LOGIN
“Berhenti!!!”
Dalam gelap yang sesak, aroma tajam menyeruak seperti asap rokok yang baru saja dipadamkan. Pria itu mendorong Nadira Chandra ke ranjang dengan kasar. Dengan isak tangis, Nadira berusaha mendorong tubuh pria itu, tetapi ia tak kuasa. Tenaga sudah habis terkuras.
Air mata Nadira jatuh tanpa bisa ditahan.
“Gadis kecil, siapa namamu?” Suara serak pria itu menusuk telinganya. Napasnya yang panas menempel di dekat telinga Nadira.
“Kalau kamu nggak mau sebutin namamu, nggak masalah. Namaku…”
Rasa nyeri yang menohok seketika menembus tubuhnya.
Nadira tersentak, napasnya tercekat, matanya terbuka lebar. Ia menatap lurus ke depan, Ia sadar, tubuhnya tidak lagi berada di ranjang. Ia ada di dalam mobil. Ternyata, semua itu hanyalah sebuah mimpi.
Meski begitu, sebenarnya, sudah beberapa kali buruk itu datang, seperti rekaman yang sengaja diputar ulang untuk mengganggu Nadira.
Nadira menarik napas berat. Wajahnya pucat, ia merasa tak nyaman. Kejadian lima tahun lalu itu selalu mengejarnya. Kejadian yang membuat Nadira hamil. Namun, ia tidak pernah tahu siapa ayah dari anak yang ia kandung. Belum genap 5 bulan, ia kehilangan bayi itu. Keheningan yang menyusul jauh lebih memekakkan daripada tangis Nadira.
Nadira pernah masuk rumah sakit jiwa. Bukan karena gila. Itu adalah upaya ibu serta adiknya untuk merebut saham Wijaya Nusantara Corp dari Nadira. Empat tahun lebih ia terkunci dari dunia luar.
Di kursi depan, sopir keluarga tak melepas pandangannya pada jalan. Di sebelahnya, Pak Hadi duduk tegak, rapi, seakan tidak ada hal di dunia yang mampu mengusik kerah bajunya.
Ketika melihat Nadira terjaga, ia mengingatkan dengan ekspresi datar, “Nona Nadira, kita hampir sampai di rumah Keluarga Wijaya. Mohon bersiap.”
Nadira tidak menjawab.
Ia menatap keluar jendela. Lampu-lampu pinggir jalan tampak seperti kumpulan bintang, kemacetan mengular, suara klakson terdengar memecah kesunyian yang Nadira rasakan dari dalam mobil. Jakarta terasa lebih mewah dari terakhir kali ia melihatnya, tetapi juga lebih dingin, lebih sesak.
Malam ini Keluarga Wijaya menjemputnya. Nadira paham betul maksud mereka.
Adiknya, Aurelia, akan menikah dengan putra kedua Keluarga Gunawan, Raka Gunawan, pria yang katanya tidak rupawan, dan lebih buruk lagi, konon hanya punya usia hingga tiga puluh tahun. Desas desus itu terdengar di kalangan sosialita seperti gosip yang disiram parfum mahal.
Namun mana mungkin “ibu yang baik” rela Aurelia menikah dengan pria seperti itu?
Maka dari itu, keluarganya memilih jalan yang paling mudah dan paling kejam: Nadira akan menggantikan Aurelia dalam perjodohan dengan Keluarga Gunawan tersebut.
Tatapan Nadira mengeras, dingin seperti es batu yang baru dikeluarkan dari freezer. Tidak ada hangat yang tersisa di wajahnya.
Mobil berhenti tepat di gerbang villa Keluarga Wijaya. Satpam memberi hormat, pagar besi bergerak pelan, dan halaman luas menyambung seperti panggung yang sudah disiapkan.
Nadira turun dan berjalan masuk sendirian. Di bawah lampu taman, bayangannya memanjang, seperti aura kelam yang menutup rapat punggungnya.
Begitu memasuki ruang tamu, ia melihat pemandangan ironi yang sengaja ditata.
Ratna Surya, ibunya, duduk di sofa, menyisir rambut Aurelia dengan gerakan lembut, seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh dan mahal. Aurelia duduk manis, punggungnya tegak, bulu matanya turun, tampak lembut dan patuh.
Suara Ratna terdengar pelan, tapi cukup tajam untuk mengiris, “Syukurlah Nadira yang tidak berguna itu bisa menggantikan adiknya jadi ‘janda’ di keluarga Gunawan. Kalau Aurelia yang menikah ke sana, Mama bisa sakit hati.”
Aurelia mengangkat suara halus, “Ma, jangan bilang begitu tentang Kak Nadira. Kalau bukan karena Kakak… aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya khawatir Kakak tidak setuju.”
Di sisi lain, Arman Wijaya, ayah Nadira, duduk dengan selembar kontrak di tangan. Ia mengernyit, lalu mendengus marah, “Aurelia, kamu terlalu baik. Kamu lupa Nadira memfitnahmu lima tahun lalu? Dia tidak punya harga diri. Hamil sebelum menikah, lalu melahirkan bayi yang tidak selamat. Dia seharusnya bersyukur diberi kesempatan menikah dengan keluarga Gunawan! Hak apa dia memilih milih?”
Suara dingin dari pintu memotong percakapan. “Siapa bilang aku tidak akan menolak?”
Tiga orang di sofa itu tersentak, menoleh serempak.
Nadira berdiri di sudut. Ia masih mengenakan baju pasien dan sandal tipis, seolah sengaja memperlihatkan bekas “pengasingan” yang mereka buat. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya lebih tajam. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak lagi bisa dipatahkan.
“Ah!” Aurelia menjerit dan buru buru memeluk Ratna, tubuhnya gemetar.
Ratna menepuk punggung Aurelia, menenangkan dengan suara rendah, lalu melotot ke arah Nadira, “Nadira, kamu mau menakuti siapa? Penampilanmu seperti hantu!”
Nadira melangkah masuk tanpa tergesa. Langkahnya sangat tenang. Ia tak ingin orang-orang tahu kelemahannya.
Aurelia mengintip dari pelukan Ratna. Begitu melihat Nadira jelas, Aurelia memaksakan senyuman cerah, seperti topeng yang sudah terlalu sering dipakai.
“Kak Nadira, kamu atkhirnya pulang! Aku merindukanmu” ucapnya pura-pura manis.
Arman meletakkan kontrak, berdiri, dan melangkah cepat ke arah Nadira. Wajahnya memerah oleh amarah yang sudah lama ia simpan.
“Kalau kamu berani menolak, Papa pukul kamu sampai mati!”
Nadira menjawab dengan suara yang tenang namun tatapan sangat tajam, “Kembalikan sahamku sekarang.”
Ia tetap berdiri tenang, tidak mundur selangkah pun.
“Kalau Papa kembalikan itu, baru aku akan pertimbangkan menikah dengan Raka.”
Tangan Arman terangkat hampir memukul, tetapi Nadira mengelak dari tamparan yang meluncur.
Wajah Arman makin memerah. Ia menggeram, “Berani sekali kamu menghindar?”
Nadira melangkah dengan tenang ke sofa dan duduk santai, seperti sedang bertamu ke rumah orang. Dengan tatapan Ratna dan Aurelia yang terkejut, Nadira menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu menatap Arman dengan tenang.
Ketika Arman melayangkan tangannya, bersiap menghantam, Nadira berkata datar, “Kalau Papa berani menyentuhku, urusan pernikahan selesai. Tidak ada pembicaraan lagi.”
Tangan Arman berhenti hanya sejengkal dari wajah Nadira.
Lebih dari empat tahun ia tidak melihat anak itu. Sekarang Nadira bukan lagi gadis yang bisa ia tarik, dorong, dan bungkam dengan satu ancaman.
Dulu, Arman pernah berniat menikahkan Nadira dengan pria tua seusianya. Alasannya, ya karena uang mahar besar, miliaran rupiah, untuk menutup hutang perusahaan. Namun setelah reputasi Nadira jatuh, pria itu mundur.
Lima tahun lalu, Arman merasa kehilangan miliaran rupiah gara gara Nadira. Perusahaannya hampir gulung tikar. Dan sekarang, di hadapannya, Nadira duduk seperti orang yang memegang kendali, tidak tahu diri.
Baginya, itu bukan hanya pembangkangan. tu penghinaan.
Wajah Arman menghitam. Genggaman tangannya semakin mengencang.
“Pukul saja,” kata Nadira pelan, menantang, “kalau Papa pukul, aku tidak akan menikah.”
Mata Arman berkedip, amarahnya berkecamuk. Hasrat untuk memukul Nadira begitu besar.
“Kak, ada yang menggangguku. Bawa beberapa orang ke sini, cepat. Aku di halaman Keluarga Suryanto,” katanya angkuh.Bima mengerutkan kening, lalu mendekat ke Raka dan berbisik, “Tuan Muda Kedua, apa perlu kita mengawal Nyonya keluar?”Raka menatap ke arah Nadira tanpa berkedip. Wajahnya tampak memerah, lebih dari biasanya, seolah menahan sesuatu. “Dia bisa menangani ini.”Bima menatapnya tak percaya. Ia merasa ucapan itu terdengar seperti lelucon.Reza menoleh ke arah Nadira dan berkata dingin, “Perempuan murahan, tunggu saja. Kalau hari ini aku tidak membunuhmu, aku akan mengusirmu dari Singapura. Kau akan hidup di neraka selamanya.”Keributan itu akhirnya menarik perhatian Nyonya Besar Keluarga Suryanto. Ia bergegas datang, wajahnya jelas tidak senang saat melihat Nadira sebagai pusat masalah. Meski begitu, ia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi di rumahnya sendiri. Saat hendak berbicara, suara Nadira lebih dulu terdengar.“Jangan,” ucap Nadira pelan namun tegas. Alisnya sedikit ter
Mudah ditekan?Ia tersenyum balik, menatap Arman dengan tenang. “Pak Arman, saya setuju reputasi Nona Shanti memang tercoreng. Tapi itu bukan karena saya. Alih-alih menyelidiki siapa yang merusak gaunnya, Anda malah menyalahkan saya. Apakah karena Anda mengira saya lemah dan mudah ditekan?”Lemah?Sudut mulut Arman berkedut. Berbagai emosi silih berganti di wajahnya. Tanpa berkata lagi, ia segera membawa Shanti pergi.Nadira pun tak ingin berlama-lama. Ia berpamitan dan melangkah menuju gerbang.Begitu sampai di depan rumah besar itu, seorang pemuda kaya yang tubuhnya menyengat bau alkohol berjalan sempoyongan mendekat. Jam tangan mahal di pergelangan tangannya berkilat, dan dompet kulitnya tampak menggembung, seolah uang ratusan juta rupiah di dalamnya bisa membeli segalanya.Ia menghadang langkah Nadira dan menatapnya tanpa berkedip.“Hai, cantik. Mau jalan bareng?” katanya, senyum mabuk mengembang.Menahan amarah, Nadira berkata dingin, “Tolong minggir.”“Oh, wanginya enak juga,” uj
Nadira menengadah menatap Raka. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan berbicara sejauh ini demi dirinya.Yanuar, yang berdiri tidak jauh, menangkap tatapan Nadira pada Raka. Ada rasa kecewa yang samar menyelinap di dadanya.Ia tak pernah membayangkan Nadira hadir sebagai pendamping Raka.Aurelia menundukkan kepala sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia sempat mengira Raka benar-benar menyukai Nadira, tetapi melihat jarak halus di antara mereka, hubungan sebagai pasangan suami istri itu tampaknya tidak sehangat yang dibayangkan.Kalau begitu, apakah ia masih punya kesempatan?Pandangan Aurelia melirik ke samping. Ia menarik lengan Yanuar menjauh dari keramaian, menatapnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Yanuar, nada suaranya lembut.Aurelia mengatupkan bibir, matanya dipenuhi kekhawatiran.“Mas Yanuar, ada sesuatu yang aku ragu untuk ceritakan.” Ekspresi ragu itu membuat hati Yanuar melunak.“Apa itu?”“Sebelumnya, Kak Nadira pernah dengar dariku kalau Mas Yanuar juga
Shanti tahu, di mata mereka semua, dirinya kini tak lebih dari noda memalukan. Tatapan jijik dan rasa muak mengelilinginya. Namun ia tak peduli. Meski nama baiknya hancur, ia harus menemukan kakaknya. Ia harus menuntut keadilan.Dengan air mata mengalir deras, Shanti berdiri tertatih dan menunjuk Nadira. “Sudah lima tahun. Kakakku dan Lili Hartono menghilang selama lima tahun. Nadira Chandra, kamu kejam. Kalau kamu tidak membunuh mereka, bagaimana mungkin mereka lenyap begitu saja dari dunia ini?”“Kamu membunuh kakakku. Untuk itu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku bersumpah…”Kalimatnya terputus. Pandangannya mengabur, tubuhnya limbung, lalu ia jatuh pingsan ke lantai marmer yang dingin.“Miss Shanti, berbaring di lantai marmer begini tidak dingin?” tanya Nadira Chandra ketika ia melangkah mendekati Shanti. Aula hotel di kawasan Sudirman itu berkilau oleh lampu kristal, AC menyemburkan udara Jakarta yang dingin menusuk.Nadira mengulurkan tangan dan mencubit ringan lekuk di bawa
“Di mana Shinta Ayuningtyas?” mata Arman memerah. Napasnya memburu, seolah dadanya dihimpit beban bertahun-tahun. Shinta adalah putri yang paling ia sayangi. Lima tahun lalu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, Shinta menghilang tanpa jejak. Ia telah mengerahkan segala cara, dari laporan polisi hingga menyewa detektif swasta, menghabiskan ratusan juta rupiah, namun hasilnya nihil.“Nona Shanti, saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan,” ujar Nadira tenang. “Saya tidak membunuh siapa pun, dan saya tidak menculik kakak Anda.”Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya. Di layar terpampang sebuah video yang memperlihatkan Juna Gumintang dan Shanti saat mencoba mencelakainya. Keributan di aula mendadak mereda, digantikan keheningan yang tegang.Nadira melirik gaun yang tergeletak tak jauh dari mereka. “Nona Shanti, saya hanya memberi Anda sedikit obat penenang. Efeknya ringan dan singkat. Di bagian luar pakaian Anda memang ada sisa obat itu. Tapi bagian dalam gau
Tanpa sadar, Shanti melirik ke arah Aurelia Shinta yang duduk tidak jauh dari sana. Jika bukan karena cerita yang disampaikan Aurelia, ia tidak akan pernah terpikir untuk melawan Nadira. Ia juga tidak akan tahu bahwa Nadira adalah orang yang disebut-sebut telah menyakiti kakaknya.Shanti melihat Aurelia menundukkan kepala, tampak lemah dan diam. Ia kembali menoleh ke arah Nadira.Wajah Nadira tetap tenang, dingin, seolah sedang memberinya satu kesempatan terakhir.Apakah Aurelia sedang mencoba mencelakakannya?Tidak mungkin. Ia adalah Nona Besar Keluarga Suryanto. Ia bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan Aurelia. Untuk apa Aurelia melakukan semua ini?“Nona Shanti.”Saat mendengar Nadira memanggilnya, Shanti menoleh dengan wajah masih kosong.“Nona Shanti, gaun yang Anda kenakan hari ini sangat unik,” lanjut Nadira dengan nada santai. “Dan sepertinya ada bau aneh.”Dengan pola pikir Shanti yang sederhana, Nadira tahu ia tidak akan langsung memahami maksudnya. Ia hanya bisa me







