."Bagaimana kamu bisa menjamin bahwa aku tidak akan rugi?" tanya Kenny menantang."Pertama, aku memiliki bukti kuat agar pertunanganmu bes
Suhu kota Jakarta mulai terasa panas di pukul sepuluh pagi. Jalanan yang ramai menjadi pemandangan dari salah satu coffee shop tempat Ella membuat janji dengan Leo dan Tamara. Es dari kopi susu milik Ella sudah lama mencair. Dia sengaja datang setengah jam lebih cepat untuk mempersiapkan hati sebelum bertemu Leo dan Tamara."Hai, Ella!" "Halo, Sayang!"Panggilan dari Leo dan Tamara datang serentak dari arah belakang. Ella segera berbalik badan, berusaha memasang senyum manis."Hai!" sapa Ella, lalu berlari ringan ke arah Leo dan merangkul pinggangnya. Ella sengaja bersifat manja kepada Leo di depan Tamara. Matanya menangkap perubahan mimik wajah Tamara yang sedikit kesal, tetapi segera diubah dengan senyum palsu. "Ih ... gemes banget deh pasangan model dan fotografer ini," ucap Tamara dengan nada manja."Apasih, biasa aja, namanya juga orang pacaran," balas Ella, lalu melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Leo. "Eh, tapi kenapa kalian bisa datang barengan?" tanyanya, berting
Aula tempat dilaksanakannya pesta penutupan acara Paris Fashion Week sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Tawa khas saling beradu dengan percakapan penuh sanjungan. Musik melantun lembut membuat suasana menjadi hangat. Ella mengenakan dress panjang dengan potongan off shoulder bewarna emarald green. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepitan kecil sebagai pemanis. Wajah Ella sengaja dirias dengan sentuhan nude, memancarkan aura elegan sekaligus seksi. Dia berjalan memasuki pesta, menuju salah satu meja yang hanya diisi oleh seorang laki-laki berparas asia. ”Selamat malam, Kenny,” sapa Ella hangat. Laki-laki berusia dua puluh delapan tahun dengan stelan jas hitam segera berdiri dari kursinya. Tangannya yang kekar langsung menggantung ke arah Ella. Senyumnya yang manis ikut tergores di bibir warna merah muda alami. ”Selamat malam Ella, senang bisa bertemu denganmu,” sapa Kenny sembari menerima jabatan tangan Ella. ”Ternyata pemilik brand Jelita lebih muda dari bayanganku,” puji
“Yura, kamu dan tim duluan aja ke Bandara. Aku mau ke apartemen Leo dulu,” ucap Ella melalui sambungan telepon kepada menejernya. “Hah? Harus banget malam ini? Ga bisa nunggu balik Paris aja?” balas Yura sedikit emosi melihat jalan pikiran model yang dia handle. ”Engga! Harus hari ini, bentar aja kok. Janji bakal sampai Bandara tepat waktu,” ucap Ella memelas. ”Baiklah. Kabari aku kalau sudah sampai,” ucap Yura mengalah, lalu segera mengajak timnya menuju Bandara untuk menghadiri acar Paris Fashion Week.Senyum Ella merekah saat sampai di gedung apartemen. Sebuah lensa kamera terbaru sudah berada digenggamannya sebagai kado anniversary ke lima tahun hubungannya dengan Leo. Dia sengaja singgah sebentar untuk memberikan kejutan sebelum terbang menuju Paris demi merayakan hari jadi mereka. ”Loh? Kenapa ga kekunci?” ucap Ella pelan ketika mendapati pintu apartemen Leo tidak terkunci. Tatapan matanya langsung beralih ke bagian bawah pintu. Perlahan Ella berjongkok untuk memastikan b







