Share

Bab 2

Penulis: Miranda
Seolah sengaja melakukannya, meskipun aku sudah memakai penyumbat telinga, suara tawa yang terus-menerus dari sebelah tetap saja memicu sarafku.

Tidak ingin terus tersiksa di sini, aku mengenakan pakaian dan pergi keluar.

Baru saja sampai di tangga, lenganku mendadak ditarik seseorang.

"Dek, mau pergi ke mana?"

Aku menoleh dan mendapati tatapan provokatif Tamara. Pandanganku turun dan tertuju pada seuntai tasbih yang melilit lehernya.

Menyadari arah mataku, Tamara tertawa kecil. "Tadi William pakai tasbih ini buat ngukur ukuran tubuhku, aku saking senengnya sampai lupa ngelepasin."

Jantungku seketika diserang rasa sakit hebat.

Aku ingat dulu hanya karena aku tidak sengaja menyentuh tasbih itu sekali saja, William hukum aku dengan mengurungku di gudang bawah tanah selama tujuh hari.

Namun, Tamara bisa memainkannya sesuka hati. Ternyata perbedaan antara dicintai dan tidak memang sebesar itu.

"Ngomong-ngomong soal tasbih, kamu tahu nggak kenapa William suka banget sama yang ini? Soalnya ini dia dapetin setelah sujud berkali-kali di kuil cuma buat mintain doa buat aku."

"Terus setiap bulan, dia selalu nyempetin waktu nemenin aku di kuil selama seminggu. Oh iya, kamu belum pernah lihat William kalau lagi bergairah, 'kan? Waktu di gunung, dia rasanya pengen mati aja di atas tubuhku."

"Dia bilang kalau sudah pulang ke rumah terus lihat kamu bawaannya pengen muntah, pengen rasanya langsung botakin rambut terus jadi biksu saja."

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kuku menancap ke dalam daging tanpa rasa sakit.

Benar, setiap bulan William selalu beralasan pergi ke kuil untuk pembersihan diri. Dia bilang dia baru akan pulang kalau aku sudah berlutut dengan tulus sambil menyalin kitab suci sebanyak 100 kali.

Demi bisa segera bertemu dengannya, aku berlutut sampai lututku membiru dan menyalin sampai tanganku lemas, tapi aku tetap tidak mau berhenti.

Ternyata selama itu dia selalu menemani Tamara. Mereka saling mencurahkan isi hati dan bermesraan di tempat yang tidak terlihat olehku.

Melihat tidak ada reaksi cemburu buta dariku seperti yang dibayangkan, Tamara akhirnya tidak lagi berpura-pura.

Dia menancapkan kuku tajam hasil manikur barunya ke dalam dagingku sambil menggertakkan gigi. "Giska, pelacur busuk, ngapain berlagak terus? Kamu pikir dengan masang muka nggak peduli begini William bakal suka sama kamu?"

"Aku benci banget lihat muka sok tertindas kamu itu. Aku memang sengaja pengen rebut semuanya, rebut kasih sayang ibu ayah, rebut cinta William. Kamu harusnya mati pas lahir, siapa yang izinin kamu hidup buat bagi hal-hal punyaku!"

Setelah berkata begitu, dia mendorongku dengan keras.

Aku menjerit dan menjatuhkan vas bunga di tangga. Saat vas itu pecah, lenganku tergores luka yang sangat panjang hingga darah mengucur deras dan membasahi sebagian besar bajuku.

Kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari belakang.

Tamara langsung menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh sambil menangis menuduhku. "Dek, kalau kamu nggak mau lihat aku, aku bakal pergi sekarang. Tapi, kamu 'kan tahu badanku lemah, kenapa kamu tega dorong aku?"

"Sudah bertahun-tahun, apa kamu masih mau pakai cara nyakitin diri sendiri buat fitnah aku? Aku ini kakak kandungmu, kenapa kamu benci banget sama aku?"

William datang dengan raut wajah sangat cemas lalu menggendongnya. Tamara menyembunyikan tangannya di belakang punggung dan mendorong pelukan William dengan mata sembap.

"William, ini semua salahku. Aku yang dorong Giska, semuanya salahku, kamu jangan salahin Giska ya ...."

William menarik tangan Tamara dari belakang punggungnya. Tatapan matanya langsung terlihat emosi begitu melihat ada bekas merah di sana.

"Rara, sakit nggak? Aku anter ke rumah sakit sekarang ya."

"Ssh ... kamu nggak usah khawatirin aku, mending kamu lihat Giska saja. Kalau nggak nanti dia kesel lagi."

Aku memegang lukaku yang terus berdarah sambil menatapnya benci. "Jelas-jelas kamu yang dorong aku, dari kecil sampai gede ...."

"Cukup!"

William membentak untuk memotong ucapanku.

"Giska, kamu memang murahan! Dari kecil kamu selalu fitnah Rara. Kalau bukan karena kebaikannya, kamu sudah lama diusir dari Keluarga Gunadi! Lagian, Rara itu orangnya lemah banget, bersin aja bisa jatuh, mana mungkin dia dorong kamu?"

"Malah kamu yang akting dan nanggung akibatnya sendiri. Memang dasar nggak bisa anteng. Malam ini kamu masuk ke gudang bawah tanah, salin 100 buku kitab suci baru boleh keluar!"

Tanpa mendengarkan penjelasanku, dia menggendong Tamara dan melangkah melewatiku.

Bobot tubuh mereka berdua yang mencapai 100 kilogram lebih menekan tepat di lenganku yang terluka.

Rasa sakitnya membuatku hampir kehilangan kesadaran. Aku tergeletak di lantai selama belasan menit sebelum akhirnya sanggup bangkit dan pergi ke rumah sakit sendirian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 9

    "Orang suruhanku bilang, kalian terus-terusan berduaan belakangan ini. Kalian makan bareng bahkan ke bioskop bareng.""Kamu berani bilang kalau kalian beneran nggak ada apa-apa? Giska, asal kamu mau ikut aku balik, aku nggak bakal bahas masalah ini lagi, gimana?"Aku tertawa saking emosinya.William ternyata sampai menyewa orang buat memata-mataiku?"William, kamu gila ya? Kita sudah cerai, mau aku sama siapa saja sudah bukan urusan kamu lagi, 'kan?""Bertahun-tahun kamu nggak mau nyentuh aku, tiap hari aku kayak anjing yang ngejar-ngejar kamu. Apa nggak cukup selama ini aku sudah rendah-rendahin diri di depan kamu?""Susah payah aku nemuin hidup baru, kamu malah jauh-jauh datang ke sini cuma buat ngehina aku?""Kamu sama Tamara tiap bulan main kotor di atas gunung, bertahun-tahun aku kayak orang bego yang kalian permainin.""William, kalau nggak suka kamu bisa bilang langsung. Aku bukan tipe orang yang bakal maksa, tapi harusnya kamu nggak permainin aku kayak gitu, bahkan ....""Bahka

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 8

    Hari ini cuaca sangat cerah, Dimas menemaniku jalan-jalan.Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara pria yang sangat tidak asing."Giska!"Suaranya terdengar sangat mendesak.Aku berbalik dan menatap matanya. Awalnya aku mengira akan merasakan sakit hati, panik, atau emosi lain yang membuatku sedih.Namun, saat melihat mata yang dulu sangat kupuja selama bertahun-tahun ini, hatiku kini tidak merasakan getaran apa pun lagi.Sekarang, aku sudah benar-benar merelakannya.William saat ini terlihat berantakan, wajahnya sangat lelah. Dia yang biasanya selalu tampil rapi, kini dagunya ditumbuhi banyak bulu halus.Ini adalah penampilan yang tidak pernah kulihat selama beberapa tahun terakhir.Matanya penuh kegembiraan seolah baru menemukan barang berharga yang hilang, suaranya terdengar tersedat. "Giska, akhirnya aku nemuin kamu. Ada banyak hal yang mau aku katakan, sebenarnya orang yang aku cintai selama ini itu kamu ...."Dia mengulurkan tangan hendak menggandengku, tetapi pandangannya t

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 7

    Saat itu aku sudah mendarat di Negara Gatta.Di sini musimnya selalu terasa seperti musim semi dengan pemandangan seindah lukisan. Inilah tempat yang sudah lama aku dambakan.Dulu demi menemani William, aku bahkan tidak pernah sempat meluangkan waktu untuk berwisata ke sini.Sekarang setelah ada waktu luang, aku baru sadar betapa indahnya hidup yang selama ini aku lewatkan.Hari pertama masuk di perusahaan baru, rekan-rekan kantorku mengadakan acara minum-minum.Setelah kenyang makan dan minum, aku menelepon temanku di sini untuk jemput aku.Angin malam terasa sangat dingin, aku duduk di anak tangga sambil memeluk diri erat-erat.Tiba-tiba, rasa hangat menyelimutiku, seseorang sedang memakaikan syal untukku.Aku mendongak dan tatapanku beradu dengan sepasang mata yang indah seperti kelopak bunga persik.Orang itu sedang menatapku dengan lembut dan tenang.Laki-laki itu memakai mantel panjang, tubuhnya sangat tinggi, tulang alisnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Seluruh t

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 6

    Hati William pun panas mendengar ucapan orang tua itu.Dia tidak habis pikir, padahal keduanya anak kandung, bahkan wajahnya sangat mirip dan punya kecantikan masing-masing.Kenapa orang tuanya bisa se-pilih kasih ini? Tamara di mata mereka bagaikan bulan di langit, sedangkan Giska hanyalah lumpur di bawah kaki.Apa selama bertahun-tahun ini Giska menjalani hidup yang seperti itu? Itulah sebabnya dia terbiasa menuruti dan berusaha menyenangkan hatinya ....William memutar tasbih di tangannya, lalu berkata dengan gusar. "Giska 'kan anak kalian juga, kenapa kalian merendahkannya sampai segitunya? Lagian aku sudah sama dia bertahun-tahun, aku tahu betul kalau dia nggak seburuk yang kalian bicarakan.""Dia itu sebenarnya ...."Dia sebenarnya lembut dan baik hati, ceria dan murah hati, serta mencintainya dengan sepenuh jiwa. Dia bisa sangat bahagia sampai tidak bisa tidur hanya karena hal kecil, persis seperti seekor kucing kecil.Kalimat selanjutnya tidak terucap dari mulut William, tetapi

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 5

    William yang baru saja menyulut sebatang rokok, tangannya mendadak gemetar. Puntung rokok jatuh ke pahanya dan melubangi celana jas mahalnya.Dia memperbesar foto surat cerai di ponselnya berkali-kali.Kapan ini ditandatangani? Kenapa dia tidak tahu?Tidak mungkin, ini pasti cuma editan Giska karena sedang marah. Dia merasa tidak pernah menandatanganinya.Dia baru hendak menelepon, asistennya tiba-tiba mendorong pintu ruang kerja."Gawat Pak William, ini ada titipan dari Ibu, katanya ... katanya ini surat cerai."William menatap surat itu dengan tidak percaya. Ingatan saat di rumah sakit ketika aku menyuruhnya tanda tangan kontrak mendadak muncul di kepalanya."Jadi waktu itu yang Giska kasih bukan kontrak rumah, tapi surat cerai?"Rasa pahit yang luar biasa menyelimutinya, William mengambil ponsel berniat memberi penjelasan pada Giska.Giska sudah memblokirnya.Giska yang biasanya sangat patuh padanya, ternyata berani blokir dia?Ayah dan ibu baru saja pulang menemani Tamara belanja.

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 4

    Suara di seberang telepon terdengar ragu-ragu. "Gis, soal perusahaan luar negeri itu ditunda dulu ya. Sebaiknya kamu beresin dulu urusan pribadimu."Bos itu menutup telepon lalu meneruskan sebuah unggahan kepadaku.Judulnya adalah, [Wanita Jalang Keluarga Kaya: Putri Keluarga Gunadi Punya Kehidupan Seksual Berantakan, Foto Syur Terbongkar.]Belasan foto pribadiku dipajang di sana, hanya bagian pria di atasku saja yang disensor.Seketika kepalaku terasa seperti meledak.Dengan tangan gemetar aku membaca komentarnya, lautan kebencian langsung menyerangku.[Bener 'kan, orang kaya mainnya memang gila, pakai gaya tutup mata segala, ckckck ....][Jijik banget, apa bedanya sama toilet umum kalau semua orang bisa pakai.][Siapa yang punya kontaknya bagi dong, tipe kayak gini selera aku banget!]Air mata jatuh deras. Aku berteriak sambil membanting ponsel ke lantai dan memeluk kepala sambil menangis histeris.Setelah sedikit tenang, aku langsung memungut ponselku dan menghubungi polisi."Saya m

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 3

    Luka sepanjang 20 sentimeter itu membuat dagingku robek dan aku kehilangan banyak darah.Dokter memarahiku karena dianggap tidak peduli dan menunda pengobatan terlalu lama, lalu dia bersiap menyuntikkan bius untuk menjahit lukaku.Aku memegang tangannya dan berbisik lirih. "Nggak usah pakai bius."T

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 1

    Dari kamar meditasi di sebelah, terdengar suara-suara yang sangat memalukan.Lewat celah pintu, aku melihat jubah biksu William terbuka lebar dengan tasbih melilit tubuhnya, sementara foto-foto seksi Tamara terpajang di meja altar.Gerakannya makin cepat hingga jubah tipis itu basah oleh keringat, s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status