Mag-log inDi dalam kamarnya, Stefany duduk sendiri di tepi tempat tidurnya. Wajahnya basah oleh air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Suara tangisnya yang tersedu-sedu memenuhi ruangan itu, mencerminkan kesedihan dan keputusasaan yang mendalam. Dia sangat kasihan melihat sahabatnya, Daniel, yang baru saja dimarahi oleh ayahnya, Tuan Frank.
Stefany merasa hatinya hancur melihat bagaimana Tuan Frank memarahi Daniel dengan keras. Dia sangat mengerti jika sahabatnya itu tidak bermaksud membuatnya dalam bahaya atau melanggar aturan. Keduanya hanya ingin menghabiskan waktu bersama dan menikmati momen indah di bukit belakang sekolah, mereka sampai sore menjelang. Namun, Tuan Frank tidak mengerti atau menerima penjelasan itu. Dia terlalu protektif dan khawatir akan keselamatan putrinya. Tapi, Stefany merasa bahwa Tuan Frank tidak melihat sisi lain dari cerita ini, yaitu persahabatan yang kuat antara dirinya dan Daniel. “Daniel, semoga kamu kuat menghadapi amarah ayahku,” harapnya dalam hati. Stefany merasa sangat terpukul oleh sikap ayahnya. Dia merasa tak berdaya dan tidak bisa melawan keputusan atau pendapat ayahnya. Air mata terus mengalir dari matanya, dan dirinya merasa sangat lelah dan kecewa. Tak mampu menahan kesedihannya, Stefany memilih untuk memendamkan wajahnya di bawah bantal. Dia ingin menenangkan dirinya sendiri, mencoba menghapus semua kesedihan dan kekecewaan yang melanda hatinya. Anak gadis itu berharap jika dengan menangis, dia bisa melepaskan beban emosional yang sedang dirasakan olehnya. Stefany merasa jika dunianya seperti hancur saat ini. Dia merasa kehilangan dan tidak bisa memahami kenapa dari dulu hubungan antara ayahnya dan Daniel begitu tegang. Dia ingin semua orang bahagia dan saling memahami, akan tetapi tampaknya impian itu semakin jauh dari kenyataan. “Kenapa dari dulu Daddy tidak pernah suka kepada Daniel? Padahal Daniel sangat baik kepadaku dan selalu melindungiku dari Si pengacau Pablo dan Abner!” serunya sedih. Sambil menangis, Stefany berharap jika suatu hari nanti semuanya akan membaik. Dia berharap kalau ayahnya akan mengerti perspektifnya dan memberikan kesempatan bagi persahabatannya dengan Daniel. Stefany ingin kembali merasakan kehangatan dan keceriaan yang selalu ada ketika bersama dengan Daniel. Dalam keheningan kamarnya yang gelap, suara tangis Stefany terdengar seperti rintihan yang terjebak di dalam hatinya. Dia merasakan kekosongan dan kehilangan yang mendalam, akan tetapi juga menyadari jika dirinya harus tetap kuat. Sang anak gadis harus mencari cara untuk mengatasi situasi ini dan mencari jalan keluar dari keputusasaan yang sedang dia rasakan. Stefany tahu jika dirinya tidak sendiri. Dia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya, Daniel. Meskipun saat ini mereka sedang terpisah oleh perbedaan pendapat dan keputusan orang dewasa, makin Stefany berjanji untuk tetap bersama Daniel dan memperjuangkan persahabatan mereka. “Semoga suatu saat Daddy bisa luluh dan menerima persahabatanku dengan Daniel,” harapnya dalam hati. Dalam kegelapan kamarnya, Stefany masih menangis. Namun dia berharap jika suatu hari nanti semua akan baik-baik saja. Dia berjanji untuk tetap kuat dan tidak menyerah. Anak gadis itu percaya kalau cahaya akan datang setelah kegelapan, dan persahabatannya dengan Daniel akan mengatasi semua rintangan yang ada. Sambil menangis, Stefany berdoa dalam hati, seraya memohon agar keadaan bisa berubah dan semua bisa kembali seperti semula. Dia berharap agar ayahnya bisa melihat betapa pentingnya persahabatan itu dan memberikan kesempatan kedua bagi Daniel. Dalam keheningan malam yang gelap, tangis Stefany menjadi saksi bisu dari perasaannya yang terluka dan harapan yang masih tersimpan di dalam hatinya. Dia berjanji untuk tetap kuat dan tidak menyerah, karena Stefany tahu jika persahabatannya dengan Daniel adalah sesuatu yang berharga dan layak untuk diperjuangkan. Setelah menangis lama, Stefany merasa kelelahan yang mendalam. Air mata yang basah masih menghiasi pipinya saat dia mencoba untuk tenang dan mencoba tidur. Anak gadis itu pun berbaring di tempat tidurnya dan memejamkan mata, dan berharap bisa menenangkan dirinya sendiri setelah peristiwa yang memilukan tadi. Namun, ketenangannya tiba-tiba terganggu oleh suara pintu yang terbuka dengan kasar. Stefany terkejut ketika melihat ayahnya, Tuan Frank, masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang penuh kemarahan. Hati Stefany berdegup kencang, merasakan ketakutan dan kecemasan yang mendalam. "Daddy …." Stefany berkata dengan suara yang gemetar "Aku ... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau mengabaikan aturan yang telah ditetapkan," ucapnya memelas Tuan Frank menatap ke arah putrinya dengan sangat tajam, ekspresinya penuh dengan kemarahan. "Stefany, Daddy sangat kecewa padamu. Daddy telah memberikanmu batasan dan peraturan yang jelas, akan tetapi kamu malah dengan sengaja melanggarnya. Kamu tidak boleh pergi bersama Daniel lagi kedepannya!" Stefany mencoba menjelaskan, "Tapi Daddy, aku ... aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan sahabatku. Kami tidak bermaksud melanggar aturan atau membuatmu khawatir." Sepertinya Tuan Frank tidak mau mendengar penjelasan Stefany. Wajahnya semakin merah dan penuh amarah. "Itu bukan alasan yang bisa membenarkan perilakumu, Stefy! Kamu tetap telah melanggar aturan dari Daddy! Maka dari itu, Daddy memberikanmu hukuman! Kamu tidak boleh keluar rumah selama seminggu! Dimulai dari sekarang!" “Apa?” Stefany sangat terkejut dan terpukul mendengar hukuman yang diberikan oleh ayahnya. Air mata kembali mengalir dari matanya, dia merasa jikaa hukuman ini tidak adil. Gadis itu seakan-akan terkekang dan tidak bisa melakukan apapun yang dirinya inginkan. "Daddy, itu terlalu berlebihan!" Stefany berteriak dengan suara keras, mencoba membela dirinya sendiri. "Daddy Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa menerima hukuman seperti ini. Bagaimana dengan sekolahku? Masa aku harus bolos selama seminggu?" “Kamu harus mengikuti semua perkataan Daddy! Titik!” Ternyata Tuan Frank tidak mau mendengar apapun pembelaan dari Stefany. Dia mengabaikan tangisan putrinya dan dengan kasar meninggalkan kamarnya. Pintu kamar Stefany dibanting dengan keras, meninggalkan Stefany yang terguncang dan merasa sendirian. Stefany merasakan keputusasaan yang mendalam. Dia tidak bisa memahami kenapa ayahnya begitu keras dan tidak mau mendengar penjelasannya. Gadis itu merasa terjebak dalam keadaan yang tidak adil dan tidak mampu melawan keputusan ayahnya. Dalam kegelapan kamarnya, Stefany terbaring dengan hati yang hancur. Air mata terus mengalir dan dia merasa terjebak dalam situasi yang tidak adil. Dia merasa putus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. "Daniel," Stefany berbisik dalam hati. "Aku butuh kamu sekarang. Aku butuh dukunganmu dan kekuatanmu untuk melewati semua ini. Ternyata hanya kamu yang mengerti semua tentangku," ucapnya sambil masih meneteskan air matanya. Dalam keheningan malam yang gelap, Stefany berharap jika sang ayahnya mau mendengarkan penjelasannya dan memahami dirinya. Dia berharap ada kesempatan untuk berbicara dengan ayahnya dan mencari jalan tengah yang adil baginya. Sambil menangis, Stefany berdoa agar keadaan bisa berubah. Dia berjanji untuk tetap kuat dan tidak menyerah, meskipun hukuman yang diberikan ayahnya sangat berat baginya. “Daniel … aku merindukanmu,” tuturnya sambil menatap bulan dari balik tirai jendela kamarnya, meratapi kesedihan hatinya.Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kepergian Stefany dan keluarganya dari desa Bibury seakan lenyap ditelan bumi. Tidak ada kabar apa pun dari mereka, tak ada satu pun pesan yang ditinggalkan. Nomor ponsel Stefany juga sudah tidak dapat dihubungi lagi. Bagi Daniel, waktu seolah berhenti sejak hari itu. Hari di mana dia terakhir kali berjanji untuk bertemu Stefany di taman desa. Namun gadis itu tidak pernah datang menemuinya di taman desa.Setiap malam sebelum tidur, Daniel selalu teringat senyum manis Stefany, berharap suatu hari gadis itu akan kembali ke pelukannya.“Stefy, Sayang. Kamu sebenarnya berada di mana saat ini? Aku sungguh sangat merindukanmu,” seru Daniel dari kesungguhan hatinya.Marsha dan Caroline, dua sahabat dekat Stefany, juga merasa kehilangan. Mereka sering berkumpul di taman desa bersama Daniel, berbagi cerita tentang Stefany yang mereka rindukan. Namun, rasa rindu itu hanya menyisakan kehampaan tanpa jawaban.“Daniel, kamu harus tabah,” ucap Marsha suatu
Pagi ini, begitu cerah meskipun cuaca masih tetap dingin. Salju yang semalam menutupi desa perlahan berhenti turun, menyisakan pemandangan putih yang membentang sejauh mata memandang. Daniel membuka tirai jendela kamarnya dan tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Udara dingin yang merasuk lewat celah-celah jendela tak mampu mengusik semangatnya. Hari ini adalah hari yang spesial bagi sang pria remaja. Dia akan bertemu Stefany di taman desa, seperti janji mereka tadi malam saat selesai merayakan malam natal.Daniel segera mandi, mengenakan sweater tebal biru tua yang menjadi favoritnya, serta jaket coklat tua yang biasa dipakai olehnya di musim dingin. Setelah itu, dia turun ke dapur untuk sarapan bersama keluarganya.“Pagi, Mommy!” sapa Daniel nada ceria kepada Nyonya Miriam, sang ibu.“Pagi, Dani. Kok kamu ceria sekali pagi-pagi begini?” tanya ibunya sambil menuangkan susu hangat ke gelas.“He-he-he. Hari ini aku mau ketemu Stefany di taman desa. Kami sudah janjian, Mommy.” jawab
Suasana malam semakin sunyi dan tenang. Udara dingin menyelimuti Desa Bibury, dengan salju lembut yang turun dari langit gelap. Lampu-lampu jalanan menerangi jalur setapak yang tertutup salju tipis, memberikan suasana magis khas malam Natal. Di tengah keheningan, langkah-langkah kaki kecil terdengar, menghancurkan keheningan salju di bawahnya. Stefany, seorang gadis remaja cantik dan anggun, sedang melangkah pelan menuju rumahnya. Jaket tebal yang sedang dipakai olehnya melindunginya dari dingin, sementara syal merah melilit lehernya. Stefany baru saja pulang dari acara natal remaja desa setelah menghabiskan waktu mengikuti perayaan natal yang begitu sangat meriah di desa itu l.“Malam yang indah,” gumam Stefany, menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang kecil.Namun, keindahan malam itu seketika berubah ketika sebuah mobil hitam melaju perlahan dari arah berlawanan. Stefany sempat memperhatikan mobil tersebut, merasa ada yang aneh karena jarang ada kendaraan melintas malam-
Desa Bibury yang biasanya tenang kini terasa sunyi, hanya suara angin malam dan salju yang jatuh perlahan menemani kegelapan. Di kediaman keluarga Madison, suasana terasa tegang. Lampu di setiap ruangan menyala terang, namun suasana hati di dalam rumah itu sama sekali tidak mencerminkan damai di malam Natal.Di kamar Stefany, Nyonya Emily Madison tampak sibuk memasukkan baju-baju putrinya ke dalam sebuah koper besar. Tangannya bergerak cepat, akan tetapi hatinya terasa berat. Beberapa kali dia menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.Ternyata Tuan Frank telah mengetahui hubungan percintaan Stefany dan Daniel, atas laporan dari Pablo dan Abner, remaja nakal yang selalu ikut campur urusan orang lain."Emily, kamu sudah selesai berkemas?" suara Tuan Frank tiba-tiba terdengar dari luar pintu kamar.Nyonya Emily mengusap matanya dengan cepat, lalu menjawab, "Sebentar lagi, Frank. Aku hampir selesai mengemasi barang-barang Stefany."“Lebih ce
Semarak malam natal di gereja St. Mary yang berdiri megah di tengah-tengah Desa Bibury masih menggema di udara malam yang dingin. Salju masih turun perlahan, menyelimuti jalanan berbatu yang sudah putih bersih. Di dalam gereja, suasana begitu hangat dan meriah. Puluhan lilin menghiasi altar, memancarkan sinar temaram yang menciptakan suasana damai di malam yang istimewa ini.Daniel dan Stefany berdiri di pojok ruangan bersama beberapa teman mereka, tertawa bahagia sambil menikmati kue Natal dan coklat hangat. Sesekali mereka berbincang serius, lalu tertawa kembali ketika ada yang melontarkan lelucon. Ibadah natal telah usai dari tadi. Kini giliran para remaja desa tersebut yang sedang menikmati malam natal dengan kegiatan pemuda gereja.Mata Daniel tak henti-hentinya memperhatikan Stefany yang tampak begitu anggun dengan mantel putih dan syal merah yang melilit lehernya. Dia pun mendekati kekasihnya, lalu berbisik lembut,"Stefy, kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap Daniel s
Masih di acara malam natal di Desa Bibury,Udara dingin menyelimuti desa Bibury malam itu, akan tetapi suasana tetap hangat oleh kebahagiaan yang terpancar dari Gereja St. Mary. Setelah ibadah malam Natal, para jemaat langsung pulang ke rumah masing-masing. Namun tidak bagi remaja desa itu. Anak-anak remaja, termasuk Daniel, Stefany, Caroline, Marsha, Filbert, Hugo, Abner, dan Pablo, dan teman-teman lainnya, bersama bersama kedua sepupu Daniel yang datang dari kota, berkumpul di halaman gereja.Acara yang telah dipersiapkan oleh para remaja tersebut berlangsung meriah. Aroma daging yang dibakar di atas bara api bercampur dengan gelak tawa yang memenuhi suasana malam itu. Salju turun perlahan, menutupi tanah dengan lapisan putih yang lembut.“Daniel, kamu sudah siap untuk melempar bola salju?” tanya Filbert sambil mengangkat gumpalan salju di tangannya.Daniel tersenyum penuh semangat. “Awas kamu, Filbert! Aku tidak akan kalah kali ini!”Remaja lainnya ikut bergabung, membentuk dua k







