เข้าสู่ระบบ"Orang suruhanku bilang, kalian terus-terusan berduaan belakangan ini. Kalian makan bareng bahkan ke bioskop bareng.""Kamu berani bilang kalau kalian beneran nggak ada apa-apa? Giska, asal kamu mau ikut aku balik, aku nggak bakal bahas masalah ini lagi, gimana?"Aku tertawa saking emosinya.William ternyata sampai menyewa orang buat memata-mataiku?"William, kamu gila ya? Kita sudah cerai, mau aku sama siapa saja sudah bukan urusan kamu lagi, 'kan?""Bertahun-tahun kamu nggak mau nyentuh aku, tiap hari aku kayak anjing yang ngejar-ngejar kamu. Apa nggak cukup selama ini aku sudah rendah-rendahin diri di depan kamu?""Susah payah aku nemuin hidup baru, kamu malah jauh-jauh datang ke sini cuma buat ngehina aku?""Kamu sama Tamara tiap bulan main kotor di atas gunung, bertahun-tahun aku kayak orang bego yang kalian permainin.""William, kalau nggak suka kamu bisa bilang langsung. Aku bukan tipe orang yang bakal maksa, tapi harusnya kamu nggak permainin aku kayak gitu, bahkan ....""Bahka
Hari ini cuaca sangat cerah, Dimas menemaniku jalan-jalan.Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara pria yang sangat tidak asing."Giska!"Suaranya terdengar sangat mendesak.Aku berbalik dan menatap matanya. Awalnya aku mengira akan merasakan sakit hati, panik, atau emosi lain yang membuatku sedih.Namun, saat melihat mata yang dulu sangat kupuja selama bertahun-tahun ini, hatiku kini tidak merasakan getaran apa pun lagi.Sekarang, aku sudah benar-benar merelakannya.William saat ini terlihat berantakan, wajahnya sangat lelah. Dia yang biasanya selalu tampil rapi, kini dagunya ditumbuhi banyak bulu halus.Ini adalah penampilan yang tidak pernah kulihat selama beberapa tahun terakhir.Matanya penuh kegembiraan seolah baru menemukan barang berharga yang hilang, suaranya terdengar tersedat. "Giska, akhirnya aku nemuin kamu. Ada banyak hal yang mau aku katakan, sebenarnya orang yang aku cintai selama ini itu kamu ...."Dia mengulurkan tangan hendak menggandengku, tetapi pandangannya t
Saat itu aku sudah mendarat di Negara Gatta.Di sini musimnya selalu terasa seperti musim semi dengan pemandangan seindah lukisan. Inilah tempat yang sudah lama aku dambakan.Dulu demi menemani William, aku bahkan tidak pernah sempat meluangkan waktu untuk berwisata ke sini.Sekarang setelah ada waktu luang, aku baru sadar betapa indahnya hidup yang selama ini aku lewatkan.Hari pertama masuk di perusahaan baru, rekan-rekan kantorku mengadakan acara minum-minum.Setelah kenyang makan dan minum, aku menelepon temanku di sini untuk jemput aku.Angin malam terasa sangat dingin, aku duduk di anak tangga sambil memeluk diri erat-erat.Tiba-tiba, rasa hangat menyelimutiku, seseorang sedang memakaikan syal untukku.Aku mendongak dan tatapanku beradu dengan sepasang mata yang indah seperti kelopak bunga persik.Orang itu sedang menatapku dengan lembut dan tenang.Laki-laki itu memakai mantel panjang, tubuhnya sangat tinggi, tulang alisnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Seluruh t
Hati William pun panas mendengar ucapan orang tua itu.Dia tidak habis pikir, padahal keduanya anak kandung, bahkan wajahnya sangat mirip dan punya kecantikan masing-masing.Kenapa orang tuanya bisa se-pilih kasih ini? Tamara di mata mereka bagaikan bulan di langit, sedangkan Giska hanyalah lumpur di bawah kaki.Apa selama bertahun-tahun ini Giska menjalani hidup yang seperti itu? Itulah sebabnya dia terbiasa menuruti dan berusaha menyenangkan hatinya ....William memutar tasbih di tangannya, lalu berkata dengan gusar. "Giska 'kan anak kalian juga, kenapa kalian merendahkannya sampai segitunya? Lagian aku sudah sama dia bertahun-tahun, aku tahu betul kalau dia nggak seburuk yang kalian bicarakan.""Dia itu sebenarnya ...."Dia sebenarnya lembut dan baik hati, ceria dan murah hati, serta mencintainya dengan sepenuh jiwa. Dia bisa sangat bahagia sampai tidak bisa tidur hanya karena hal kecil, persis seperti seekor kucing kecil.Kalimat selanjutnya tidak terucap dari mulut William, tetapi
William yang baru saja menyulut sebatang rokok, tangannya mendadak gemetar. Puntung rokok jatuh ke pahanya dan melubangi celana jas mahalnya.Dia memperbesar foto surat cerai di ponselnya berkali-kali.Kapan ini ditandatangani? Kenapa dia tidak tahu?Tidak mungkin, ini pasti cuma editan Giska karena sedang marah. Dia merasa tidak pernah menandatanganinya.Dia baru hendak menelepon, asistennya tiba-tiba mendorong pintu ruang kerja."Gawat Pak William, ini ada titipan dari Ibu, katanya ... katanya ini surat cerai."William menatap surat itu dengan tidak percaya. Ingatan saat di rumah sakit ketika aku menyuruhnya tanda tangan kontrak mendadak muncul di kepalanya."Jadi waktu itu yang Giska kasih bukan kontrak rumah, tapi surat cerai?"Rasa pahit yang luar biasa menyelimutinya, William mengambil ponsel berniat memberi penjelasan pada Giska.Giska sudah memblokirnya.Giska yang biasanya sangat patuh padanya, ternyata berani blokir dia?Ayah dan ibu baru saja pulang menemani Tamara belanja.
Suara di seberang telepon terdengar ragu-ragu. "Gis, soal perusahaan luar negeri itu ditunda dulu ya. Sebaiknya kamu beresin dulu urusan pribadimu."Bos itu menutup telepon lalu meneruskan sebuah unggahan kepadaku.Judulnya adalah, [Wanita Jalang Keluarga Kaya: Putri Keluarga Gunadi Punya Kehidupan Seksual Berantakan, Foto Syur Terbongkar.]Belasan foto pribadiku dipajang di sana, hanya bagian pria di atasku saja yang disensor.Seketika kepalaku terasa seperti meledak.Dengan tangan gemetar aku membaca komentarnya, lautan kebencian langsung menyerangku.[Bener 'kan, orang kaya mainnya memang gila, pakai gaya tutup mata segala, ckckck ....][Jijik banget, apa bedanya sama toilet umum kalau semua orang bisa pakai.][Siapa yang punya kontaknya bagi dong, tipe kayak gini selera aku banget!]Air mata jatuh deras. Aku berteriak sambil membanting ponsel ke lantai dan memeluk kepala sambil menangis histeris.Setelah sedikit tenang, aku langsung memungut ponselku dan menghubungi polisi."Saya m
Luka sepanjang 20 sentimeter itu membuat dagingku robek dan aku kehilangan banyak darah.Dokter memarahiku karena dianggap tidak peduli dan menunda pengobatan terlalu lama, lalu dia bersiap menyuntikkan bius untuk menjahit lukaku.Aku memegang tangannya dan berbisik lirih. "Nggak usah pakai bius."T
Seolah sengaja melakukannya, meskipun aku sudah memakai penyumbat telinga, suara tawa yang terus-menerus dari sebelah tetap saja memicu sarafku.Tidak ingin terus tersiksa di sini, aku mengenakan pakaian dan pergi keluar.Baru saja sampai di tangga, lenganku mendadak ditarik seseorang."Dek, mau per
Dari kamar meditasi di sebelah, terdengar suara-suara yang sangat memalukan.Lewat celah pintu, aku melihat jubah biksu William terbuka lebar dengan tasbih melilit tubuhnya, sementara foto-foto seksi Tamara terpajang di meja altar.Gerakannya makin cepat hingga jubah tipis itu basah oleh keringat, s







