LOGINSesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.
Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.
Nadira.
Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.
“Lo nggak akan mati!”
Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.
Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.
Dering ponsel memotong benang pikirannya.
Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.
“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,” suara Ibu Wulan terdengar kesal dari seberang. “Kenapa baru diangkat sekarang?”
Raka menurunkan ponsel sedikit, membiarkan keluhan itu tumpah sampai habis. Baru setelah hening sejenak, ia mendekatkan ponsel kembali.
“Ada apa?” tanyanya datar, seolah nada suaranya sengaja dibuat tidak memberi ruang pada emosi.
“Si Kecil Kiki pingsan. Kami sekarang di RS Gunawan, Jakarta…”
“Aku ke sana sekarang juga.” Raka langsung meraih pakaian, berganti cepat, lalu keluar kamar.
Raka turun ke ruang tamu. Dari arah jendela besar, cahaya Jakarta menembus masuk, membuat debu halus di udara tampak berkilau.
Di sofa, Nadira duduk sambil mengetuk layar ponselnya, ekspresinya tenang seakan semua ini bukan urusannya. Pelayan baru saja meletakkan teh hangat di meja, uapnya tipis menari, aroma melati samar mengisi ruangan.
Raka menoleh pada sang pelayan. “Siapkan kamar tamu untuk Bu Nadira.”
“Baik, Tuan,” jawabnya cepat, lalu dengan sopan mengantar Raka sampai pintu.
Raka melangkah keluar.
Zahra, yang sejak tadi seperti dianggap tidak ada, buru-buru menyusul. Di halaman, angin Jakarta yang lembap mengusap kulit, membawa sisa panas siang dan aroma aspal yang baru mendingin.
Zahra menatap punggung Raka, lalu memaksakan senyum ketika ia berhasil sejajar. Dengan suara pelan, ia berusaha menenangkan.
“Raka, jangan khawatir. Itu cuma gula darah rendah. Kiki pasti baik-baik saja.”
Langkah Raka melambat. Ia berbalik menatap Zahra, yang masih mencoba terlihat lembut dan meyakinkan.
Alisnya mengerut tipis, hampir tak terlihat. Suaranya turun, dingin. “Cuma gula darah rendah?”
Zahra merasakan hawa asing menyelimuti. Ada ketegangan yang membuat tenggorokannya terasa mengering. Ia menelan ludah, lalu dengan mata kembali berkaca-kaca berkata, “Raka… aku salah. Aku cuma tidak ingin kamu terlalu khawatir.”
“Begitu?” Raka mengangkat alisnya sedikit, matanya menyipit, tajam seperti pisau yang tidak perlu dihunus untuk melukai.
Nada suaranya membuat bulu kuduk berdiri.
Wajah Zahra pucat. Saat ia sempat mengumpulkan kesadarannya, Raka sudah berjalan jauh ke arah gerbang halaman.
Angin lewat lagi. Kali ini Zahra merinding, dingin merambat dari tengkuk ke punggung. Ia baru sadar telapak tangannya basah oleh keringat dingin, dan napasnya pendek-pendek seperti habis menahan tangis.
Raka tiba di RS Gunawan, langsung menuju ruang rawat VIP. Lorong rumah sakit berlampu putih terang, harum antiseptik bercampur wangi kopi dari sudut pantry perawat.
Di dalam kamar, Ibu Wulan duduk di samping ranjang.
Seorang anak laki-laki berusia empat tahun terbaring di atas seprai putih. Wajah kecil itu luar biasa mirip Raka, terutama bentuk alis dan garis rahangnya yang halus.
“Bu,” sapa Raka pelan sambil melangkah mendekat. Ia menatap Kiki, matanya bergerak cepat memeriksa, seakan bisa membaca kondisi anak itu hanya dari satu pandangan.
Kekhawatiran menyelip di matanya. Suaranya merendah. “Dokter bilang apa?”
Ibu Wulan menatap cucunya dengan ekspresi yang sulit ditebak, antara lega, marah, dan sedih yang ditahan.
Ia lalu menoleh pada Raka. “Anak ini tahu kamu menikah hari ini. Dia mau ikut, jadi dia bersembunyi di kursi belakang mobil. Akhirnya dia pingsan karena hipoglikemia.”
Raka menghembuskan napas pendek. “Pelayan-pelayan itu tidak becus. Bisa-bisanya Kiki lepas begitu saja.”
Ia duduk di sisi ranjang, tangannya merapikan selimut dengan gerak kaku. “Sepertinya Keluarga Gunawan tidak butuh mereka lagi.”
“Kamu tidak bisa menyalahkan mereka,” Ibu Wulan cepat-cepat membela. “Hari ini semua sibuk. Aku yang minta mengurus dia. Tadi dia bilang mau ke toilet, lalu kabur tanpa aku sadari.”
Raka mengangguk pelan, menerima penjelasan itu, walau matanya masih dingin.
Dalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.Raka terpaku sesaat.Nadira.Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.Dan entah kenapa, Raka le
Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.Nadira.Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.“Lo nggak akan mati!”Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.Dering ponsel memotong benang pikirannya.Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,”
“Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdeba
Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”Anda tidak akan mati.Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.Dan gadis ini, yang entah da
Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, orna
Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang. “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke a







