LOGINDalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”
Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.
Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.
Raka terpaku sesaat.
Nadira.
Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.
Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.
Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?
Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.
Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.
Dan entah kenapa, Raka lebih mudah mempercayai kemungkinan kedua.
“Daddy!” Suara lembut itu memotong lamunan Raka Gunawan.
“Kiki.” Ibu Wulan menatapnya dengan wajah penuh emosi.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Kiki yang chubby, lalu berkata riang, “Akhirnya kamu sadar juga. Nenek sampai cemas, tahu.” Ia bahkan berpura-pura menyeka dua tetes air mata di sudut matanya.
“Nenek, jangan menangis,” kata Kiki dengan suara kekanak-kanakan sambil berusaha bangun.
Melihat itu, Ibu Wulan buru-buru menahan bahunya sambil tersenyum. “Anak baik, nenek tidak menangis lagi.”
“Kenapa kamu keluar sendirian?” tanya Raka pelan. Matanya dipenuhi kehangatan.
Setiap kali Kiki berbuat salah, Raka selalu berniat bersikap tegas, tapi pada akhirnya hatinya selalu luluh.
Mendengar pertanyaan itu, Si Kecil Kiki sedikit menciut. “Aku ingin melihat seperti apa mommy baruku,” katanya lirih.
Raka terdiam menatap Kiki.
Si Kecil Kiki semakin menunduk, lalu berkata malu-malu, “Mommy baruku hangat sekali, seperti malaikat. A-aku cukup menyukainya.”
Saat terjatuh, ia masih setengah sadar. Dalam kabut kesadarannya, ia melihat mommy barunya mengenakan gaun pengantin putih. Cahaya suci menyelimutinya saat ia mendekat seperti malaikat, bahkan menyuapinya larutan gula.
Raka hanya menggumam singkat.
Ia berdiri, mengajak Ibu Wulan keluar dari ruang rawat inap rumah sakit di Jakarta itu, aroma disinfektan bercampur hiruk-pikuk kota yang samar terdengar dari luar. Dengan suara rendah ia berkata, “Bu, untuk sementara jangan biarkan Kiki pulang dulu.”
Ibu Wulan berkedip bingung. “Kenapa?”
Raka belum yakin dengan niat Nadira datang ke kediaman keluarga Gunawan. Ia tak ingin Kiki terluka. Jika perempuan itu punya maksud buruk, Kiki takkan mampu melindungi diri.
“Bu, aku ingin melihat seperti apa orangnya dan apakah dia pantas menjadi mommy Kiki,” ujar Raka datar, pandangannya sedikit tertunduk.
Pikirannya melayang pada wanita yang lima tahun lalu pernah masuk ke hidupnya dengan cara yang tak pernah ia lupakan.
“Itu masuk akal. Kamu memang selalu berhati-hati,” kata Ibu Wulan sambil mengangguk.
Kiki masih anak-anak. Jika putri kedua keluarga Wijaya memperlakukannya buruk atau menyakitinya, itu akan jadi masalah besar.
“Perhatikan baik-baik putri kedua keluarga Wijaya itu,” tambahnya.
“Iya,” jawab Raka tenang.
Ia menemani Kiki beberapa saat lagi sebelum meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan kembali ke kediaman keluarga Gunawan, mobil melaju menyusuri jalanan Jakarta yang padat. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca jendela.
“Selidiki latar belakang Nadira Chandra,” katanya kepada sekretarisnya, Reno Aditya, yang duduk di kursi depan.
“Baik, Pak,” jawab Reno sigap.
Raka bersandar di kursi belakang, menoleh ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi perlahan tertinggal. Wajah Nadira yang polos dan halus terlintas di benaknya, membuat alisnya berkerut.
Saat tiba di rumah, ia melihat Zahra berdiri termenung di halaman, di bawah pepohonan yang rapi. Raka melewatinya tanpa melirik sedikit pun.
Zahra menatap punggung Raka yang menjauh dengan wajah tanpa ekspresi. Keningnya berkerut. Ia mengira Raka akan mengkhawatirkannya, setidaknya menanyakan keadaannya, tapi pria itu pergi begitu saja.
Rasa panik mulai merayap. Selama ini ia selalu yakin akan menikah dengan Raka. Tak pernah terbayang pria itu justru menikahi perempuan lain.
Tidak. Ia tak bisa membiarkan itu terjadi.
Ia tak sanggup melihat Raka bersama wanita lain, tepat di depan matanya.
Tatapan Zahra dipenuhi kegelisahan. Tiba-tiba, wajah Kiki terlintas di benaknya. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Kiki adalah orang terpenting bagi Raka. Jika Ibu Wulan berpihak padanya, ia yakin posisi Nyonya Muda Kedua keluarga Gunawan pasti akan menjadi miliknya.
Dengan pikiran itu, langkah Zahra semakin cepat.
Raka berjalan menuju ruang duduk. Melihat ruangan kosong, ia menoleh pada kepala pelayan yang berdiri di samping. “Di mana dia?”
“Bu Nadira sedang beristirahat di kamar tamu di sebelah kamar Anda, Tuan” jawab Pak Hadi.
Ia mengantar Raka ke depan kamar Nadira dan mengetuk pintu.
“Siapa?” terdengar suara agak tak sabar dari dalam.
Hampir bersamaan, pintu terbuka. Nadira berdiri di hadapan Raka, mengenakan kaus lengan pendek dan celana pendek denim. Rambutnya masih basah, tetesan air hangat terlihat di lekuk tulang selangkanya. Uap tipis menyelubungi tubuhnya, membuat suasana terasa pengap.
Menyadari ini bukan tempatnya, Pak Hadi segera pergi.
Raka melirik sekilas, lalu masuk dengan langkah tenang. Ia duduk di sofa dekat jendela, memandang taman kecil di luar, sorot matanya merendah.
“Seberapa yakin kamu bisa menghilangkan racun di tubuhku?” tanyanya.
Sambil mendengar pertanyaan itu, Nadira mengurai rambut panjangnya, tanpa sengaja membasahi kausnya. Garis pakaian dalamnya tampak samar.
Ia menunduk sejenak, berpikir. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Racunnya sudah terlalu dalam. Aku hanya yakin tujuh puluh persen bisa menyembuhkanmu.”
Hanya tujuh puluh persen.
Bibir tipis Raka melengkung membentuk senyum mengejek.
Raka masih mengingat jelas kalimat para dokter yang dulu menangani sakitnya.
Mereka bilang peluangnya untuk pulih kurang dari sepuluh persen.
Banyak orang yakin ia tidak akan melewati usia dua puluh, tetapi dengan usaha yang nyaris menguras habis tenaga dan pikirannya, ia bertahan lima tahun lagi. Lima tahun yang terasa seperti berjalan di tepi jurang, satu langkah saja salah, semuanya selesai.
Dalam dingin ruangan VIP, sambil menatap Kiki yang tak sadarkan diri, Ibu Wulan seperti teringat sesuatu. “Oh ya. Ini penyelamat Kiki. Nanti kamu harus berterima kasih baik-baik.”Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah video.Di layar, seorang perempuan mengenakan gaun pengantin. Ia berjongkok di samping Si Kecil Kiki, dengan gerakan hati-hati menyuapkan larutan gula. Wajahnya tenang, tatapannya fokus.Raka terpaku sesaat.Nadira.Ia menatap video itu tanpa berkedip, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Ia tidak pernah menyangka penyelamat Kiki adalah Nadira. Perempuan itu jelas memiliki keterampilan medis.Namun justru di situlah kecurigaannya tumbuh.Mengapa Nadira datang ke kediaman Keluarga Gunawan?Cahaya di mata Raka perlahan meredup. Satu kesimpulan mengendap, dingin dan tajam.Satu-satunya alasan Nadira bisa menekan racun dalam tubuhnya adalah karena keahliannya yang luar biasa… atau karena ia memiliki hubungan dengan orang yang meracuninya.Dan entah kenapa, Raka le
Sesampainya di kamar, Raka berdiri di depan cermin. Kancing kemejanya terbuka setengah, napasnya sudah jauh lebih stabil. Dengan gerakan cepat, ia melepas kemeja dan berjalan ke kamar mandi.Dulu, setiap kali kambuh, ia butuh lebih dari dua jam untuk benar-benar pulih. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa kali ini tubuhnya bisa kembali tenang dalam waktu sepuluh menit.Nadira.Kemampuan medisnya tidak buruk. Bahkan, terlalu tidak buruk.“Lo nggak akan mati!”Kalimat itu mendadak melintas, persis seperti cara Nadira mengucapkannya tadi, tegas dan tanpa basa-basi. Mata Raka meredup. Bibirnya terkatup rapat, seolah ia sedang menelan sesuatu yang pahit.Ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aroma sabun dan uap hangat masih menempel di kulitnya, tetapi pikirannya sudah kembali dingin.Dering ponsel memotong benang pikirannya.Raka mengangkat telepon, melirik nama penelepon, lalu menempelkan ponsel ke telinga.“Aku sudah telepon lebih dari sepuluh kali,”
“Kamu minggir!” Shania melesat ke dekat sofa. Begitu melihat Nadira memegang jarum perak, tubuhnya refleks menegang. Suaranya pecah oleh panik. “Kamu ngapain? Bangun! Bang Raka tidak suka orang lain menyentuh dia!”Shania tumbuh besar bersama Raka, sahabat sejak kecil, namun bahkan dirinya pun tidak pernah diizinkan menyentuh Raka sembarangan. Dalam pikirannya, hanya Si Kecil Kiki yang punya hak istimewa itu.“Minggir!” Shania berusaha menarik Nadira menjauh. “Ini kambuh. Nanti aku panggil dokter. Jangan halangi!”Nadira sudah mengatur posisi jarum perak di jari-jarinya. Mendengar itu, seberkas kesal melintas di wajahnya. Bukan kesal pada Shania, melainkan pada kepanikan yang mengacaukan detik-detik berharga.“Jangan tarik aku,” tegasnya. “Aku sedang menyelamatkan dia.”Bagi pasien dengan kondisi seperti Raka, saat kambuh adalah momen paling berbahaya. Jika titik kritis itu dilewati dengan benar, tubuh bisa segera kembali stabil. Nadira tahu itu, dan ia tidak punya waktu untuk berdeba
Saat Nadira masih terseret bayangan itu, Raka mengangkat tangan dan mencengkram dagunya, memaksanya menatap langsung.Dengan suara rendah yang berat dan memikat, ia mengejek, “Keluarga Wijaya memaksa anak perempuannya jadi janda hidup hanya demi uang seserahan?”“Minta maaf,” Nadira menjawab, meski pikirannya kacau, wajahnya tetap tenang. “Saya tidak akan jadi janda.”Ia menahan tatapan Raka yang dalam dan sulit dibaca, lalu menambahkan, “Anda tidak perlu mengutuk diri sendiri. Anda tidak akan mati, dan saya tidak akan jadi janda.”Anda tidak akan mati.Kalimat itu membuat Raka terdiam sepersekian detik.Sejauh yang ia ingat, orang orang di sekelilingnya selalu mengatakan hal yang sama, dengan versi yang berbeda: usianya tak akan melewati tiga puluh tahun. Ia bertahan hidup lima tahun lebih lama dengan ramuan, obat, dan segala cara yang bisa dibeli oleh nama besar Keluarga Gunawan. Namun tubuhnya tetap seperti lilin yang meleleh pelan, menipis setiap hari.Dan gadis ini, yang entah da
Nadira menatap Ratna sekali lagi, dingin, tanpa sisa hangat. Lalu ia bangkit dan melangkah menuju mobil keluarga Gunawan.Rumah besar keluarga Gunawan berada di pinggiran, dekat kawasan hutan kota yang seolah sengaja dibiarkan liar. Dari kejauhan, menara-menara tinggi menjulang, mengiris langit kelabu Jakarta. Bentuknya megah, hampir seperti bangunan tua yang dipindahkan dari buku dongeng, sekaligus menyimpan aura misterius yang membuat bulu kuduk orang mudah berdiri.Konon, tak banyak yang mau mendekat. Begitu seseorang melewati batas tanah keluarga Gunawan, para pengawal akan “mengantar” mereka keluar, dengan sopan yang terasa seperti mengusir.Dengan gaun pengantinnya, Nadira berjalan sendirian masuk ke kediaman itu. Para pelayan sempat tertegun melihat Nadira yang tampil begitu menawan dengan gaun pengantinnya, namun tetap menunduk sopan dan membawanya ke ruang tamu.Ruang tamu keluarga Gunawan luar biasa mewah. Gaya Eropa terasa kental: langit-langit tinggi, kaca-kaca besar, orna
Nadira tetap berdiri tegak, suaranya tetap tenang. “Saham itu dari awal milikku. Kalian cuma mengembalikan ke pemiliknya. Jangan berlagak paling tersakiti. Orang yang tidak tahu ceritanya, bisa mengira aku yang mencuri dari dia.”Ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap Aurelia yang bersembunyi di belakang Ratna. “Pindahkan sahamnya ke namaku sekarang. Kalau tidak, aku akan ceritakan ke Keluarga Gunawan soal nikah pengganti ini sampai detailnya.”“Kamu berani!” Arman akhirnya meledak. Ia memukul telapak tangannya ke meja, gelas di atasnya bergetar. Ia melangkah mendekat, wajahnya merah padam, tangan bergetar di sisi tubuh, siap melayang kapan saja.Nadira menyipitkan mata. “Coba saja.”Ia bahkan sempat tersenyum, cerah tapi dingin, lalu melirik Aurelia, seolah mengingatkan siapa yang paling takut kehilangan.Arman menggertakkan gigi. Ia merogoh ponsel, membuka sistem administrasi Wijaya Nusantara Corp. Dengan gerakan kasar, ia memindahkan saham yang seharusnya memang milik Nadira ke a







