Inicio / Romansa / Rahasia CEO Dingin / Bab 19. Identitas

Compartir

Bab 19. Identitas

Autor: nurulfitria_
last update Fecha de publicación: 2026-09-02 16:17:57

"Kenapa diam? Bukankah ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rayhan sambil menatap tajam Denna.

"Ti-tidak...," jawab Denna mencoba untuk tetap tenang, "A-aku hanya ingin memastikan kabar yang aku dengar,"

"Katakan pada orang yang mengatakan hal itu untuk berpikir ulang jika ingin terus hidup tenang," kata Rayhan santai namun penuh peringatan.

Erina yang berdiri di belakang Denna perlahan mengangkat kepala untuk melihat raut wajah Rayhan. Dia menelan ludah beberapa kali saat matanya bertemu dengan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 19. Identitas

    "Kenapa diam? Bukankah ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rayhan sambil menatap tajam Denna."Ti-tidak...," jawab Denna mencoba untuk tetap tenang, "A-aku hanya ingin memastikan kabar yang aku dengar,""Katakan pada orang yang mengatakan hal itu untuk berpikir ulang jika ingin terus hidup tenang," kata Rayhan santai namun penuh peringatan.Erina yang berdiri di belakang Denna perlahan mengangkat kepala untuk melihat raut wajah Rayhan. Dia menelan ludah beberapa kali saat matanya bertemu dengan mata hitam Rayhan. Ada sorot kekecewaan yang membuat dada Erina terasa sesak."Say-sayang aku ha-hanya...," Erina tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan pada Rayhan, "Mak-maksudku, aku merasa...,""Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskan padaku," potong Rayhan sambil menghela napas perlahan, "Aku akan memberimu penjelasan setelah ini,""Aku salah, seharusnya aku tidak langsung mempercayai kabar yang aku dapatkan," kata Erina pelan marasa bersalah."Jangan munafik!" bentak Denna tak taha

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 18. Mata-Mata

    "Apa aku harus berada di sekolah sampai jam sekolah berakhir?" tanya Zayyan dengan nada merajuk."Tentu saja," jawab Kiran singkat sambil mengambil tas Zayyan dan Zahran."Pasti akan sangat membosankan," sahut Zahran sambil menghela napas sedikit keras.Kiran mencubit pipi Zahran untuk kesekian kalinya dengan gemas. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kedua anaknya itu. Seharusnya mereka akan senang saat bertemu dengan teman-teman seumuran mereka."Bermainlah dengan teman-teman yang lain. Jangan sampai membuat mereka menangis!" pesan Kiran sebelum Si Kembar melangkah masuk gerbang sekolah."Jangan lupa makan bekal yang sudah Mommy buat!" tambah Kiran sedikit keras dengan raut wajah terlihat sedikit khawatir."Nyonya, tenanglah. Mereka akan baik-baik saja," kata Aldi sambil tersenyum tipis melihat kekhawatiran Kiran."Aku tahu," jawab Kiran, "Aku mengkhawatirkan guru dan teman-teman sekelas mereka,""Dan jangan pernah panggil aku 'Nyonya'!" tambah Kiran penuh peringatan.Aldi

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 17. Suasana Pagi

    "Apa maksudmu perempuan 6 tahun lalu muncul dihadapan Rayhan?" tanya Gilang dengan raut wajah merah menahan amarah."Bukankah kita sudah memberi uang agar keluarganya untuk menyingkirkan perempuan itu?" sahut Windy tak kalah terkejutnya dari Gilang."Mata-mata yang kita tempatkan di kediaman Tuan Muda melaporkan jika kemarin malam Tuan Muda membawa seorang wanita," kata asisten pribadi Gilang yang bernama Tuan Herman"Wanita itu bukan Nona Denna atau pun Nona Erina. Tuan Zahtan dan Tuan Zayyan memanggil perempuan itu 'Mommy'," lanjut Tuan Herman tanpa menutupi satu kejadian pun.Braaaak!Praaaang!Piring dan gelas berjatuhan saat Gilang memukul meja makan, Windy mengeryit tipis saat beberapa makanan mengenaik pakaiannya. Suasana yang awalnya tenang berubah berantakan karena kabar kemunculan Kiran dihadapan Rayhan.Selama beberapa tahun ini, Gilang dan Windy mencoba untuk menyingkirkan Kiran agar tidak menjadi penghalang masa depan Rayhan. Mereka memang tidak bisa menyingkirkan Zahran

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 16. Perjanjian

    Tubuh Kiran sedikit bergidik saat melihat senyuman Rayhan. Dia mencoba untuk memahami maksud laki-laki di depannya namun dia sama sekali tidak bisa membaca rencana Rayhan."Apa maksud anda? Kenapa saya harus setuju dengan rencana anda?" tanya Kiran dengan tatapan curiga ke arah Rayhan."Bukankah kamu ingin terus bersama dengan Zahran dan Zayyan?" balas Rayhan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Aku mempunyai cara agar kamu bisa terus bersama mereka,""Anda akan menyerahkan hak asuk Si Kembar pada saya?""Apa kamu gila? Zahran dan Zayyan anakku, kenapa aku harus menyerahkan mereka padamu?""Bukankah kehadiran mereka tidak diharapkan di keluarga Bintara?"Dahi Rayhan berkerut sesaat setelah mendengar perkataan Kiran. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Kiran. Meskipun keluarga Bintara tidak menginginkan Si Kembar, mereka tetap bagian dari keluarga Bintara. Dia tidak akan membiarkan orang lain meremehkan darah dagingnya sendiri."Tetap saja mereka berdua adalah b

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 15. Keinginan Si Kembar

    Kiran bingung saat terbangun di tempat yang asing, matanya memandang berkeliling untuk mencari petunjuk tentang keberadaannya saat ini. Sebuah kamar mewah yang ukurannya melebihi rumah kontrakkannya dengan ranjang queen size di tengah ruangan dan lemari berukuran besar di sisi kanannya.Wajahnya berubah menjadi panik saat teringat kejadian kemarin malam, dia langsung melompat dan berlari ke arah pintu. Pikriannya semakin tidak karuan karena takut jika yang membawanya ke tempat ini adalah orang-orang yang menyergapnya diam-diam."Aku harus segera keluar dari tempat ini!" kata Kiran sambil berusaha untuk membuka pintu tersebut.Namun usahanya sia-sia karena pintunya terkunci, Kiran berlari dengan panik ke arah jendela mencoba untuk membukanya tapi dia semakin gelisah karena mengetahui bahwa dirinya berada di lantai yang cukup tinggi. Kiran kembali memutar otaknya agar dia bisa menyelamatkan dirinya dari orang-orang yang berhasil menangkapnya.Saat Kiran sibuk mencari cara untuk melarik

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 14. Trauma Masa Lalu

    "Siapa kamu?" tanya salah satu dari laki-laki yang bertampang paling garang."Lepaskan istri saya!" jawab Rayhan sambil menendang perut salah satu dari mereka dengan kuat.Wajah Rayhan semakin terlihat khawatir saat melihat Kiran hanya diam saja dengan air mata yang terus turun membasahi wajah cantiknya. Berbagai tendangan dan pukulan dia arahkan tanpa menghiraukan keselamatannya, karena dalam hatinya terus berteriak untuk menyelamatkan Kiran apapun yang terjadi.Dalam hati Rayhan sedikit menyesal karena dia tidak mengajak salah satu pengawalnya malam ini. Wajah dan tubuhnya sudah terasa perih namun gerombolan laki-laki itu sama sekali tidak terlihat menyerah, ingin rasanya dia menyerah tapi rintihan suara Kiran meminta tolong membuat dirinya terus bertahan."Jangan sentuh istri saya, saya akan berikan berapa pun yang kalian inginkan!" teriak Rayhan saat laki-laki berwajah garang itu mulai menyeret tubuh Kiran menjauh."Saya adalah CEO perusahaan Bintara, saya akan melepaskan kalian d

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 5. Pertemuan Kedua

    Setelah menunggu sekian lama, Si Kembar akhirnya melihat Kiran berjalan bersama pegawai lainnya menuju kantin tempat mereka duduk saat ini. Senyuman lebar menghisai bibir Si Kembar, mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud berlari menuju Kiran."Kalo kalian berlari seperti it

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 3. Suasana Baru, Aturan Baru

    Kiran melangkah penuh percaya diri diiringin dengan senyuman ramah masuk ke dalam perusahaan Bintara. Tak lupa Kiran menyapa satpam dan resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan Bintara dengan sopan. Dia juga antri di depan lift bersama karyawan lainnya dengan hati yang berdebar-debar. Saat Lift

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 2. Zahran dan Zayyan

    "Kita nggak akan pernah memaafkan Om Aldi karena menjauhkan kita dari Mommy!" teriak Zayyan sambil menatap Aldi dengan kesal."Kalian jangan menambah wanita di sekitar Daddy kalian!" kata Aldi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan ulah Si Kembar."Kita nggak nambah wanita di sekita

  • Rahasia CEO Dingin   Bab 4. Gosip Kantor

    Setelah rapat selesai, Rara segera mengajak Kiran kembali ke lantai tempat mereka bekerja, dan mengarahkan Kiran untuk duduk di meja kosong di sampingnya. "Mulai saat ini kita satu tim dan ini tempat duduk kamu," kata Rara sambil menunjukkan meja kosong sebelah mejanya. "Makasih," balas Kiran sing

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status