แชร์

Bab 2 - Tamparan Maut

ผู้เขียน: sebuahalkisah_
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-15 14:29:42

Saat tangan Arman hendak bergerak lagi, Aurelia langsung berlari mendekat dan menahan, “Pa, jangan!”

Aurelia menatap ayahnya, menggeleng pelan. Lalu ia melirik Nadira. Entah kenapa, Aurelia merasa Nadira sungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia tampak begitu berani seperti tidak terkalahkan. 

Kalau Nadira menolak menikah dengan Keluarga Gunawan, Aurelia yang harus menikahi Raka. Ia membayangkan dirinya terjebak dengan pria yang “berumur pendek” dan berwajah tak rupawan, hidup dalam rumah besar yang dingin, menjadi bahan kasihan orang orang. Dadanya serasa sesak membayangkannya.

Arman menarik tangannya. Ia mendengus, lalu duduk kembali ke sofa dengan gerakan kesal.

Ia menatap Nadira tajam, lalu berkata dengan suara penuh sindiran, “Lihat adikmu. Dia peduli sama kamu. Masa kamu tidak bisa bantu adikmu menikah dengan orang lain?”

Nadira tersenyum tipis, bukan senyum yang hangat, lebih seperti bayangan di ujung bibir. Ia memandang Aurelia. “Aurelia, kalau kamu sebaik itu, kamu saja yang menikah. Kenapa harus Kakak?”

Wajah Aurelia langsung pucat. Ia menunduk, tidak menjawab. Jemarinya meremas ujung baju Ratna. Ratna, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya berdiri dan melangkah ke depan, menutupi Aurelia seperti perisai.

Dengan suara dingin, ia berkata, “Nadira, kita menyuruhmu menikah menggantikan Aurelia supaya masa depanmu juga jelas. Kalau tidak, keluarga siapa yang mau mempersuntingmu?”

Nadira mengangkat alis, seolah mendengar lelucon yang kurang lucu. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinganya dengan gerakan santai. Ia tetap terlihat tenang dengan tatapan yang sangat tajam.

“Menarik,” katanya pelan. “Memangnya sejak kapan aku minta dicarikan suami?”

Ia berhenti sejenak, lalu suaranya turun, lebih tenang, lebih mematikan.

“Oh ya… aku jadi penasaran. Siapa yang mengirim aku ke ranjang seorang pria lima tahun lalu sampai namaku hancur? Siapa yang mengirim aku ke rumah sakit jiwa?”

Aurelia mundur sempoyongan.

Kalau bukan karena Ratna yang cepat menopang, tubuhnya sudah pasti ambruk ke lantai marmer ruang tamu. Udara dini hari Jakarta terasa lengket, seperti asap knalpot yang masih menempel di kulit meski jalanan sudah sepi. Lampu gantung memantulkan kilap dingin pada meja kaca, membuat segala sesuatu tampak lebih tajam dari seharusnya.

Aurelia sudah tahu Nadira tidak akan menurut begitu saja. Sejak awal, perempuan itu bukan tipe yang bisa diatur. Waktu mereka sangat terbatas. Sebentar lagi Nadira sudah harus “dikirim” ke Keluarga Gunawan. Jam 6 pagi, mobil pengantin akan tiba. Sedangkan saat ini, sudah lewat pukul tiga.

Memikirkan itu saja membuat Aurelia  menggigil. Ia tidak mau menikah dengan pria yang katanya sakit-sakitan, hidupnya tinggal hitungan waktu. Tidak. Ia tidak akan jadi pengganti yang malang itu, apa pun caranya.

Melihat wajah Aurelia yang pucat dan frustrasi, Ratna menurunkan suara, mencoba terdengar bijak, seolah semuanya bisa diluruskan dengan kalimat yang halus.

“Nadira, yang sudah ya sudah,” ucapnya. “Kamu kakaknya. Tidak bisakah kamu mengalah untuk Aurelia? Dia adikmu.”

Aurelia menelan ludah, lalu memaksa diri bicara lebih tegas, lebih berani, seakan keberanian itu bisa menutupi ketakutannya.

“Kalau kamu kasih saham itu ke aku, aku yang akan menikah menggantikan kamu,” katanya cepat. “Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau harus kasar.”

Nadira tersenyum, tipis, licin seperti rubah yang sudah hafal perangkap di hutan. Saham itu warisan dari neneknya. Ia tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun, apalagi kepada orang yang menuntutnya.

“Kamu keterlaluan!” napas Arman memburu, matanya merah menahan amarah. “Sudah diberi izin untuk pulang saja kamu harusnya bersyukur, malah masih menuntut saham!”

Ia menatap Nadira seperti menatap sumber sial yang ingin ia singkirkan sejak lama. Andai dulu ia tahu anak ini akan tumbuh setajam ini, mungkin ia benar benar sudah membuangnya tanpa ragu.

“Kamu ini masih anggota Keluarga Wijaya atau bukan?”

Nadira menoleh santai, seperti pertanyaan itu tidak lebih penting dari suara AC yang mendengung. “Bukannya dari dulu kalian bilang aku sudah bukan anggota Keluarga Wijaya?”

Tatapannya meluncur ke jam dinding. Jarum menit bergerak pelan, seperti mengejek.

“Aku ingat Keluarga Gunawan akan menjemput jam enam,” ucapnya datar. “Waktunya tidak banyak.”

“Kak...” Aurelia Shinta buru buru mendekat, berusaha meraih tangan Nadira, tetapi Nadira menepisnya keras.

Punggung tangan Aurelia yang halus seketika memerah. Ia menggigit bibir, menahan air mata supaya tidak jatuh terlalu cepat, seolah masih ingin tampak pantas di mata siapa pun yang melihat.

“Nadira, berani sekali kamu memukul tangan Aurelia!” Ratna menjerit. Matanya memerah, bukan karena marah saja, juga karena rasa sayang yang berlebihan. “Kamu sudah bosan hidup, ya?”

Nadira mengangkat alis sedikit. “Itu kamu anggap memukul?”

Di bawah tatapan Ratna yang terkejut, Nadira berbalik dan menampar pipi Aurelia keras.

“Plak!”

Suara tamparan itu memantul di seluruh ruangan, seperti petasan yang meledak di gang sempit. Di pipi Aurelia, bekas telapak tangan muncul jelas. Air mata langsung menggenang, menetes begitu saja, tanpa sempat ia tahan.

Aurelia menutup pipinya, duduk terpaku, bingung seperti anak kecil yang tidak paham kenapa ia dihukum.

“Nadira!” Ratna berteriak lagi. Ia menatap Nadira Chandra seolah tidak percaya. Selama ini, ia bahkan tidak sanggup membiarkan Aurelia tersandung sedikit pun. Sekarang, Nadira menamparnya terang terangan.

Nadira Chandra menatap Ratna Surya, bibirnya melengkung tipis. “Apa yang kalian mau sebenarnya? Kamu bilang aku memukul dia. Ini contohnya. Supaya kamu paham bedanya menepis dengan menampar.”

Ratna sudah mengangkat tangan, siap membalas, tetapi Nadira malah maju setengah langkah, menatap lurus tanpa gentar.

“Ayo,” katanya pelan. “Pukul aku.”

“Mama, jangan!” Aurelia buru buru memeluk lengan Ratna Surya. Ia tahu, Nadira tidak bercanda. Ia tahu, kalau Ratna nekat, Nadira akan membalas dengan cara yang jauh lebih buruk.

Aurelia menangis tersedu, suaranya jadi lembek dan memelas. “Kak... aku mau kok. Aku mau balikin saham itu.”

“Plak!”

Tanpa ragu, Nadira menampar sisi wajah Aurelia yang lain.

Kini dua bekas telapak tangan menghiasi kedua pipi Aurelia, nyaris simetris, seperti cap yang sengaja dicetak.

“Apa yang kamu lakukan!” Ratna menarik Aurelia ke belakangnya, tubuhnya jadi tameng. Ia ingin menyerang Nadira, namun Aurelia terus menahan, memohon dengan tangis. Ratna hanya bisa melotot marah, dada naik turun.

“Dasar binatang!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 8 - Ibu Baru yang Baik

    Dalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.Raka terpaku sesaat.Nadira.Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.Dan entah kenapa, Raka le

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 7 - Kamu Nggak Akan Mati

    Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.Nadira.Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.“Lo nggak akan mati!”Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.Dering ponsel memotong benang pikirannya.Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,”

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 6 - Terasa Hangat

    “Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdeba

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 5 - Sentuhan Pertama

    Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”Anda tidak akan mati.Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.Dan gadis ini, yang entah da

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 4 - Pertemuan Pertama

    Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, orna

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 3 - Sesuatu yang Hilang

    Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang. “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke a

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status