Share

Bab 6 - Terasa Hangat

last update Last Updated: 2026-01-15 14:33:21

“Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”

Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.

“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”

Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.

“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”

Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdebat.

Shania tetap nekat meraih lagi. Namun, Nadira tidak menyerah. Ia tetap bersikukuh untuk menolong Raka.

Nadira menunduk, fokusnya tajam. Jarum perak pertama menembus titik di kepala Raka. Gerakannya cepat, terukur, tanpa ragu. Jarum kedua menyusul. Ketiga. Ritmenya seperti seseorang yang sudah berlatih bertahun-tahun.

Raka masih setengah sadar. Matanya bergetar, lalu terbuka tipis. Ia menatap jarum-jarum itu dengan pandangan buram, namun nyeri yang tadi menggigit dari dalam perlahan mereda, seolah simpul di tubuhnya mulai mengendur.

Shania menelan ludah, tidak percaya, ketika melihat tangan Raka meremas ujung pakaian Nadira.

Raka, yang biasanya enggan menyentuh siapa pun.

Nadira mengangkat tangan lain dan membuka kancing atas pakaian Raka, menariknya sedikit ke samping untuk memperlihatkan dada bidangnya. Jelas ia rutin berolahraga. Namun semua itu tidak tampak gagah saat ini. Napas Raka tidak beraturan, dahi dan pelipisnya basah oleh keringat dingin, seakan ia baru saja keluar dari ruang bawah tanah yang membeku.

Jarum-jarum perak yang ditanam Nadira justru memberi sensasi hangat. Hangat kecil, tapi nyata. Seperti secangkir teh tawar di warung pinggir jalan saat Jakarta hujan, sederhana tapi menyelamatkan.

Nadira menurunkan kedua tangannya sedikit. Rambutnya jatuh menutupi sisi wajah, bulu matanya yang panjang menaungi tatapan matanya yang serius.

Ia menancapkan jarum terakhir, lalu mengangkat pandangan ke Raka.

“Kalau Anda masih sadar,” katanya lirih, “kedip sekali.”

Raka berkedip.

Nadira menghembuskan napas lega. Ia meraih tangan Raka dan menanam jarum terakhir di titik yang tepat.

Selesai.

Keringat dingin kini juga membasahi dahi Nadira. Saat ia hendak berdiri mengambil tisu, ia mendapati tangan kirinya tertahan.

Raka menggenggamnya.

Nadira mencoba menarik, namun genggaman itu tidak kuat, hanya bertahan, seolah tubuh Raka menolak kehilangan sumber hangatnya.

Maka Nadira duduk di sisi sofa, menunggu.

Mata Raka tertutup. Hangat mengalir pelan di pembuluhnya, menyebar, membuat dingin itu surut sedikit demi sedikit.

Di sudut ruangan, mata Shania berkilat oleh rasa lega yang tidak ia sangka akan muncul.

Waktu berlalu.  Nadira melirik jam, lalu mulai mencabut jarum-jarum itu satu per satu.

Saat jarum terakhir terlepas, kelopak mata Raka bergerak. Ia menghela napas lebih stabil, lalu membuka mata.

Nadira segera menarik kembali tangan kirinya dan bergeser duduk di sisi lain sofa. Ia mengusap keringat di dahinya dengan tisu.

“Bang Raka!” Shania langsung berdiri, mendekat. Ia mengulurkan tangan.

Namun Raka menghindar, gerakannya tajam meski tubuhnya baru saja pulih.

Shania berhenti, menarik kembali tangannya. Ruangan kembali hening, hanya napas Raka yang kini lebih teratur, dan Nadira yang duduk tenang, menjaga jarak, seolah semua yang barusan terjadi adalah bagian dari sesuatu yang tidak perlu dibicarakan.

“Ra-raka, bagaimana keadaannmu?” Suara Shania bergetar. Matanya basah, air mata menggantung di pelupuk, membuat wajahnya tampak begitu memelas saat menatap Raka.

Shania tidak mengerti. Mengapa Raka tidak menepis sentuhan perempuan itu, tetapi malah menghindarinya seakan Shania yang harus dijauhkan?

Semakin dipikirkan, semakin sesak dadanya. 

Raka duduk tegak dengan gerak yang rapi dan tenang, punggungnya lurus seperti garis. Ia melirik Nadira dengan tatapan rumit, seolah ada kalimat yang tertahan di ujung lidah namun tidak jadi diucapkan. Lalu ia berdiri dan melangkah menuju lantai atas tanpa menoleh lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 8 - Ibu Baru yang Baik

    Dalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.Raka terpaku sesaat.Nadira.Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.Dan entah kenapa, Raka le

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 7 - Kamu Nggak Akan Mati

    Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.Nadira.Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.“Lo nggak akan mati!”Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.Dering ponsel memotong benang pikirannya.Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,”

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 6 - Terasa Hangat

    “Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdeba

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 5 - Sentuhan Pertama

    Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”Anda tidak akan mati.Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.Dan gadis ini, yang entah da

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 4 - Pertemuan Pertama

    Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, orna

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   Bab 3 - Sesuatu yang Hilang

    Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang. “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status