Share

09. POSISI YANG LEBIH TERHORMAT

Penulis: Ryanty_tian
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-06 00:16:42

Langkah sepatu hak tinggi Athena bergema di sepanjang lorong lantai atas gedung Harrington Enterprise. Di sampingnya, Norah tampak menunduk sopan, menekan tombol lift dengan sedikit gemetar.

“Sepertinya Tuan Max sedang marah, Nyonya,” gumam Norah pelan saat pintu lift tertutup.

Athena mengangkat alis tanpa ekspresi. “Aku sudah tidak heran lagi dengan sikapnya, dia memang selalu marah. Aku bahkan heran kalau suatu hari dia tidak marah dan berteriak padaku.”

Tapi di dalam hatinya, rasa waswas tetap muncul. Kali ini, firasatnya tidak baik.

Sesampainya di luar ruang direktur, Flore, sekretaris baru pilihan Max menyambut mereka dengan senyum tipis. Wanita itu tampil cantik dan percaya diri, namun sikapnya dingin dan menyiratkan arogansi.

“Tuan Max menunggu di dalam,” ucapnya singkat.

Athena hanya melirik sekilas dan berkata pada Norah, “Kau tunggu di luar saja.”

Norah mengangguk, “baik, Nyonya.” Dan Athena pun melangkah masuk.

Athena mendorong pintu ruang direktur. Aroma tajam tembakau langsung menyeruak. Max duduk di balik meja besar, setengah menyandar, satu tangan memainkan rokok yang menyala meski di dinding jelas terpampang tanda larangan merokok.

Asap mengepul pelan di atas kepalanya, membuat suasana semakin tegang.

“Ada apa kau menyuruhku datang?” tanya Athena, tanpa basa-basi.

Tanpa menjawab, Max melemparkan satu berkas ke meja di depannya dengan kasar. “Kau menyetujui proyek ini tanpa pengecekan. Distributor itu palsu, pabriknya kosong. Ini akan membuat kerugian besar!”

Athena menatap dokumen itu. Ditatapnya satu demi satu halaman, dan dia langsung sadar ini bukan proyek yang pernah dia tangani. Tapi di sana jelas tertulis tandatangannya.

“Aku ... aku tidak pernah menyetujui proyek ini,” ujar Athena pelan, tapi yakin.

“Jangan berbohong!” bentak Max, berdiri dan memutari mejanya, kini berdiri hanya beberapa langkah dari Athena. “Tanda tanganmu jelas ada di sana, Athena.”

Athena berusaha tenang. “Tanda tanganku memang ada, tapi aku tidak sadar dokumen itu bagian dari proyek ini. Aku kira itu laporan lanjutan dari proyek sebelumnya, dan saat itu aku terburu-buru. Ini kesalahanku tapi bukan sabotase.”

“Kau sengaja ingin menipuku dan membuatku rugi besar, huh. Kau ingin balas dendam!” tekan Max tajam.

Athena menggeleng, ingin membela diri tapi Max sudah terlanjur kesal.

“Kau harus diberi hukuman!”

Athena menelan saliva berat, tidak.

Max menunduk, berbisik di telinga Athena dengan parau, “naiklah ke meja!” Perintahnya.

Aura Max saat marah memang berbeda, dan itu sangatlah mematikan. “Saat ini aku sedang kesal, dan membutuhkan pelampiasan untuk itu. Dan kau sangat pas untuk hal itu.”

“Cepat lakukan, Athena. Aku ada rapat lima belas menit lagi.”

Athena ujung pakaiannya, dia naik meja sesuai perintah. Dia memejamkan mata, menahan perih fisik dan hatinya saat Max hanya menjadikannya pelampiasan hasrat amarahnya. Tak ada pemanasan, tak ada ciuman lembut, hanya ada kebutuhan saja.

Sudut mata Athena mengalir air mata, apa pun yang dia lakukan akan selalu salah di mata Max. Apa pun itu.

“Pergilah, aku sudah tidak membutuhkanmu di sini.” Max berkata sembari membenarkan celananya.

Athena hanya diam dan mengangguk saja. Setelah itu dia keluar dari ruangan bersama Max yang akan hadir di rapat bersama Flore, terlihat sekretaris itu menatap sinis Athena yang penampilannya berbeda saat masuk tadi.

“Dia datang hanya untuk ditiduri saja,” gumam Flore tepat saat dia melewati Athena yang bersama Norah.

Begitu sampai di lantai dasar, langkah Athena terhenti. Seorang pria dengan mengenakan jas gelap, dengan senyum miring yang membuat siapa pun tak nyaman. Ketika pandangan mereka bertemu, Athena terdiam.

“Athena.”

Suara Hudson begitu tenang, namun menyiratkan ancaman. Mereka kini berdiri berhadapan di ruang tunggu tertutup yang disediakan untuk pengunjung.

Athena memicingkan mata. “Apa yang kau lakukan di sini?” suaranya datar, namun cukup tajam untuk menusuk udara dingin gedung Harrington.

Hudson menyeringai. “Masih saja bertahan di bawah cengkeraman Max ternyata? Hidupmu terlihat semakin menyedihkan saja, Athena.”

Norah, yang melihat ketegangan itu, menunduk sopan dan mundur, keluar dari ruangan itu dan berjaga di luar. Athena tetap tenang, meski hatinya meradang.

“Aku lebih memilih menderita di tangan Max, daripada menjadi boneka mainanmu yang tidak tahu batas,” balas Athena dingin, berdiri tegak dengan sorot tajam. “Jangan kira aku lupa siapa dirimu, Hudson. Aku tahu persis ke mana arah semua niat busukmu.”

Hudson tertawa pelan, suaranya nyaris seperti ejekan. “Masih berani bicara sekeras itu, padahal posisimu sekarang bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.”

Athena mengabaikannya, tapi Hudson maju selangkah, cukup dekat hingga auranya terasa menekan.

“Kau selalu menjadi wanita yang menarik, selalu, Athena. Tapi sayang, kau terlalu keras kepala untuk melihat peluang. Max memperbudakmu secara fisik dan mental, dan kau membiarkannya. Setidaknya aku dulu menawarimu posisi yang lebih terhormat.”

“Menjadi peliharaanmu bukanlah suatu kehormatan.” Athena membalas dingin. “Kau hanya mencoba menutupi kebusukanmu dengan janji yang kau bungkus rapi.”

Hudson mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah flashdisk.

“Ini apa?” tanya Athena menatap Hudson sambil mengulurkan tangannya untuk menerima.

Hudson tersenyum tipis, dengan berani dia menarik helaian rambut panjang Athena. Perlahan hingga ujungnya pun terjatuh “Kau akan tahu saat melihat isinya.”

Athena ragu, tapi matanya tak berkedip.

Athena hendak bertanya, tapi langkah-langkah tergesa dan suara pintu terbuka membuatnya refleks. Jantung Athena berdegup kencang.

Dalam sepersekian detik, ia menoleh ke sekitar, lalu menyelipkan flashdisk itu di balik pot bunga besar di sudut ruangan. Jari-jarinya sempat gemetar.

“Aku tidak tahu kalau Paman berada di sini dan bersama istriku.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Racun Pernikahan: Ciumanku membuat SANG CEO Tunduk   97. MENCEKAM

    Max masih berdiri tegak di tengah aula, posturnya sama sekali tidak menunjukkan tanda terdesak. Tatapannya justru tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Sorot mata itu membuat beberapa pemegang saham tanpa sadar menelan ludah.“Apa kau yakin stempel dan berkas itu asli?” tanya Max santai, seolah mereka sedang membicarakan kontrak kecil, bukan kepemilikan seluruh keluarga Gregory.Rosetta mendengus, dagunya terangkat penuh percaya diri. “Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu membawa barang palsu ke hadapan semua orang.”Max terkekeh pelan. Suara tawanya pendek, namun sarat ejekan.“Kau memang licik,” ucapnya, lalu menatap Rosetta lurus-lurus, “tapi rupanya licik tidak selalu sejalan dengan cerdas.”Suasana aula langsung menegang. Beberapa orang saling berpandangan, bingung dengan perubahan arah percakapan ini.“Bermain dengan orang sepertimu,” lanjut Max dengan senyum miring, “tentu aku harus lebih licik lagi. Kau benar-benar berpikir aku akan menyimpan barang sepenting itu di rumah,

  • Racun Pernikahan: Ciumanku membuat SANG CEO Tunduk   96. PERANG DIMULAI

    Langkah Max menggema begitu ia memasuki aula utama perusahaan Gregory. Suasana yang semula riuh mendadak menegang. Beberapa orang spontan menoleh, sebagian menahan napas, sebagian lain saling bertukar pandang. Di sisi lain ruangan, Rosetta berdiri dengan tenang, diapit beberapa pria berpakaian hitam—pengawalnya. Tak jauh darinya, beberapa pemegang saham senior terlihat berdiri di belakang Rosetta, jelas menunjukkan keberpihakan mereka.“Kau cepat sekali datang, Max,” sapa Rosetta, nada suaranya ringan, nyaris mengejek.Max melangkah maju tanpa tergesa. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras. Dadanya bergemuruh, amarah dan kecemasan berkelindan, namun ia memaksa semuanya tetap tersembunyi.“Aku sudah tahu permainan licik yang kau mainkan,” ucapnya dingin. “Sekarang katakan di mana Athena.”Rosetta tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanyalah lelucon. “Wah, di saat seperti ini kau malah lebih mementingkan wanita itu.” Ia memiringkan kepala, tersenyum tipis. “Hebat juga pengaruhny

  • Racun Pernikahan: Ciumanku membuat SANG CEO Tunduk   95. KUDETA

    Athena duduk di sisi ranjang Hans, jemarinya menggenggam tangan ayahnya yang terasa lebih hangat dibanding terakhir kali ia sentuh di rumah sakit. Mereka kini berada di sebuah vila tersembunyi milik Rosetta, jauh dari kota, dikelilingi pepohonan tinggi dan penjagaan ketat. Tempat itu sunyi, terlalu sunyi, seolah dunia luar tak pernah ada.Hans masih tertidur karena efek obat penenang, napasnya teratur meski wajahnya tampak jauh lebih pucat. Athena menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan ayahnya.“Pa… akhirnya kita lepas,” bisiknya lirih, suaranya bergetar. “Kali ini Max tidak akan bisa menemukan kita.”Janji Rosetta ternyata bukan omong kosong. Hans benar-benar dibawa pergi, dijauhkan dari jangkauan Max. Dan kesadaran itu membuat dada Athena terasa sesak antara lega, bersalah, dan hancur bersamaan.Ketukan pelan terdengar di pintu.Athena menoleh. Pintu terbuka perlahan dan Athala masuk dengan langkah tenang, wajahnya tetap datar seperti biasa.“Nyonya Rosetta menunggumu,” u

  • Racun Pernikahan: Ciumanku membuat SANG CEO Tunduk   94. HILANG TANPA JEJAK

    Max tiba di perusahaan Harrington dengan langkah tergesa, rahangnya mengeras sejak kaki pertama menginjak lantai lobi. Nalurinya berteriak ada sesuatu yang salah. Ia bahkan tak sempat menyapa siapa pun, langsung menuju lantai atas, ruang kerja Athena.Namun begitu pintu terbuka, ruangan itu kosong. Tidak ada Athena. Tidak ada suara ketikan. Tidak ada aroma kopi yang biasa menemani perempuan itu bekerja.Max berhenti tepat di ambang pintu.“Di mana Athena?” tanyanya dingin, suaranya menggema di ruangan yang sunyi.Norah yang berdiri tak jauh darinya tampak terkejut. “Nyonya tidak ada, Tuan.”“Apa maksudmu tidak ada?” Max berbalik tajam. “Sejak kapan?”Norah menelan ludah. “Tadi siang Nyonya masih di sini. Beliau meminta saya keluar sebentar untuk membelikan minuman. Tapi saat saya kembali, kantor ini sudah kosong.”Dada Max terasa mengencang. “Kau tidak melihat dia pergi?”Norah menggeleng cepat. “Tidak, Tuan. Saya juga heran. Biasanya Nyonya akan memberi tahu jika hendak kelua

  • Racun Pernikahan: Ciumanku membuat SANG CEO Tunduk   93. SEMUA JELAS

    Ia memejamkan mata, namun bayangan itu tak mau pergi. Wajah Max yang tersenyum samar di tengah tragedi. Keheningan yang disengaja. Penantian sampai nyawa benar-benar hilang.Ia berharap, sungguh berharap bahwa kecelakaan itu hanyalah kecelakaan yang diperintahkan oleh orang lain, permainan kotor bisnis, atau tangan pihak lain. Ia masih bisa menerima itu. Masih bisa berdamai.Tapi ini. Ini adalah Max.Pria yang ia peluk semalam. Pria yang berjanji memulai segalanya dari awal. Pria yang berkata membenci pengkhianat.Athena tertawa kecil di sela isaknya, tawa pahit yang terdengar rapuh. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Bukan hanya karena kehilangan tapi karena pengkhianatan yang jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.Hatinya remuk. Kepercayaannya hancur. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Athena menyadari satu hal yang membuat tubuhnya menggigil ketakutan bahwa pria yang ia cintai adalah monster yang sesungguhnya.Athena menghapus sisa air matanya denga

  • Racun Pernikahan: Ciumanku membuat SANG CEO Tunduk   92. FAKTA MENGERIKAN

    Athala.Nama itu membuat Athena terdiam sejenak.Ia menoleh saat pintu ruang kerjanya terbuka, dan benar saja Athala berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Athena segera berdiri, menyembunyikan keterkejutannya, lalu memberi isyarat halus agar Norah tidak masuk.“Masuk,” ucap Athena tenang. “Duduklah.”Athala melangkah masuk tanpa basa-basi, duduk di kursi di depan meja Athena. Tatapannya tajam, seolah sedang menimbang setiap gerak-gerik wanita di hadapannya.“Ada apa kau ke sini?” tanya Athena, suaranya terkendali meski dadanya terasa mengencang.Athala tidak langsung menjawab. Ia menautkan jarinya, lalu menatap Athena lurus-lurus.“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya akhirnya. “Apa benar kau sudah berbaikan dengan Tuan Max?”Pertanyaan itu membuat Athena terdiam. Ia menunduk perlahan. Bukan karena takut melainkan karena ia tahu, pertanyaan itu memang harus dijawab. Ini di luar rencana. Di luar skema yang selama ini ia bangun bersama Rosett

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status