MasukMax menghampirinya, menggenggam tangannya, lalu mengecup keningnya dengan penuh kelegaan. “Kau sudah melakukannya dengan baik, Sayang.”Athena tersenyum lemah. “Mereka baik-baik saja?”“Ya. Dokter bilang mereka baik.”Barulah Max menoleh kepada Hans, yang berdiri beberapa langkah dari ranjang, memandang putrinya dengan mata berkaca-kaca.“Papa,” panggil Athena lirih.Hans segera mendekat. “Bagaimana keadaanmu, Nak?”“Aku baik-baik saja, Pa.”Hans mengusap kepala Athena dengan penuh kasih sayang, lalu menatap kedua bayi yang baru saja lahir. Wajahnya melunak, dan untuk beberapa saat, dia benar-benar lupa bahwa Max berdiri di sisi lain ranjang.Namun, ketika Athena memperkenalkan kedua bayi mereka dan Hans mengangkat wajah, tatapannya kembali bertemu dengan Max.Keduanya terdiam.Hans ingin mengucapkan sesuatu kepada menantunya. Mungkin ucapan terima kasih karena telah menjaga Athena, atau sekadar mengakui bahwa Max juga telah melalui masa menunggu yang menegangkan. Namun, kat
Athena akhirnya dibawa ke rumah sakit ketika kontraksi yang dirasakannya semakin kuat. Max terus berada di sisinya sepanjang perjalanan, menggenggam tangannya erat-erat dan berusaha menenangkan istrinya meskipun kecemasan mulai menguasai dirinya sendiri.“Max, sakit sekali,” keluh Athena, wajahnya menegang menahan nyeri.Max mengusap rambutnya dengan lembut. “Bertahanlah, Sayang. Sebentar lagi kita sampai.”“Aku takut.”Max menunduk, mengecup keningnya. “Aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.”Namun, begitu Athena dibawa masuk ke ruang persalinan, Max terpaksa menunggu di luar. Dia masih sempat menggenggam tangan Athena sebelum pintu tertutup, seolah enggan melepaskannya meski hanya untuk sementara.Setelah pintu itu tertutup, Max berdiri diam di tempatnya. Tatapannya terpaku pada pintu ruang persalinan, sementara jemarinya mengepal di sisi tubuh. Dia sudah menghadapi banyak hal dalam hidupnya, tetapi menunggu tanpa mengetahui apa yang terjadi pada Athena membuatnya merasa
Waktu berlalu, membawa Max dan Athena perlahan meninggalkan masa lalu yang selama bertahun-tahun membelenggu kehidupan mereka.Tidak mudah bagi keduanya untuk melupakan semua yang telah terjadi. Ada terlalu banyak luka, kehilangan, dan penyesalan yang tidak mungkin dihapus hanya dengan beberapa kata maaf. Namun, mereka akhirnya memahami bahwa terus hidup dalam kebencian hanya akan membuat mereka kehilangan lebih banyak hal berharga. Masa lalu tidak dapat diubah, tetapi mereka masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana masa depan keluarga mereka akan berjalan.Dan kali ini, Max serta Athena memilih untuk tidak lagi menoleh ke belakang.Kehidupan mereka berangsur-angsur membaik.Max kembali menjalankan perusahaan Gregory dengan kesibukan yang sama seperti dahulu. Setelah melewati masa berkabung dan memberi dirinya waktu untuk menerima kepergian Peony, dia mulai kembali mengambil alih berbagai urusan perusahaan yang sempat terbengkalai. Dia juga menangani perusahaan Harring
“Terima kasih sudah mencintaiku.”Max menggenggam tangan Athena. “Aku pun sangat mencintaimu, Athena.”Sampai di restoran, mereka memesan tempat dekat jendela sembari menikmati lampu kota yang menyala terang.Sampai di rumah.Keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Lampu kamar dibuat redup, menyisakan cahaya lembut yang jatuh di wajah Max. Athena yang sejak tadi memeriksa ponselnya tiba-tiba teringat pesan dari Hans.Athena menoleh kepada Max.“Papa ingin bertemu denganmu,” ucap Athena pelan.Max tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap menghadap ke depan, tetapi Athena tahu pria itu mendengarnya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Max bertanya dengan suara rendah.“Apa keadaannya sudah membaik?”“Untuk saat ini baik,” jawab Athena. “Hanya saja masih dalam pemantauan dan terapi untuk melemaskan otot-ototnya karena terlalu lama kaku.”Max terdiam sejenak. Tidak ada perubahan besar pada ekspresinya. Dia hanya menarik napas perlahan, lalu mengangguk kecil.“Oh, baiklah.
Athena tahu penjelasannya belum tentu mampu membuat Hans menerima semuanya dalam satu hari. Luka yang sudah bertahun-tahun tentu tidak akan hilang hanya karena sebuah kebenaran akhirnya terungkap.Namun setidaknya, sekarang Hans tahu apa yang sebenarnya terjadi.Dia tidak ingin ayahnya terus membenci Max karena sesuatu yang ternyata jauh lebih rumit dari yang mereka kira. Begitu pula Athena tidak ingin Max terus membawa kebencian kepada keluarga Harrington.Setidaknya, kebenaran itu harus diketahui lebih dulu.Athena mengusap tangan Hans perlahan. “Papa tidak harus menerima semuanya sekarang.”Hans menatap putrinya dalam diam.“Aku hanya ingin Papa tahu kenyataannya.”“Athena...”“Kalau setelah ini Papa masih marah, aku mengerti. Kalau Papa belum bisa menerima Max, aku juga mengerti.”Athena tersenyum tipis. “Tapi jangan membencinya karena sesuatu yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahannya.”Hans menghela napas panjang. “Aku akan memikirkannya.”Athena mengangguk. “Itu s
“Papa, dengarkan aku dulu.” Athena sudah bisa menebak reaksi Hans.“Tidak!” Hans menggenggam tangannya semakin erat.“Papa tahu siapa Maxwell Gregory. Papa tahu apa yang terjadi pada keluarga kita.”Athena menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku juga sudah mengetahui semuanya, Pa.”Hans terdiam. Athena mengusap punggung tangan ayahnya. “Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tidak bersalah.”“Jangan membela dia.”“Aku tidak sedang membelanya.” Suara Athena terdengar lembut, tetapi tegas.“Aku hanya ingin Papa mendengar semuanya dariku.”Hans menatap putrinya. Athena menelan kesedihannya. “Karena sekarang aku sudah tidak ingin hidup dalam kebencian lagi.”Athena menarik napas panjang sebelum mulai menjelaskan semuanya. Dia tahu kebenaran ini akan sulit diterima Hans, tetapi tidak ada lagi alasan baginya untuk menyembunyikannya.“Pa, semua yang terjadi selama ini... ternyata tidak sesederhana yang kita kira.”Hans masih menggenggam tangannya. “Apa maksudmu?”“S
Athena mengangkat garpu dengan malas, berusaha tetap tenang, namun ia bisa merasakan tatapan Celine yang tajam dan penuh penilaian.“Bagaimana rasanya pindah ke rumah utama?” tanya Celine dengan nada yang terdengar ramah, tapi jelas mengandung sindiran. “Lebih nyaman daripada paviliun belakang, bu
Athena menggigit bibir, menahan rasa sesak di dadanya. Ia tahu betul, ini bukan sekadar pindahan. Ini cara Max menutup setiap celah kebebasannya. Di paviliun, ia masih punya sedikit ruang untuk bernapas. Di rumah utama, itu berarti ia akan berada di bawah pengawasan Max dan Celine setiap detik.De
Kemunculan Max yang tiba-tiba membuat Athena terpaku. Udara di ruangan itu mendadak berat, seperti tangan tak kasat mata yang mencengkeram lehernya. Hudson berdiri santai. “Paman tadi ada urusan dan ingin menemuimu untuk membahas beberapa proyek di kota Zora yang akan segera rilis.” Max menyip
Langkah sepatu hak tinggi Athena bergema di sepanjang lorong lantai atas gedung Harrington Enterprise. Di sampingnya, Norah tampak menunduk sopan, menekan tombol lift dengan sedikit gemetar. “Sepertinya Tuan Max sedang marah, Nyonya,” gumam Norah pelan saat pintu lift tertutup. Athena mengang







