Beranda / Romansa / Rahasia Besar Istri Seorang CEO / Bab 7 - Kamu Nggak Akan Mati

Share

Bab 7 - Kamu Nggak Akan Mati

Penulis: sebuahalkisah_
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 23:36:43

Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.

Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.

Nadira.

Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.

“Lo nggak akan mati!”

Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.

Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.

Dering ponsel memotong benang pikirannya.

Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,” suara Ibu Wulan terdengar kesal dari seberang. “Kenapa baru diangkat sekarang?”

Raka menurunkan ponsel sedikit, membiarkan keluhan itu tumpah sampai habis. Baru setelah hening sejenak, ia mendekatkan ponsel kembali.

“Ada apa?” tanyanya datar, seolah nada suaranya sengaja dibuat tidak memberi ruang pada emosi.

“Si Kecil Kiki pingsan. Kami sekarang di RS Gunawan, Jakarta…”

“Aku ke sana sekarang juga.” Raka langsung meraih pakaian, berganti cepat, lalu keluar kamar.

Raka turun ke ruang tamu. Dari arah jendela besar, cahaya Jakarta menembus masuk, membuat debu halus di udara tampak berkilau.

Di sofa, Nadira duduk sambil mengetuk layar ponselnya, ekspresinya tenang seakan semua ini bukan urusannya. Pelayan baru saja meletakkan teh hangat di meja, uapnya tipis menari, aroma melati samar mengisi ruangan.

Raka menoleh pada sang pelayan. “Siapkan kamar tamu untuk Bu Nadira.”

“Baik, Tuan,” jawabnya cepat, lalu dengan sopan mengantar Raka sampai pintu.

Raka melangkah keluar.

Zahra, yang sejak tadi seperti dianggap tidak ada, buru-buru menyusul. Di halaman, angin Jakarta yang lembap mengusap kulit, membawa sisa panas siang dan aroma aspal yang baru mendingin.

Zahra menatap punggung Raka, lalu memaksakan senyum ketika ia berhasil sejajar. Dengan suara pelan, ia berusaha menenangkan.

“Raka, jangan khawatir. Itu cuma gula darah rendah. Kiki pasti baik-baik saja.”

Langkah Raka melambat. Ia berbalik menatap Zahra, yang masih mencoba terlihat lembut dan meyakinkan.

Alisnya mengerut tipis, hampir tak terlihat. Suaranya turun, dingin. “Cuma gula darah rendah?”

Zahra merasakan hawa asing menyelimuti. Ada ketegangan yang membuat tenggorokannya terasa mengering. Ia menelan ludah, lalu dengan mata kembali berkaca-kaca berkata, “Raka… aku salah. Aku cuma tidak ingin kamu terlalu khawatir.”

“Begitu?” Raka mengangkat alisnya sedikit, matanya menyipit, tajam seperti pisau yang tidak perlu dihunus untuk melukai.

Nada suaranya membuat bulu kuduk berdiri.

Wajah Zahra pucat. Saat ia sempat mengumpulkan kesadarannya, Raka sudah berjalan jauh ke arah gerbang halaman.

Angin lewat lagi. Kali ini Zahra merinding, dingin merambat dari tengkuk ke punggung. Ia baru sadar telapak tangannya basah oleh keringat dingin, dan napasnya pendek-pendek seperti habis menahan tangis.

Raka tiba di RS Gunawan, langsung menuju ruang rawat VIP. Lorong rumah sakit berlampu putih terang, harum antiseptik bercampur wangi kopi dari sudut pantry perawat.

Di dalam kamar, Ibu Wulan duduk di samping ranjang.

Seorang anak laki-laki berusia empat tahun terbaring di atas seprai putih. Wajah kecil itu luar biasa mirip Raka, terutama bentuk alis dan garis rahangnya yang halus.

“Bu,” sapa Raka pelan sambil melangkah mendekat. Ia menatap Kiki, matanya bergerak cepat memeriksa, seakan bisa membaca kondisi anak itu hanya dari satu pandangan.

Kekhawatiran menyelip di matanya. Suaranya merendah. “Dokter bilang apa?”

Ibu Wulan menatap cucunya dengan ekspresi yang sulit ditebak, antara lega, marah, dan sedih yang ditahan.

Ia lalu menoleh pada Raka. “Anak ini tahu kamu menikah hari ini. Dia mau ikut, jadi dia bersembunyi di kursi belakang mobil. Akhirnya dia pingsan karena hipoglikemia.”

Raka menghembuskan napas pendek. “Pelayan-pelayan itu tidak becus. Bisa-bisanya Kiki lepas begitu saja.”

Ia duduk di sisi ranjang, tangannya merapikan selimut dengan gerak kaku. “Sepertinya Keluarga Gunawan tidak butuh mereka lagi.”

“Kamu tidak bisa menyalahkan mereka,” Ibu Wulan cepat-cepat membela. “Hari ini semua sibuk. Aku yang minta mengurus dia. Tadi dia bilang mau ke toilet, lalu kabur tanpa aku sadari.”

Raka mengangguk pelan, menerima penjelasan itu, walau matanya masih dingin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 53 - Perempuan Arogan

    “Kak, ada yang menggangguku. Bawa beberapa orang ke sini, cepat. Aku di halaman Keluarga Suryanto,” katanya angkuh.Bima mengerutkan kening, lalu mendekat ke Raka dan berbisik, “Tuan Muda Kedua, apa perlu kita mengawal Nyonya keluar?”Raka menatap ke arah Nadira tanpa berkedip. Wajahnya tampak memerah, lebih dari biasanya, seolah menahan sesuatu. “Dia bisa menangani ini.”Bima menatapnya tak percaya. Ia merasa ucapan itu terdengar seperti lelucon.Reza menoleh ke arah Nadira dan berkata dingin, “Perempuan murahan, tunggu saja. Kalau hari ini aku tidak membunuhmu, aku akan mengusirmu dari Singapura. Kau akan hidup di neraka selamanya.”Keributan itu akhirnya menarik perhatian Nyonya Besar Keluarga Suryanto. Ia bergegas datang, wajahnya jelas tidak senang saat melihat Nadira sebagai pusat masalah. Meski begitu, ia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi di rumahnya sendiri. Saat hendak berbicara, suara Nadira lebih dulu terdengar.“Jangan,” ucap Nadira pelan namun tegas. Alisnya sedikit ter

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 52 - Efek Obat Perangsang

    Mudah ditekan?Ia tersenyum balik, menatap Arman dengan tenang. “Pak Arman, saya setuju reputasi Nona Shanti memang tercoreng. Tapi itu bukan karena saya. Alih-alih menyelidiki siapa yang merusak gaunnya, Anda malah menyalahkan saya. Apakah karena Anda mengira saya lemah dan mudah ditekan?”Lemah?Sudut mulut Arman berkedut. Berbagai emosi silih berganti di wajahnya. Tanpa berkata lagi, ia segera membawa Shanti pergi.Nadira pun tak ingin berlama-lama. Ia berpamitan dan melangkah menuju gerbang.Begitu sampai di depan rumah besar itu, seorang pemuda kaya yang tubuhnya menyengat bau alkohol berjalan sempoyongan mendekat. Jam tangan mahal di pergelangan tangannya berkilat, dan dompet kulitnya tampak menggembung, seolah uang ratusan juta rupiah di dalamnya bisa membeli segalanya.Ia menghadang langkah Nadira dan menatapnya tanpa berkedip.“Hai, cantik. Mau jalan bareng?” katanya, senyum mabuk mengembang.Menahan amarah, Nadira berkata dingin, “Tolong minggir.”“Oh, wanginya enak juga,” uj

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 51 - Shanti Meminta Maaf

    Nadira menengadah menatap Raka. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan berbicara sejauh ini demi dirinya.Yanuar, yang berdiri tidak jauh, menangkap tatapan Nadira pada Raka. Ada rasa kecewa yang samar menyelinap di dadanya.Ia tak pernah membayangkan Nadira hadir sebagai pendamping Raka.Aurelia menundukkan kepala sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia sempat mengira Raka benar-benar menyukai Nadira, tetapi melihat jarak halus di antara mereka, hubungan sebagai pasangan suami istri itu tampaknya tidak sehangat yang dibayangkan.Kalau begitu, apakah ia masih punya kesempatan?Pandangan Aurelia melirik ke samping. Ia menarik lengan Yanuar menjauh dari keramaian, menatapnya dengan wajah cemas.“Ada apa?” tanya Yanuar, nada suaranya lembut.Aurelia mengatupkan bibir, matanya dipenuhi kekhawatiran.“Mas Yanuar, ada sesuatu yang aku ragu untuk ceritakan.” Ekspresi ragu itu membuat hati Yanuar melunak.“Apa itu?”“Sebelumnya, Kak Nadira pernah dengar dariku kalau Mas Yanuar juga

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 50 - Shanti yang Tak Tahu Malu

    Shanti tahu, di mata mereka semua, dirinya kini tak lebih dari noda memalukan. Tatapan jijik dan rasa muak mengelilinginya. Namun ia tak peduli. Meski nama baiknya hancur, ia harus menemukan kakaknya. Ia harus menuntut keadilan.Dengan air mata mengalir deras, Shanti berdiri tertatih dan menunjuk Nadira. “Sudah lima tahun. Kakakku dan Lili Hartono menghilang selama lima tahun. Nadira Chandra, kamu kejam. Kalau kamu tidak membunuh mereka, bagaimana mungkin mereka lenyap begitu saja dari dunia ini?”“Kamu membunuh kakakku. Untuk itu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku bersumpah…”Kalimatnya terputus. Pandangannya mengabur, tubuhnya limbung, lalu ia jatuh pingsan ke lantai marmer yang dingin.“Miss Shanti, berbaring di lantai marmer begini tidak dingin?” tanya Nadira Chandra ketika ia melangkah mendekati Shanti. Aula hotel di kawasan Sudirman itu berkilau oleh lampu kristal, AC menyemburkan udara Jakarta yang dingin menusuk.Nadira mengulurkan tangan dan mencubit ringan lekuk di bawa

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 49 - Akankah Kebenaran Terungkap?

    “Di mana Shinta Ayuningtyas?” mata Arman memerah. Napasnya memburu, seolah dadanya dihimpit beban bertahun-tahun. Shinta adalah putri yang paling ia sayangi. Lima tahun lalu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, Shinta menghilang tanpa jejak. Ia telah mengerahkan segala cara, dari laporan polisi hingga menyewa detektif swasta, menghabiskan ratusan juta rupiah, namun hasilnya nihil.“Nona Shanti, saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan,” ujar Nadira tenang. “Saya tidak membunuh siapa pun, dan saya tidak menculik kakak Anda.”Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya. Di layar terpampang sebuah video yang memperlihatkan Juna Gumintang dan Shanti saat mencoba mencelakainya. Keributan di aula mendadak mereda, digantikan keheningan yang tegang.Nadira melirik gaun yang tergeletak tak jauh dari mereka. “Nona Shanti, saya hanya memberi Anda sedikit obat penenang. Efeknya ringan dan singkat. Di bagian luar pakaian Anda memang ada sisa obat itu. Tapi bagian dalam gau

  • Rahasia Besar Istri Seorang CEO   BAB 48 - Siapa yang Menjebak Shanti?

    Tanpa sadar, Shanti melirik ke arah Aurelia Shinta yang duduk tidak jauh dari sana. Jika bukan karena cerita yang disampaikan Aurelia, ia tidak akan pernah terpikir untuk melawan Nadira. Ia juga tidak akan tahu bahwa Nadira adalah orang yang disebut-sebut telah menyakiti kakaknya.Shanti melihat Aurelia menundukkan kepala, tampak lemah dan diam. Ia kembali menoleh ke arah Nadira.Wajah Nadira tetap tenang, dingin, seolah sedang memberinya satu kesempatan terakhir.Apakah Aurelia sedang mencoba mencelakakannya?Tidak mungkin. Ia adalah Nona Besar Keluarga Suryanto. Ia bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan Aurelia. Untuk apa Aurelia melakukan semua ini?“Nona Shanti.”Saat mendengar Nadira memanggilnya, Shanti menoleh dengan wajah masih kosong.“Nona Shanti, gaun yang Anda kenakan hari ini sangat unik,” lanjut Nadira dengan nada santai. “Dan sepertinya ada bau aneh.”Dengan pola pikir Shanti yang sederhana, Nadira tahu ia tidak akan langsung memahami maksudnya. Ia hanya bisa me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status