Share

Bab 3

Penulis: Miranda
Luka sepanjang 20 sentimeter itu membuat dagingku robek dan aku kehilangan banyak darah.

Dokter memarahiku karena dianggap tidak peduli dan menunda pengobatan terlalu lama, lalu dia bersiap menyuntikkan bius untuk menjahit lukaku.

Aku memegang tangannya dan berbisik lirih. "Nggak usah pakai bius."

Tanpa bius, aku ingin selamanya mengingat rasa sakit ini.

Mengingat semua penghinaan yang aku terima selama beberapa tahun ini agar aku tidak akan pernah berkompromi dan tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku menemui pengacara untuk menyusun surat cerai.

Baru saja kembali ke vila, aku langsung ditangkap oleh pengawal dan dijebloskan ke gudang bawah tanah.

Di sana, hanya ada sebuah meja yang dipenuhi tumpukan kertas sembahyang.

Di telingaku, suara kembang api berdentum sepanjang malam.

Aku sudah mendengarnya saat di rumah sakit tadi.

William sangat khawatir Tamara terluka, jadi dia tidak hanya mendatangkan spesialis dari kota sebelah pakai helikopter.

Setelah memastikan Tamara baik-baik saja, dia juga menyalakan kembang api di seluruh penjuru kota untuk merayakannya.

Aku mengurung diri di gudang bawah tanah selama lima hari.

Saat baru menyalin separuh kitab suci, aku akhirnya dibebaskan.

William memutar-mutar tasbihnya sambil menatapku dengan tatapan dingin.

"Kamu apa nggak mau makasih sama kakakmu yang baik hati itu, karena udah nggak mau memperpanjang masalah ini?"

Aku mengerucutkan bibir dan tidak ingin bicara.

Tamara membawakan secangkir teh ke hadapanku sambil tersenyum. "Mana ada saudara kandung yang dendaman? Giska, kamu minum teh ini ya, anggap saja kamu udah maafin Kakak, oke?"

Di bawah tatapan peringatan dari William, aku terpaksa menerima cangkir teh itu.

Teh itu sudah tumpah duluan sebelum sempat aku minum. Tamara langsung mundur beberapa langkah dan jatuh ke pelukan William.

"Giska, apa kamu beneran nggak mau maafin aku? Padahal ini teh yang sengaja aku petik tadi pagi buat kamu. Ini 'kan teh kesukaanmu, kenapa kamu malah sia-siain niat baikku?"

Aku tidak paham apa yang Tamara bicarakan, padahal aku paling benci minum teh.

William menatapku dengan sorot kecewa. "Giska, kamu bener-bener nggak tau diri!"

"Kamu tau nggak betapa capeknya Tamara metik teh buat kamu? Sampai airnya pun dia sendiri yang nyeduh."

"Hari ini kamu harus minum teh ini, mau nggak mau harus minum!"

Sambil bicara, William memanggil dua pengawal untuk memegangi sisi kiri dan kananku.

Dia menyuruh orang membuka paksa mulutku, mengambil teko di atas meja, lalu menuangkan air mendidih itu ke dalam mulutku.

Bersamaan dengan kepulan asap putih dan bau daging yang melepuh, William baru membuang teko itu dengan panik.

"Giska, kamu nggak apa-apa?"

Aku memegang mulutku sambil mengerang berguling-guling di lantai. Tenggorokanku yang terbakar membuat suaraku terdengar sangat serak, seperti rintihan hewan yang sekarat.

Melihat William yang tampak sangat cemas langsung menggendongku untuk dibawa ke rumah sakit, aku memuntahkan seteguk darah lalu pingsan sepenuhnya.

Saat terbangun, aku sudah berada di rumah sakit.

William berjaga di samping tempat tidurku. Dia memijat sudut matanya dengan wajah yang sangat lelah.

"Maaf, aku nggak tahu kalau air yang diseduh Tamara sepanas itu. Aku sudah negur dia kok, jadi kamu jangan salahin dia lagi ya."

"Kamu tenang saja, aku sudah panggil dokter terbaik buat ngobatin kamu. Wajahmu nggak bakal ada bekas lukanya kok."

Tatapanku kosong, aku hanya menatap langit-langit dengan hampa.

Air mata menetes dari sudut mataku.

Aku terluka separah ini, tapi reaksi pertama William bukan mengkhawatirkanku, malah menyuruhku untuk tidak menyalahkan Tamara.

Giska, oh Giska, kenapa hidupmu jadi tragis begini?

Aku menjawab dengan nada serak. "William, lepasin aku, aku restui kalian berdua bahagia."

Namun, William sepertinya tidak mendengar. Dia menerima telepon dari Tamara lalu keluar dari ruang perawatan.

Aku mengambil ponsel dari laci nakas dan menyuruh seseorang mengirimkan surat cerai kepadaku.

Beberapa hari setelahnya, William terus menemaniku, tapi aku tidak mau bicara sepatah kata pun padanya.

Sampai pada suatu hari dia benar-benar kehilangan kesabaran.

"Giska, bisa nggak sih nggak usah cari ribut terus? Cuma luka dikit saja, 'kan? Kamu tahu nggak berapa hari ini Rara ngerasa bersalah banget? Emangnya aku harus gimana lagi biar kamu berhenti?"

Aku mengeluarkan dua berkas dari nakas. "Tanda tanganin ini."

William melihat sampul berkas itu adalah kontrak pembelian rumah, dia pun langsung merasa lega dan segera menandatanganinya dengan cepat.

"Yaudah, kamu istirahat yang bener. Aku mau nemenin Rara dulu."

Aku akhirnya tersenyum melihat coretan tanda tangan itu.

Yang William tidak tahu adalah di dalam berkas itu terselip sebuah surat cerai.

Sekarang, aku akhirnya bebas.

Aku menghubungi pimpinan perusahaanku lewat telepon.

"Aku setuju soal tawaran Anda buat aku gabung ke perusahaan desain luar negeri itu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 9

    "Orang suruhanku bilang, kalian terus-terusan berduaan belakangan ini. Kalian makan bareng bahkan ke bioskop bareng.""Kamu berani bilang kalau kalian beneran nggak ada apa-apa? Giska, asal kamu mau ikut aku balik, aku nggak bakal bahas masalah ini lagi, gimana?"Aku tertawa saking emosinya.William ternyata sampai menyewa orang buat memata-mataiku?"William, kamu gila ya? Kita sudah cerai, mau aku sama siapa saja sudah bukan urusan kamu lagi, 'kan?""Bertahun-tahun kamu nggak mau nyentuh aku, tiap hari aku kayak anjing yang ngejar-ngejar kamu. Apa nggak cukup selama ini aku sudah rendah-rendahin diri di depan kamu?""Susah payah aku nemuin hidup baru, kamu malah jauh-jauh datang ke sini cuma buat ngehina aku?""Kamu sama Tamara tiap bulan main kotor di atas gunung, bertahun-tahun aku kayak orang bego yang kalian permainin.""William, kalau nggak suka kamu bisa bilang langsung. Aku bukan tipe orang yang bakal maksa, tapi harusnya kamu nggak permainin aku kayak gitu, bahkan ....""Bahka

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 8

    Hari ini cuaca sangat cerah, Dimas menemaniku jalan-jalan.Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara pria yang sangat tidak asing."Giska!"Suaranya terdengar sangat mendesak.Aku berbalik dan menatap matanya. Awalnya aku mengira akan merasakan sakit hati, panik, atau emosi lain yang membuatku sedih.Namun, saat melihat mata yang dulu sangat kupuja selama bertahun-tahun ini, hatiku kini tidak merasakan getaran apa pun lagi.Sekarang, aku sudah benar-benar merelakannya.William saat ini terlihat berantakan, wajahnya sangat lelah. Dia yang biasanya selalu tampil rapi, kini dagunya ditumbuhi banyak bulu halus.Ini adalah penampilan yang tidak pernah kulihat selama beberapa tahun terakhir.Matanya penuh kegembiraan seolah baru menemukan barang berharga yang hilang, suaranya terdengar tersedat. "Giska, akhirnya aku nemuin kamu. Ada banyak hal yang mau aku katakan, sebenarnya orang yang aku cintai selama ini itu kamu ...."Dia mengulurkan tangan hendak menggandengku, tetapi pandangannya t

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 7

    Saat itu aku sudah mendarat di Negara Gatta.Di sini musimnya selalu terasa seperti musim semi dengan pemandangan seindah lukisan. Inilah tempat yang sudah lama aku dambakan.Dulu demi menemani William, aku bahkan tidak pernah sempat meluangkan waktu untuk berwisata ke sini.Sekarang setelah ada waktu luang, aku baru sadar betapa indahnya hidup yang selama ini aku lewatkan.Hari pertama masuk di perusahaan baru, rekan-rekan kantorku mengadakan acara minum-minum.Setelah kenyang makan dan minum, aku menelepon temanku di sini untuk jemput aku.Angin malam terasa sangat dingin, aku duduk di anak tangga sambil memeluk diri erat-erat.Tiba-tiba, rasa hangat menyelimutiku, seseorang sedang memakaikan syal untukku.Aku mendongak dan tatapanku beradu dengan sepasang mata yang indah seperti kelopak bunga persik.Orang itu sedang menatapku dengan lembut dan tenang.Laki-laki itu memakai mantel panjang, tubuhnya sangat tinggi, tulang alisnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Seluruh t

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 6

    Hati William pun panas mendengar ucapan orang tua itu.Dia tidak habis pikir, padahal keduanya anak kandung, bahkan wajahnya sangat mirip dan punya kecantikan masing-masing.Kenapa orang tuanya bisa se-pilih kasih ini? Tamara di mata mereka bagaikan bulan di langit, sedangkan Giska hanyalah lumpur di bawah kaki.Apa selama bertahun-tahun ini Giska menjalani hidup yang seperti itu? Itulah sebabnya dia terbiasa menuruti dan berusaha menyenangkan hatinya ....William memutar tasbih di tangannya, lalu berkata dengan gusar. "Giska 'kan anak kalian juga, kenapa kalian merendahkannya sampai segitunya? Lagian aku sudah sama dia bertahun-tahun, aku tahu betul kalau dia nggak seburuk yang kalian bicarakan.""Dia itu sebenarnya ...."Dia sebenarnya lembut dan baik hati, ceria dan murah hati, serta mencintainya dengan sepenuh jiwa. Dia bisa sangat bahagia sampai tidak bisa tidur hanya karena hal kecil, persis seperti seekor kucing kecil.Kalimat selanjutnya tidak terucap dari mulut William, tetapi

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 5

    William yang baru saja menyulut sebatang rokok, tangannya mendadak gemetar. Puntung rokok jatuh ke pahanya dan melubangi celana jas mahalnya.Dia memperbesar foto surat cerai di ponselnya berkali-kali.Kapan ini ditandatangani? Kenapa dia tidak tahu?Tidak mungkin, ini pasti cuma editan Giska karena sedang marah. Dia merasa tidak pernah menandatanganinya.Dia baru hendak menelepon, asistennya tiba-tiba mendorong pintu ruang kerja."Gawat Pak William, ini ada titipan dari Ibu, katanya ... katanya ini surat cerai."William menatap surat itu dengan tidak percaya. Ingatan saat di rumah sakit ketika aku menyuruhnya tanda tangan kontrak mendadak muncul di kepalanya."Jadi waktu itu yang Giska kasih bukan kontrak rumah, tapi surat cerai?"Rasa pahit yang luar biasa menyelimutinya, William mengambil ponsel berniat memberi penjelasan pada Giska.Giska sudah memblokirnya.Giska yang biasanya sangat patuh padanya, ternyata berani blokir dia?Ayah dan ibu baru saja pulang menemani Tamara belanja.

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 4

    Suara di seberang telepon terdengar ragu-ragu. "Gis, soal perusahaan luar negeri itu ditunda dulu ya. Sebaiknya kamu beresin dulu urusan pribadimu."Bos itu menutup telepon lalu meneruskan sebuah unggahan kepadaku.Judulnya adalah, [Wanita Jalang Keluarga Kaya: Putri Keluarga Gunadi Punya Kehidupan Seksual Berantakan, Foto Syur Terbongkar.]Belasan foto pribadiku dipajang di sana, hanya bagian pria di atasku saja yang disensor.Seketika kepalaku terasa seperti meledak.Dengan tangan gemetar aku membaca komentarnya, lautan kebencian langsung menyerangku.[Bener 'kan, orang kaya mainnya memang gila, pakai gaya tutup mata segala, ckckck ....][Jijik banget, apa bedanya sama toilet umum kalau semua orang bisa pakai.][Siapa yang punya kontaknya bagi dong, tipe kayak gini selera aku banget!]Air mata jatuh deras. Aku berteriak sambil membanting ponsel ke lantai dan memeluk kepala sambil menangis histeris.Setelah sedikit tenang, aku langsung memungut ponselku dan menghubungi polisi."Saya m

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 2

    Seolah sengaja melakukannya, meskipun aku sudah memakai penyumbat telinga, suara tawa yang terus-menerus dari sebelah tetap saja memicu sarafku.Tidak ingin terus tersiksa di sini, aku mengenakan pakaian dan pergi keluar.Baru saja sampai di tangga, lenganku mendadak ditarik seseorang."Dek, mau per

  • Rahasia Bejat di Balik Jubah Suci   Bab 1

    Dari kamar meditasi di sebelah, terdengar suara-suara yang sangat memalukan.Lewat celah pintu, aku melihat jubah biksu William terbuka lebar dengan tasbih melilit tubuhnya, sementara foto-foto seksi Tamara terpajang di meja altar.Gerakannya makin cepat hingga jubah tipis itu basah oleh keringat, s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status