LOGINDari atas kamarnya, Stefany dapat melihat melalui balik gorden jendela kamarnya. Dia bisa melihat ayahnya, Tuan Frank Madison, sedang memarahi Daniel dengan sangat keras. Suara tuan Frank terdengar seperti sebuah alunan musik rock yang mengiringi temaram senja yang akan berganti malam.
Tuan Frank terlihat marah karena Daniel berani mengajak Stefany menghabiskan waktu bersama di bukit belakang sekolah mereka sampai sore hari. Ternyata Tuan Frank masih saja kesal kepada Daniel. Dia pun mulai memarahi anak lelaki itu, "Sudah berapa kali aku harus mengingatkanmu, Daniel? Stefany adalah putriku, dan aku mengharapkanmu untuk menghormati batasan-batasan itu!" teriak Tuan Frank dengan suara yang penuh kemarahan. Daniel, dengan wajah yang tampak sedih dan kecewa, mencoba menjelaskan, "Uncle Frank, dari tadi kan saya sudah jelaskan, saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan Stefany. Kami hanya ingin menikmati pemandangan indah di bukit belakang sekolah." Tuan Frank menggelengkan kepala dengan tegas. "Ini bukan tentang pemandangan bukit atau waktu bersama! Ini tentang menghormati aturan dan batasan yang telah ditetapkan. Stefany adalah anak perempuan yang harus dilindungi dan dijaga. Kamu harus memahami itu, Daniel!" Daniel menundukkan kepala, tampak menyerah. "Maaf, Uncle Frank. Saya tidak bermaksud melanggar aturan atau membuat Stefany merasa tidak nyaman. Saya hanya ingin membuatnya bahagia." Tuan Frank mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. "Saya mengerti bahwa kamu peduli pada Stefany, Daniel. Tapi sebagai ayahnya, tugas saya adalah melindungi dan menjaga keamanannya. Saya tidak ingin ada risiko atau bahaya yang mengancamnya." Nyonya Emily, ibu dari Stefany, segera keluar dari rumahnya setelah mendengar suara keras Tuan Frank yang memarahi Daniel. Dia ingin menegur suaminya untuk tidak memarahi Daniel karena sebenarnya anak lelaki remaja itu telah meminta izin kepadanya untuk mengajak Stefany pergi sampai sore hari. Namun, Tuan Frank tidak berhenti marah. Dia malah semakin kesal ketika Nyonya Emily memberi izin kepada Daniel tanpa memberitahukannya sebagai ayah Stefany. Nyonya Emily berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju tempat dimana Tuan Frank, suaminya dan Daniel berdiri di pekarangan rumah mereka. Wajahnya tampak cemas dan sedih, mencerminkan kekhawatirannya terhadap Stefany. "Frank, berhenti!" seru Nyonya Emily dengan suara yang bergetar. "Daniel telah meminta izin kepadaku untuk membawa Stefany pergi. Aku tahu kamu khawatir, tapi kita harus memberikan kepercayaan pada mereka." Tuan Frank menatap Nyonya Emily dengan ekspresi marah. "Bagaimana kamu bisa memberi izin Daniel untuk mengajak Stefany pergi sampai sore begini, tanpa memberitahukan kepadaku? Aku adalah ayah Stefany, dan aku harus terlibat dalam keputusan seperti ini!" Nyonya Emily mencoba menjelaskan dengan lembut, "Frank, aku tahu kamu mencintai Stefany dan ingin melindunginya. Tapi kita juga harus memberikan kebebasan dan kepercayaan pada Stefany dan Daniel. Mereka telah lama bersahabat. Kita juga perlu memberi mereka kesempatan untuk belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab." Tuan Frank merasa semakin frustrasi. "Tapi apa yang terjadi jika ada bahaya atau risiko? Bagaimana jika mereka terluka?" Nyonya Emily menarik napas dalam-dalam. "Kita tidak bisa selalu melindungi putri kita dari segala risiko, Frank. Kita harus memberikan Stefany kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Dan kita harus percaya pada Daniel jika dia akan menjaga Stefany dengan baik." “Buktinya, putri kita kembali dengan selamat bersama Daniel,” lanjut Nyonya Emily kepada suaminya. Tuan Frank menggeleng-gelengkan kepala dengan keras. "Aku tidak bisa menerima penjelasanmu, Emily. Aku adalah ayahnya, dan aku harus tahu apa yang terjadi dengan anakku setiap saat. Lagian kamu kenapa malah membela salah satu dari anggota Keluarga Alexander?" sengit Tuan Frank. Mendengar nama keluarganya disebut, membuat Daniel yang tadinya tertunduk, mulai menegakkan kepalanya dan menatap ke arah ayah dari sahabatnya yang dari tadi terus memarahinya. Sementara Nyonya Emily terus mencoba untuk menenangkan suaminya. "Frank, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi kita harus bisa melepaskan sedikit kontrol dan memberikan ruang bagi Stefany untuk menjalani kehidupannya. Kita harus mempercayai putri kita dan memberikan dukungan kepadanya." “Terserah Emily!” seru Tuan Frank, setengah membentak istrinya. Lalu Tuan Frank menatap tajam ke arah Daniel, seraya berkata, “Urusan kita belum selesai!” Tuan Frank, yang sepertinya tidak mau mendengar apa pun yang dikatakan oleh Nyonya Emily, dengan marah meninggalkan pekarangan rumahnya. Dia memasuki rumah dengan langkah yang berat dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Nyonya Emily dan Daniel di pekarangan rumah yang sunyi. Nyonya Emily dan Daniel saling menatap, ekspresi mereka penuh rasa khawatir. Daniel merasa bersalah karena telah menyebabkan kekacauan ini, membuat Tuan Frank dan Nyonya Emily bersitegang. Daniel pun mulai berjalan mendekati Nyonya Emily dengan langkah ragu. "Maafkan aku, Aunty Emily," ucap Daniel dengan suara yang penuh penyesalan. "Aunty … aku tidak bermaksud menyebabkan keributan ini. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Stefany dan membuatnya bahagia," ucap Daniel dari kesungguhan hatinya. Nyonya Emily menatap Daniel dengan penuh empati. Dia menggelengkan kepala dengan lembut. "Daniel, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aunty juga harus meminta maaf karena sikap kasar Uncle Frank kepada mu. Dari dulu dia sangat protektif terhadap Stefany, dan Aunty tahu ayahnya hanya ingin melindunginya." Daniel mengangguk, akan tetapi masih diliputi dengan rasa bersalah. "Aku seharusnya lebih berhati-hati dan berkomunikasi lebih dulu dengan Uncle Frank sebelum membawa pergi Stefany. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaan siapapun." Nyonya Emily meletakkan tangannya di atas tangan anak lelaki remaja itu, memberikan dukungan kepadanya. "Daniel, setiap orang pernah membuat kesalahan. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan ini dan mencari cara untuk memperbaikinya. Aunty harus berbicara dengan Uncle Frank dan mencoba menjelaskan semuanya dengan baik kepadanya." Daniel mengangguk, menghela nafas lega. "Aku setuju, Aunty Emily. Aku akan mencoba meminta maaf kepada Uncle Frank di lain waktu dan menjelaskan jika aku tidak bermaksud melanggar aturan atau membuat Stefany merasa tidak aman." Nyonya Emily tersenyum lembut. "Terima kasih Daniel, kamu memang anak yang baik dan sahabat Stefany yang paling bisa diandalkan. Aunty yakin Uncle Frank akan mendengarkanmu jika kamu dengan tulus meminta maaf dan menjelaskan niat baikmu. Kita harus mengatasi masalah ini sebagai keluarga." Setelah berbicara dengan Nyonya Emily, Daniel pun mulai mengayuh sepedanya menuju ke rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah Stefany, sahabatnya. Malam telah benar-benar menyapa, dan langit mulai terhiasi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip. Daniel merasakan angin malam yang sejuk menyentuh wajahnya saat dia melajukan sepedanya dengan cepat. Lampu jalan yang redup memberikan atmosfer yang tenang dan damai. Meskipun hatinya masih terbebani oleh peristiwa yang baru saja terjadi, tapi Daniel sedikit merasa lega karena telah berbicara dengan Nyonya Emily dan mendapatkan dukungan darinya. Daniel terus mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Setiap kali pemuda itu melihat rumah-rumah yang indah dan taman-taman yang terhampar di sepanjang jalan, dia teringat pada saat-saat menyenangkan yang pernah dirinya habiskan bersama Stefany. Mereka sering bermain di taman, bersepeda bersama, dan menikmati keindahan alam di sekitar mereka. Nyonya Emily, yang masih berdiri di pekarangan rumahnya, menatap kepergian Daniel dengan hati yang lega. Dia sangat menyukai Daniel karena sikapnya yang baik dan sopan. Anak remaja itu selalu memperlakukan Stefany dengan penuh perhatian dan rasa tanggung jawab. Nyonya Emily merasa beruntung putrinya memiliki seorang sahabat seperti Daniel. Saat Daniel semakin menjauh, Nyonya Emily berdoa dalam hati agar Daniel selamat sampai di rumahnya dengan baik. Dia berharap jika kejadian hari ini tidak akan merusak persahabatan dengan Stefany. Sementara itu, Daniel terus mengayuh sepedanya dengan tekad yang kuat. Dia tahu jika dirinya harus berbicara dengan Tuan Frank dan meminta maaf dengan tulus. Meskipun Daniel merasa cemas, namun dia juga berharap bahwa Tuan Frank akan mendengarkan penjelasannya dan memberikan kesempatan kedua.Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kepergian Stefany dan keluarganya dari desa Bibury seakan lenyap ditelan bumi. Tidak ada kabar apa pun dari mereka, tak ada satu pun pesan yang ditinggalkan. Nomor ponsel Stefany juga sudah tidak dapat dihubungi lagi. Bagi Daniel, waktu seolah berhenti sejak hari itu. Hari di mana dia terakhir kali berjanji untuk bertemu Stefany di taman desa. Namun gadis itu tidak pernah datang menemuinya di taman desa.Setiap malam sebelum tidur, Daniel selalu teringat senyum manis Stefany, berharap suatu hari gadis itu akan kembali ke pelukannya.“Stefy, Sayang. Kamu sebenarnya berada di mana saat ini? Aku sungguh sangat merindukanmu,” seru Daniel dari kesungguhan hatinya.Marsha dan Caroline, dua sahabat dekat Stefany, juga merasa kehilangan. Mereka sering berkumpul di taman desa bersama Daniel, berbagi cerita tentang Stefany yang mereka rindukan. Namun, rasa rindu itu hanya menyisakan kehampaan tanpa jawaban.“Daniel, kamu harus tabah,” ucap Marsha suatu
Pagi ini, begitu cerah meskipun cuaca masih tetap dingin. Salju yang semalam menutupi desa perlahan berhenti turun, menyisakan pemandangan putih yang membentang sejauh mata memandang. Daniel membuka tirai jendela kamarnya dan tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Udara dingin yang merasuk lewat celah-celah jendela tak mampu mengusik semangatnya. Hari ini adalah hari yang spesial bagi sang pria remaja. Dia akan bertemu Stefany di taman desa, seperti janji mereka tadi malam saat selesai merayakan malam natal.Daniel segera mandi, mengenakan sweater tebal biru tua yang menjadi favoritnya, serta jaket coklat tua yang biasa dipakai olehnya di musim dingin. Setelah itu, dia turun ke dapur untuk sarapan bersama keluarganya.“Pagi, Mommy!” sapa Daniel nada ceria kepada Nyonya Miriam, sang ibu.“Pagi, Dani. Kok kamu ceria sekali pagi-pagi begini?” tanya ibunya sambil menuangkan susu hangat ke gelas.“He-he-he. Hari ini aku mau ketemu Stefany di taman desa. Kami sudah janjian, Mommy.” jawab
Suasana malam semakin sunyi dan tenang. Udara dingin menyelimuti Desa Bibury, dengan salju lembut yang turun dari langit gelap. Lampu-lampu jalanan menerangi jalur setapak yang tertutup salju tipis, memberikan suasana magis khas malam Natal. Di tengah keheningan, langkah-langkah kaki kecil terdengar, menghancurkan keheningan salju di bawahnya. Stefany, seorang gadis remaja cantik dan anggun, sedang melangkah pelan menuju rumahnya. Jaket tebal yang sedang dipakai olehnya melindunginya dari dingin, sementara syal merah melilit lehernya. Stefany baru saja pulang dari acara natal remaja desa setelah menghabiskan waktu mengikuti perayaan natal yang begitu sangat meriah di desa itu l.“Malam yang indah,” gumam Stefany, menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang kecil.Namun, keindahan malam itu seketika berubah ketika sebuah mobil hitam melaju perlahan dari arah berlawanan. Stefany sempat memperhatikan mobil tersebut, merasa ada yang aneh karena jarang ada kendaraan melintas malam-
Desa Bibury yang biasanya tenang kini terasa sunyi, hanya suara angin malam dan salju yang jatuh perlahan menemani kegelapan. Di kediaman keluarga Madison, suasana terasa tegang. Lampu di setiap ruangan menyala terang, namun suasana hati di dalam rumah itu sama sekali tidak mencerminkan damai di malam Natal.Di kamar Stefany, Nyonya Emily Madison tampak sibuk memasukkan baju-baju putrinya ke dalam sebuah koper besar. Tangannya bergerak cepat, akan tetapi hatinya terasa berat. Beberapa kali dia menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.Ternyata Tuan Frank telah mengetahui hubungan percintaan Stefany dan Daniel, atas laporan dari Pablo dan Abner, remaja nakal yang selalu ikut campur urusan orang lain."Emily, kamu sudah selesai berkemas?" suara Tuan Frank tiba-tiba terdengar dari luar pintu kamar.Nyonya Emily mengusap matanya dengan cepat, lalu menjawab, "Sebentar lagi, Frank. Aku hampir selesai mengemasi barang-barang Stefany."“Lebih ce
Semarak malam natal di gereja St. Mary yang berdiri megah di tengah-tengah Desa Bibury masih menggema di udara malam yang dingin. Salju masih turun perlahan, menyelimuti jalanan berbatu yang sudah putih bersih. Di dalam gereja, suasana begitu hangat dan meriah. Puluhan lilin menghiasi altar, memancarkan sinar temaram yang menciptakan suasana damai di malam yang istimewa ini.Daniel dan Stefany berdiri di pojok ruangan bersama beberapa teman mereka, tertawa bahagia sambil menikmati kue Natal dan coklat hangat. Sesekali mereka berbincang serius, lalu tertawa kembali ketika ada yang melontarkan lelucon. Ibadah natal telah usai dari tadi. Kini giliran para remaja desa tersebut yang sedang menikmati malam natal dengan kegiatan pemuda gereja.Mata Daniel tak henti-hentinya memperhatikan Stefany yang tampak begitu anggun dengan mantel putih dan syal merah yang melilit lehernya. Dia pun mendekati kekasihnya, lalu berbisik lembut,"Stefy, kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap Daniel s
Masih di acara malam natal di Desa Bibury,Udara dingin menyelimuti desa Bibury malam itu, akan tetapi suasana tetap hangat oleh kebahagiaan yang terpancar dari Gereja St. Mary. Setelah ibadah malam Natal, para jemaat langsung pulang ke rumah masing-masing. Namun tidak bagi remaja desa itu. Anak-anak remaja, termasuk Daniel, Stefany, Caroline, Marsha, Filbert, Hugo, Abner, dan Pablo, dan teman-teman lainnya, bersama bersama kedua sepupu Daniel yang datang dari kota, berkumpul di halaman gereja.Acara yang telah dipersiapkan oleh para remaja tersebut berlangsung meriah. Aroma daging yang dibakar di atas bara api bercampur dengan gelak tawa yang memenuhi suasana malam itu. Salju turun perlahan, menutupi tanah dengan lapisan putih yang lembut.“Daniel, kamu sudah siap untuk melempar bola salju?” tanya Filbert sambil mengangkat gumpalan salju di tangannya.Daniel tersenyum penuh semangat. “Awas kamu, Filbert! Aku tidak akan kalah kali ini!”Remaja lainnya ikut bergabung, membentuk dua k







