Mag-log in"Kita nggak akan pernah memaafkan Om Aldi karena menjauhkan kita dari Mommy!" teriak Zayyan sambil menatap Aldi dengan kesal.
"Kalian jangan menambah wanita di sekitar Daddy kalian!" kata Aldi sambil memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan ulah Si Kembar.
"Kita nggak nambah wanita di sekitar Daddy! Kita hanya butuh Mommy!" balas Zahran dengan wajah marah tapi semkain terlihat lucu dan menggemaskan
"Baik kita bicarakan ini sebagai seorang Pria. Kita duduk di kantin sana berbicara bertiga menyelesaikan masalah ini, bagaimana?" usul Aldi mencoba untuk berdiskusi dengan Si Kembar yang kelakuannya hampir sama dengan Daddy-nya jika keinginan mereka tidak dipenuhi.
Aldi duduk di depan Si Kembar setelah memesan 1 gelas kopi untuk dirinya dan 2 gelas coklat panas untuk Si Kembar. Dia memasang wajah profesional seperti sedang berhadapan dengan klien. Zahran dan Zayyan akan lebih tenang untuk diajak berbicara jika dia berpura-pura berbisnis dengan mereka.
"Jadi apa yang kalian inginkan?" tanya Aldi memulai pembicaraannya dengan Si Kembar dengan wajah serius.
"Kita ingin Mommy!" jawab Zayyan dengan ekspresi tak kalah serius.
"Darimana kalian tahu bahwa perempuan tadi adalah Mommy kalian?" tanya Aldi yang tidak paham bagaimana bisa Zahran dan Zayyan memanggil seorang perempuan 'Mommy' saat mereka baru pertama kali bertemu.
"Karena dia memang Mommy kita, dan kita adalah anak Mommy," kali ini Zahran yang menjawab pertanyaan Aldi tanpa ragu sedikit pun.
Perilaku tak biasa Zahran dan Zayyan membuat Aldi semakin heran. Mereka berdua tiba-tiba memeluk perempuan yang tidak pernah mereka temui dengan erat. Padahal selama ini mereka selalu marah jika ada perempuan yang mendekati mereka. Hal ini sama sekali tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Bagaimana dengan perasaan Daddy kalian? Daddy kalian mencintai Tante Erina," tanya Aldi yang masih bingung dengan jalan pikiran Si Kembar.
"Kita nggak peduli perasaan Daddy karena Daddy juga nggak peduli dengan kita. Kita hanya mau Mommy!" sahut Zahran dengan menatap tajam Aldi tanpa rasa bersalah.
"Tante Erina baik, tapi dia bukan Mommy kita," tambah Zayyan yang sama kesalnya dengan kakak kembarnya.
Perkataan Si Kembar lagi-lagi membuat perasaan Aldi dipenuhi rasa bersalah dan kasihan. Selama ini Rayhan sama sekali tidak pernah menunjukkan perhatian pada dua anak kembar didepannya. Sahabat sekaligus atasannya selalu mendorong Zahran dan Zayyan untuk cepat mandiri.
"Baik jika itu mau kalian, tapi bagaimana caranya kalian meyakinkan perempuan itu bahwa dia Mommy kalian?" tanya Aldi masih mencoba untuk mengubah pola pikir Si Kembar.
"Maksud Om Aldi?" balas Zahran dan Zayyan bersamaan dengan tampang bingung.
"Bagaimana membuat Mommy kalian percaya bahwa kalian berdua adalah anaknya?" kata Aldi tersenyum tipis karena merasa rencananya berhasil
"Kenapa harus tidak percaya?" tanya Zayyan yang masih tidak mengerti maksud dari Aldi.
"Karena Mommy kalian perlu bukti bahwa kalian adalah anaknya," jawab Aldi dengan sabar.
"Kita bisa melakukan tes DNA dan Om Aldi yang akan membantu kita!" seru Zahran dengan tersenyum penuh percaya diri.
Aldi hanya bisa pasrah melihat tatapan memohon dari Si Kembar, dengan berat hati dia menyetujui pemintaan Si Kembar. Senyuman langsung menghiasi wajah menggemaskan mereka berdua sesaat setelah Aldi menganggukkan kepalanya.
Selama ini Aldi selalu menemani kemanapun Zahran dan Zayyan pergi. Dia mengetahui dengan detail kehidupan Si Kembar di tengah keluarga Bintara. Orang tua Rayhan yang merepakan kakek dan nenek Si Kembar tidak mengakui bahwa mereka adalah cucunya. Sedangkan Daddy mereka hanya memenuhi kebutuhan finansial mereka untuk menjalani kehidupan mereka tanpa memberikan kasih sayang seorang Ayah.
Daddy mereka disibukkan dengan pekerjaan dan urusan cintanya sendiri tanpa mempedulikan pertumbuhan anaknya. Zahran dan Zayyan dipaksa untuk tumbuh dewasa diusia mereka yang masih sangat muda.
"Om Aldi jangan beri tahu Daddy tentang Mommy ya!" kata Zayyan setelah minuman coklatnya habis.
"Kenapa?" tanya Aldi heran dengan perkataan Zayyan yang tiba-tiba.
"Karena kita nggak mau Daddy menjauhkan kita dari Mommy," sahut Zahran sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya.
Rara dan Dina terlihat begitu serius menyelesaikan tumpukan dokumen dengan raut wajah kesal. Mereka berdua sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Kiran, hal itu membuat Kiran merasa bersalah."Maafkan aku! Aku tidak seharusnya mengatakan hal itu," kata Kiran mencoba untuk minta maaf pada Rara dan Dina, "A-aku hanya..., maksudku aku mungkin terlalu lelah dengan semua dokumen ini!"Namun Rara dan Dina sama sekali tidak menolehkan kepalanya ke arah Kiran. Kiran menggigit bibirnya sebelum duduk di meja kerjanya. Dia bisa saja berjalan pergi tanpa menyelesaikan pekerjaannya, namun dia tidak bisa meninggalkan Rara dan Dina yang sudah menemaninya sejak pertama bekerja di sini.Kiran dapat melihat Rayhan berdiri di sudut pintu keluar dengan senyuman lebar penuh kemenangan. Rayhan ingin Kiran merasakan sendiri jika dunia tidak berputar hanya di sekelilingnya. Ada aturan tak tertulis yang harus dijalani oleh setiap orang.Waktu berjalan begitu cepat sampai tak terasa jam sudah menunjukkan ja
"Laki-laki sialan itu benar-benar menyebalkan!" maki Kiran saat duduk di meja kerjanya."Siapa?" tanya Rara penasaran melihat Kiran marah, "Bukankah Nona Denna perempuan?""Bukan Nona Denna," balas Kiran tak tahu harus mengatakan apa, "Pokoknya aku tidak membiarkan anak-anakku bersikap seperti laki-laki itu!""Kamu punya anak?" seru Rara semakin bingung dengan apa yang dikatakan Kiran.Kiran menepuk dahinya sendiri karena hampir mengatakan bahwa Zayyan dan Zahran adalah anaknya. Dia harus menyembunyikan identitas mereka berdua demi keselamatan Si Kember. Meski awalnya Zayyan dan Zahran tidak setuju namun pada akhirnya mereka memenuhi permintaan Kiran."Maksudku saat nanti aku punya anak," kata Kiran tak ingin Rara curiga, "Aku akan mendidik anak-anakku untuk bisa menghormati orang lain,"Sebelum Rara dapat berkata lebih banyak lagi, Dina menaruh tumpukan dokumen di meja kerja Kiran dan Rara sambil menghela napas kasar, "Pak Hendra meminta kita untuk menyelesaikan semua ini hati ini!"
"Apa Mommy baik-baik saja?" tanya Zayyan terlihat begitu khawatir."Perempuan itu licik, aku tidak ingin Mommy terluka," tambah Zahran tak kalah khawatir dari saudara kembarnya.Kiran tersenyum tipis melihat tingkah kedua anak kembarnya. Baru kali ini ada yang mengkhawatirkannya seperti ini. Hal itu tentu membuat hati Kiran menghangat setelah apa yang dia lalui beberapa tahun ini."Apa kalian lupa jika aku Mommy kalian? Tidak ada yang bisa membuat Mommy takut!" jawab Kiran sambil merentangkan kedua lengannya untuk memeluk Si Kembar.Senyuman lebar menghiasi wajah Zahran dan Zayyan sebelum berlari ke pelukan Kiran. Tanpa mereka sadari Rayhan melihat semua kejadian itu, dia segera berlari mencari keberadaan Kiran dan kedua anaknya setelah Aldi mengatakan jika Denna menemui Kiran.Di belakang Rayhan, Erina mencoba untuk mengatur napasnya setelah berlari-lari kecil menyusul Rayhan yang tiba-tiba keluar dari ruang rapat. Namun dia sama sekali tidak menyangka jika Rayhan melakukan semua itu
Rekan-rekan kerja Kiran sama sekali tidak mengira jika mereka bisa berbicara santai dan bercanda bersama dengan Zahran dan Zayyan. Selama ini kedua anak itu terkenal nakal sampai banyak karyawan menghindari mereka berdua."Aku tidak mengerti kenapa anak-anak kecil itu tidak bisa menyelesaikan soal yang mudah," kata Zahran dengan raut wajah begitu serius."Mereka tidak tahu jawaban dari 427 ditambah 84," sahut Zayyan mendukung perkataan Zahran."Memangnya kamu tahu jawabannya? Berapa?" goda Rara sambil menahan tawa."511!" jawab Si Kembar hampir bersamaan."Kalau 351 dikurangi 37?""314...,"Berbagai pertanyaan dilemparkan oleh Rara dan rekan-rekan kerjanya yang lain. Mereka semua begitu tertarik untuk mengetahui kemampuan dari anak CEO perusahaan Bintara.Senyuman tipis menghiasi wajah Kiran saat Si Kembar selalu bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh rekan-rekan kerjanya. Rasa bangga menyelimuti hati dan perasaan Kiran karena Zahran dan Zayyan bisa tumbuh dengan begitu baik di t
"Kenapa diam? Bukankah ada yang ingin kamu katakan?" tanya Rayhan sambil menatap tajam Denna."Ti-tidak...," jawab Denna mencoba untuk tetap tenang, "A-aku hanya ingin memastikan kabar yang aku dengar,""Katakan pada orang yang mengatakan hal itu untuk berpikir ulang jika ingin terus hidup tenang," kata Rayhan santai namun penuh peringatan.Erina yang berdiri di belakang Denna perlahan mengangkat kepala untuk melihat raut wajah Rayhan. Dia menelan ludah beberapa kali saat matanya bertemu dengan mata hitam Rayhan. Ada sorot kekecewaan yang membuat dada Erina terasa sesak."Say-sayang aku ha-hanya...," Erina tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan pada Rayhan, "Mak-maksudku, aku merasa...,""Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskan padaku," potong Rayhan sambil menghela napas perlahan, "Aku akan memberimu penjelasan setelah ini,""Aku salah, seharusnya aku tidak langsung mempercayai kabar yang aku dapatkan," kata Erina pelan marasa bersalah."Jangan munafik!" bentak Denna tak taha
"Apa aku harus berada di sekolah sampai jam sekolah berakhir?" tanya Zayyan dengan nada merajuk."Tentu saja," jawab Kiran singkat sambil mengambil tas Zayyan dan Zahran."Pasti akan sangat membosankan," sahut Zahran sambil menghela napas sedikit keras.Kiran mencubit pipi Zahran untuk kesekian kalinya dengan gemas. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kedua anaknya itu. Seharusnya mereka akan senang saat bertemu dengan teman-teman seumuran mereka."Bermainlah dengan teman-teman yang lain. Jangan sampai membuat mereka menangis!" pesan Kiran sebelum Si Kembar melangkah masuk gerbang sekolah."Jangan lupa makan bekal yang sudah Mommy buat!" tambah Kiran sedikit keras dengan raut wajah terlihat sedikit khawatir."Nyonya, tenanglah. Mereka akan baik-baik saja," kata Aldi sambil tersenyum tipis melihat kekhawatiran Kiran."Aku tahu," jawab Kiran, "Aku mengkhawatirkan guru dan teman-teman sekelas mereka,""Dan jangan pernah panggil aku 'Nyonya'!" tambah Kiran penuh peringatan.Aldi
Setelah menunggu sekian lama, Si Kembar akhirnya melihat Kiran berjalan bersama pegawai lainnya menuju kantin tempat mereka duduk saat ini. Senyuman lebar menghisai bibir Si Kembar, mereka berdua segera bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud berlari menuju Kiran."Kalo kalian berlari seperti it
Setelah rapat selesai, Rara segera mengajak Kiran kembali ke lantai tempat mereka bekerja, dan mengarahkan Kiran untuk duduk di meja kosong di sampingnya. "Mulai saat ini kita satu tim dan ini tempat duduk kamu," kata Rara sambil menunjukkan meja kosong sebelah mejanya. "Makasih," balas Kiran sing
Kiran melangkah penuh percaya diri diiringin dengan senyuman ramah masuk ke dalam perusahaan Bintara. Tak lupa Kiran menyapa satpam dan resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan Bintara dengan sopan. Dia juga antri di depan lift bersama karyawan lainnya dengan hati yang berdebar-debar. Saat Lift
Hari ini merupakan hari pertama Kiran bekerja di perusahaan pusat, setelah sebelumnya dia bekerja hampir 3 tahun di perusahaan cabang yang ada di kota Y. Baju kerja berwarna biru gelap dan riasan tipis menambah kesan profesional Kiran dalam bekerja.Kiran menenangkan detak jantungnya saat berada di







