로그인Malam semakin larut ketika Athena menemukan Max berada di kolam belakang villa.Pria itu duduk sendirian di tepi kolam, kedua kakinya direndam ke dalam air yang tenang. Tatapannya kosong mengarah ke permukaan air yang sesekali beriak karena gerakan kakinya.Entah mengapa, pemandangan itu membuat Athena terdiam. Mungkin Max sedang mengingat Peony. Athena berjalan mendekat sambil membawa dua gelas minuman.“Aku bawakan minuman untukmu,” ucapnya pelan.Max menoleh sebentar, lalu mengangguk. Athena duduk di sampingnya dan menyerahkan salah satu gelas.“Terima kasih.”Beberapa saat mereka hanya diam. Athena memandangi permukaan kolam, sementara Max kembali menatap air.“Kakimu direndam sejak tadi?” tanya Athena akhirnya.Max mengangguk kecil. “Entah kenapa aku merasa lebih tenang di sini.”Athena tidak bertanya lebih jauh. Dia tahu tempat itu mungkin mengingatkan Max pada Peony.Setelah beberapa saat, Max bertanya tanpa menoleh. “Bagaimana hasil pemeriksaan kandunganmu?”Athena
Di villa pribadi Max, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Setelah pemakaman Peony, Max memilih membawa seluruh dokumen yang selama ini dikumpulkan dirinya dan Peony ke tempat tersebut.Elio berdiri di depan meja panjang dengan beberapa map tebal yang terbuka. Foto, laporan lama, bukti transaksi, rekaman komunikasi, hingga dokumen perusahaan tersebar di atas permukaannya.Athena duduk di sofa dengan wajah muram. “Mulai dari awal,” perintahnya singkat.Elio mengangguk. “Baik, Nyonya.”Dia mengambil satu berkas paling lama. “Semua bermula dari insiden penculikan serta kebakaran yang Nyonya alami dulu.”Athena menatap dokumen itu. “Selama ini keluarga Anda menganggap keluarga Gregory berada di balik insiden tersebut karena mereka memang terlibat. Tetapi setelah kami mencocokkan seluruh bukti...” Elio berhenti sejenak. “Ada pihak ketiga yang sengaja membuat keluarga Harrington percaya bahwa keluarga Gregory adalah dalangnya.”“Rosetta,” tebak Athena.“Benar.” Elio me
Langit mendung seolah ikut berduka. Hujan turun tipis sejak pagi, membasahi tanah pemakaman yang masih baru. Udara terasa dingin, tetapi tidak ada seorang pun yang mengeluh. Semua orang berdiri dalam diam, mengenakan pakaian hitam dengan wajah yang dipenuhi kesedihan.Di hadapan mereka, sebuah peti telah diturunkan perlahan ke dalam liang lahat. Nama Peony Gregory terukir di atasnya.Max berdiri paling depan, sejak tadi dia tidak bergerak. Tatapannya hanya tertuju pada peti yang perlahan menghilang dari pandangannya. Wajahnya tampak tenang, tetapi kedua matanya menyimpan luka yang begitu dalam.Dia tidak menangis. Setidaknya tidak di depan orang lain. Namun jemarinya yang terkepal kuat menunjukkan bahwa pria itu sedang berusaha sekuat tenaga menahan kehancuran di dalam dirinya.Peony adalah adiknya. Satu-satunya keluarga yang selama ini masih dia miliki. Dan sekarang, dia harus menyaksikan sendiri kepergian wanita itu.Max menundukkan kepala, rahangnya mengeras. Peony bahkan masi
Max masih berdiri tanpa senjata, sementara Rosetta mengarahkan pistol kepadanya. Athena berada di dekat Rosetta, tubuhnya masih menegang karena ancaman yang diarahkan kepadanya dan Hans.Namun tiba-tiba, gerakan Peony begitu cepat. Dia menarik tangan Athena dan membawa tubuh wanita itu menjauh dari Rosetta. Athena sempat terkejut, tetapi Peony tidak memberinya kesempatan untuk bertanya.“Ayo!” Peony kian menarik tangannya.Max yang melihat kesempatan itu langsung bergerak. Dalam sepersekian detik, dia mengambil senjata di saku belakang dan mengarahkannya kepada Rosetta.Dor!Tembakan terdengar, Rosetta terhuyung dan jatuh ke lantai tapi tembakan tidak mengenainya. Namun keadaan tidak serta-merta menjadi tenang, dari berbagai sisi ruangan, anak buah Rosetta bermunculan.“Lindungi Nyonya!”Beberapa pria mengangkat senjata dan langsung menyerang Max.Max bergerak cepat menghindari tembakan pertama, kemudian membalas. Suara tembakan bertubi-tubi menggema di seluruh ruangan. Elio datang me
Semua orang seketika terdiam. Max yang baru saja hendak melangkah maju langsung berhenti. Tatapannya jatuh pada pistol yang diarahkan tepat ke perut Athena, lalu berpindah kepada wanita yang berdiri kaku di hadapan Rosetta.Athena.Dan di balik perut itu ada anak mereka. Max mengepalkan tangan. Dia tidak berani mengambil risiko sedikit pun. Satu gerakan yang salah bisa membuat Rosetta menarik pelatuk.Rosetta tersenyum melihat Max akhirnya berhenti. “Kenapa diam saja?” serunya mengejek. “Tembak saja, bukankah kau benci pengkhianat?”Max menatap Rosetta dengan sorot mata dingin, tetapi tidak bergerak.Athena justru menatap Rosetta dengan kemarahan yang sulit disembunyikan. “Kau melanggar perjanjian kita!” serunya.Rosetta tertawa. “Dan kau pikir aku bodoh melepaskanmu begitu saja?”Dia menggelengkan kepala. “Tidak.”Athena mengepalkan tangannya. Rosetta tidak pernah benar-benar berniat menepati janjinya.Dia memang sudah menduga kemungkinan itu, tetapi tetap saja kenyataan ter
Max tidak menjawab. Rosetta berjalan perlahan mendekat, seolah ingin memastikan setiap perkataannya benar-benar sampai kepada Max.“Wanita yang selama ini kau lindungi ternyata memilihku.”Tatapan Rosetta penuh kemenangan. “Dia memberikan apa yang kubutuhkan. Dia membawa informasi tentang keluargamu. Dia bahkan mengambil sesuatu yang sangat penting dari Gregory untukku.”Rosetta terkekeh. “Dan sekarang dia ada di sini.”Max tetap diam, namun tangannya semakin mengepal. Rosetta memperhatikan itu dan tersenyum puas.“Dia memang pantas ditinggalkan.”Kalimat itu membuat sorot mata Max berubah.Perlahan, Max mengangkat wajahnya. “Apa katamu?”Rosetta tidak gentar. “Athena,” ulangnya. “Kau memang pantas ditinggalkan.”Rosetta tertawa kecil.“Bukankah itu kenyataannya? Dia mengkhianatimu. Dia memilih pergi bersamaku. Bahkan ketika kau masih berusaha mempertahankannya, dia sudah merencanakan untuk meninggalkanmu.”Max menatap Rosetta tanpa berkedip. Untuk beberapa saat, tidak ada
Sementara itu, Athena duduk di samping Hans dan menggenggam tangannya. Sedangkan Max tampak duduk santai di sofa tak jauh dari mereka, pria itu menatap Athena dengan seksama.Memang ada perasaan aneh menelusup dalam hatinya, rasa yang tak pernah ada sebelumnya tapi kini perlahan memunculkan bunga
Suara bentakan keras menggema di dalam rumah besar milik keluarga Hudson. Emery menatap suaminya dengan amarah yang menyalak di matanya, sementara Hudson berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam karena murka.“Keparat kau, Hudson! Cepat lepaskan aku!” Emery mengentakkan kakinya, meronta dari
Menanggapi godaan Max, tentu saja Athena dengan senang hati mengalungkan tangannya dengan manja. Senyuman semanis madu ia ciptakan, hingga membuat suaminya enggan berpaling.“Ternyata aku juga bisa kau rindukan, padahal aku kira kau hanya merindukan istri tercintamu,” sindir Athena tanpa ragu.Ma
“Tunggu,” panggil Athena menghentikan langkah Peony saat adik iparnya itu sudah memegang gagang pintu.Peony pun tersenyum, dan berbalik dengan senang. Ia bahkan mengibaskan rambutnya karena berhasil membujuk Athena.“Sepertinya kau tertarik, Kakak Ipar,” goda Peony tersenyum menatap Athena yang







